DTur Change For All

Wisata Candi Gebang

Posted on: Januari 9, 2009

WISATA CANDI GEBANG

Alkisah Merapi terus bergerak diantara ratusan gunung aktif, seluruh negeri panik, penduduk langitpun iba mendapati pulau seisinya terus goyang, alam sangat murka rupanya. Namun Tuhan masih menyayangi Jawadwipa, maka dipakulah persis di tengah-tengah Pulau agar bumi tenang dan malapetaka berakhir. Benar saja Jawadwipa terdiam dan tenang, tapi demi keseimbangan alam pucuknya ditebas, lalu ditancapkan di Gebang dan ribuan tahun kelak menjadi sebuah candi sederhana, disebutlah Candi Gebang. Sedang paku pertama adalah Candi Borobudur yang terpasak ke perut Nusa Jawa, sejajar melangkah ke utara lagi periode sebelumnya terpaku komplek wayang Candi Dieng. Jadi paku-paku bumi berupa ratusan candi itu syarat keseimbangan alam Jawa dan manusia sekarang memanfaatkan kekayaan itu semua sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) bidang religi, sejarah, budaya wisata candi seperti enam butir Deklarasi BorobudurTrail of Civilisation oleh pejabat setingkat Menteri 6 negara ASEAN. Isinya satu, memperkuat jalinan budaya dan pariwisata; dua, revitalisasi warisan budaya melalui pariwisata; tiga, pengembangan SDM kepariwisataan; empat studi konprehensif kekayaan nilai dari warisan budaya; lima, kerjasama implementasi kebijakan penting memfasilitasi perjalanan wisata regional; enam, investasi pariwisata yang menghormati prinsip pelestarian budaya. (Kompas, 29/08/2006).

Pariwisata DI Yogyakarta dengan begitu masih memiliki keterkaitan ikon peradaban masa lalu, terutama yang menyangkut tempat peribadatan dan percandian, seperti Masjid Mataram Kotagede, Masjid Gede Kraton Ngayogyakarta, Candi Hati Kudus di Ganjuran, Gereja Goa Maria di Kulon Progo, serta beberapa penanda penting di wilayah DI Yogyakarta. Patut disebut disini, yakni keberadaan Candi Gebang di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, ± 1 Km ke utara dari arah Kampus UII Condong Catur; astronomis tepatnya 1100 24” 53’.62 BT dan 0,70 45“ 04’.01 LS yang kini sebelah tenggara Perumahan Candi Gebang Permai. Nama Gebang berasal dari nama tempat muasal Desa, artinya gobang, alat pemenggal kepala. Bangunan Gebang berdiri di era candi-candi kuno; ±730-800M semasa pembangunannya dengan Komplek Candi-candi Dieng (adhi – Hyang) di Jawa Tengah, lebih tua dari Candi Buddha Borobudur.

Hubungan arsitektur Candi ini menarik diungkap, yakni memiliki ornamen ikonografi sangat minimalis jika disbanding bangunan lain dengan berjalan ke arah timur, akan ditemui candi-candi kuno yang ke timur kian rumit mulai Candi Kedulan – Morangan – Kadisoka – Sambisari dst. Kelompok candi-candi kuno ini malah diperkirakan berdiri jauh sebelum abad ke-7, berdasar temuan material vulkanis Merapi tertentu di lokasi Candi, dipastikan berdiri lebih tua tepatnya awal abad ke-1 (KR edisi 2006). Bangunan Candi Gobang 5,25 x 5,25 M, tinggi 7,75 M dengan luas 27,3 m2; ditemukan tertutup material vulkanik dalam kondisi runtuh total (November 1936) secara tak sengaja oleh petani setempat awalnya hanya berupa sebuah Ganesa, lalu Dinas Purbakala meneliti dan ternyata arca itu merupakan bagian dari sebuah bangunan, maka dilakukanlah penelitian lebih mendalam. Di halaman ditemukan lingga yaitu di keempat sudut candi. Eskavasi pemugaran candi dilaksanakan tahun 1937 hingga 1939 yang dipimpin oleh V.R. Van Romondt. Bagian kaki Candi mempunyai proporsi yang tinggi dan polos tanpa relief. Ia tidak memiliki tangga masuk, tapi titik pusat Candi adalah titik pusat halaman keseluruhan. Pada tubuh Candi terdapat satu bilik berongga menghadap ke timur, berisi sebuah Yoni serta di kanan pintu masuk terdapat relung dengan arca Nandiswara, Dewa penjaga arah mata angin dan di-kiri terdapat Mahakala, arcanya tidak ada, juga sisi utara dan selatan relungnya kosong. Sebelah barat, relungnya berisi Ganesa yang duduk di atas sebuah Yoni, dengan ceratnya mengarah ke utara (arca yang ditemukan penduduk dan diletakkan di posisinya). Saat upacara keagamaan, arca Ganesa di Candi Gebang ini selalu dibasuh dengan air suci melalui ceruk, airnya lalu ditampung dan dibagikan kepada para pemuja umat Hindu.

Di bagian atap Candi terdapat relief Kudu, artinya kepala manusia, yang berbeda satu sama lain di setiap atapnya kecuali satu relief tepat di muka Mahakala pada pintu masuk Candi. Relief Kudu ini juga mirip kepala Buddha yang berciri telinga besar, sisi utara dan selatan atasnya memiliki sikap mudra yang khas, seperti berada di sebuah jendela dengan mata menengok ke bawah, hal sama relief Kudu dijumpai juga pada Candi Bima di komplek kuno percandian Dieng (Adhi–Hyang), Jawa Tengah. Lainnya yang tak lazim, terdapat stupa tapi berciri kubah di bagian paling atas Candi Gebang. Asal kata Kudu disini bisa terkait pada nama “gobang”, yaitu alat pancung pemenggal kepala untuk sesembahan suci kepada Tuhan. Hal ini mengingatkan pada peristiwa terpenggalnya kepala Sayyidina Husain cucu Rasulullah SAW oleh Yazid ibnu Mu’awiyah pada Hari ‘Asyura atau 10 Muharram / 10 Oktober 862 M di Perang Karbala Iraq. Bulan Muharram (Suro dalam Kalender Jawa) merupakan salah satu dari empat bulan suci yang disebut Al-Qur’an Surat at-Taubah 36. Sedangkan disini, 1 Muharram adalah Hari dimulainya hitungan 1 Syuro pada Kalender Lunar ciptaan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Apakah relasi kejadian ini kebetulan?

Dibangunnya sebuah Candi, sebagai penanda sejarah penting artinya bagi manusia, jika direlasikan ke masa abad ke-8 bahwa nusantara saat itu telah menjadi jalur utama perniagaan dari Mesir, Madagaskar Afrika, India, Jawa menuju China, diantaranya ditemukan nama Syekh Subakir telah datang berdakwah ke tanah Jawa. Catatan Taufik Abdullah mengatakan bahwa tahun 900-an M, Madrasah Giri Gresik sebagai tempat penyempurnaan ilmu agama Islam dari seluruh penjuru dunia. Juga, di era pembangunan Candi Gebang, terdapat Ratu Sima (Kaling) yang telah menerapkan hukum pancung untuk menegakkan tata pemerintahannya. Pembacaan Semiotika Candi adalah bagian dari kebutuhan sistemik peradaban Jawa, bahwa candi diartikan sebagai penanda sub-sistem masyarakat yang saling terhubung dalam melahirkan pemaknaan lain yang lebih pas bagi masyarakat zamannya. Hal ini berbeda hasil pemaknaannya, jika merujuk pada sumber peneliti asing seperti H.J de Graaf dalam De regering van Panembahan Senopati in Alaga, Den Haag (1954), Lombart dalam Nusa Jawa (2005) ataupun tulisan Peaget tentang Jawa.

Dengan agak detail memperhatikan Candi Gebang, akan terus ditemukan hal-hal baru, atau justru awalnya memang demikian keberadaan sebuah Candi di Jawa; tidak jelas fungsinya apakah sebagai tempat peribadatan ataukah sebuah Monumen keagamaan, bersifat agama Hindu, Buddha ataukah Islam. Andai para pemuja di Candi Gebang penganut Buddha, bisakah meditasi mengelilingi bangunan candi dengan pradaksina, memutar (membumi) ke arah kanan badan Candi; Ataukah cara meditasi sebaliknya dengan memutarinya ke arah kiri badan Candi, yaitu pola prasawiya, dengan gerak naik memusat ke atas (mi’raj) sebagai tradisi penyucian spiritual. Filosof Jerman Karl Jaspers berpendapat, simbol laku manusia untuk mencapai kesempurnaan pengetahuan yakni dengan memutari Candi Borobudur secara prasawiya, dan bukan dengan membaca biografi Siddhartha dari kelahiran menuju kematiannya sebagaimana adanya disana yang disebut pradaksina. (Sumber: Peringatan Malam Asyura, Pakempalan Budaya “Tjap Orang Jadzab”, Selasa Malam 06/01/2009 di Candi Gebang, Wedomartani, Sleman).

Kebenaran arti relief Kudu yang multi interpretatif itu akhirnya tergantung data-data baru arekologis, prasasti, inskripsi, nama-nama, bahasa serta tata upacara yang biasa digunakan disana dan lain-lain berhubungan dengan Candi Gebang tersebut. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: