DTur Change For All

TRADITIONAL MARKET

Posted on: November 23, 2008

WISATA ‘NGASEM’ *)

Berdiri di Pulau Kenanga setinggi 12M, bagian utama Tamansari akan terlihat di kejauhan sosok Merapi, seraya terdengar riuh suara burung dari arah depan. Suara itu menyenangkan, orang berjalan mendekati sangkar diselingi siulan kerumunan mereka disana, itulah Pasar Burung Ngasem. Memandang kembali ke arah gunung agak ke kanan, tampak perumahan dan gedung-gedung Kota, menoleh ke kiri kian jelas padatnya lingkungan urban Yogyakarta. Hal sama jika menuruni dua sap anak tangga, di sela gang dibalik pintu seniman batik menuju keramaian Pasar. Sebuah pemandangan khas kerasnya kehidupan penduduk, sempitnya tempat tinggal Kota dan tata lingkungan Ngasem.

Ngasem berasal dari kata pohon asem; nyemsemaken ya nggemesaken suasana hati, menyemarak dan menyenangkan hati. Istilah pasar dari bazar (Arab) selain as-suuq yang berarti tempat transaksi jual-beli. Lokasi Ngasem hanya lima menit berjalan kaki dari kraton itu merupakan pasar tradisional yang menyediakan hewan piaraan aneka unggas, burung, kelinci, kucing, anjing, ikan, jangkerik, kelelawar, ayam dan bebek. Aneka burung menempati lorong berbeda yakni lorong merpati, cicak rowo, perkutut, nuri, poksee, beo, gelatik atau jenis langka gagak dan hamster. Pengunjung tak mengerti alasan menjual-belikan hewan tertentu yang dilindungi negara seperti ular hijau, kobra, musang ekor panjang, kura-kura, katak hijau dan landak. Pasar ini menjual barang kebutuhan masak-memasak semisal beras, jagung, biji-bijan, sayuran, ikan laut, tahu tempe, daging, bumbu. Tentu sedia tiap hari disana aneka pernik burung.

 

ADA APA DI NGASEM ?

Di Pasar Ngasem mengingatkan turis asing akan keberadaan pasar burung dimana orang Jawa menyukai harmoni dan ketenangan lewat klangenan hewan piaraan. Hal ini terkait perlambang ’pancabhrata’ demi mengukur status keberhasilan seseorang terhadap garwa, wisma, kukila, curiga dan turangga. Perempuan sebagai istri dan rumah tempat tinggal manusia untuk berteduh dalam lingkungan keluarga besar. Yakni keluarga inti ditambah paman, bibi, kemenakan, saudara misan, kakek, nenek, buyut dan seterusnya yang berbeda dengan konsep keluarga yang individualistis. Tiga perlambang sosial lain adalah menyayangi kukila binatang piaraan berupa unggas, ayam, burung atau hewan kesayangan. Memiliki curiga (keris) maksudnya senjata kekuatan demi menjaga diri dari mara bahaya, dan terakhir kuda (turangga) simbol mobilitas dan dinamika.


Serangan virus H5N1 avian influenza beberapa waktu mempengaruhi Pasar Ngasem, satu ikon tujuan pariwisata Kota Yogyakarta. Padahal wisatawan bisa mengenal sisi positif lain dengan mengangkat citra Pasar Ngasem, yakni dengan hadir disana menikmati filosofi cerita kekuatan burung bagi masyarakat seperti berikut ini.

 

BELAJAR KARAKTER BURUNG

Manusia Jawa amat sadar lingkungan, terbukti kunjungan wisata ini sarat ajaran hastabhrata yang mengkondisikan seseorang agar memperhatikan alam dan menghindari disharmoni lingkungan. Perhatian terhadap alam flora menyebabkan orang Jawa mahir soal ramuan tanaman jamu, dan pengetahuan tentang fauna menjadikan faham karakter binatang seperti burung. Orang Jawa mengenal cerita fabel maupun mitos berasal dari sifat-sifat burung tertentu, seperti zodiak pada orang Cina dan tradisi petangan di masyarakat. Disamping prilaku manusia yang dibaca dari sifat burung, beragam burung juga memiliki lambang dan arti, seperti bulbul yang selalu terbang berpasangan, burung hantu simbol kegelapan karena anaknya makan mata induknya sebelum bisa terbang, tapi dia digunakan petani untuk mengusir hama. Burung beo merupakan lambang kasih istri menyayangi suami, dan si indah merak menunjukkan kecantikan dan harga diri. Garuda bagi bangsa dan negara berarti sangat magis, perlambang tanggal kemerdekaan dari rekaan 17 sirip bulu pada sayap, 8 bulu pada ekor dan 45 titik bulu di dada. Posisi kepala menoleh ke kanan menandakan kebaikan.


Seekor merpati di Jawa menyiratkan hidup tentram penuh gotong-royong, di Cina lambang panjang usia, di Mesir berarti ketidak-berdosaan dan bagi orang Nasrani perlambang Roh Kudus. Seperti burung bangau, merpati kura-kura dapat menari untuk memancing ular keluar dari sarangnya. Pada relief candi Mendut banyak dikisahkan cerita fabel yang mengandung pesan moral tertentu. Hean-Tatt (1996) menulis kisah gagak dan burung hantu. Demi mengalahkan burung hantu, gagak rela mencabuti bulunya sampai tak mampu terbang hingga ditolong masuk ke sarang burung hantu. Ketika bulunya telah tumbuh, dia membangun tumpukan belukar dengan maksud ingin balas budi si burung hantu agar rumahnya hangat. Apa lacur, ketika belukar telah memenuhi sarang, gagak tak melepas dendamnya, ia mengambil api dan membakar habis belukar itu. Burung-burung hantu di dalam mati oleh asap akibat perbuatan Gagak. Kisah ini berpesan “jangan pernah mempercayai seorang pembelot yang memiliki niat tersembunyi!”.


Paling inspiratif adalah seekor Elang bersarang di tempat tinggi dan terbuat dari ranting kuat, maksudnya pemimpin harus bersemangat, bercita-cita dan kepribadian kuat. Saat induk elang mengerami telurnya, si jantan setia mengerami, ia pilihkan makanan daging segar bukan bangkai. Organ mata amat sempurna, tajamnya delapan kali mata manusia dan kecepatan terbangnya ±200 km/jam, maka pemimpin bukan saja pekerja keras, tapi bekerja cerdas, cekatan, tanggap dan bijak. Jika ada badai, elang akan terbang lebih tinggi bermain di atas badai, segala rintangan harus dihadapi bukan menghindar, dan berdoa agar berenergi lebih besar dari badai yang menerpa. Saat elang mati, dia meninggal secara heroik dengan bertengger di tempat paling tinggi sambil kepala menghadap matahari. Inikah burung elang di Pasar Ngasem.

 

MAKNA TRADISI JAWA DI NGASEM

Bagi wisatawan asing, kisah fabel ini turut mengiringi mereka memandang tiap sudut Pasar, tempat transaksi ekonomi dengan harga sesuai penghasilan. Menikmati suasana akrab yang tak ditemui lagi di mal atau supermarket. Alasan menjadikan institusi pasar tradisional sebagai institusi sosial dengan nilai persaudaraan yang menyertai. Berkunjung kesana akan ditemui tradisi menyapa dalam transaksi ekonomi, dimana orang membeli tak hanya sekedar membeli yang diinginkan lalu antri membayar di kasir kemudian pergi naik mobil.


Pasar menjadi cermin kekeluargaan dimana di mal orang mengadopsi budaya individualistis, seperti produksi musik yakni beda permainan guitar atau piano dengan gamelan dimana terdapat kerjasama harmonis antar instrumen. Di Yogyakarta wisatawan mengalami langsung contoh budaya komunal gotong-royong simbol kekamian atau kekitaan, bukan tradisi Barat keakuan yang berlawanan. Disini mengingatkan orang pada keluhuran Jawa, seperti di pedesaan dan suasana lingkungan pertanian sepanjang jalur wisatawan di Jawa. Menjaga harmoni Ngasem adalah melestarikan kunjungan wisatawan kesana, membantu mereka disana mengatasi dampak flu burung atau munculnya hypermarket di kota budaya. Bravo Ngasem! [ ]


*) andimhd@yahoo.com: 0815 795 0922; Artikel Opini untuk Harian Kedaulatan Rakyat, 05/03/2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: