DTur Change For All

Shalatlah Kau Sukses

Posted on: Desember 7, 2008

SHALAT MENDORONG SUKSES


Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat

dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.

Kami tidak meminta rezki kepadamu,

Kamilah yang memberi rezki itu kepadamu.

dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

QS Thaaha 20:132.


Ayat diatas menegaskan pentingnya kesabaran menegakkan shalat bagi keluarga. Bahwa shalat wajib diperhatikan setiap muslim dan ditekankan kepada anggota keluarga yang telah baligh, sebagai bentuk ekspresi keimanan seseorang kepada Allah SWT yang bernilai amal produktif serta kreatif yang ujungnya akan menghasilkan rizki. Seperti tulisan Konsep Kerja Dalam Islam terdahulu; sungguh ibadah shalat dan mencari rizki sebetulnya berhubungan satu dengan yang lain, karena soal rizki, umur dan jodoh merupakan rahasia Allah, dimana manusia hanya menjalani usaha secara maksimal. Inilah perlunya pemahaman kesadaran agar perintah shalat menjadi kebutuhan bukan beban, agar generasi mendatang jadi lebih berhasil sebagai kelompok umat di segala aspek.

Ibadah Shalat mengandung aktifitas gerak tubuh (olah raga) dari berdiri suci tulus menghadap kiblat atas nama Allah mengangkat dua telapak tangan, gerak ruku’ dan sujud hingga duduk di akhir shalat yang ternyata amat dibutuhkan bagi kesehatan organ tubuh seperti otak, peredaran darah serta kekuatan otot-otot. Shalat juga mendidik kepribadian pelakunya, bernilai ekonomi dan spiritual yakni doa dzikirullah untuk ketenangan batin dan kebersihan jiwa. Maka shalat adalah indikator keberhasilan lahir batin seseorang, jika syarat rukun atau sahnya dilanggar maka amalnya tertolak, tidak diterima oleh Allah bahkan seperti penjelasan hadits Rasulullah SAW; Bangsiapa shalatnya tak mampu mencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka akan menjauhkannya pada Allah.

Makna gerakan dan roh ibadah shalat adalah ekspresi ketundukan hamba di hadapan Sang Pencipta. Di luar kontemplasi ini, ibadah shalat hakekatnya mampu menembus akumulasi amal seorang muslim mencapai keinginan-keinginannya. Untuk itu pelaku shalat butuh bertawakal tiap menghadapNya seakan melaksanakan shalat terakhir kali sebelum mati. Perlu kesabaran ekstra agar lebih khusyu’ dan berdaya lebih produktif hingga shalatnya berfungsi hijrah kepada yang baik. Disebutkan dalam hadits sahih; Barangsiapa berdoa kepadaKu akan Aku kabulkan, dan siapa memohon kepadaKu akan Aku berikan, dan siapa mohonkan ampunan akan Aku ampuni.

Jika demikian apakah yang meninggalkan shalat bakal seret rizkinya? Ternyata Allah SWT menjamin rizki berupa makan-minum itu pada makhluk yang dikehendaki (QS 5:64) asal mau kerja keras mendapatkannya (QS 2:223) bahkan firmanNya dalam QS Hud [11]:6 Dan tidak ada suatu binatang melatapun (segenap makhluk Allah yang bernyawa) di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezki, dan Dia mengetahui tempat diamnya di dunia dan tempat penyimpanannya di akhirat. Semuanya tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuzh. Maka soal turunnya rizki berpulang pada kreatifitas manusia, dengan bekerja keras mengikuti hukum Sebab – Akibat dan bersungguh-sungguh meraihnya pasti dia dapatkan keinginannya. Sikap muslim berbeda, mengorientasikan kerja dunianya untuk mengharap Allah di akhirat. Karena itulah rizki dia dapatkan (QS 42:20), mau bertebaran di muka bumi usai shalat dan sudi melaksanakan shalat dhuha saat bekerja, dia yakin percaya hukum Allah pasti berlaku, hanya Allah sang pemberi rizki bukan yang lain. Dengan beriman, shalat dan mau bekerja keras dia akan memperoleh dua hasil berupa rizki dunia dan kelak imbalan akhirat, dia peroleh derajat mulia yang berbeda sebagai mukmin bukan sekedar rizki seperti disebut QS Al-Anfaal 8:2-4.

Menghadirkan hati secara ikhlas setiap melaksanakan shalat adalah usaha disiplin mau bersikap profesional dalam bekerja serta membuka kesadaran bahwa pemberi rizki hanyalah Allah semata. Bacaan iftitah ”inna sholati wa nusuqi…lillah…” adalah penegasan pelaku shalat bahwa apapun yang dikerjakan bahkan segala hidupnya diarahkan hanya untuk Allah SWT. Itulah pesan utama ayat penyadaran diatas. Sekaligus demi menegakkan pribadi takwa dalam diri pelaku shalat dimana imbalannya selain dibuka pintu rizki dari segala arah, dijelaskan pula balasan Allah dalam QS 65 [Ath-Thalaaq]: 2-7 berupa solusi atas semua masalah, Allah akan menjadi wali hidupnya, akan memudahkan segala urusan, mengampuni kesalahan dan melipat gandakan pahala kebaikan.

Ada amalan shalat sunnat jika dikerjakan akan menghapus dosa-dosa pelakunya, yakni shalat tasbih yang bisa dilakukan setiap hari atau bila tidak mampu sekali dalam satu minggu. Dan apabila seseorang tidak mampu bisa dikerjakan setiap bulan sekali, atau setahun sekali bahkan minimal satu kali melaksanakan shalat tasbih selama hidup. Berdasar HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa hendaknya engkau mengerjakan shalat empat rakaat, yang setiap rakaatnya membaca Surat Al-Fatihah dan sisertai Surat yang lain. Usai bacaan Surat pada rakaat pertama, sedang engkau masih dalam keadaan berdiri, bacalah tasbi: Subhanallah wal hamdu lillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar sebanyak lima belas kali. Ketika ruku’, bacalah tasbih sepuluh kali. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal), lantas bacalah tasbih sepuluh kali, lalu sujud. Ketika dalam keadaan sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. Lalu duduk, dan ketika duduk di antara dua sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. (Ketika sujud yang kedua, bacalah tasbih sepuluh kali). Dan ketika bangkit dari sujud (ketika berdiri pada rekaat berikutnya sebelum membaca Surat Al-Fatihah), bacalah tasbih sepuluh kali.Demikian engkau lakukan, hingga setiap rekaatnya membaca tujuh puluh lima kalibacaan tasbih, dan engkau lakukan dalam empat rakaat. Apabila engkau mampu mengerjakannya setiap hari, maka lakukanlah. Tetapi bila tidak mampu, maka kerjakanlah satu kali dalam seminggu, pada setiap hari Jum’ah. Apabila tidak mampu, maka setiap bulan sekali. Bila tidak mampu, maka setahun sekali. Dan apabila masih belum mampu melaksanakannya setahun sekali, maka lakukanlah satu kali dalam hidupmu. []

*http://fdka.wordpress.com        http://kristo2006.blogspot.com

Referensi :

The Power of Shalat, Jalal Muhammad Syafi’I, MQ Publishing, Bandung, 2006.

77 Hadis Panduan Shalat Sunat, Nadhirah Mudjab, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: