DTur Change For All

Konsep Kerja (1)

Posted on: Desember 2, 2008

KONSEP KERJA DALAM ISLAM


Kami merujuk pertama-tama QS Ibrahim [14]:24-25 untuk menjawab pertanyaan diatas. Bahwa ditilik dari pilar substansial agama, islam memiliki pilar-pilar amat kokoh menyangkut dasar-dasar aqidah, syariah, ibadah dan akhlaq. Bangunan konsepsi ini amat berhubungan satu dengan lainnya sebagaimana gambaran pohon penuh manfaat, akar menghunjam di bumi (teologi agama/aqidah), ada batang yang kuat yakni ibadah berdasar tuntunan syariat bagaimana kesempurnaan hidup diberlakukan, dan ranting menjulang angkasa dengan dedaunan menyejukkan yang mengeluarkan buah-buahan segar itulah muara akhir amal yang dirasakan diri, lingkungan alam dan makhluk lain. Gambaran tentang keutuhan konsepsi ini muncul pula ketika secara khurus seorang muslim membutuhkan makan, minum, belajar, bekerja, bermain dan selanjutnya. Wajar jika manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi fisikal itu sangat berkait dengan tuntunan akhlaq cara-cara mencarinya sekaligus bagaimana penggunaan harta benda hasil pekerjaan demi kebutuhan dan kepuasan hidup.

Selanjutnya, QS Al-Baqarah [2]:267 & 188 menyuruh orang beriman untuk berinfaq dari harta benda yang baik dari hasil usaha mereka, yang bermakna muslim dilarang berusaha kecuali untuk alasan meraih harta benda baik halal tidak dengan jalan batil. Prasyarat kerja ini harus bermanfaat menurut syariat, memenuhi kesucian benda dan tidak membahayakan atau merugikan orang lain. Harta benda yang boleh diniagakan antara lain, barang-barang tetap seperti sawah, tanah, rumah, took dst; aneka barang tambang; hewan ternak, kecuali babi atau yang buas dan berbisa; sarana transportasi, pabrik, kantor dan jasa yang dikelola tanpa riba. Semua ini merupakan harta benda yang diperbolehkan untuk mencari kekayaan dan melakukan usaha. Dalam hal-hal yang syubhat dan ragu-ragu halal haramnya harus ditinggalkan sempai ada alasan syar’i yang membenarkannya.

Saudaraku!

Fakta kondisi masyarakat saat ini sangat memprihatinkan, disana-sini persoalan sosial kian rumit, hubungan antar indivudu di dalam masyarakat sering menimbulkan benturan dan bahkan memunculkan kriminalitas, apalagi menyangkut hubungan remaja dan pola hidup hedonis-konsumeristik betul-betul menuntut perhatian ekstra para orangtua. Dari kasus faktual inilah orang berbicara kemudian soal bagaimana islam memberi tuntunan penganutnya untuk bekerja diatas dasar kesadaran pilar beragama seperti ilustrasi diatas. Contoh-contoh berikut dapat memudahkan kita memahami peta konsepsi islam tentang bekerja!

Sejarah hidup Muhammad SAW sangat gamblang menjelaskan beliau menggembalakan ternak sejak 9 tahun dan dalam usia ke-12 telah melakukan perjalanan niaga internasional mengikuti paman beliau. Diriwayatkan saat bersama sahabat, beliau menginspirasi kerja keras, jujur, tanpa mengeluh, bekerja dengan tangan sendiri meski harus kotor, tidak menipu dan membuat orang lain merasa kalah. Menurut penulis, Muhammad SAW telah melakukan pembelajaran network marketing yang baik dan benar termasuk yang kini disebut Multi Level Marketing. Dalam hal ini perlu diingat elemen jual beli; terdapat barang, pedagang dan sistem pemasaran, di titik inilah perbedaan cara orang memahami sistem apakah pola pemasaran matahari, semi binary, break away dst terlebih jika seseorang kritikus melihatnya tanpa melakukan kerja MLM dan hanya melihat menurut teori ekonomi barat pasti bias pemahaman. Menjadi persoalan ikhtilaf jika anda percaya dan terbukti haram, sebaiknya tinggalkan, karena pedagang ragu-ragu menyengsarakan. Ok, kebetulan telah penulis siapkan naskah buku multi level learning yang bersinggungan dengan MLM ini, jadi tunggu lain waktu, yang pasti tulisan ini terinspirasi bagaimana Rasulullah Muhammad bekerja dengan tangannya sendiri (baca buku dimaksud pada catatan tambahan!) dan muslim mesti belajar tanpa sekat-sekat atau batasan ruang dan waktu, sampai dia meninggal.

Beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW berikut juga bisa disarikan soal ini yakni kisah kesungguhan Tuhan mencatat apapun jenis maupun kualifikasi karya manusia dengan akuntabilitas paling akurat. Maka disini kejujuran kerja adalah keharusan bagi seorang muslim, jika ia menginginkan hasil sukses semua pekerjaan dengan maksimal, seperti:

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman: “Apabila hamba-Ku berkehendak untuk beramal buruk maka jangan kamu catat sehingga ia mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya maka catatlah serupa itu. Jika ia meninggalkannya karena Aku maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika hamba-Ku mau berbuat kebaikan namun tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan baginya. Jika mengamalkannya maka catatlah sepuluh kalinya sampai tujuh ratus lipat. Dan dalam sebagian riwayat ada tambahan sampai kelipatan yang banyak” . (Hadits ditkhrij oleh Bukhari) .

Bahkan hadits qudsi berikut menceritakan perjuangan suatu kaum ada pihak pemberi dan ada yang menerima, yang bercocok tanam, memanen tumbuh-tumbuhan, menunjukkah kemurahan Allah SWT melipatgandakan pahala amal shalih (hasil kerja) sebanding dengan berjuang di medan perang, seperti riwayat berikut:

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw, beliau bersabda: Tiga orang yang dicintai oleh Allah Maha Mulia dan Maha Besar, yaitu : Seseorang yang mendatangi suatu kaum, ia minta kepada mereka dengan nama Allah, dan ia tidak minta karena kekerabatan antara dia dan mereka, namun mereka mencegahnya, lalu ada seseorang yang mengiringinya; dia memberinya secara rahasia, yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar dan orang yang diberinya. Dan suatu kaum vang berjalan di malam hari sehingga ketika ia lebih senang tidur dari pada apa yang sedang mereka jalankan, mereka singgah dan meletakkan kepala mereka, lalu di antara mereka ada seorang yang bangun untuk merendahkan diri kepada-Ku dan membaca ayat-ayatKu. Dan seseorang yang berada di dalam pasukan, mereka bertemu musuh lalu mereka berbalik ke belakang namun ia maju lagi sehingga ia terbunuh atau mendapat kemenangan”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

Dan Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. : “Pada suatu hari Nabi saw bercerita dan disampingnya ada seorang lelaki dari penduduk kampung, bahwasanya seorang lelaki dari penghuni sorga, minta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Tuhan berfirman : “Tidakkah kamu mendapati apa yang kamu inginkan ?” Ia menjawab : “Ya, akan tetapi saya senang bercocok tanam,” maka dia bersegera dan menyemai dan sangat cepat tumbuhnya ujung, tegak dan panennya tumbuh-tumbuhan itu, dan digulungnya seperti gunung. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman : “Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak dikenyangkan oleh sesuatu”. Maka berkatalah orang dusun itu : “Wahai Rasulullah, engkau tidak mendapati orang ini kecuali orang-orang Quraisy atau or­ang-orang Anshar. Sesungguhnya mereka itu pemilik tanaman. Adapun kami bukanlah pemilik tanaman”. Maka Rasulullah saw. tertawa. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Jenis prilaku kerja apakah yang pertama kali nanti di hari kiamat akan dipertanggung-jawabkan manusia di hadapan Rab Semesta Alam, dan benarkah karya manusia itu saling berkait pada prestasi selanjutnya? Berikut penjelasan Allah SWT:

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Sesuatu yang pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat?”. Jika kedapatan padanya (shalat) sunat, maka Allah berfirman: “Sempurnalah shalat fardhu itu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Disadari atau seseorang tidak menyadari, pastilah seorang muslim mengerti bahwa perbuatannya dalam pantauan Allah SWT, tiada satu biji atompum lewat dari penilaian yang pasti ada konsekuensinya. Inilah alasan muslim telah memiliki sistem pengawasan melekat, apakah dia bekerja untuk kepentingan keluarga, diri sendiri atau demi ibadah memberi nafkah, menolong, meringankan beban orang lain atau dengan niat buruk yang pasti akan mencelakakan diri sendiri di dunia dan pasti kelak di neraka.

Simbolisasi tempo surga neraka ini dalam konsepsi kerja juga bisa dimaknai sebagai kebahagiaan dan kesuksesan duniawi serta neraka sebagai gambaran kemiskinan ataupun kesusahan hidup di dunia. Bahwa kerja sebagai medium ibadah, untuk pendekatan muslim kepada Rab yang telah memudahkan segalanya.

Dan Anas ra. dari Nabi saw. bersabda: “Pada hari Qiamat anak Adam dibawa, seolah-olah dia anak kambing lalu dihadapkan Allah. Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Aku telah memberimu, menganugerahkan kepadamu dan Aku telah memberikan ni’mat atasmu, apakah yang telah kamu kerjakan?”. Lalu ia menjawab: “Wahai Tuhan, saya telah mengumpulkan dan membuahkannya, kemudian sebagian besarnya telah saya tinggalkan, maka kembalikanlah saya, lalu saya kembalikan lagi kepadaMu”. Apabila seorang hamba tidak mengamalkan kebaikan, maka ia diteruskan ke neraka”. (HR. Turmudzi).

Bahwa konsep islam tentang kerja ini amat komplit menjaga keseimbangan hubungan Allah – manusia – alam semesta, sampai ditail keharusan memenuhi syarat sah niaga yang usia balig seseorang, unsur kecerdasan yakni alasan akal sehat dan bisa mengelola barang dan pekerjaan insyaallah akan mengantar muslim ke tujuan sukses dunia akhirat, yakni pemasrahan hasil-hasil usaha berupa harta benda dan jasa kepada Allah SWT, yang berarti segala aras tujuan perniagaan bahkan kehidupan seorang muslim.

Kita lanjutkan jawaban di lain kesempatan, smoga sepintas coretan ini menginspirasi diskusi topik menarik ini. Terimakasih saudaraku, salam sukses!

andimhd@yahoo.com 0815 795 0922 – 0818 465 933

Bacaan Tambahan:

1. Filsafat Ketuhanan, 1985, Prof Dr Hamka, Karunia, Surabaya.

2. Antara Tuhan, Manusia dan Alam, 2005, IRCiSoD, Yogyakarta.

3. Muhammad Sang Pedagang, 2000, Jakarta.

4. Fiqih Finansial, 2005, Abdullah Lam bin Ibrahim, Era Intermedia, Solo.

5. Etos Kerja Seorang Muslim, (th ?), Toto Tasmara, Jakarta.

Kumpulan Hadits Qudsi, Ahmad Sunarto, file http:// www.pakdenono.com, April 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: