DTur Change For All

Singhasari

Posted on: Januari 16, 2009

MENGAPA “KEN AROK” MEMBUNUH

Era Kediri digantikan Ken Arok anak pasangan Ken Endok dan Dewa Brahma yang medirikan Singhasari (1222-1292M) lalu kemudian diteruskan era Majapahit yang melahirkan Mataram Islam. Sedangkan silsilah Singhasari berawal dari Kediri, karena Ken Dedes merupakan istri pembesar Tumapel bernama Tunggul Ametung yang disirnakan Ken Arok sebelumnya. Sejarah Ken Arok telah melanjutkan lebih jauh tradisi Kalingga yang menerapkan hukum potong tangan oleh Ratu Sima di abad ke-6, dalam bentuk tradisi lain berupa penggal kepala lawan politik; seperti pembunuhan Ken Arok oleh anak Tunggul Ametung yakni Anusapati yang didharmakan (1248) di Candi Kidal Malang, serta anaknya lagi Ranggawuni yang meninggalkan Beteng Canggu dan didharmakan (1268) di Candi Jago sekarang. Tradisi potong tangan dan hukum pancung ternyata telah lama berakar di Jawa, baik demi tujuan politik ataupun karena alasan kepercayaan kepada Sang Hyang Jagad, seperti sesembahan dan mohon keselamatan hidup sejak zaman purba menembus ruang waktu dan keyakinan manusia Jawa modern.

Sejarah telah mengenal keberadaan Kediri dengan raja-raja Jayabaya, Airlangga dan lalu karena alasan tertentu disirnakan oleh Ken Arok. Seperti diatas kemudian ia dirikan yang baru, yaitu Kerajaan Singhasari. Sebetulnya nama Singhasari adalah sebutan ibukota yang diberikan oleh Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1254), lokasi Singasari sekarang dekat Kota Malang. Sedang kerajaannya yang benar disebut Tumapel, sebuah nama yang juga muncul dalam kronik kekaisaran Cina dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.

Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Adapun versi Pararaton, kisah suksesi raja-raja Tumapel diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas dendam, dari sini nama Ken Arok dikenal sejarah sebagai pengawal tradisi memancung lawan politiknya, lalu intrik menghilangkan jejak itu dilanjutkan keturunannya sampai raja terakhir Kertanegara (1268 – 1292).

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya Raja Kadiri melawan kaum Brahmana. Mereka lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, dalam Negarakertagama disebut gelarnya adalah Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra. Perang itu meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel. Alkisah setelah memenggal kepala Tunggul Ametung di Ganter itu, Ken Arok lalu mengambil paksa istri akuwu–nya yaitu Ken Dedes, meski sebetulnya dia telah memiliki istri sendiri bernama Ken Umang, serta memperoleh anak bernama Tohjaya. Nama ini kelak dibunuh oleh saudaranya seibu, Anusapati tahun 1248. Dikisahkan Pararaton, bahwa Ken Arok merupakan titisan Dewa Brahma, ibunya adalah Ken Endok, seorang petani dari desa Pangkur, sebelah timur Gunung Kawi dekat Malang sekarang. Dari permaisurinya, Ken Dedes, Ken Arok mempunyai anak bernama Mahisa Wong Ateleng yang kelak kemudian menurunkan anak Raden Wijaya, dia memperistri salah satu dari 4 putri Kertanegara. Sedang keturunan Ken Dedes dari suami sahnya Tunggul Ametung, adalah Anusapati (1227–1248) yang memenggal kepala Ken Arok tersebut, lalu sehabis pemerintahannya digantikan anaknya Ranggawuni (1248–1268) dan kemudian digantikan Raja Kertanegara.

Dari masa lalu Ken Arok inilah muasal raja-raja Majapahit sebetulnya dilahirkan berasal dari rahim yang sama, yakni Singhasari, sekaligus terhubung pula pada nama-nama Jayabaya, Airlangga dan Kertajaya (Kediri). Sejarah Nuswantara tidak lagi menyebut relasi keturunan Kediri berasal dari Medang Kamulan (abad X–XI), apalagi Mataram atau bahkan era Ratu Sima dari Holing pada abad ke-6 di dekat Solo Jawa Tengah sekarang. Hanya praktek mensirnakan lawan politik demi tujuan singgasana kekuasaan tetap dapat dilacak, hingga sifat yang melekat pada Ken Arok bisa diketahui seperti terlihat disana dan terus berlangsung sepeninggalnya jauh ke zaman modern di depan singgasana Nusantara. Pertanyaan kenapa Ken Arok dan sejenisnya itu membunuh, mungkin karena ajaran berbeda pendapat diantara individu disini kurang ditekankan sebagai nilai dasar kepemimpinan dan kemanusiaan, agar diindahkan sebagai pendorong kejujuran dan pemicu sikap kesatria seorang Raja. Jika saja ajaran demikian ditumbuh-suburkan di arena keluarga dan masyarakat sepanjang zaman, mungkin sifat pendendam dan anti kritik yang dimiliki Ken Arok akan sirna oleh prjalanan waktu, seperti Serat Jangka Jayabaya III dalam terjemah bebas dari bahasa aslinya; bunyi pesan Prabu Jayabaya (1130 – 1160 M), yang muslim itu berikut ini;

“Akan datang ratu Adil Iman Mahdi dari tanah Arab. Tandanya tanaman panennya berkurang, para pandita kurang sabar,raja juga kurang sabar, perempuan kehilangan rasa malu, banyak pertengkaran dan kebohongan, orang kecil jadi (priyayi), ilmuan kurang amalnya dan berprilaku aneh.”

Semua kisah mengandung hikmah, hanya pencari bijak mendapat jalan terang. Wa Allahu a’lam! []

Sumber Tulisan:

Þ I Wayan Badrika (2004), Pengetahuan Sejarah, Kurikulum 2004, Kelas I SMP, Bumi Aksara.

Þ http://www.sman1teladan-yog.sch.id pelajaran sejarah, 2008.

Þ Sigit Widiantoro dkk. (2007), Ilmu Pengetahuan Sosial, Berdasarkan Standar Isi 2006, Quadra – Yudhistira.

Þ Pakempalan TOJ, 2008, Diskusi Terbatas di Sendang. Dok andimhd@yahoo.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: