DTur Change For All

Archive for Januari 2009

TRAINING MULTI LEVEL DT88


EKSPLORASI DASAR PERUSAHAAN

Nama Perusahaan : PT. Sinar Nusa Indonesia

Sejarah : Berdiri Tahun 1999 selama ± 9 tahun mengekspor produknya, mulai 2006 untuk pasar dalam negeri dalam sistem network marketing.

Alamat Kantor : Jln. Madukoro Ruko Semarang Indah Blok D-xiv No.19A Semarang Jawa Tengah Telp 024 – 70313218, 7623409, 0856 4322 2499 www.sni-dt88.com

Motto : Smart Business with Smart Detergent

Produk : Kebutuhan hidup pokok sehari-hari berupa sabun detergen, sabun mandi,

pasta gigi, kopi serat/fiber, nutrisi habatussauda’, chlorophile dan pupuk NPK.

Visi : MENGENTASKAN KEMISKINAN

Misi : MENINGKATKAN TARAF HIDUP MASYARAKAT

Tahukah anda bahwa visi misi DT88 bermakna bagi semua kalangan di atas sukses jaringan bisnis MLM semata:

Apakah visi dan misi perusahaan ini sesungguhnya ke depan!

Visi perusahaan akan menjelaskan kemana distributor akan melangkah

Misinya mendorong orang menemukan target, kreativitas & etos kerja

Selamatkan permainan bisnis dan menjadi panduan ke-MLM-an anda

Merinci hak–tanggung jawab pemilik kepentingan (stakeholders) DT88

Struktur Manajemen PT. Sinar Nusa Indonesia (SNI)

Komisaris I : Ir. Dobby Iskandar

Komisaris II : Ir. Renato Wibisono

Direktur : Suwarli Liman, SH

Manager Marketing : Sulistyo Ernawan

Manager Operasional : Teddy Susanto

Manager IT : Andree Arifin

Independent Support System YTC:

Yogya teamwork community

Stokis owners DT88 di daerah

Para market leaders DT88 bersandi


Bekerja Keras dengan Fisik

Bekerja Cerdas dengan Otak

Bekerja Ikhlas dengan Hati

Arti Multi Level Marketing (MLM) :

multiply learning marketing > tiga makna satu tujuan MLM.

multi level marketing > sistem pemasaran produk melalui jaringan kerja berjenjang “multi level”.

multi level learning > pembelajaran single – party – limited – multi space/time

level terminologis yang memicu pengembangan nilai-nilai kebenaran universal.

Yogya Teamwork Community (YTC)

o Pelatihan kepemimpinan berjenjang DT88 bagi distributor yang akan mengenalkan presentasi produk, sosialisasi sistem marketing plan, kajian dan bedah sistem, menjelaskan insentive bonus, mentransfer pengalaman pemasaran, pengembangan dan pembinaan jaringan bisnis.

o Data usaha network marketing Indonesia (2003) sebanyak 4,28 juta distributor dari 210 juta jumlah penduduk dengan omset 343 juta dollar US.; sedang Malaysia di tahun sama telah memiliki 3 juta distributor dari 20-an juta penduduk/ omset 465 juta US dollar. Berapa distributor resmi DT88 saat ini? Omset dan Bonus yang dikucurkan bagi distributor yang menjual produk-produknya. Untuk inilah aktivitas YTC ada.

o Wadah ini merupakan organ independen dari PT. Sinar Nusa Indonesia perusahaan MLM DT88. Harapannya akan mampu menjawab pertanyaan penting mengapa aktif di DT88, yaitu > to have more or to be better? Pilihan ingin sukses material namun diimbangi pencapaian kepribadian agar lebih baik.

o Materi pelatihan antara lain akan mewadahi kebutuhan pribadi market leaders terhadap pola-pola kepemimpinan mereka, seperti; duplikasi dan edifikasi, bagaimana menjual, 7 langkah sukses, teknik clossing, pengambilan keputusan, manajemen konflik, targeting, character building, teknik komunikasi dan komitmen bisnis sebagai arena pembelajaran seorang leader Multi Level Marketing.

o Aktivitas kepemimpinan di dalamnya disupport sepenuhnya oleh Perusahaan dalam rangka mengembangkan bisnis legal bersama dan terus mendorong pelaksana market leader agar mampu berprilaku niaga secara baik, jujur dan profesional serta menguntungkan semua pihak.

o Pola yang diterapkan adalah learning by doing dengan komitmen ingin berbuat demi kemajuan bersama di atas nilai-nilai usaha perdagangan dan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana visi misi DT88. []


Yk, 2009-01-24 Dok andimhd@yahoo.com

TV MENDIDIK, GURU MENIRU, ORTU NONTON!

Benar Wartawan: meng-“Olok-olok Privasi”, Kompas 16/11/08?

bahwa reality show TV merusak tatanan dan norma susila,

melanggar hak-hak pribadi, demo kekerasan dan makian,

dibuat media dengan kamera tersembunyi pula.

Infotainmen TV mengumbar masalah pribadi, cinta,

perselingkuhan, dusta manusia, konflik

dengan pilihan adegan yang menguras emosi pamirsa

menomersatukan pasar dan selera pemodal.

Selama januari–okt 2008, Komisi Penyiaran Indonesia atau

KPI pusat menerima 38 pengaduan masyarakat

atas acara-acara reality show, menegur ANTV 11 nov

dan mengakhiri empatmata jadi (Bukan Empat Mata).

Hasil monitoring KPI (sept 08):

Tayangan kekerasan televisi pada prime time adalah

Global-tv 35.2, indosiar 18.3, rcti – tvOne 12.7,

Trans – metrotv 8.5, sctv 2.8 dan tpi 1.4

wajar kriminalitas meningkat dan terus menginspirasi

kejahatan di masyarakat.. hingga guru orangtua murid

meniru ”Bau Anyir Darah di Televisi” (Kompas 10/11/08!)

Melalui tayangan ”barometer sctv 12/11” malam, beberapa

awak media menyadari mereka memiliki misi dan peran

memproduksi kekerasan dan pilihan diksi siaran

Dari narasumber, pemerintah, dibantu pengamat dan KPI,

mereka rasakan kurang maksimal bekerja

sebagai otokritik keras akan fungsi media

menyeimbangkan tayangan yang mendidik!

lalu bagaimana nasib masyarakat pamirsa?

Jika begitu kemana guru pendidik muslim PGI/KMI mengabdi

kenapa anak-anak dan murid meski nuruti orangtua

apa pemakai media mesti belajar dari Wartawan TV

karena mereka harus memperhatikan 9 etika kerja.

Menurut Nazaruddin Umar: dalam Nuzulul-qur’an TVRI 12/10/2006

yakni akurasi (21:7), etika bertanya (5:101),

melakukan check recheck (49:6), tidak memeras (4:94),

menjauhi prasangka, trial by the press (49:12),

meminimalkan resiko (11:47),

tidak mengolok-olok klien (49:11)

dan terakhir ‘memenuhi hak jawab narasumber’ (12:26)

Maka diantara misi guru adalah membuat berita

dan menebar informasi pengetahuan al-hikmah

bukan menikmati berita apalagi sekedar mengumpulkan ilmu fa Allahu a’lam.

awal des 2008: m.u.d.h.i.’u.d.d.i.n – kmi 75-80



Qiyamul Lail

Bangun tengah malam,

untuk apa mengapa disarankan

ternyata mengandung al-hikmah

siapa lakukan itu berada di maqam terpuji

tutur katanya bernas

wajahnya berseri-seri bersih menghitam

dia diampuni dan terbebas dari dosa

dan ini: kekebalan tubuhnya meningkat!

Mungkin ini prasyarat orang bertaqwa

karena akan memudahkan pelaku shalat malam

pribadi ahli ibadah jadi pemaaf, tegas, rendah hati

sabar, tanpa pamrih, dermawan, berprestasi

mamun tidak sombong seperti QS al-Furqan 63-77.

Orang bertaqwa akan diberi solusi, rizki datang sendiri

Allah memudahkan hidupnya

dibersihkan seluruh keburukannya

dilipat gandakan pahalanya

Allah menjadi wakil dirinya: QS at-Tholaq 3-6

Dia yang menyelesaikan taqdir

penyempurna kadarnya di ujung malam. []

Joktengku, 1.24.2009 andimhd@yahoo.com


MENGOPTIMALKAN PRESTASI BELAJAR

Strategi orang tua memotivasi belajar anak menjadi pribadi insan kamil sesuai tuntunan QS Luqman [31]:12-19 amat beragam, demikian juga bagi masing-masing Sekolah tempat anak belajar telah merinci visi misi mereka ke dalam sebuah kurikulum, tata aturan belajar di kelas hingga teknik metodologi bagi Guru. Agar lebih jelas marilah kita ikuti terjemah Surah Luqman diatas;

12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus [*ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu] lagi Maha Mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sungguh yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah.

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan [**janganlah terlampau cepat; jangan pula terlalu lambat] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Peran paling penting, bahwa seorang Ayah dan Ibu merupakan madrasah bagi pendidikan anaknya, mereka yang memilihkan lingkungan tempat tinggal terbaik, sekaligus calon sekolah paling ideal. Dari peran-peran itulah orang tua mampu mengantarkan Belajar Mandiri, yakni kemampuan seseorang untuk terus menerus membaca – belajar merubah kebiasaan menjadi baik, demi hasil-hasil di masa depan yang lebih sempurna.

TEORI SEBAB AKIBAT: “Siapa Menanam Mengetam”

Investasi orang tua bagi pendidikan anak sangat mendesak dipikirkan, sesuai dengan program yang telah dicanangkan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) tentang hak-hak anak memperoleh empat pendidikan pokok, yaitu: learning to know (cognitive), learning to do (psychomotor), learning to be dan learning to live together (affective).

Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta; 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program ini berkat dukungan 59 perguruan tinggi di berbagai daerah. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi yang melek aksara. Namun, angka ini tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di Asia. Laporan International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN, urutan ke-38 dari penelitian atas 39 negara. Itulah sebabnya United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan Sumber Daya Manusia. Ini membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk dan jumlah Harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%, sementara UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%. (Media Indonesia, 12-09-2008).

Maka pelajaran bagi orang tua, bahwa peran utama mereka adalah membentuk karakter belajar dengan sikap kebiasaan positif “membaca”. Prestasi adalah buah semangat “belajar” yang terus menerus dilakukan anak, sehingga kebiasaan belajar secara benar itu membuahkan hasil terbaik sebagai akibat kerja kerasnya. Tindakan edukatif berurang-ulang ini kelak akan terbiasa bagi anak-anak, seperti kegiatan membaca, mendengar, berbicara, belajar, melihat dst. itu dapat membentuk kebiasaan positif dan pada saatnya akan merubah SIFAT negatif anak menjadi baik mencapai tujuan-tujuan pembelajaran di masa datang. Tujuan orang tua adalah juga keinginan anak yang dicita-citakan, hingga sinergis menjadi tujuan bersama yang akan terus dilanjutkan dengan memasuki alam idealisme pemikiran baru dan demikian seterusnya sampai tercapainya final Goal yang dicita-citakan. Itulah rumusan serentetan proses belajar yang mesti diikuti berdasar hukum sebab akibat; siapa menanam akan mengetam ”Jika Anak Belajar sungguh-sungguh Pasti Mendapatkan”.

PRIBADI MUSLIM KUNCI SUKSES BELAJAR

Sebagai orangtua, bukan persoalan sarana belajar anak saja yang penting diusahakan, namun agar mengenal lebih dekat ragam kecerdasan anak, juga minat belajar sesuai potensi kepribadian dan kebutuhan anak untuk lebih bermakna. Betapa kondisi zaman multimedia memudahkan mereka mencari dan memenuhi keinginan belajar. Betapa besar pula gangguan yang berasal dari lingkungan dan pergaulan, di sisi lain agresi media televisi mempengaruhi belajar mereka. Maka peran utama Orang Tua adalah mematangkan landasan pendidikan moral, karena agamalah yang dapat menyeimbangkan kesadaran ilmu dan ketrampilan mereka, serta karakter mental anak demikian mampu menyelamatkan gangguan-gangguan atas manajemen waktu belajar di mana dan kapanpun. Praktek pendidikan moral agama ini dimulai dari diri sendiri, di rumah dan otomatis anak-anak mampu melihat contoh baik serta akan menirunya.

Maka betapa indahnya fungsi rumah, jika bangunan moralitas agama mendasari kegiatan belajar anak dan menumbuhkan di atasnya kelak ketrampilan profesional menjalani hidup di kemudian hari. Menciptakan habbit sejak usia dini untuk taat beribadah kepada Allah SWT., belajar Al-Qur’an, aktif membaca buku, mendengarkan berita penting media, latihan bertanggung-jawab di rumah (PR), belajar sambil bermain atau sebaliknya bermain sambil terus belajar, berpikiran bebas, berbadan sehat, berwawasan luas namun tetap berbudi tinggi. Membentuk akhlak berkepribadian muslim di rumah sangat mendesak, namun memulai itu semua sejak perkawinan orang tua dimulai, hingga ketika anak belajar di usia sangat dini telah mengenal Rabb Allah SWT., sekaligus semua terbiasa dengan tuntunan al-Islam dan bukan dengan yang lain. Bahwa perintah Syukur, Sholat & Sabar menjalani proses seperti disebut ayat diatas, justru membuka pintu rahmat dan kepandaian anak dalam memaksimalkan potensi dan kecedasan mereka, memudahkan pola mengatur waktu, bahkan kelak mendatangkan kesuksesan belajar yang lain.

Wallahu a’lam bis-shawaab.. 21/01/2009; andimhd@yahoo.com [ ]

Bacaan Tambahan:

ü Hamid Ahmad Ath-Thahir, Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi Untuk Anak, Ibs Bandung, 2004.

ü Syahminan Zaini, Arti Anak Bagi Seorang Muslim, al-Ikhlas Surabaya, 1982.

ü Muhammad Al-hamd, Kesalahan Mendidik Anak: Bagaimana Terapinya, GiP Jakarta, 2000.

ü Vicky Cobb – Kathy Darling, Kamu Pasti Tidak Bisa, Mengenalkan Keajaiban Ilmu pada Anak, Pink Books Yogya, 2005.

ü Hernowo, Self Digesting: “Alat” Menjelajahi dan Mengurai Diri, Mizan Bandung, 2004.

HESSE: SIDDHARTHA GOTAMA

(563–483 SM)

Siddhartha disebut Gotama dalam penulisan Pali, dan baru mendapat debutan Sang Buda dalam usia 35 tahun, setelah enam tahun menjalani praktek asketisisme dan pencerahan sempurna. Namanya telah melegenda 2.500 tahun di utara India yang sezaman dengan Harry Tales, Hersimendes, Nabi Zakaria dan Pythagoras (581–507 SM) atau Konfusius (551–479 SM). Budh artinya kesadaran, sedang Budha adalah orang yang telah mencapai kesadaran sempurna (Ie Swe Ching, 1994, dalam seri tokoh Sidharta Gautama). Ayahandanya seorang brahmana Raja Kapilawastu Sudhodhana dan Maya adalah sang ibunda, bermimpi calon Buddha memasuki rahimnya dalam bentuk gajah putih bergading empat, melahirkan di taman Lumbini wilayah Nepal dan meninggalkan bayi Siddhartha tanpa kasihnya, kemudian diasuh ayah dan bibinya. Sang Budha mengajarkan berpikir bebas (free denker) pada pengikutnya, ia mengasuh anaknya Rohula sebagaimana sorang ayah mendidik anaknya agar terbebas dari duniawi, sebab dulu ayahnya meinginkannya menjadi pemimpin yang berkuasa dan bukan seorang asketis. Namun ajaran Siddhartha yang ditemukan dari semadi bertahun itu mewarnai sejarah umat manusia yang menempati derajat pemikiran nabi, mendahului ajaran Kristen hingga ribuan tahun, semua mengambil manfaat hingga filosofpun banyak terinspirasi oleh pemikiran Siddhartha dan budhisme tersebut. Rentang pengaruh pemikirannya dengan nabi Muhammad SAW (570–632M) yang hidup dari keturunan keluarga Suku Quraisy itu berjarak ±1.133 tahun perjalanan masa dan Siddhartha sekaligus simbol pencarian manusia untuk sebuah kebenaran.

**s**

Setelah cukup waktu Siddhartha tinggal dalam kehidupan duniawi, dalam kesenangan, tanpa pernah menjadi bagian darinya, seni berpikir, menunggu dan berpuasa masih menuntun kehidupannya, manusia duniawi yang awam tetaplah asing baginya. Ia telah kaya, sejahtera dan berkuasa, orang-orang datang padanya, tapi tak seorangpun mendekat dengannya kecuali Kamala. Bagai gasing, roda asketisme dan pemikiran, diskriminasi dalam jiwanya terus berputar untuk waktu yang lama, pola kelesuan merasuki jiwa tapi indera perasaannya tumbuh, mengalami banyak hal dan mulai bosan dengan kehormatan dan uang, ia merasa bodoh dan tak berdaya. Dia hanya mengetahui, nuraninya yang jernih penuh keyakinan, yang dulu pernah hadir di dalam dirinya dan telah menjadi penuntunnya itu telah menghilang selamanya, ya dia telah kehilangan ketenangan hati. Suatu kali ia menerima peringatan lewat mimpi; “suatu saat dia akan mengikuti lagi Sang Buddha, akan menjadikan dirinya taman kesenangannya dan mengembara mengikuti ajarannya.” Godaan mimpi hidup bersama Kamala masih terus menarik-narik, dia telah hidup tanpa ada sesuatu yang hidup, tiada yang bermakna untuk dipertahankan, iapun naik dari jangkauan pergaulan seumurnya dan semakin jauh ke dalam diri sendiri penuh kesakitan mencari Brahman.

Dia mendengar suara-suara itu saat ia meninggalkan rumahnya, memilih hidup dengan para shramana; sekali lagi saat ia pergi pada Sang Mahasempurna; menuju ketidaktahuan. Dunia tempat orang-orang Kamaswami hidup sesungguhnya hanyalah tontonan permainan, Kamala satu-satunya orang yang ia pedulikan dan bermakna sesuatu bagi dirinya, tapi masihkah kini ia butuhkan itu atau membutuhkan dirinya. Tidak, tidak ada gunanya, nama permainan itu adalah samsara, dia berharga dan bernilai jika dimainkan, lalu ia menyadari kalau permainan itu berakhir, tak lagi dapat bermain, ada sesuatu yang telah mati. Sutu hari penuh ia duduk di bawah pohon mangga itu, berpikir tentang ayahnya, tentang Govinda, tentang Gotama. Apakah bermanfaat baginya menjadi seorang Kamaswami, apakah ini benar, bukankah ini permainan bodoh, bahwa dirinya memiliki pohon mangga, sebuah taman? Iapun menyudahi kematian rohani dalam dirinya, malam-malam dia bangkit meninggalkan taman dan mengucap selamat tinggal pada benda-benda itu. Kamaswami menyuruh orang-orang mencarinya, Kamala tidak menyuruh siapapun saat tahu Siddhartha menghilang tak kembali entah kemana, karena dia seorang shramana pengelana, tapi tak lama ia tersadarlah dari kebersamaannya yang terakhir bersama Siddhartha bahwa dirinya telah mulai mengandung benihnya. (p. 127).

Siddhartha tersesat di hutan, dia terjebak hebat dalam samsara, terhisap muak dalam kematian dirinya, ia telah sampai di ujung kelelahan tiba di sebuah sungai lebar, sungai sama yang dia jumpai saat masih muda. Dia terbangun oleh rasa lelah dan lapar, ia sandarkan bahunya ke sebuah pohon kelapa, meletakkan tangan di atas batang dan menatap ke bawah, ke air hijau yang tak henti mengalir, menemukan dirinya utuh dan dipenuhi hasrat untuk mati. Wajahnya berubah, ia memandang tajam ke air, melihat bayangan dirinya, keletihan luar biasa, menggeser tangannya dan memutar sedikit agar dirinya bisa langsung jatuh ke bawah, hingga ia dapat mencapai dasar. Dia tenggelam, matanya tertutup, menuju kematian. Sesaat kemudian dari sudut jiwanya, hadir sebuah suara, sebuah kata mulai ia ucapkan tanpa sadar, kata suci OM, berarti seperti “kesempurnaan” atau “kepenuhan”. Suara itu mencapai telinga Siddhartha, tiba-tiba pikirannya kembali bangkit, dan dia sadar. Begitulah saat kata OM memasuki kesadarannya, ia berhasil mengenali dirinya di tengah kedukaan dan kekecewaan. Dia ucapkan “OM” pada diri sendiri, dan dia mengenal Brahman, menyadari kehidupan yang tak terhancurkan, mengenal dimensi kesucian yang terlupakan. Ia mampu tidur nyenyak tanpa mimpi, sudah lama tak merasakan itu saat terbangun beberapa jam, seolah sepuluh tahun berlalu. (p. 133).

Siddhartha duduk dan melihat seorang asing yang tua di dekatnya, seorang pendeta dengan jubah kuning dan kepala gundul, bersikap semadi. Ia tak perlu lama untuk mengenali bahwa pendeta itu Govinda, teman masa mudanya, yang telah bergabung dengan Buddha Sang Agung, namun masih memiliki sifat antusiasme, kesetiaan, keingintahuan dan kepatuhan. Saat merasakan tatapan dirinya, Siddhartha tahu kalau Govinda tidak mengenalinya, sudah lama ia menunggunya untuk bangun dan menjaga di sampingnya. Govinda memperkenalkan diri sebagai murid dari Gotama, Buddha Agung yang dipanggil Shakyamuni, ia sedang melewati jalan bersama temannya saat melihat dirinya terbaring tidur di tempat berbahaya, lalu membangunkannya tapi gagal dan menunggui saja hingga terbangun. Govinda dipersilahkan pergi setelah menerima ucapan terima kasih telah menjaga dirinya saat terlelap, namun tidak meneruskan jalan, dia “heran” mengetahui Siddhartha menyebut namanya, maka kedua shramana ini bertemu lagi berbagi kisah hidup sebagai pengelana, pergi menebar pelajaran, mengumpulkan sedekah dan semadi tapi tidak kemana-mana. Siddhartha hanya seorang pencari, dengan pakaian, sepatu dan rambut seperti itu yang berbeda dengan pencari kebanyakan; ia mengingatkan Govinda, bahwa keabadian adalah bentuk dunia, dan besok dia tidak tahu karena roda akan terus berputar. Govinda menatap teman masa mudanya itu lama dengan kesangsian di matanya, lalu ia tinggalkan layaknya meninggalkan seorang yang termasyhur dan melanjutkan perjalanannya. Dengan senyum di wajah, setelah kebahagiaan tidur nan indah berselimutkan OM, Siddhartha menyaksikan pendeta itu menghilang, semua kesenagan inderawi, kenyamanan dan kekayaan menjauh darinya. Ia berkaca diri, sulit baginya berpikir namun ia memaksa dirinya, ia dapati perubahan itu. Ia kembali mendengarkan OM dan merasakan gelora kebahagiaan dalam dirinya, ia peroleh kelepasan diri menjadi bebas. (p. 145).

**juru_s.**

Ia tinggal di tepi sungai, menatap air bening hijau yang mengalir, dan sungai itupun menatapnya dengan sejuta pasang mata; yang hijau, kristal, putih dan biru langit. Betapa ia mencintai sungai misteri ini dan memukau dirinya, berterima kasih padanya, ia mendengar suara suci yang berkata padanya: “Cintailah sungai ini! Tinggallah di dekatnya! Belajarlah darinya!” Siddharta bangkit tertikam lapar tak tertahankan, ia mencapai sampan penyeberangan yang siaga, juru sampan sama yang dulu membawanya saat muda, Siddhartha mengenalnya, ia telah mulai tua namun tetap memilih suatu hidup yang menyenangkan dengan memainkan air. Juru tua itu membenarkan, bukankah setiap kehidupan dan kewajiban itu indah, dengan mengayuh maju mundur, tapi Siddhartha dicurigai akan segera bosan menjalani hidup bermakna dengan pakaian bagus, ia malah menawarkan pakaiannya agar tak menjadi beban, sebagai ganti beaya ongkos penyeberangan, bahkan jika diizinkan ingin menjadi murid juru tua menarik sampan. Si juru tua menatap orang asing itu lama dan menyelidik, lalu mengenalinya pernah dahulu tidur di gubuknya, mungkin dua puluh tahun yang lalu. Setelah itu Siddhartha menjabat tangan juru tua yang mengaku bernama Vasudeva, ia menceritakan asal usulnya dan aneka penacriannya sebagai shramana, si pembicara tahu  juru tua mendengar semuanya tanpa keterpaksaan, hanya mendengarkan.

Siddhartha mempelajari banyak hal dari Vasudewa, tentang betapa dalamnya ia terjatuh, tentang kata suci OM, tentang betapa dalam cintanya akan sungai, seperti katanya: “Inilah pemikiranku, sungai telah berbicara padamu, dia temanmu, ini sangat baik. Dahulu aku beristri, tempat tidurnya di sebelahku, kini ia meninggal, aku hidup menyendiri dalam waktu yang lama, hiduplah bersamaku, masih ada ruang dan makanan untuk dimakan bersama.” Vasudeva memberi pelajaran bagaimana mendengarkan, bukan cara berpikir. Hanya sedikit diantara ribuan yang menganggap sungai bukan penghalang, mereka dengarkan suaranya dan mendengarkannya, sungai menjadi sesuatu yang suci bagi mereka seperti juru sampan menganggapnya. Siddhartapun belajar mengayuh sampan, bahwa menurutnya sungai ada dimana-mana dalam saat yang bersamaan, di sumbernya, muaranya, di aliran sampan, di gunung dan di laut, bukan dalam bayang-bayang masa depan. Vasudeva mengajarkan bagaimana mendengar seribu suara dalam waktu bersamaan. Wajahnya semakin berbahagia, wajahnya juga mirip juru tua, dan melihat lagi juru sampan yang lain, mengangkatnya keduanya menjadi saudara, kedua pria itu memikirkan tentang hal yang sama, jawaban dan pertanyaan yang sama. (p. 163).

Tahun berlalu, suatu saat para pendeta pengikut Sang Buddha Gotama memintanya untuk diseberangkan, dari mereka juru kapal itu tahu mereka sedang berjalan cepat untuk melihat Sang Agung yang sedang sakit menjelang ajal kebebasan. Pendeta lain datang susul menyusul, para pencari tiada berbicara kecuali tentang Gotama dan kematiannya yang akan datang, sejak itu Siddhartha mencurahkan banyak pikiran tentang guru yang sakit menunggu ajal, menyaksikan jalan Sang Guru menuju kesempurnaan di depan mata. Sekian lama ia menyadari dirinya menyatu dengan Gotama, meski ajarannya tidak dapat diterima olehnya, kini tak ada lagi yang dapat memisahkan dirinya dengan ribuan orang suci. Begitu banyak orang, termasuk Kamala melakukan perjalanan menuju Buddha, telah lama dia menarik diri dan memberikan tamannya bagi para pendeta Gotama, bersama para sahabat, dermawan dan dengan Siddhartha muda anak lelakinya, melihat Sang Buddha segera setelah mendengar kematiannya. Kumala bersama anak kecil berjalan di sepanjang sisi sungai, anak itu segera merasa lelah dan ingin kembali ke rumah, dia tidak tahu mengapa harus berjalan berat yang menyedihkan, untuk melihat seseorang menjelang ajal, keduanya tak jauh dari sampan penyeberangan. Saat Siddhartha kecil berhasil memaksa ibunya untuk istirahat, tiba-tiba anak itu meraung keras, wajahnya memucat. Dari bawah baju Kumala, keluar seekor ular kecil hitam yang telah menggigitnya, sekarang keduanya berlari kencang minta bantuan sampai Kumala pingsan. Vasudeva segera datang, anak lelaki itu mulai menjerit sedih, juru sampan itu membawanya ke pondok, saat itu Siddhartha sedang membuat tungku perapian melihat wajah yang dia kenali; dan sekarang dia tahu wajah anaknya sendirilah yang mengejutkan ingatannya, dan hatinya berdetak.

Luka Kumala telah dibasuh, sebentar dia sembuh dan sadar, dia menyangka sedang mimpi, menatap wajah sahabatnya itu, perlahan ia ingat kejadian tersebut, dia digigit ular dan menangis kebingungan mencari anak lelakinya. Siddhartha menenangkannya, anak itu di dekat sini, lalu berdua beradu kasih demi ingatan masa lalu penyebab lahirnya anak kecil yang mirip rupanya itu. Matanya kehilangan arah dan jatuuh tertutup, anak itu menangis. Siddhartha meletakkannya di pangkuannya, membiarkan dia menangis, mengusap rambutnya, raut wajahnya mengingatkannya pada doa kaum Brahmana yang dulu pernah dipelajari. Dia mulai melafalkan dengan nada datar, di bawah mantra nyanyian tersebut anak itu jadi tenang, terisak lalu tertidur, ia menidurkannya di tempat Vasudeva. Orang tua itu sedang berdiri dekat tungku penanak nasi, Siddhartha menatapnya, dibalasnya dengan senyuman, “dia akan meninggal”, ujar Siddhartha lirih. Ia saksikan temannya Kumala mulai sadar, rasa sakit merubah wajahnya, ia membaca penderitaan di mulutnya, ia menyaksikannya dengan diam penuh perhatian, Kumala merasakan hal ini dan matanya mencari mata Siddhartha. Sekarang Kumala melihat matanya mulai berubah, mereka jadi sangat berbeda, jadi bagaimana mungkin perempuan itu masih mengenalinya sebagai Siddhartha, kedua anak bapak ini berbeda tapi sama. Rupanya Kumala tidak kuat lagi menahan rasa sakit, dan menemui ajalnya di tempat tidur yang sama istri Vasudeva dulu meninggal, ia seperti mengantarkan anak kecil itu kepada ayahnya. Siddhartha harus meyiapkan onggokan kayu bakar untuk sang istri.

**hbs**

Anak kecil itu berdiri di upacara terakhir pemakaman ibundanya, murung dan malu mendengar Siddhartha menyambutnya di pondok Vasudeva. Dia membuang pandangan dan menutup hatinya, menolak takdir dan coba menentangnya dengan caranya sendiri. Siddhartha sadar kalau anak itu tidak mengenal dirinya, ia tak mampu sebagai ayah bagi anak seusia sebelas tahun itu. Seiring waktu, anak itu tetap menjauh dan muram, sombong dan keras hati, tidak menghormati orangtua. Siddhartha sadar bukan bahagia dan damai yang datang padanya, tapi derita dan masalah, tapi ia mencintai anak itu, dan memilih penderitaan jika harus kehilangan anak itu. Mereka mulai berbagi pekerjaan, Vasudeva sekali lagi mengambil peran juru sampan, Siddhartha agar lebih mendekat ia lakukan pekerjaan di pondok dan ladang. Lama Siddhartha menunggu anaknya memahami dirinya, menerima cinta dan membalasnya, selama itu pula Vasudeva hanya mengamati, tak mengatakan apapun. Suatu hari anak itu menghina kasar ayahnya, dengan sombong dan kejengkelannya, dan setelah memecahkan dua mangkuk nasi; Vasudeva mengajak temannya ke luar malam itu dan berbicara padanya, burung muda itu menurutnya terbiasa hidup dalam kehidupan lain, jenis sangkar lain, dia tidak seperti ayahnya. Siddhartha perlu bertanya sendiri kepada sungai dan dengarkanlah juga dia, anaknya tidak berada di tempat dimana ia bisa tumbuh subur. Penderitaannya tidak akan ringan, karena hatinya sombong dan keras, orang sepertinya akan membebani diri dengan dosa. Siddhartha tidak akan memaksanya, memukul atau memberinya perintah, jalannya pasti akan berbeda dengan ayahnya, bukankah semua itu paksaan dan hukuman. Vasudeva mengusulkan membawa anaknya ke kota, agar bisa bersama anak-anak lain berada di dunianya, tapi Siddhartha ragu karena akan melakukan kesalahan ayahnya dulu, ia akan benar-benar terjebak dalam samsara disana. Jawaban akan muncul dari suara sungai, apakah kesediahan ayahnya, peringatan gurunya, pengetahuan dan pikirannya yang dapat menyelamatkannya; ayah dan guru macam apa yang dapat melindunginya dari hidup dan kehidupan itu sendiri, belum pernah Vasudeva mengeluarkan kata-kata sebanyak malam itu kepada orang lain, tapi Siddhartha tidak bisa mengikuti nasehatnya.

Datanglah harinya saat kemarahan Siddhartha muda akhirnya meledak menjadi pertentangan terbuka dengan ayahnya, anak itu tidak beranjak mengerjakan tugas-tugas mengumpulkan ranting-ranting, dia marah, berdiri menggerakkan kakinya ke lantai, mengepalkan tangannya, dengan kebencian dan hinaan kasar diteriakkan di depan ayahnya. Dendam terhadap ayahnya tercurah sudah, dia meninggalkan pondok, lari dan tak kembali, dan pagi berikutnya menghilang. Siddhartha ingin mencarinya, tapi Vasudeva melarang, sahabatnya itu melihat bahwa anak itu telah membuang dayung, berarti dia tidak mau diikuti untuk dibawa kembali. Namun sang ayah tetap saja pergi menyusul anak itu, sebentar Siddartha telah berada di jalan besar dekat kota, dia berhenti di depan taman kesenangan yang dulu milik Kumala, dia berdiri lama menyaksikan para pendeta, sebagai gantinya dia saksikan Siddhartha muda dan Kumala muda di bawah pohon yang tinggi, dia mengenang masa lalunya, dan ketika merasakan hampa dan ketidakbahagiaan terucaplah kata OM tanpa suara, memenuhi dirinya dengan OM. Lalu dia kembali pulang menuju hutan dengan Vasudeva, tak seorangpun terdengar bicara tentang pengalaman hari itu, di pondok Siddhartha berbaring di atas tempat tidurnya, tak lama kemudian, saat Vasudeva datang kepadanya dengan semangkuk air kelapa, dia menemukannya telah tertidur.

Luka itu meninggalkan bekas dalam waktu lama. Siddhartha telah banyak menyeberangkan manusia melewati sungai itu, dan tak pernah menjatuhkan pandangan pada salah satu dari mereka, tanpa merasa iri, tanpa berpikir, begitu banyak manusia memiliki kebahagiaan yang paling indah, hanya itu bukan dirinya. Dia merasakan apa yang mereka rasa, ia melihat orang-orang berbeda dengan sebelumnya, dia memahami dan membagi kehidupan mereka, ia menganggap mereka sebagai saudara. Dia melihat manusia hidup meraih jumlah tak terhingga untuk itu semua, melakukan perjalanan, berperang, menderita dan bertekun tanpa tanpa kenal batas demi itu semua. Ia dapat mencitai karena alasan itu, dia menyaksikan hidup tempat kehidupan, inti tak terbinasakan, Brahman di setiap hasrat mereka. Orang bijak dan para pemikir tidak memiliki sesuatu yang lebih kecuali satu hal tak berharga, satu hal sangat kecil: kesadaran, ide-ide kesadaran, tentang kesatuan dari seluruh kehidupan. Manusia di bumi sama bijaknya dalam segala hal, sering kali jauh lebih berkuasa seperti binatang merasa lebih unggul dibanding manusia, tak pernah salah mengenali kebutuhan. Terjadi pemekaran dalam pengetahuan Siddhartha tentang apa itu kebijaksanaan, itu lebih dari sekedar kesiapan jiwa, sebuah ketangkasan khusus yang misterius, kemampuan memikirkan gagasan tentang kesatuan, untuk merasa dan bernafaskan kesatuan, namun luka itu masih membara, ia memikirkan anaknya, ini bukanlah titik api yang akan mati dengan sendirinya. (p. 194).

Suatu hari saat meradang hebat, Siddhartha menyeberangi sungai dituntun kerinduan, berniat ke kota menemui anaknya, sungai itu jelas tertawa, di air yang mengalir ia lihat dirinya, ayahnya si brahmana, wajah anaknya, semua mengingatkan pada sesuatu yang terlupakan, mengalir menuju muara derita, mendengar luka yang belum berbunga. Ia kembali ke pondok, rindu luar biasa untuk membuka dirinya pada Vasudeva, si ahli mendengarkan yang kini tak lagi bekerja di sampan, kini menganyam keranjang, meniti kebahagiaan dan keceriaan di wajahnya. Siddhartha mengungkap luka dan derita, tapi orang tua itu mendengar bagaimana sungai seperti anak kecil, wajah dirinya, mengungkap itu sama seperti memandikannya di sungai, bahwa pendengar ini menyerap pengakuannya ke dalam dirinya sendiri, dia rasakan kesenyapan, Vasudeva menuntunnya ke sungai karena ia belum mendengarkan semuanya, Siddhartha akan mendengar yang lebih lagi. Dengan lembut muncul paduan suara dari sungai, pertama anaknya sendirian, membara hasrat muda, bertekad pada tujuan, dipengaruhi keinginannya; mesing-masing menderita penuh nyanyian perasaan. Vasudeva lebih seksama membantunya menemukan suara-suara, bayangan Kumala, Govinda, ayahnya, dirinya sendiri seprti menyatu dengan yang lain menuju tujuan, maksud, kegairahan, kelaparan dan derita mereka. Siddhartha melihatnya terburu-buru, sungai ini terdiri dari dirinya dan orang-orang di sekitarnya, semua gelombang dan arus tergesa-gesa maju, dan setiap tujuan disertai tujuan baru, air menjadi uap dan naik ke angkasa, menjadi mata air, menjadi aliran baru. Suara itu berubah mempesona, suara tawa dan ratapan, seratus, seribu suara menjadi bagian satu sama lain. Dia hanyalah pendengar, benar-benar menyatu, maka nyanyian indah dari ribua suara membentuk sata kata: OM, kesempurnaan.

Lukanya mekar, egonya menyatu dengan kesatuan, sama seperti OM, melayang-layang. Di wajahnya mekar bahagia pebuh bijak tanpa keinginan, diiringi langkah Vasudeva, menatap mata Siddhartha dan melihatnya bahagia, menyentuh kebijaksanaan sempurna, sahabatnya itu mengucapkan selamat tinggal padanya, karena telah lama menanti menjadi juru sampan. Dia akan pergi ke hutan. Siddhartha menatapnya, dia berseri-seri pergi, mengingatkan perginya Govinda dari dirinya. Teman masa kecilnya kini telah menjadi pendeta, Govinda bahkan menyelamatkannya dari kematian, saat ini bersama pendeta lain melewatkan waktu istirahatnya di taman Kamala. Govinda mendengar pembicaraan tentang juru sampan tua, dan dianggap oleh orang banyak sebagai guru, ia berhasrat menemui juru sampan, pencariannya belum terpecahkan. Dia tiba di sungai dan meminta orang tua itu untuk menyeberangkannya, saat sampai di penyeberangan Govinda mengucapkan terimakasih, orang itu memperlihatkan banyak kebaikan pada para pendeta; dia membawa sebagian besar pendeta menyebrangi sungai ini, juru sampan itu juga seorang pencari jalan kebenaran.

Siddhartha menanyakan kenapa Govinda yang tua dan telah mengenakan jubah pendeta Gotama, masih saja menjadi seorang pencari, dia lakukan itu karena telah jadi sifatnya mencari kebenaran, dia minta juru sampan itu bercerita banyak hal, tapi cerita saja tidak akan ditemukan apa yang dicarinya, terlalu banyak memikirkan keinginan tidak mengantar sebuah maksud. Menemukan berarti bebas, terbuka kata Siddhartha, tidak memiliki tujuan, orang suci pencari sedang meraih tujuannya, terlalu banyak yang gagal mereka temui di depan mata. Lalu Siddhartha menceritakan dulu orang suci pencari datang ke sungai ini, dia menemukan di sisi sungai seseorang pria sedang tidur, dia duduk di sebelahnya dan menjaga tidurnya, namun orang suci tiada mengenali pria yang sedang tidur itu. Terkejut, bingung, pendeta itu menatap mata si juru sampan, menanyakan apakah dirinya Siddhartha, sekali lagi Govinda tak mampu mengenalinya sebagai juru sampan, dia ucapkan selamat pada temannya, Siddhartha tertawa mesra, orang tertentu harus berubah banyak dan menggunakan semua perlengkapan. Malam itu Govinda diajaknya singgah di pondoknya, keduanya menceritakan kembali lembaran hidupnya. Govinda menanyakan keyakinan dan paham yang akan diajarkannya untuk hidup dan bertindak benar.

Ia membuka seluruh lembaran pencariannya sedari muda, jadi pertapa di hutan, tidak percaya para guru, menjauh dari mereka, dan memiliki banyak guru termasuk pelacur cantik. Juru sampan Vasudeva sama baiknya dengan guru Gotama. Govinda terus saja mengejar adakah Siddhartha memiliki ajaran, gagasan yang telah ditemukan, pemahaman yang menyenangkan hatinya. Ya ia memiliki ajaran itu, banyak gagasan, kebijaksanaan salah satunya. “Kebijaksanaan tak bisa diungkapkan, saat seseorang mencoba mengungkapnya, selalu terdengar bagai kebodohan, yang dapat dikatakan itu pengetahuan. Seseorang dapat menemukan kebijaksanaan, hidup selaras di dalamnya, melakukan keajaiban dengannya, tapi tidak dapat mengungkapkannya. Itulah gagasan terbaikku”, Govinda, katanya. “Lawan dari setiap kebenaran juga sama benarnya! Sebuah kebenaran dapat diungkapkan, dengan selubung kata-kata jika hanya punya satu sisi, yakni segala yang dapat dipikirkan dan diungkap dengan kata-kata, semua pikiran tidak memiliki keutuhan, kepenuhan dan kesatuan. Saat Gotama Sang Suci mengajarkan tentang dunia, dia membaginya menjadi samsara dan nirvana, penipuan dan kebenaran, derita dan kebebasan, tidak ada kemungkinan cara lain. Namun di dunia sendiri, kebaradaaan tidak pernah satu sisi, tidak pernah seseorang seutuhnya suci atau seutuhnya berdosa, itu hanyalah semu, Govinda, aku telah mengalaminya banyak sekali. Jika waktu tak nyata, maka jurang yang hadir antara dunia dan keabadian, derita dan kebahagiaan, baik dan kejahatan, juga sebuah ilusi perumpamaan.”

“Bagaimana mungkin,” tanya Govinda gusar. Siddhartha menerangkan kepada teman yang menjadi muridnya; Bahwa “Buddha dan masa depan pendosa hadir di sini dan masa depannya telah ada disana seutuhnya, manusia harus memuliakan perkembangan, potensi dan Buddha tersembunyi di dalam diri setiap orang. Dunia sungguh sempurna atau tanpa batas pada banyak titik di sepanjang jalan lebar yang teratur menuju kesempurnaan, setiap dosa telah mengandung berkah di dalamnya, semua anak kecil telah memiliki jiwa yang tua di dalam dirinya, setiap manusia yang menjemput ajal memiliki keabadian hidupnya, di dalam diri penajahat ada Buddha menunggu. Di kedalaman semadi terletak kemungkinan untuk memotong waktu, melihat masa lalu, kini dan masa datang serempak, hingga segala sesuatu baik dan semuanya sempurna sebagai keharusan apa adanya. Semua hanya membutuhkan persetujuanku, kemauanku, penerimaanku akan cinta. Aku telah mengalaminya di dalam pikiran dan tubuhku semua kesenangan duniawi, kini aku menyerah, dan membiarkannya seperti apa adanya serta mencintainya dan bahagia menjadi bagian darinya.” Lalu Siddhartha menunduk, beberapa ide muncul di kepalanya, mengambil sebuah batu dari tanah, menimangnya di tangan, dan melucu di depan Govinda. Ini hanyalah sebuah batu dari tanah, sebuah tanaman akan tumbuh, tapi dalam lingkaran perubahan juga bisa menjadi manusia dan roh, itulah nilai tambah sebuah batu.

Siddhartha juga berpikiran, bahwa batu adalah batu, dia juga binatang busa, juga Tuhan, juga Buddha, ada batu yang merasa sebagai minyak, daun, seperti pasir dan seterusnya, masing-masing unik dan mengucap OM dengan caranya sendiri. Masing-masing adalah satu Brahman, namun saat yang bersamaan dan sama besarnya, dia adalah batu, berminyak atau licin, justru itulah yang indah menyenangkan, harga dari kemuliaan. Kata-kata tidak berharga untuk makna tersembunyi, segala sesuatu sedikit berbeda ketika hal itu diungkapkan, sedikit menyimpang dan bodoh, itu juga baik dan dibutuhkan untuk sebuah kesempurnaan, kebijaksanaan yang bernilai, untuk orang lain sebagai suatu kebodohan. Itulah sebabnya, ajaran tidak berarti apapun bagi Siddharta, mereka tak memiliki kekerasan, kelembutan, warna, bentuk, bau dan rasa, ajaran tidak memiliki apapun kecuali sekedar kata-kata itu. Karena kebebasan, kebijakan, samsara dan nirwana hanyalah kata-kata, tak ada benda nirwana, hanya ada kata nirwana. Mungkin nirrwana itu berupa gagasan, tapi Siddhartha hanya memberi nilai lebih pada benda yang nyata, bukan ide hebat yang semu menipu, baginya semua hanya perlu dicintai apa adanya, menghargai diri sendiri dan semua makhluk hidup dengan cinta, penghargaan dan pernghormatan. (p. 217)

Kedua manusia itu terdiam lama, merasakan kekosongan, masing-masing berjalan dengan angan-angan sendiri, Govinda merasa aneh dengan ajaran dan gagasan Siddhartha, walau aneh semuanya memancarkan kemurnian, dia belum pernah bertemu orang lain seperti ini sejak kematian guru besarnya, dia terus memikirkan kata-kata aneh teman yang kini menjadi gurunya, banyak rangkaian panjang, wajah sungai yang sedang mengalir, ratusan, ribuan, semua datang dan pergi, semuanya ada disana sekaligus berubah menjadi sebuah wajah baru. Dia melihat dewa-dewa, Kresna dan Agni, masing-masing membentuk wajah hubungan satu sama lain, menolong, membenci, merusak dan melahirkan kembali terus menerus, antara wajah satu dengan yang lainnya, semua tetap mengalir. Diatas semua itu sesuatu yang tipis, tidak penting namun ada, seperti topeng air di sungai, tersenyum, ya topeng itu adalah wajah tersenyumnya Siddhartha, dimana Govinda menyentuhnya dengan bibirnya. Demikianlah Govinda melihat senyum topeng itu, senyum kesatuan atas bentuk yang mengalir itu, bentuk keserentakan atas kelahiran dan kematian yang aneh, senyum Siddhartha benar-benar menyerupai senyum Sang Buddha Gotama yang tenang, halus, sempurna, tak dapat ditembus. Govinda membungkuk dalam-dalam, air mata tak disadarinya mengaliri wajah tuanya, sebuah perasaan cinta luar biasa dan kemuliaan bagai nyala api di hatinya, dia merunduk hingga ke tanah, di sosok tanpa emosi ini dan yang sedang duduk ini, senyumnya mengingatkan pada sesuatu yang pernah ia cintai dalam hidup, tentang segala sesuatu yang berharga dan suci baginya. (p. 224). [ ]

Joktengku menutup 2008.

andimhd@yahoo.com

SIDDHARTHA GOTAMA

(563–483 SM)

A

dalah seorang putra Brahmana, ia pendiam, alim, tekun, sederhana, tidak menggurui, sabar dan rendah hati, pekerja yang berkesadaran, haus pemahaman dan dipenuhi pertanyaan atas kitab Veda, kuat bersemedi, jujur dan dihormati terutama oleh Govinda teman akrabnya. Ia hidup sebagai shramana, belajar menolak diri sendiri melalui luka derita yang disengaja, hidup samsara tapi fokus mencari kebahagiaan sejati, ribuan kali dia meninggalkan egonya di belakang, diam di dalam non-ego dan kehampaan, dingin dan derita. Namun tetap akan kembali menghadapi dirinya sendiri di bawah cahaya matahari maupun bulan, naungan atau dalam hujan, sekali lagi Siddhartha dan egonya muncul, dan kembali merasa siksaan lingkaran keberadaan menguasai dirinya, itulah sari panjang yang dikisahkan peraih Nobel Sastra Hermann Hesse dalam buku Siddhartha (1922), terbitan Bentang, Yogyakarta, 2005, 226 halaman pagina. Karya Hesse ini lalu bergulir hingga jalan depalan; tidak membunuh, tidak mencuri, atau melakukan perbuatan seksual tak senonoh, berdusta, meminum miras, tidak makan di luar ketentuan, menari dan menggunakan kosmetik, tidak menerima pemberian emas dan perak. Jalan yang ditemukannya adalah wujud kebebasan jiwa dan kemerdekaan berpikir seorang Bodhisattwa. Sinopsis ini dilengkapi data riwayat hidup dari buku Buddha, tulisan Gillian Stokes, penerbit Erlangga, 2001.

Pada suatu hari ia bertekad untuk kesekian kali, mohon izin pergi meninggalkan shramana, tapi dia marah. Govinda merasa terpojok dan malu, tapi Siddhartha meliriknya lalu berbisik: “Sekarang aku akan menunjukkan sesuatu yang telah aku pelajari darinya.” Dengan sikap tegak tepat di depan shramana dia memusatkan pikirannya menguasai pandangan lelaki itu, memikatnya, membuatnya menjadi diam dan kehilangan keinginan. Dia menjadikannya subyek keinginan dan memerintahkannya secara diam-diam: melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Lelaki tua itu diam, matanya terpaku, keinginannya hilang: tangannya tergantung lemas di sisinya. Dia menjadi tidak berdaya di bawah sihir Siddhartha, shramana ini melakukan apapun yang diperintahkan, hingga lelaki itu membungkuk memberkati perjalanan mereka berdua. Ketika Govinda lalu berkata, sungguh jika Siddhartha tetap tinggal disana, akan mengikat shramana tua dengan mantra dan akan segera berjalan di atas air. Jawab Siddhartha: “Aku tidak punya keinginan berjalan di atas air. Biar saja si shramana tua menyenangkan dirinya dengan keahlian seperti itu”. (Hermann Hesse, Sidhhartha p.37)

Di kota Shravasti semua penghuninya mengenal Sang Buddha, tiap rumah siaga mengisi mangkuk sedekah pengikutnya. Di tempat kesukaan Gotama, Taman Jeta datanglah dua pertapa muda dan disediakan makanan bagi mereka, kepada wanita pemberi makan itu Gotama bertanya; Dimanakah gerangan Sang Buddha berada, dia ingin menemunya dan mendengarkan ajaran dari bibirnya. Wanita itu menjawab, bahwa Sang Agung tinggal di Taman Jeta, di taman Anathapindika; “Kalian dapat bermalam disana, berkumpul di tempat itu mendengarkan ajaran dari bibirnya.” Govinda menyaksikan semua itu dengan bahagia, namun Siddhartha mendorongya pergi melanjutkan perjalanan menuju Taman Jeta. Di sepanjang jalan, para pendeta berjubah kuning terus menyapa, mereka duduk di bawah pohon tenggelam semadi, naungan taman itu bagai kota penuh manusia bergerombol seperti lebah. Siddhartha melihat Sang Penerima Rahmat, pria sederhana bepakaian kuning, berjalan tenang dengan mangkuk sedekah di tangannya. Sang Buddha bergerak lambat, merunduk, ketenangannya saat tangan bergantung gemulai, jemarinya pasrah sempurna, tidak mencari apapun, menyamai apapun, bernapas lembut, dia bergerak dalam ketenangan abadi, cahaya abadi, kedamaian yang tak terusik. (Sidhhartha p.42)

Kedua pemuda ini mengikuti ajaran Sang Buddha, berbicara tentang kebenaran, bernafas aroma dan cahaya kebenaran. Sang Agung mengajarkan empat kebenaran utama dan delapan langkah. Govinda ikut bergabung dengan ajaran Sang Agung, ia mengkritiknya karena seperti tidak mengingikan kebebasan. Dia menatap wajah temannya, bahwa sekarang Govinda telah memilih jalannya sendiri, dia berharap agar sahabatnya mengikutinya hingga memperoleh kebebasan. Besok Siddhartha akan meninggalkan Govinda, ia terus berjalan di taman, merenungkan bahwa ajaran Sang Agung sangat baik, bagaimana mungkin ia temukan kekurangan. Ada satu ajaran Sang Agung paling berharga, yakni segala sesuatu telah jelas dan tidak terbantah, ditunjukkan bahwa dunia sebagai sesuatu yang tidak pernah hancur, lingkaran sebab akibat yang abadi dan sempurna. Dia melihat dunia sebagai satu kesatuan utuh, tanpa keretakan, tak terpengaruh oleh ketidakpastian atau tergantung pada dewa. Dia kesampingkan baik dan buruk, derita atau bahagia, mungkin inilah kesatuan dunia, ketergantungan dari segala sesuatu, pencantuman segala dalam satu aliran yang sama, hukum penyebab yang sama, tentang kehadiran dan kematian. Siddharta meminta maaf atas ungkapan keberatannya, sekarang semua sesuai dengan ajaran Sang Gotama sendiri. Gotamapun mendengarkan dengan tenang, tidak bergerak, bersuara jernih dan sopan Sang Agung berkata: “Engkau telah mendengarkan ajaran tersebut, putra Brahmana. Baik bagimu karena telah mempertimbangkan dengan mendalam, kamu menemukan kekurangan disana. Hati-hatilah engkau yang rakus akan pengetahuan dari hutan pikiran dan perjuangan dunia, pikiran bisa menjadi baik dan buruk, orang dapat mendukung atau menolak. Ajaranku bukan untuk menerangkan tentang dunia bagi orang yang rakus akan pengetahuan. Ajaranku memiliki tujuan berbeda, yakni kebebasan dari penderitaan..” Namun Siddhartha berkeyakinan bahwa tiada seorangpun mencapai pencerahan melalui sebuah ajaran, dia tetap terus melanjutkan pencariannya. (p. 52).

Ia meninggalkan Sang Buddha dan Govinda di belakang, dan merasa jiwanya tertinggal di taman, menyerahkan hidupnya pada masa itu dan terpisah darinya. Dia merenungi dalam-dalam, tenggelam dalam perasaan hingga mencapai titik penyebabnya, dalam pandangannya itulah pemikiran, dan hanya dengan cara ini perasaan menjadi pengetahuan dan mulai bermakna. Guru bijak terakhir yang ditemuinya telah dia tinggalkan. Semakin perlahan, pria perenung itu berjalan, bertanya pada dirinya: Apa yang coba ia pelajari dari para guru dan ajarannya, apakah mereka telah ajarkan banyak hal, tidak dapat mendidiknya, menemukan makna inti ego yang ingin disingkirkan dan dikuasai? Perenung itu terperangkap oleh pikirannya sendiri, dia tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Dia sedang mencari Atman dan Brahman, ia hancurkan egonya sendiri dalam upaya menemukan inti yang belum ia ketahui, hidup, kemuliaan, sang akhir. Tapi ia telah kehilangan dirinya dalam proses tersebut. Ia membuka mata, hati dan kesadarannya, belajar dari dirinya sendiri, belajar tentang dirinya, tentang misteri dari Siddhartha. Dunia dilihatnya bukan lagi penipuan Mara, semua isi dipandangnya indah, misterius dan ajaib. Makna dan inti tidak berada di balik benda; tapi ada di dalam mereka. Ketika Siddhartha memikirkan ini, ia tiba di sebuah pemberhentian kembali, sejak itu tersadar dan memulai lagi hidupnya dari awal. Saat tersadar ia telah meninggalkan Taman Jeta, taman tempat Sang Agung itu, Govinda telah menjadi seorang pendeta, ia telah meninggalkan masa itu segera melanjutkan perjalanannya, tidak sabar tidak lagi kembali kemanapun, dia telah menuju kesadaran dirinya sendiri. (p.63)

**2**

Ia belajar melihat hal baru di setiap langkahnya, pagi hingga malam apa adanya, begitu sadar dan terbuka terhadap apapun, siapapun, menjadi bagian darinya, cahaya dan bayang-bayang melintasi pengelihatan dan hatinya. Ia mengingat kembali segala sesuatu di Taman Jeta, setiap kata yang diperolehnya dari ajaran Buddha. Perkataan yang disampaikannya pada Gotama: bahwa kekayaan Sang Buddha dan rahasianya, bukanlah pada ajarannya tapi pada yang terungkapkan dan tidak dapat diajarkan dari pengalaman saat pencerahannya di bawah Pohon Bodhi. Ia sadar, dirinya merupaka Atman, dari sari keabadian yang sama seperti Brahman, namun dia belum pernah menemukan dirinya secara utuh, karena selama ini berusaha menangkapnya dengan jaring pikiran. Hal pasti bahwa tubuh bukanlah diri, demikian pula perasaan; tapi bukan pada pemikiran, alasan yang masuk akal, kebijaksanaan yang bisa dipelajari; dunia ide juga bagian dari dunia ini, tak ada apapun yang berharga dapat dicapai dengan ego perasaan yang tak nyata, dengan mengekang ide, ego dan pengetahuan.

Saat tertidur suatu malam di pondok jerami di sisi sungai, Siddhartha bermimpi, Govinda berdiri sedih tinggalkan sendirian, ia rangkul Govinda, dan saat menariknya ke dadanya dan menciumnya, dia bukan lagi Govinda tapi seorang wanita dengan buah dada penuh dengan susu terasa manis dan kuat. Susu itu serasa pria dan wanita, matahari dan bulan, binatang dan bunga, dari setiap buah dan gairah, membuat mabuk tak sadarkan diri. Ketika bangun, sungai jernih itu bersinar dan berirama, terdengar burung hantu menakutkan. Siddhartha meminta tuan rumah juru sampan itu, untuk mengantarnya ke seberang dengan rakit bambu, temannya itu tak minta bayaran, mencintai sungai ini lebih dari apapun, shramana putra brahmana selalu belajar darinya, seseorang dapat belajar banyak hal dari sebuah sungai. Biarlah persahabatan menjadi imbalan, kata Siddhartha: “ingatlah akan diriku saat kamu memberikan persembahan bagi para dewa.” Menjelang siang dia sampai di ujung desa, di jalan kecil mengarah ke sebuah sungai, disana seorang wanita muda berlutut mencuci pakaian, ia ucapkan salam dan mendongaklah wanita itu tersenyum melihat cahaya di mata jernihnya, dia memberkati perempuan itu, bertanya berapa lagi jarak ke kota. Perempuan itu lalu menggodanya dengan “gerakan memanjat pohon”, ia merasakan darahnya memanas karena mimpi di benaknya, ia membungkuk dan mencium puting kecoklatan buah dadanya dengan bibirnya, saat menatap ke atas malah tersenyum penuh gairah, dan matanya menyipit memohon dengan kerinduan.

Siddhartha juga merindukan hasrat birahinya, namun karena belum pernah menyentuh, sebelum tangannya bergerak memeluk wanita itu, dia ragu mendengar suara hati yang menakutkan, berkata “tidak”. Ia membelai pipinya dan menjauh darinya lalu menghilang cepat ke dalam semak bambu. Sore sudah tiba di kota, ia merasa bahagia dan rindu akan persahabatan manusia. Ia heran melihat arak-arakan manusia, matanya menatap pelayan, tandu, dan wanita yang berada di dalam tandu. Ia menatap rambut hitam tergulung di atas kepala, wajah lembut yang cerah cerdas, sebentuk bibir merah merekah, alis dan bola mata hitam, leher jenjang putih muncul di balik jubah hijau keemasan, dan tangan lentik putih dengan gelang emas melingkar. Ia saksikan betapa cantik perempuan itu, dan hatinya tertawa. Wanita itu sengaja menatapnya, lalu menghilang ke taman diikuti para pelayannya. Siddhartha tetap seorang shramana, pelayan di pintu gerbang taman kota memandangnya hina, curiga dan penuh penolakan, mungkin karena dirinya pertapa dan pengemis, dia tahu dari yang ditemui sepanjang jalan kalau taman itu milik pelacur Kamala. Maka ia masuki kota, sekarang dengan memiliki tujuan, membiarkan dirinya ditelan kota tersebut. (p. 77)

Malam hari dia berteman dengan seorang tukang cukur yang dilihatnya saat kembali dari berdoa di kuil Wisnu, ia ceritakan kepadanya tentang Wisnu dan Laksmi. Ia tidur di sampan, dan pagi sekali dia minta temannya menkucur cambang, memotong dan menata rambutnya, lalu mandi di sungai dan meminyakinya dengan wewangian. Saat Kamala ditandu mendekati tamannya di sore larut itu, Siddhartha telah berada disana. Dia menyambut salam pelacur itu, minta diterima bertemu dan memasuki paviliun dimana Kamala berbaring menanyakan perubahan wajah Siddhartha, ia ceritakan dirinya hanyalah seorang shramana selama tiga tahun yang meninggalkan jalan itu. Ia memintanya untuk menjadi teman dan guru dalam bercinta. Pelacur cantik itu tertawa, seorang shramana tanpa alas kaki, datang tanpa uang, bercawat usang ingin menjadi muridnya. Siddhartha telah banyak belajar mulai kemarin, melewati hal-hal sulit dan telah berhasil meraihnya, yakni menemani Kamala. Siddhartha membacakan syair pujian, Kemala tidak keberatan memberikan sebuah ciuman, lalu lagi beberapa dan di balik ciuman panjang terdapat irama indah menunggu dirinya, ia kagum akan pelajaran pengetahuan yang berkelimpahan, ia tak butuh waktu lama untuk lihai mencium Kamala, ia tak kurang pakaian, sepatu, kalung, dan segala jenis benda indah, harga dirinya naik menjulang, tujuannya belajar tentang cinta dari Kumala. Siddhartha tidak melakukan apapun di hadapan kasihnya. Hidup duniawi itu mudah, pikirnya, sejak pandangan pertama ia sudah mengetahui hati Kumala; “Saat kamu melempar sebuah batu ke sungai, dia akan segera jatuh melintas cepat menuju dasarnya. Dia melangkah maju dan membiarkan dirinya jatuh, tujuannya yang mengarahkan dirinya padanya, dia tak membiarkan apapun masuk ke dalam pikiran yang menghalanginya. Inilah sihir yang aku pelajari, orang menyangka hal itu dihasilkan setan, padahal setiap orang dapat meraih tujuan-tujuannya jika ia dapat berpikir, menunggu dan berpuasa.” (p.91).

Siddhartha mengunjungi rumah mewah Kamaswami. Saudagar itu masuk, seorang pria dingin, rapi, dengan rambut abu-abu lebat, bermata awas, cerdas dan bibir yang sensual, tuan dan tamunya saling bersalaman. Siddhartha tidak sedang dalam kesulitan, dan memang belum pernah mengalami kesulitan sebagai shramana, tapi ia inginkan kebebasan tak memikirkannya. Saudagar itu mengira dirinya hidup dari kesejahteraan orang lain, namun seorang pedangang juga hidup dari apa yang dimiliki orang lain, setiap orang memberi dari apa yang dimilikinya, pahlawan berjuang, guru mengajar, petani memberi beras, nelayan memberi ikan. Kepadanya Siddhartha bisa memberikan kemampuan berpikir, bisa menunggu dan bisa berpuasa, ia menuliskan kalimat di atas secarik kertas dan memberikannya pada Kamaswami, isinya “Menulis itu baik, berpikir lebih baik. Kepintaran itu baik, kesabaran lebih baik.” Siddhartha menjadi paham dengan banyak hal baru, ia mendengar dan hanya berbicara seadanya, ia ingat Kamala dan tidak pernah merendahkan dirinya di hadapan saudagar itu, ia menganggap ini semua bagai permainan yang peraturannya dijalankan tapi isinya tak pernah menyentuh hatinya. Di bidang seni mendengar dan kemampuan melihat orang asing, Siddhartha bukan pedagang sejati, tapi ia memiliki rahasia sukses, karena pemahamnnya akan sesuatu yang ia pelajarinya, keuntungan bukan tujuan berdagang, dia bisa mengenal banyak orang dan membina persahabatan di dalam perjalanan, dengannya ia mencoba memahami dirinya dan bersimpati pada sesama, daIam berbisnis ia mengalir begitu saja, ke suatu tempat dalam ketidaktampakan. (p. 109). Bersambung // (2).

andimhd@yahoo.com/ des 2008

MENGAPA “KEN AROK” MEMBUNUH

Era Kediri digantikan Ken Arok anak pasangan Ken Endok dan Dewa Brahma yang medirikan Singhasari (1222-1292M) lalu kemudian diteruskan era Majapahit yang melahirkan Mataram Islam. Sedangkan silsilah Singhasari berawal dari Kediri, karena Ken Dedes merupakan istri pembesar Tumapel bernama Tunggul Ametung yang disirnakan Ken Arok sebelumnya. Sejarah Ken Arok telah melanjutkan lebih jauh tradisi Kalingga yang menerapkan hukum potong tangan oleh Ratu Sima di abad ke-6, dalam bentuk tradisi lain berupa penggal kepala lawan politik; seperti pembunuhan Ken Arok oleh anak Tunggul Ametung yakni Anusapati yang didharmakan (1248) di Candi Kidal Malang, serta anaknya lagi Ranggawuni yang meninggalkan Beteng Canggu dan didharmakan (1268) di Candi Jago sekarang. Tradisi potong tangan dan hukum pancung ternyata telah lama berakar di Jawa, baik demi tujuan politik ataupun karena alasan kepercayaan kepada Sang Hyang Jagad, seperti sesembahan dan mohon keselamatan hidup sejak zaman purba menembus ruang waktu dan keyakinan manusia Jawa modern.

Sejarah telah mengenal keberadaan Kediri dengan raja-raja Jayabaya, Airlangga dan lalu karena alasan tertentu disirnakan oleh Ken Arok. Seperti diatas kemudian ia dirikan yang baru, yaitu Kerajaan Singhasari. Sebetulnya nama Singhasari adalah sebutan ibukota yang diberikan oleh Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1254), lokasi Singasari sekarang dekat Kota Malang. Sedang kerajaannya yang benar disebut Tumapel, sebuah nama yang juga muncul dalam kronik kekaisaran Cina dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.

Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Adapun versi Pararaton, kisah suksesi raja-raja Tumapel diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas dendam, dari sini nama Ken Arok dikenal sejarah sebagai pengawal tradisi memancung lawan politiknya, lalu intrik menghilangkan jejak itu dilanjutkan keturunannya sampai raja terakhir Kertanegara (1268 – 1292).

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya Raja Kadiri melawan kaum Brahmana. Mereka lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, dalam Negarakertagama disebut gelarnya adalah Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra. Perang itu meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel. Alkisah setelah memenggal kepala Tunggul Ametung di Ganter itu, Ken Arok lalu mengambil paksa istri akuwu–nya yaitu Ken Dedes, meski sebetulnya dia telah memiliki istri sendiri bernama Ken Umang, serta memperoleh anak bernama Tohjaya. Nama ini kelak dibunuh oleh saudaranya seibu, Anusapati tahun 1248. Dikisahkan Pararaton, bahwa Ken Arok merupakan titisan Dewa Brahma, ibunya adalah Ken Endok, seorang petani dari desa Pangkur, sebelah timur Gunung Kawi dekat Malang sekarang. Dari permaisurinya, Ken Dedes, Ken Arok mempunyai anak bernama Mahisa Wong Ateleng yang kelak kemudian menurunkan anak Raden Wijaya, dia memperistri salah satu dari 4 putri Kertanegara. Sedang keturunan Ken Dedes dari suami sahnya Tunggul Ametung, adalah Anusapati (1227–1248) yang memenggal kepala Ken Arok tersebut, lalu sehabis pemerintahannya digantikan anaknya Ranggawuni (1248–1268) dan kemudian digantikan Raja Kertanegara.

Dari masa lalu Ken Arok inilah muasal raja-raja Majapahit sebetulnya dilahirkan berasal dari rahim yang sama, yakni Singhasari, sekaligus terhubung pula pada nama-nama Jayabaya, Airlangga dan Kertajaya (Kediri). Sejarah Nuswantara tidak lagi menyebut relasi keturunan Kediri berasal dari Medang Kamulan (abad X–XI), apalagi Mataram atau bahkan era Ratu Sima dari Holing pada abad ke-6 di dekat Solo Jawa Tengah sekarang. Hanya praktek mensirnakan lawan politik demi tujuan singgasana kekuasaan tetap dapat dilacak, hingga sifat yang melekat pada Ken Arok bisa diketahui seperti terlihat disana dan terus berlangsung sepeninggalnya jauh ke zaman modern di depan singgasana Nusantara. Pertanyaan kenapa Ken Arok dan sejenisnya itu membunuh, mungkin karena ajaran berbeda pendapat diantara individu disini kurang ditekankan sebagai nilai dasar kepemimpinan dan kemanusiaan, agar diindahkan sebagai pendorong kejujuran dan pemicu sikap kesatria seorang Raja. Jika saja ajaran demikian ditumbuh-suburkan di arena keluarga dan masyarakat sepanjang zaman, mungkin sifat pendendam dan anti kritik yang dimiliki Ken Arok akan sirna oleh prjalanan waktu, seperti Serat Jangka Jayabaya III dalam terjemah bebas dari bahasa aslinya; bunyi pesan Prabu Jayabaya (1130 – 1160 M), yang muslim itu berikut ini;

“Akan datang ratu Adil Iman Mahdi dari tanah Arab. Tandanya tanaman panennya berkurang, para pandita kurang sabar,raja juga kurang sabar, perempuan kehilangan rasa malu, banyak pertengkaran dan kebohongan, orang kecil jadi (priyayi), ilmuan kurang amalnya dan berprilaku aneh.”

Semua kisah mengandung hikmah, hanya pencari bijak mendapat jalan terang. Wa Allahu a’lam! []

Sumber Tulisan:

Þ I Wayan Badrika (2004), Pengetahuan Sejarah, Kurikulum 2004, Kelas I SMP, Bumi Aksara.

Þ http://www.sman1teladan-yog.sch.id pelajaran sejarah, 2008.

Þ Sigit Widiantoro dkk. (2007), Ilmu Pengetahuan Sosial, Berdasarkan Standar Isi 2006, Quadra – Yudhistira.

Þ Pakempalan TOJ, 2008, Diskusi Terbatas di Sendang. Dok andimhd@yahoo.com.

MEMBACA ‘JAYABAYA’

Keemasan dinasti Kediri dengan rajanya, yakni “Jayabaya” (1130 – 1160 M), telah menempati posisi telaah kritis bagi masa lalu hingga Nuswantara modern. Banyak identitas lembaga atau perorangan, khususnya di Jawa masih terus menggunakan nama Jayabaya. Demikian pula tentang ajaran Jawa atau kepercayaan jawi atas namanya, seperti ramalan jangka jayabaya. Jika diteliti, kata magis jayabaya ini terdiri dari kata jaya artinya unggul, selamat, melampaui, terhindar dari; dan baya dimaksud adalah ubaya, bebaya, mara bahaya. Sehingga jayabaya berarti unggul dari mara bahaya; keselamatan hidup dari mara bahaya. Kata ini sebenarnya adalah sebuah gelar pujangga bagi Raja Kediri paling terkenal selain Kertajaya (1200–1222), Airlangga dan yang terakhir Sanggramawijaya; karena Airlangga (1041M) atas bantuan Mpu Barada lalu membagi dua kerajaan Panjalu – Kahuripan. Tanpa mengerti arti kosakata dan sejarah Jayabaya, maka tujuan luhur lahirnya Jangka Jayabaya akan kehilangan makna positif. Itulah perlunya, upaya identifikasi ajaran jawi tesebut, sekaligus untuk memahami relasi mitos yang masih berkembang atasnya dan keyakinan tertentu oleh sebagian masyarakat Jawa.

Jika merujuk pada arti kata etimologi saja, masih membuka pemaknaan lain di luar yang telah difahami orang tentang Jayabaya tersebut, apalagi yang kedua setelah digabung makna istilah jangka Jayabaya. Sejarah –historiografi- perlu terus selalu dibaca dari sumber aslinya beserta khazanah budaya lokal yang melahirkannya sendiri, dan bukan memaknai fakta-fakta tersebut dari budaya lain di luar dirinya, sehingga kedua fokus sejarah penting ini tidak kehilangan makna otentik. Namun apakah mitos ini masih aktual, dan adakah anasir baru telah ditemukan atau interpretasi lain dari sumber primair ataupun skunder (lisan–tulisan) yang ikut mendukung data-data kebenarannya, mari melihatnya melalui semiotika sejarah.

Serat Jangka Jayabaya merupakan visi perjuangan Raja Jayabaya Kediri, di dalamnya mengandung sebuah kesadaran manusia yang telah berbudi untuk terbebas dari bentuk-bentuk tekanan atau penindasan (mara bahaya) dari luar dirinya. Dari relasi asal arti katanya saja menjelaskan ajaran keselamatan hidup bagi seluruh umat manusia; atau panduan hidup agar terselamatkan dari seluruh bentuk-bentuk mara bahaya. Pertanyaan selanjutnya, apakah wujud tekanan pada era kerajaan saat itu, sehingga dibutuhkan sebuah ajaran agama dan faham keyakinan khusus yang berpijak pada masyarakat zaman itu. Jika diterlisih lebih dalam, pemaknaan demikian akan kembali kepada arti kata yang sama, yakni akar kata jaya dan baya (Jawa: slamet ngungkuli bebaya) yakni ajaran keselamatan hidup yang diambil dari kata Arab salam – aslama – islam. Maka menelusuri Jangka Jayabaya adalah mengungkap penanda sejarah an-nubuwwah al-islamiyah di tanah Jawa; atau tentang sebuah fakta adanya agama Jawi, telah melampaui sejarah peradaban manusia jauh sebelum era Jayabaya.

Sebuah ramalan berikut ini jelas-jelas mengindikasi keislaman sang pembuatnya, yaitu tentang akan datangnya Ratu Adil (hari kiamat!). Dalam Serat Jangka Jayabaya III, Babon Asli Saking: BPH Suryanagara, BPH Suryo Wijoyo, KPH Tjakraningrat, Tumenggung Mangunagaro, KH Kassan Bessari, R Soemodidjojo, R Ng Ronggowarsito, R Broto Kesawa; Geni Murub Nggubel Jalma – Suksma Ngreksa Kembang Sejati, Trombo Maninten. Kaimpun Dening Tiyang Merdika, Ing Projo Dalem, Ngayogyakarta Hadinigrat, Ir. Wibatsu Harianto Soembogo pada halaman 70 tertulis berikut:

1. Besuk ing jaman ahir, sawise jaman hadi, ratu Adil Iman Mahdi, saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tanduran sudo pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi. Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengerane mane: 1. Yen sasi sura ana tundhan dhemit, 2. Srengenge salah mangsa mletheke, 3. Rembulan ireng rupane, 4. Banyu abang rupane. Tengara iki lawase 3 dina, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli, bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu Adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.

2. Pitakone lan wangsulane mangkene: Asalmu saka ngendi = saking kodratullah; Yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat Islam; Apa kowe weruh aranku = Gusti ratu Adil Idayatullah; apa agamamu = sabar darana; apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu Adil Idayat Sengara; apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilahirake = Kalahiraken Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

3. Panulake murid slamet: sawuse krungu tundhan dhemit sasi sura…kudu sedekah. Dongane tolak balak takwin umur donga slamet, saben rino wengi kudu ndunga mangkene: Allahumma rohmatu rosulullah, jahanamu – jahanamu, asfi ma bi dholim ya abdiyasdum narbiyabin, Allahumma rohmad cahyo madhep uripku, cahyaning Allah la ilaha illollah Muhammad Rasulollah, ya rahman cahyaning Allah la ilaha illollah, lailaha illa anta subkanaka (inni) minal dolimin…amin amin ya rabbailalamin.

Artinya kurang lebih, Pertama; Akan datang ratu Adil Iman Mahdi dari tanah Arab. Tandanya tanaman panennya berkurang, para pandita kurang sabar,raja juga kurang sabar, perempuan kehilangan rasa malu, banyak pertengkaran dan kebohongan, orang kecil jadi (priyayi), ilmuan kurang amalnya dan berprilaku aneh. Jika ratu Adil datang akan muncul pertanda; 1. Bulan Sura muncul (dhemit) penyakit, 2. Matahari munculnya salah (arah), 3. Bulan berwarna hitam, 4. Air berwarna merah, Pertanda ini berjalan selama tiga hari, jika lewat masa itu manusia akan ditanya, yang tak mampu menjawab akan dihabisi oleh (dhemit), karena ratu Adil datang beserta para (bala) Jin, setan dan siluman yang tiada tandingan.Kedua; Terjadi tanya jawab berikut ini; Asalmu dari mana = dari kodrat Allah; Bekal apa yang akan kau bawa = syahadat iman tauhid ma’rifat Islam; Apakah kamu tahu siapa aku = Gusti ratu Adil Idayatullah; Apa agamamu = sabar kepasrahan; Siapa bapakku = Gusti ratu Adil Idayat Sengara; Dimana aku dilahirkan = dilahirkan di Hyang Uhud di bawah (cemara) langit putih.Ketiga; Bekal keselamatan setelah terjadi penyakit (dhemit) di bulan Sura…harus bersedekah. Do’a mengelak bahaya demi keselamatan hidup yang dilakukan siang malam; Allahumma rohmatu rosulullah, jahanamu – jahanamu, asfi ma bi dholim ya abdiyasdum narbiyabin, Allahumma rohmad cahyo madhep uripku, cahyaning Allah la ilaha illollah Muhammad Rasulollah, ya rahman cahyaning Allah la ilaha illollah, lailaha illa anta subkanaka (inni) minal dolimin…amin amin ya rabbailalamin.

Keyakinan orang Jawa akan syahadat Tauhid seperti Serat Ratu Adil ini sejalan dengan kepercayaan kuno kepada adanya Tuhan yang sangat mendalam pula disini, bahkan dibuktikan oleh temuan bahwa candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta sejak abad pertama (Kedaultan Rakyat 06/02/2006). Peran local genius dalam pendirian candi-candi tersebut tidak dapat dikatakan sedikit, hingga masa keemasan masa pembangunan candi di abad ke-8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat. (Lihat Sri Mulyaningsih, Letusan Merapi dan Candi-candi di DIY, KR edisi 19/01/2006). Sedangkan pola penyebaran Islam dari arah pesisir utara Jawa menuju ke selatan, diketahui masyarakat pedalaman Mataram sangat gigih mempertahankan kebiasaan lama sebagai warna asli sinktritis kebudayaan mereka. Dalam arsitektur bangunan maupun hubungan sosial, mereka memiliki seperangkat simbol kepercayaan purba. Ini menguatkan pula pendapat, bahwa sinkritisme tersebut bukan karena proses kadatangan Islam ke tanah Jawa yang dari luar (Arab-Campa-Gujarat-China) saja, melainkan mereka telah memiliki kepercayaan sendiri.

Soedarsono, 1993, dalam Wayang dan Manusia Jawa menemukan bukti bahwa pertunjukan wayang kuno adalah asli berakar di masyarakat sekitar Klaten Jawa Tengah. Dengan demikian terminologi jayabaya membenarkan, bahwa islam sebagai ajaran agama telah ada dan berkembang di dalam kebudayaan Jawa. Denys Lombart (2005) membenarnya adanya jalur sutra niaga di abad ke-7 telah ramai merambah Jawa dan mewarnai perdagangan serta kehidupan religius mereka (Nusa Jawa jilid 1:18 dan jilid 2). Struktur masyarakat Jawa telah terbuka dari kemungkinan percampuran antar kebudayaan bangsa-bangsa dan suku pendatang dengan penduduk asli. Proses akulturasi ini bisa terjadi lewat hubungan perdagangan, penyebaran pengetahuan dan keyakinan agama, perkawinan antar komunitas suku bangsa serta adanya petualangan kekuasaan. Mereka masuk langsung dari tanah Arab, berdasar bukti ditemukannya koloni Arab Islam tahun 674 Masehi di pantai Sumbar. (Lihat Suryanegara, Ahmad Mansur, 1996:75-91, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Mizan, Bandung).

Simbol paling banyak adalah relief binatang Ganesa, Nandi, Garuda, Angsa, Kera dan relief kepala manusia yang disebut kudu. Ikonografi candi seperti relief Kudu yang mampu membangkitkan kesetiaan magis berupa mitos Agami Jawi. Termasuk disini kebutuhan meneliti lebih dalam lagi bahasa Jawa era Jayabaya – Majapahit – Mataram, sebab telah terbukti kepandaian Raja-raja Jawa era Mataram Islam telah melegitimasi kekuasaannya dengan penataan bahasa Jawa tataran ngoko-kromo itu berperan sangat efektif melanggengkan harmoni tatanan bermasyarakat. Dengan kata kudu juga terelasikan kepada Kerajaan Kutai (400-500) tepian Sungai Mahakam, raja pertamanya bernama Kudungga (kudu dan angga) yang menurunkan putra Aswawarman lalu memiliki tiga putra diantaranya adalah Mulawarman. Maka dibutuhkan melihat candi-candi era Kerajaan Kediri, dan data-data primer lain menyangkut Prabu Jayabaya tersebut, agar kebenaran agama jawi dengan ajaran sang Prabu dimaknai sebagai ajaran agama yang sebenarnya seperti bunyi Serat Jangka Jayabaya. Wallah a’lam, and’. []

Joktengku, medio Januari 2009.

Sumber: Naskah Jejak Peradaban Jawa (2006) dan TOJ (2009)

andimhd@yahoo.com



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori