DTur Change For All

Wisata Religi Dt88

Posted on: November 10, 2008

Wisata Religi

 

Mungkinkah aktivitas bisnis yang syarat orientasi profit material, mampu dijadikan wisata pengembaraan laku spiritual dalam usaha peningkatan harkat kemanusiaan. Tulisan semangat paginya, www.dtur88.wordpress.com menawarkan hadiah kebebasan finansial melalui paket Perjalanan Religi selalu rindu kembali ke BAITULLAH penjaga kewajaran batin setelah peluh keringat duniawi, promo yang juga terbuka untuk paket wisata bagi umat Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.

 

     Hal wisata ini Dokumen UNESCO nomer E/CONF.47/8 mengatur, bahwa wisatawan sebagai subyek menikmati kebudayaan yang disajikan sebagai obyek wisata setempat. Pengalaman baru akan meningkatkan emansipasi pribadi, sedang bagi obyek akan berpahala dan mendorong prestasi lebih bernilai. Kualitas hidup tinggi menaikkan prestasi budaya masyarakat, sejahterakan rakyat serta dampak ikutan bagi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Maka wisata religi dalam hubungannya dengan peningkatan kepribadian seseorang sejajar dengan prestasi dunia yang diraih. Dalam ritual haji misalnya, disamping disyaratkan kemampuan melaksanakannya, ibadah ini membutuhkan kesehatan prima dan kerja keras pelaku dalam memenuhi tahapan rukun haji tiap destinasi.

 

     Sudah biasa, perusahaan network marketing memberi insentif hadiah imbalan tertentu pada anggota atas prestasi kerja dan pemasaran produknya sebagai pengembalian sebagian keuntungan kepada leader. Yang tak biasa adalah cara pandang seseorang member atas prestasi dan nilai kerja itu apakah mampu meningkatkan kepribadian anggota tersebut. Seperti pula langkanya perusahaan yang peduli pada pengingkatan Sumber Daya Manusia, berani mengeluarkan anggaran berlebih untuk pos pelatihan kepemimpinan dan seterusnya yang sejatinya akan melambungkan nama perusahaan seperti dalam contoh kali ini adalah pembeayaan perjalanan religi DT88 yang murah bagi anggota berprestasi.

 

 Menjadi pertanyaan klise, adakah seorang leader MLM yang peduli pada pengembangan kepribadiannya melebihi upaya mengejar peringkat bonus dan prestasi. Dalam hal ini, di suatu kesempatan sang pemilik DT88 menegaskan lahan bisnisnya diupayakan demi kesejahteraan anggota lebih dari hanya keuntungan materi pribadinya semata. Itu artinya profit laba perusahaan banyak ditujukan untuk aktivitas sosial dan profit tersebut dikembalikan pada anggota, itulah alasan dimunculkannya promo religi dt88, menurutnya kelak akan melambungkan nama DT88 juga diantara persaingan bisnis network marketing. Bagi penulis, promo disini menawarkan momentum perubahan cara pandang seorang leader bahwa yang murah bisa bermakna maksimal bagi peningkatan kepribadian.

 

Perubahan Yang Bagaimana?

 

Penulis menawarkan wisata religi bagi networker dalam konteks peningkatan kepribadian melalui promo DT88 ini sejajar dengan makna multi-level learning bagi upaya-upaya pembelajaran lintas ruang dan waktu yang akan menguntungkan dan meningkatkan potensi semua pihak. MLM bagi faham ini adalah sosok ibu yang menginspirasi hikmah kekuatan anak-anaknya, pengontrol sikap keluarga, motivator pembangun mental pengetahuan dan peradaban yang bukan hanya sebatas kepentingan ekonomi semata. MLM ikut bertanggung-jawab pertumbuhan ilmu pengetahuan, bagaimana berketrampilan dan cara seorang networker bersikap dengan lingkungannya.

 

Metafor sosok ibu sebagai sekolah MLM menemukan makna mendalam, ketika biaya pendidikan di sekolah serba mahal dan banyak keluarga menoleh pada pendidikan nonformal luar sekolah, celakanya belajar di lembaga kursuspun sekarang tidak lagi murah. Maka orang bisa menemukan terobosan Lintas Sekolah, berupa Multi Level Learning di Lembaga-lembaga Bisnis Jaringan MLM atau Perusahaan Asuransi, Pelatihan Kepribadian dan wadah pembelajaran lain (sumber, “Sekolahku: MLL”, buku yang sedang penulis rampungkan). Ilustrasi diatas memungkinkan kita mengerti, paket religi DT88 sebagai upaya promotif yang merangsang pikiran seorang networker untuk tumbuh bukan hanya kaya materi tetapi bijak sempurna selaku manusia yang bermasyarakat dan beragama.

 

Perubahan cara pandang positif ini tentu akan membawa kepada kelebihan dan keseimbangan melihat bagaimana menjamurnya perusahaan network marketing di Indonesia, persis seiring beragam pemahaman arti dan kenyataan prilaku anggotanya di tengah masyarakat. Stigma negatif MLM karena ketidak-tahuan tapi juga olah networker sendiri yang kurang proporsional menempatkan diri diantara tujuan perusahaan yang berorientasi keuntungan materi (to have) dan kepentingan cara-cara bijak membesarkan jaringan (to be). Dalam kerangka yang terakhir “to be” inilah penulis menekankan hubungan promo wisata religi tersebut diatas, yakni napak tilas spiritual kerja marketing niaga kita dalam mengangkat harkat pribadi selama hidup. Bahwa prestasi penjualan harusnya mengantarkan seorang muslim ke Baitullah, sekaligus menapaktilasi kebesaran Nabi Muhammad SAW contoh pribadi Sang Pedagang Sejati.

 

Seperti yang penulis angankan, bahwa multi level learning adalah universitas kehidupan pembelajaran tanpa batas usia, bebas beaya persekolahan juga ruang dan waktu belajar, kecerdasan, soal gender, etnik maupun keturunan. MLM mampu menembus keterbatasan multikultural itu jika seseorang mau bersikap positif terhadapnya, membuka diri pada informasi yang benar dan menjadikannya medium kampus belajar. Sikap demikian bagi networker muslim berarti teguran dan suri tauladan pembelajaran itu tentulah figur Muhammad SAW. Bagi mereka telah tertanam pesan hadits riwayat Ahmad, bahwa belajar menuntut ilmu wajib bagi tiap individu muslim yang tak bisa diwakilkan. Adalah terlarang menjalani hidup dan bekerja tanpa ilmu, apalagi mengikuti apa yang tidak memiliki sandaran ilmiah, karena pendengaran, pengelihatan dan hati akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di hari kiamat (QS Al-Isra’ [17]:36).

Semoga dengan berwisata religi, bagi muslim akan meluaskan cakrawala tauhid kehidupan sejajar dengan perolehan materi-spiritual di dunia. Demikian pula umat Kristiani dapat menemukan Tuhannya Trinitas dan menebar kasih seluas mungkin, sebagaimana kaum Hindu Budha menemukan melalui wisata religi yang dalam kepercayaan disebut juga Tritunggal, satu tuhan dalam wujud Brahma – Visnu – Siva. Setelah era Trimurti, datangnya Siddharta Buddha (± 563–483 SM) adalah dalam rangka pencarian tujuan hidup (samawiy) sejati menemukan figur Tuhan yang sebenarnya, Sang Hyang Adhi Buddha (Lihat Bab 6, Hindun Al-Mubarok dalam ”Langit Merah di Atas Salib”). Bahwa sesungguhnya wisata religi memungkinkan kita memperbaiki prestasi hidup dan menyiapkan tangga baru demi kesempurnaan impian yang lebih di tengah tawaran paket-paket wisata yang menjamur.

Di lain waktu, kita melangkah lagi ke paket D-tur melihat-lihat kemungkinan peradaban masa lalu maupun kini di sekeliling alam. Demi memperkaya bahasan, silahkan komentar sidang pembaca yang budiman atau ditulis ke alamat andimhd@yahoo.com 0815 795 0922 mobile..  🙂 thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: