DTur Change For All

Hermann Hesse: Siddhartha (1)

Posted on: Januari 17, 2009

SIDDHARTHA GOTAMA

(563–483 SM)

A

dalah seorang putra Brahmana, ia pendiam, alim, tekun, sederhana, tidak menggurui, sabar dan rendah hati, pekerja yang berkesadaran, haus pemahaman dan dipenuhi pertanyaan atas kitab Veda, kuat bersemedi, jujur dan dihormati terutama oleh Govinda teman akrabnya. Ia hidup sebagai shramana, belajar menolak diri sendiri melalui luka derita yang disengaja, hidup samsara tapi fokus mencari kebahagiaan sejati, ribuan kali dia meninggalkan egonya di belakang, diam di dalam non-ego dan kehampaan, dingin dan derita. Namun tetap akan kembali menghadapi dirinya sendiri di bawah cahaya matahari maupun bulan, naungan atau dalam hujan, sekali lagi Siddhartha dan egonya muncul, dan kembali merasa siksaan lingkaran keberadaan menguasai dirinya, itulah sari panjang yang dikisahkan peraih Nobel Sastra Hermann Hesse dalam buku Siddhartha (1922), terbitan Bentang, Yogyakarta, 2005, 226 halaman pagina. Karya Hesse ini lalu bergulir hingga jalan depalan; tidak membunuh, tidak mencuri, atau melakukan perbuatan seksual tak senonoh, berdusta, meminum miras, tidak makan di luar ketentuan, menari dan menggunakan kosmetik, tidak menerima pemberian emas dan perak. Jalan yang ditemukannya adalah wujud kebebasan jiwa dan kemerdekaan berpikir seorang Bodhisattwa. Sinopsis ini dilengkapi data riwayat hidup dari buku Buddha, tulisan Gillian Stokes, penerbit Erlangga, 2001.

Pada suatu hari ia bertekad untuk kesekian kali, mohon izin pergi meninggalkan shramana, tapi dia marah. Govinda merasa terpojok dan malu, tapi Siddhartha meliriknya lalu berbisik: “Sekarang aku akan menunjukkan sesuatu yang telah aku pelajari darinya.” Dengan sikap tegak tepat di depan shramana dia memusatkan pikirannya menguasai pandangan lelaki itu, memikatnya, membuatnya menjadi diam dan kehilangan keinginan. Dia menjadikannya subyek keinginan dan memerintahkannya secara diam-diam: melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Lelaki tua itu diam, matanya terpaku, keinginannya hilang: tangannya tergantung lemas di sisinya. Dia menjadi tidak berdaya di bawah sihir Siddhartha, shramana ini melakukan apapun yang diperintahkan, hingga lelaki itu membungkuk memberkati perjalanan mereka berdua. Ketika Govinda lalu berkata, sungguh jika Siddhartha tetap tinggal disana, akan mengikat shramana tua dengan mantra dan akan segera berjalan di atas air. Jawab Siddhartha: “Aku tidak punya keinginan berjalan di atas air. Biar saja si shramana tua menyenangkan dirinya dengan keahlian seperti itu”. (Hermann Hesse, Sidhhartha p.37)

Di kota Shravasti semua penghuninya mengenal Sang Buddha, tiap rumah siaga mengisi mangkuk sedekah pengikutnya. Di tempat kesukaan Gotama, Taman Jeta datanglah dua pertapa muda dan disediakan makanan bagi mereka, kepada wanita pemberi makan itu Gotama bertanya; Dimanakah gerangan Sang Buddha berada, dia ingin menemunya dan mendengarkan ajaran dari bibirnya. Wanita itu menjawab, bahwa Sang Agung tinggal di Taman Jeta, di taman Anathapindika; “Kalian dapat bermalam disana, berkumpul di tempat itu mendengarkan ajaran dari bibirnya.” Govinda menyaksikan semua itu dengan bahagia, namun Siddhartha mendorongya pergi melanjutkan perjalanan menuju Taman Jeta. Di sepanjang jalan, para pendeta berjubah kuning terus menyapa, mereka duduk di bawah pohon tenggelam semadi, naungan taman itu bagai kota penuh manusia bergerombol seperti lebah. Siddhartha melihat Sang Penerima Rahmat, pria sederhana bepakaian kuning, berjalan tenang dengan mangkuk sedekah di tangannya. Sang Buddha bergerak lambat, merunduk, ketenangannya saat tangan bergantung gemulai, jemarinya pasrah sempurna, tidak mencari apapun, menyamai apapun, bernapas lembut, dia bergerak dalam ketenangan abadi, cahaya abadi, kedamaian yang tak terusik. (Sidhhartha p.42)

Kedua pemuda ini mengikuti ajaran Sang Buddha, berbicara tentang kebenaran, bernafas aroma dan cahaya kebenaran. Sang Agung mengajarkan empat kebenaran utama dan delapan langkah. Govinda ikut bergabung dengan ajaran Sang Agung, ia mengkritiknya karena seperti tidak mengingikan kebebasan. Dia menatap wajah temannya, bahwa sekarang Govinda telah memilih jalannya sendiri, dia berharap agar sahabatnya mengikutinya hingga memperoleh kebebasan. Besok Siddhartha akan meninggalkan Govinda, ia terus berjalan di taman, merenungkan bahwa ajaran Sang Agung sangat baik, bagaimana mungkin ia temukan kekurangan. Ada satu ajaran Sang Agung paling berharga, yakni segala sesuatu telah jelas dan tidak terbantah, ditunjukkan bahwa dunia sebagai sesuatu yang tidak pernah hancur, lingkaran sebab akibat yang abadi dan sempurna. Dia melihat dunia sebagai satu kesatuan utuh, tanpa keretakan, tak terpengaruh oleh ketidakpastian atau tergantung pada dewa. Dia kesampingkan baik dan buruk, derita atau bahagia, mungkin inilah kesatuan dunia, ketergantungan dari segala sesuatu, pencantuman segala dalam satu aliran yang sama, hukum penyebab yang sama, tentang kehadiran dan kematian. Siddharta meminta maaf atas ungkapan keberatannya, sekarang semua sesuai dengan ajaran Sang Gotama sendiri. Gotamapun mendengarkan dengan tenang, tidak bergerak, bersuara jernih dan sopan Sang Agung berkata: “Engkau telah mendengarkan ajaran tersebut, putra Brahmana. Baik bagimu karena telah mempertimbangkan dengan mendalam, kamu menemukan kekurangan disana. Hati-hatilah engkau yang rakus akan pengetahuan dari hutan pikiran dan perjuangan dunia, pikiran bisa menjadi baik dan buruk, orang dapat mendukung atau menolak. Ajaranku bukan untuk menerangkan tentang dunia bagi orang yang rakus akan pengetahuan. Ajaranku memiliki tujuan berbeda, yakni kebebasan dari penderitaan..” Namun Siddhartha berkeyakinan bahwa tiada seorangpun mencapai pencerahan melalui sebuah ajaran, dia tetap terus melanjutkan pencariannya. (p. 52).

Ia meninggalkan Sang Buddha dan Govinda di belakang, dan merasa jiwanya tertinggal di taman, menyerahkan hidupnya pada masa itu dan terpisah darinya. Dia merenungi dalam-dalam, tenggelam dalam perasaan hingga mencapai titik penyebabnya, dalam pandangannya itulah pemikiran, dan hanya dengan cara ini perasaan menjadi pengetahuan dan mulai bermakna. Guru bijak terakhir yang ditemuinya telah dia tinggalkan. Semakin perlahan, pria perenung itu berjalan, bertanya pada dirinya: Apa yang coba ia pelajari dari para guru dan ajarannya, apakah mereka telah ajarkan banyak hal, tidak dapat mendidiknya, menemukan makna inti ego yang ingin disingkirkan dan dikuasai? Perenung itu terperangkap oleh pikirannya sendiri, dia tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Dia sedang mencari Atman dan Brahman, ia hancurkan egonya sendiri dalam upaya menemukan inti yang belum ia ketahui, hidup, kemuliaan, sang akhir. Tapi ia telah kehilangan dirinya dalam proses tersebut. Ia membuka mata, hati dan kesadarannya, belajar dari dirinya sendiri, belajar tentang dirinya, tentang misteri dari Siddhartha. Dunia dilihatnya bukan lagi penipuan Mara, semua isi dipandangnya indah, misterius dan ajaib. Makna dan inti tidak berada di balik benda; tapi ada di dalam mereka. Ketika Siddhartha memikirkan ini, ia tiba di sebuah pemberhentian kembali, sejak itu tersadar dan memulai lagi hidupnya dari awal. Saat tersadar ia telah meninggalkan Taman Jeta, taman tempat Sang Agung itu, Govinda telah menjadi seorang pendeta, ia telah meninggalkan masa itu segera melanjutkan perjalanannya, tidak sabar tidak lagi kembali kemanapun, dia telah menuju kesadaran dirinya sendiri. (p.63)

**2**

Ia belajar melihat hal baru di setiap langkahnya, pagi hingga malam apa adanya, begitu sadar dan terbuka terhadap apapun, siapapun, menjadi bagian darinya, cahaya dan bayang-bayang melintasi pengelihatan dan hatinya. Ia mengingat kembali segala sesuatu di Taman Jeta, setiap kata yang diperolehnya dari ajaran Buddha. Perkataan yang disampaikannya pada Gotama: bahwa kekayaan Sang Buddha dan rahasianya, bukanlah pada ajarannya tapi pada yang terungkapkan dan tidak dapat diajarkan dari pengalaman saat pencerahannya di bawah Pohon Bodhi. Ia sadar, dirinya merupaka Atman, dari sari keabadian yang sama seperti Brahman, namun dia belum pernah menemukan dirinya secara utuh, karena selama ini berusaha menangkapnya dengan jaring pikiran. Hal pasti bahwa tubuh bukanlah diri, demikian pula perasaan; tapi bukan pada pemikiran, alasan yang masuk akal, kebijaksanaan yang bisa dipelajari; dunia ide juga bagian dari dunia ini, tak ada apapun yang berharga dapat dicapai dengan ego perasaan yang tak nyata, dengan mengekang ide, ego dan pengetahuan.

Saat tertidur suatu malam di pondok jerami di sisi sungai, Siddhartha bermimpi, Govinda berdiri sedih tinggalkan sendirian, ia rangkul Govinda, dan saat menariknya ke dadanya dan menciumnya, dia bukan lagi Govinda tapi seorang wanita dengan buah dada penuh dengan susu terasa manis dan kuat. Susu itu serasa pria dan wanita, matahari dan bulan, binatang dan bunga, dari setiap buah dan gairah, membuat mabuk tak sadarkan diri. Ketika bangun, sungai jernih itu bersinar dan berirama, terdengar burung hantu menakutkan. Siddhartha meminta tuan rumah juru sampan itu, untuk mengantarnya ke seberang dengan rakit bambu, temannya itu tak minta bayaran, mencintai sungai ini lebih dari apapun, shramana putra brahmana selalu belajar darinya, seseorang dapat belajar banyak hal dari sebuah sungai. Biarlah persahabatan menjadi imbalan, kata Siddhartha: “ingatlah akan diriku saat kamu memberikan persembahan bagi para dewa.” Menjelang siang dia sampai di ujung desa, di jalan kecil mengarah ke sebuah sungai, disana seorang wanita muda berlutut mencuci pakaian, ia ucapkan salam dan mendongaklah wanita itu tersenyum melihat cahaya di mata jernihnya, dia memberkati perempuan itu, bertanya berapa lagi jarak ke kota. Perempuan itu lalu menggodanya dengan “gerakan memanjat pohon”, ia merasakan darahnya memanas karena mimpi di benaknya, ia membungkuk dan mencium puting kecoklatan buah dadanya dengan bibirnya, saat menatap ke atas malah tersenyum penuh gairah, dan matanya menyipit memohon dengan kerinduan.

Siddhartha juga merindukan hasrat birahinya, namun karena belum pernah menyentuh, sebelum tangannya bergerak memeluk wanita itu, dia ragu mendengar suara hati yang menakutkan, berkata “tidak”. Ia membelai pipinya dan menjauh darinya lalu menghilang cepat ke dalam semak bambu. Sore sudah tiba di kota, ia merasa bahagia dan rindu akan persahabatan manusia. Ia heran melihat arak-arakan manusia, matanya menatap pelayan, tandu, dan wanita yang berada di dalam tandu. Ia menatap rambut hitam tergulung di atas kepala, wajah lembut yang cerah cerdas, sebentuk bibir merah merekah, alis dan bola mata hitam, leher jenjang putih muncul di balik jubah hijau keemasan, dan tangan lentik putih dengan gelang emas melingkar. Ia saksikan betapa cantik perempuan itu, dan hatinya tertawa. Wanita itu sengaja menatapnya, lalu menghilang ke taman diikuti para pelayannya. Siddhartha tetap seorang shramana, pelayan di pintu gerbang taman kota memandangnya hina, curiga dan penuh penolakan, mungkin karena dirinya pertapa dan pengemis, dia tahu dari yang ditemui sepanjang jalan kalau taman itu milik pelacur Kamala. Maka ia masuki kota, sekarang dengan memiliki tujuan, membiarkan dirinya ditelan kota tersebut. (p. 77)

Malam hari dia berteman dengan seorang tukang cukur yang dilihatnya saat kembali dari berdoa di kuil Wisnu, ia ceritakan kepadanya tentang Wisnu dan Laksmi. Ia tidur di sampan, dan pagi sekali dia minta temannya menkucur cambang, memotong dan menata rambutnya, lalu mandi di sungai dan meminyakinya dengan wewangian. Saat Kamala ditandu mendekati tamannya di sore larut itu, Siddhartha telah berada disana. Dia menyambut salam pelacur itu, minta diterima bertemu dan memasuki paviliun dimana Kamala berbaring menanyakan perubahan wajah Siddhartha, ia ceritakan dirinya hanyalah seorang shramana selama tiga tahun yang meninggalkan jalan itu. Ia memintanya untuk menjadi teman dan guru dalam bercinta. Pelacur cantik itu tertawa, seorang shramana tanpa alas kaki, datang tanpa uang, bercawat usang ingin menjadi muridnya. Siddhartha telah banyak belajar mulai kemarin, melewati hal-hal sulit dan telah berhasil meraihnya, yakni menemani Kamala. Siddhartha membacakan syair pujian, Kemala tidak keberatan memberikan sebuah ciuman, lalu lagi beberapa dan di balik ciuman panjang terdapat irama indah menunggu dirinya, ia kagum akan pelajaran pengetahuan yang berkelimpahan, ia tak butuh waktu lama untuk lihai mencium Kamala, ia tak kurang pakaian, sepatu, kalung, dan segala jenis benda indah, harga dirinya naik menjulang, tujuannya belajar tentang cinta dari Kumala. Siddhartha tidak melakukan apapun di hadapan kasihnya. Hidup duniawi itu mudah, pikirnya, sejak pandangan pertama ia sudah mengetahui hati Kumala; “Saat kamu melempar sebuah batu ke sungai, dia akan segera jatuh melintas cepat menuju dasarnya. Dia melangkah maju dan membiarkan dirinya jatuh, tujuannya yang mengarahkan dirinya padanya, dia tak membiarkan apapun masuk ke dalam pikiran yang menghalanginya. Inilah sihir yang aku pelajari, orang menyangka hal itu dihasilkan setan, padahal setiap orang dapat meraih tujuan-tujuannya jika ia dapat berpikir, menunggu dan berpuasa.” (p.91).

Siddhartha mengunjungi rumah mewah Kamaswami. Saudagar itu masuk, seorang pria dingin, rapi, dengan rambut abu-abu lebat, bermata awas, cerdas dan bibir yang sensual, tuan dan tamunya saling bersalaman. Siddhartha tidak sedang dalam kesulitan, dan memang belum pernah mengalami kesulitan sebagai shramana, tapi ia inginkan kebebasan tak memikirkannya. Saudagar itu mengira dirinya hidup dari kesejahteraan orang lain, namun seorang pedangang juga hidup dari apa yang dimiliki orang lain, setiap orang memberi dari apa yang dimilikinya, pahlawan berjuang, guru mengajar, petani memberi beras, nelayan memberi ikan. Kepadanya Siddhartha bisa memberikan kemampuan berpikir, bisa menunggu dan bisa berpuasa, ia menuliskan kalimat di atas secarik kertas dan memberikannya pada Kamaswami, isinya “Menulis itu baik, berpikir lebih baik. Kepintaran itu baik, kesabaran lebih baik.” Siddhartha menjadi paham dengan banyak hal baru, ia mendengar dan hanya berbicara seadanya, ia ingat Kamala dan tidak pernah merendahkan dirinya di hadapan saudagar itu, ia menganggap ini semua bagai permainan yang peraturannya dijalankan tapi isinya tak pernah menyentuh hatinya. Di bidang seni mendengar dan kemampuan melihat orang asing, Siddhartha bukan pedagang sejati, tapi ia memiliki rahasia sukses, karena pemahamnnya akan sesuatu yang ia pelajarinya, keuntungan bukan tujuan berdagang, dia bisa mengenal banyak orang dan membina persahabatan di dalam perjalanan, dengannya ia mencoba memahami dirinya dan bersimpati pada sesama, daIam berbisnis ia mengalir begitu saja, ke suatu tempat dalam ketidaktampakan. (p. 109). Bersambung // (2).

andimhd@yahoo.com/ des 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: