DTur Change For All

Tips Pendidikan Anak

Posted on: Desember 7, 2008

TIPS IDEAL PENDIDIKAN ANAK *)


Pendidikan anak-anak di kota besar perlu perhatian dan biaya besar. Amanat UUD’45 pasal 31 bahwa ’setip warga negara berhak mendapatkan pendidikan’ (1), ’setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya’(2) menjadi impian semua. Saat ini bagian terbesar penghasilan bulanan orangtua di Kota terserap untuk biaya pendidikan dasar 12 tahun. Investasi orang tua yang terabaikan negara tapi penting bagi anak ini, mereka penuhi sesuai pendidikan dunia yang dicanangkan UNESCO tentang Hak-hak Anak memperoleh empat pendidikan pokok, yaitu: learning to know (pengetahuan), learning to do (ketrampilan), learning to be (perubahan sikap) dan learning to live together (belajar bermasyarakat).


Tulisan ini mengkritisi dampak tren sekolah mahal. Pendidikan yang seharusnya dalam kendali negara malah beralih kuasa ke korporasi swasta. Oleh kendala ekonomi keluarga, maka pesantren dan sekolah masyarakat menjadi tren tandingan. Bagaimana orangtua sebaiknya mensiasati kondisi ini untuk berpaling dari sekolah berbiaya mahal?

JEBAKAN RANKING NILAI

Umumnya orangtua memiliki idealisme, motif menyekolahkan anak agar pintar berdasar aspek kognitif semata dengan ukuran ranking nilai raport, tanpa dilihat sisi etika bermasyarakat dan ketrampilan menghadapi persaingan luar sekolah. Bebaskan anak dari target ranking, bangun kecerdasan emosi mereka demi meraih keberhasilan. Ranking tinggi bukan segalanya, apalagi prestasi akademik adalah buah proses kerja keras. Hal ini dapat membuka wawasan anak menjalani cara belajar yang benar terus menerus, selama ujian atau hanya pelajaran rutin. Selebihnya anak bisa menghitung siapa belajar sungguh-sungguh dia bisa mendapatkan keinginannya.


Jebakan nilai diatas dapat diatasi melalui proses alami berlakunya ’ Sebab Akibat’ yang akan mengantar anak bagaimana menjadi (to be) yang terbaik di sekolah, bukan merangsang untuk memiliki (to have). Atas kesepakatan bisa pula diterapkan teknik rewards – punishment, prestasi baik akan memperoleh hadiah sebaliknya raport jelek bisa disesuaikan sangsinya.’Siapa menanam pasti mengetam’, kata pepatah. Semua hasil kerja keras didasarkan pada niat dan keinginan, seperti kerangka Hukum Sebab Akibat berikut:

PIKIRAN => TINDAKAN

TINDAKAN => KEBIASAAN

KEBIASAAN => SIFAT

SIFAT => TUJUAN

Pikiran dimaksud bahwa pelajar sebaiknya memiliki motif (motivasi), ide, niat, gagasan, keinginan, impian, cita-cita yang bisa dihantarkan melalui buku bacaan, cerita atau dongeng yang menurut penelitian (Mc. Clelland) dapat membantu prestasi anak. Orangtua perlu memfasilitasi mereka dengan buku-buku pilihan. Bagi orangtua yang anti Televisi di rumah, bisa mendampingi saat anak nonton TV dan memberitahu baik/buruk yang boleh dan yang dilarang. Dongeng, buku cerita, bacaan dan majalah anak juga ditemui di perpustakaan atau taman permainan anak. Sarana manapun bisa dijadikan penghantar menjadi anak sholih, lagi-lagi niat dan tindakan atau perbuatan positif akan membentuk kebiasaan baik.

KUNCI SUKSES Di KEBIASAAN ANAK

Tindakan belajar diulang-ulang akan membiasakan anak, jadi terbiasa untuk membaca, mendengar, berbicara, belajar, melihat dst. Kebiasaan pada saatnya merubah sifat negatif anak menjadi baik. Jika anak susah bangun pagi, perlu dipandunya dengan bel alarm agak jauh ditempatkan. Satu dua hari masih malas tapi terbangun. Seminggu dua bulan kemudian bangun pagi pasti tak lagi masalah, keluar lari pagi lalu membaca dan ke sekolah. Anak tidak bersifat malas. Tak mampu mengerjakan PR, karena belum dicoba lagi melakukan itu. Liatnya batu akan bolong oleh tetesan air ribuan kali. Dan kerasnya besi meleleh juga oleh bara api. Begitu pula cinta anak akan buku pengetahuan.


Kebiasaan mencintai buku adalah pintu awal belajar berdasar konsep pendidikan anak (paedagogy) yang diterapkan sekolah. Model pendidikan orang dewasa (andragogy) menekankan bahwa individu memiliki potensi, tugas guru-orangtua memupuk dengan pelajaran dan kebiasaan lain. Menanam prilaku positif pada seseorang menurut ahli kepribadian, butuh pengulangan kebiasaan sampai 21 kali untuk merubah sikap tertentu. Orangtua/guru dapat menerapkan sesuai kondisi dan jenis pelajaran. Menurut hukum ini bahwa anak malas itu bukan sifatnya, melainkan kurang dilatih dan dibiasakan. Dibutuhkan koordinasi bersama Komite Sekolah mengatasi kelemahan siswa di aspek ketrampilan semisal Belajar Al-Qur’an, Bahasa, Seni Pidato, Kaligrafi, Olahraga, Elektronika dan Komputer dengan sarana seadanya.


Menjadikan kebiasaan anak sebagai pintu perubahan sifat dan prilaku amatlah strategis dan perlu diperhatikan oleh semua fungsi lembaga sekolah seperti Guru BK. Prestasi belajar masa depan ditentukan bukan oleh tren pilihan orangtua menyekolahkan anak, tetapi oleh kesungguhan belajar di sekolah serta out-put lulusannya di masyarakat. Inilah tujuan keberhasilan orangtua memaknai idealisme pendidikan anak sekaligus jadi impian era sekarang. Begitu seterusnya keinginan baru dilakukan dan dibiasakan berulangkali sampai final goal yang dicitakan tercapai. Maka aspek pembelajaran anak penting diketahui oleh orangtua agar mereka mampu belajar mandiri dibantu orangtua.


Hal lain yang mengganggu pendidikan, soal bencana yang terus menyusul, perlu pemikiran ulang kemana orangtua akan menyekolahkan anak. Selalu ada saja halangan anak-anak mendapatkan hak belajarnya, terakhir gangguan kesehatan berupa wabah penyakit. Untuk Indonesia bahkan (2007) UNICEF mengalokasikan dana 3,5 juta dolar AS khusus menangani gangguan belajar anak oleh penyebaran flu-burung termasuk DIY-Jateng. Sebab jika terjadi pandemi akan berdampak besar dan menghambat pendidikan, meski program PBB ini lain dengan bantuan kesehatan WHO. Kapankah saat berhenti mengharap bantuan orang.

HARAPAN ORANGTUA SAMA


Pembiayaan telah diatur pada PP. Nomer 19/2005 Standar Pendidikan Nasional bab IX soal besarnya Standar Pembiayaan pasal 62 hal biaya pendidikan sekolah. Solusi cerdas layak dipikir ke alternatif belajar berbiaya murah, karena harapan mereka sama agar anak menjadi sholih dan sukses. Jiwa Pesantren seperti kemandirian, sederhana, ikhlas, berpikir merdeka dan persaudaraan terbukti memenuhi kriteria itu kini malah dilirik pakar sistem pendidikan. Kurikulum terintegrasi dalam tata pendidikan kesetaraan serta multikultural; disana ada figur kyai yang disegani, sosok guru yang ditiru, pelajaran yang dibutuhkan dan kehidupan disiplin asrama yang efektif mendidik alam belajar anak.

Sekolah perlu bersinergi potensi dengan masyarakat dan pesantren. Sekolah Alam berbiaya murah juga bermunculan seperti di Tawangmangu, SMP Qoryah Toyyibah Salatiga dan Pesan Trend Budaya Ilmu Giri Bantul menutupi kelemahan sekolah mahal. Orangtua lebih tahu soal keuangan keluarga, sebaiknya keinginan mereka seiring dengan kemauan anak, bahwa prasarat belajar melalui: kecerdasan, kesempatan, kerja keras, biaya cukup, sedia berguru yang semua itu perlu proses waktu lama yang harus diindahkan negara! Wallahu a’lam. []

*) Artikel opini dikirim 22/02/2007 kea Harian KR please see other article  in http://fdka.wordpress.com and http://kristo2006.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: