DTur Change For All

Membaca “Jayabaya”

Posted on: Januari 13, 2009

MEMBACA ‘JAYABAYA’

Keemasan dinasti Kediri dengan rajanya, yakni “Jayabaya” (1130 – 1160 M), telah menempati posisi telaah kritis bagi masa lalu hingga Nuswantara modern. Banyak identitas lembaga atau perorangan, khususnya di Jawa masih terus menggunakan nama Jayabaya. Demikian pula tentang ajaran Jawa atau kepercayaan jawi atas namanya, seperti ramalan jangka jayabaya. Jika diteliti, kata magis jayabaya ini terdiri dari kata jaya artinya unggul, selamat, melampaui, terhindar dari; dan baya dimaksud adalah ubaya, bebaya, mara bahaya. Sehingga jayabaya berarti unggul dari mara bahaya; keselamatan hidup dari mara bahaya. Kata ini sebenarnya adalah sebuah gelar pujangga bagi Raja Kediri paling terkenal selain Kertajaya (1200–1222), Airlangga dan yang terakhir Sanggramawijaya; karena Airlangga (1041M) atas bantuan Mpu Barada lalu membagi dua kerajaan Panjalu – Kahuripan. Tanpa mengerti arti kosakata dan sejarah Jayabaya, maka tujuan luhur lahirnya Jangka Jayabaya akan kehilangan makna positif. Itulah perlunya, upaya identifikasi ajaran jawi tesebut, sekaligus untuk memahami relasi mitos yang masih berkembang atasnya dan keyakinan tertentu oleh sebagian masyarakat Jawa.

Jika merujuk pada arti kata etimologi saja, masih membuka pemaknaan lain di luar yang telah difahami orang tentang Jayabaya tersebut, apalagi yang kedua setelah digabung makna istilah jangka Jayabaya. Sejarah –historiografi- perlu terus selalu dibaca dari sumber aslinya beserta khazanah budaya lokal yang melahirkannya sendiri, dan bukan memaknai fakta-fakta tersebut dari budaya lain di luar dirinya, sehingga kedua fokus sejarah penting ini tidak kehilangan makna otentik. Namun apakah mitos ini masih aktual, dan adakah anasir baru telah ditemukan atau interpretasi lain dari sumber primair ataupun skunder (lisan–tulisan) yang ikut mendukung data-data kebenarannya, mari melihatnya melalui semiotika sejarah.

Serat Jangka Jayabaya merupakan visi perjuangan Raja Jayabaya Kediri, di dalamnya mengandung sebuah kesadaran manusia yang telah berbudi untuk terbebas dari bentuk-bentuk tekanan atau penindasan (mara bahaya) dari luar dirinya. Dari relasi asal arti katanya saja menjelaskan ajaran keselamatan hidup bagi seluruh umat manusia; atau panduan hidup agar terselamatkan dari seluruh bentuk-bentuk mara bahaya. Pertanyaan selanjutnya, apakah wujud tekanan pada era kerajaan saat itu, sehingga dibutuhkan sebuah ajaran agama dan faham keyakinan khusus yang berpijak pada masyarakat zaman itu. Jika diterlisih lebih dalam, pemaknaan demikian akan kembali kepada arti kata yang sama, yakni akar kata jaya dan baya (Jawa: slamet ngungkuli bebaya) yakni ajaran keselamatan hidup yang diambil dari kata Arab salam – aslama – islam. Maka menelusuri Jangka Jayabaya adalah mengungkap penanda sejarah an-nubuwwah al-islamiyah di tanah Jawa; atau tentang sebuah fakta adanya agama Jawi, telah melampaui sejarah peradaban manusia jauh sebelum era Jayabaya.

Sebuah ramalan berikut ini jelas-jelas mengindikasi keislaman sang pembuatnya, yaitu tentang akan datangnya Ratu Adil (hari kiamat!). Dalam Serat Jangka Jayabaya III, Babon Asli Saking: BPH Suryanagara, BPH Suryo Wijoyo, KPH Tjakraningrat, Tumenggung Mangunagaro, KH Kassan Bessari, R Soemodidjojo, R Ng Ronggowarsito, R Broto Kesawa; Geni Murub Nggubel Jalma – Suksma Ngreksa Kembang Sejati, Trombo Maninten. Kaimpun Dening Tiyang Merdika, Ing Projo Dalem, Ngayogyakarta Hadinigrat, Ir. Wibatsu Harianto Soembogo pada halaman 70 tertulis berikut:

1. Besuk ing jaman ahir, sawise jaman hadi, ratu Adil Iman Mahdi, saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tanduran sudo pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi. Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengerane mane: 1. Yen sasi sura ana tundhan dhemit, 2. Srengenge salah mangsa mletheke, 3. Rembulan ireng rupane, 4. Banyu abang rupane. Tengara iki lawase 3 dina, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli, bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu Adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.

2. Pitakone lan wangsulane mangkene: Asalmu saka ngendi = saking kodratullah; Yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat Islam; Apa kowe weruh aranku = Gusti ratu Adil Idayatullah; apa agamamu = sabar darana; apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu Adil Idayat Sengara; apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilahirake = Kalahiraken Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

3. Panulake murid slamet: sawuse krungu tundhan dhemit sasi sura…kudu sedekah. Dongane tolak balak takwin umur donga slamet, saben rino wengi kudu ndunga mangkene: Allahumma rohmatu rosulullah, jahanamu – jahanamu, asfi ma bi dholim ya abdiyasdum narbiyabin, Allahumma rohmad cahyo madhep uripku, cahyaning Allah la ilaha illollah Muhammad Rasulollah, ya rahman cahyaning Allah la ilaha illollah, lailaha illa anta subkanaka (inni) minal dolimin…amin amin ya rabbailalamin.

Artinya kurang lebih, Pertama; Akan datang ratu Adil Iman Mahdi dari tanah Arab. Tandanya tanaman panennya berkurang, para pandita kurang sabar,raja juga kurang sabar, perempuan kehilangan rasa malu, banyak pertengkaran dan kebohongan, orang kecil jadi (priyayi), ilmuan kurang amalnya dan berprilaku aneh. Jika ratu Adil datang akan muncul pertanda; 1. Bulan Sura muncul (dhemit) penyakit, 2. Matahari munculnya salah (arah), 3. Bulan berwarna hitam, 4. Air berwarna merah, Pertanda ini berjalan selama tiga hari, jika lewat masa itu manusia akan ditanya, yang tak mampu menjawab akan dihabisi oleh (dhemit), karena ratu Adil datang beserta para (bala) Jin, setan dan siluman yang tiada tandingan.Kedua; Terjadi tanya jawab berikut ini; Asalmu dari mana = dari kodrat Allah; Bekal apa yang akan kau bawa = syahadat iman tauhid ma’rifat Islam; Apakah kamu tahu siapa aku = Gusti ratu Adil Idayatullah; Apa agamamu = sabar kepasrahan; Siapa bapakku = Gusti ratu Adil Idayat Sengara; Dimana aku dilahirkan = dilahirkan di Hyang Uhud di bawah (cemara) langit putih.Ketiga; Bekal keselamatan setelah terjadi penyakit (dhemit) di bulan Sura…harus bersedekah. Do’a mengelak bahaya demi keselamatan hidup yang dilakukan siang malam; Allahumma rohmatu rosulullah, jahanamu – jahanamu, asfi ma bi dholim ya abdiyasdum narbiyabin, Allahumma rohmad cahyo madhep uripku, cahyaning Allah la ilaha illollah Muhammad Rasulollah, ya rahman cahyaning Allah la ilaha illollah, lailaha illa anta subkanaka (inni) minal dolimin…amin amin ya rabbailalamin.

Keyakinan orang Jawa akan syahadat Tauhid seperti Serat Ratu Adil ini sejalan dengan kepercayaan kuno kepada adanya Tuhan yang sangat mendalam pula disini, bahkan dibuktikan oleh temuan bahwa candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta sejak abad pertama (Kedaultan Rakyat 06/02/2006). Peran local genius dalam pendirian candi-candi tersebut tidak dapat dikatakan sedikit, hingga masa keemasan masa pembangunan candi di abad ke-8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat. (Lihat Sri Mulyaningsih, Letusan Merapi dan Candi-candi di DIY, KR edisi 19/01/2006). Sedangkan pola penyebaran Islam dari arah pesisir utara Jawa menuju ke selatan, diketahui masyarakat pedalaman Mataram sangat gigih mempertahankan kebiasaan lama sebagai warna asli sinktritis kebudayaan mereka. Dalam arsitektur bangunan maupun hubungan sosial, mereka memiliki seperangkat simbol kepercayaan purba. Ini menguatkan pula pendapat, bahwa sinkritisme tersebut bukan karena proses kadatangan Islam ke tanah Jawa yang dari luar (Arab-Campa-Gujarat-China) saja, melainkan mereka telah memiliki kepercayaan sendiri.

Soedarsono, 1993, dalam Wayang dan Manusia Jawa menemukan bukti bahwa pertunjukan wayang kuno adalah asli berakar di masyarakat sekitar Klaten Jawa Tengah. Dengan demikian terminologi jayabaya membenarkan, bahwa islam sebagai ajaran agama telah ada dan berkembang di dalam kebudayaan Jawa. Denys Lombart (2005) membenarnya adanya jalur sutra niaga di abad ke-7 telah ramai merambah Jawa dan mewarnai perdagangan serta kehidupan religius mereka (Nusa Jawa jilid 1:18 dan jilid 2). Struktur masyarakat Jawa telah terbuka dari kemungkinan percampuran antar kebudayaan bangsa-bangsa dan suku pendatang dengan penduduk asli. Proses akulturasi ini bisa terjadi lewat hubungan perdagangan, penyebaran pengetahuan dan keyakinan agama, perkawinan antar komunitas suku bangsa serta adanya petualangan kekuasaan. Mereka masuk langsung dari tanah Arab, berdasar bukti ditemukannya koloni Arab Islam tahun 674 Masehi di pantai Sumbar. (Lihat Suryanegara, Ahmad Mansur, 1996:75-91, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Mizan, Bandung).

Simbol paling banyak adalah relief binatang Ganesa, Nandi, Garuda, Angsa, Kera dan relief kepala manusia yang disebut kudu. Ikonografi candi seperti relief Kudu yang mampu membangkitkan kesetiaan magis berupa mitos Agami Jawi. Termasuk disini kebutuhan meneliti lebih dalam lagi bahasa Jawa era Jayabaya – Majapahit – Mataram, sebab telah terbukti kepandaian Raja-raja Jawa era Mataram Islam telah melegitimasi kekuasaannya dengan penataan bahasa Jawa tataran ngoko-kromo itu berperan sangat efektif melanggengkan harmoni tatanan bermasyarakat. Dengan kata kudu juga terelasikan kepada Kerajaan Kutai (400-500) tepian Sungai Mahakam, raja pertamanya bernama Kudungga (kudu dan angga) yang menurunkan putra Aswawarman lalu memiliki tiga putra diantaranya adalah Mulawarman. Maka dibutuhkan melihat candi-candi era Kerajaan Kediri, dan data-data primer lain menyangkut Prabu Jayabaya tersebut, agar kebenaran agama jawi dengan ajaran sang Prabu dimaknai sebagai ajaran agama yang sebenarnya seperti bunyi Serat Jangka Jayabaya. Wallah a’lam, and’. []

Joktengku, medio Januari 2009.

Sumber: Naskah Jejak Peradaban Jawa (2006) dan TOJ (2009)

andimhd@yahoo.com

3 Tanggapan to "Membaca “Jayabaya”"

dalam kehidupan ini banyak mencari kebenaranya menurut kemampuan masing masing terjadilah beda pendapat yang akan menimbulkan tidak kepuasan sesuai apa yang di benarkan.dalam pengertian saya menghadapi kenyataan ini mampukah memerangi diri sendiri dari pada menceritakan yang tidak diketahui sendiri.janganlah membohongi diri sendiri karena tuhan tahu apa yang kita rasa walaupun orang lain tidak tahu (jawa senajan biso ngapusi marang lian nangin ojo nganti ngapusi pribadine dewe),yo sepurane yen ono kelirune.jowokawak

Ha inggih niku, yen nastiti wejanganing kasepuhan kalebet para pujangga miwah ulama bilih ratu adil punika dhawah leres kasarira wonten sang nabi isa AS, inggih Isa rohing Allah. Mila sampun tidha-tidha.

Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres meniko ingkang kulo ngraosakaken(roso) menopo ingkang kulo tingali,midangetaken ugi dicepeng(pegang)lajeng nembe lampahi.njih sepurane mbok bileh wonten lepatipun nuwun.jowokawak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: