DTur Change For All

Shiddhartha (2)

Posted on: Januari 19, 2009

HESSE: SIDDHARTHA GOTAMA

(563–483 SM)

Siddhartha disebut Gotama dalam penulisan Pali, dan baru mendapat debutan Sang Buda dalam usia 35 tahun, setelah enam tahun menjalani praktek asketisisme dan pencerahan sempurna. Namanya telah melegenda 2.500 tahun di utara India yang sezaman dengan Harry Tales, Hersimendes, Nabi Zakaria dan Pythagoras (581–507 SM) atau Konfusius (551–479 SM). Budh artinya kesadaran, sedang Budha adalah orang yang telah mencapai kesadaran sempurna (Ie Swe Ching, 1994, dalam seri tokoh Sidharta Gautama). Ayahandanya seorang brahmana Raja Kapilawastu Sudhodhana dan Maya adalah sang ibunda, bermimpi calon Buddha memasuki rahimnya dalam bentuk gajah putih bergading empat, melahirkan di taman Lumbini wilayah Nepal dan meninggalkan bayi Siddhartha tanpa kasihnya, kemudian diasuh ayah dan bibinya. Sang Budha mengajarkan berpikir bebas (free denker) pada pengikutnya, ia mengasuh anaknya Rohula sebagaimana sorang ayah mendidik anaknya agar terbebas dari duniawi, sebab dulu ayahnya meinginkannya menjadi pemimpin yang berkuasa dan bukan seorang asketis. Namun ajaran Siddhartha yang ditemukan dari semadi bertahun itu mewarnai sejarah umat manusia yang menempati derajat pemikiran nabi, mendahului ajaran Kristen hingga ribuan tahun, semua mengambil manfaat hingga filosofpun banyak terinspirasi oleh pemikiran Siddhartha dan budhisme tersebut. Rentang pengaruh pemikirannya dengan nabi Muhammad SAW (570–632M) yang hidup dari keturunan keluarga Suku Quraisy itu berjarak ±1.133 tahun perjalanan masa dan Siddhartha sekaligus simbol pencarian manusia untuk sebuah kebenaran.

**s**

Setelah cukup waktu Siddhartha tinggal dalam kehidupan duniawi, dalam kesenangan, tanpa pernah menjadi bagian darinya, seni berpikir, menunggu dan berpuasa masih menuntun kehidupannya, manusia duniawi yang awam tetaplah asing baginya. Ia telah kaya, sejahtera dan berkuasa, orang-orang datang padanya, tapi tak seorangpun mendekat dengannya kecuali Kamala. Bagai gasing, roda asketisme dan pemikiran, diskriminasi dalam jiwanya terus berputar untuk waktu yang lama, pola kelesuan merasuki jiwa tapi indera perasaannya tumbuh, mengalami banyak hal dan mulai bosan dengan kehormatan dan uang, ia merasa bodoh dan tak berdaya. Dia hanya mengetahui, nuraninya yang jernih penuh keyakinan, yang dulu pernah hadir di dalam dirinya dan telah menjadi penuntunnya itu telah menghilang selamanya, ya dia telah kehilangan ketenangan hati. Suatu kali ia menerima peringatan lewat mimpi; “suatu saat dia akan mengikuti lagi Sang Buddha, akan menjadikan dirinya taman kesenangannya dan mengembara mengikuti ajarannya.” Godaan mimpi hidup bersama Kamala masih terus menarik-narik, dia telah hidup tanpa ada sesuatu yang hidup, tiada yang bermakna untuk dipertahankan, iapun naik dari jangkauan pergaulan seumurnya dan semakin jauh ke dalam diri sendiri penuh kesakitan mencari Brahman.

Dia mendengar suara-suara itu saat ia meninggalkan rumahnya, memilih hidup dengan para shramana; sekali lagi saat ia pergi pada Sang Mahasempurna; menuju ketidaktahuan. Dunia tempat orang-orang Kamaswami hidup sesungguhnya hanyalah tontonan permainan, Kamala satu-satunya orang yang ia pedulikan dan bermakna sesuatu bagi dirinya, tapi masihkah kini ia butuhkan itu atau membutuhkan dirinya. Tidak, tidak ada gunanya, nama permainan itu adalah samsara, dia berharga dan bernilai jika dimainkan, lalu ia menyadari kalau permainan itu berakhir, tak lagi dapat bermain, ada sesuatu yang telah mati. Sutu hari penuh ia duduk di bawah pohon mangga itu, berpikir tentang ayahnya, tentang Govinda, tentang Gotama. Apakah bermanfaat baginya menjadi seorang Kamaswami, apakah ini benar, bukankah ini permainan bodoh, bahwa dirinya memiliki pohon mangga, sebuah taman? Iapun menyudahi kematian rohani dalam dirinya, malam-malam dia bangkit meninggalkan taman dan mengucap selamat tinggal pada benda-benda itu. Kamaswami menyuruh orang-orang mencarinya, Kamala tidak menyuruh siapapun saat tahu Siddhartha menghilang tak kembali entah kemana, karena dia seorang shramana pengelana, tapi tak lama ia tersadarlah dari kebersamaannya yang terakhir bersama Siddhartha bahwa dirinya telah mulai mengandung benihnya. (p. 127).

Siddhartha tersesat di hutan, dia terjebak hebat dalam samsara, terhisap muak dalam kematian dirinya, ia telah sampai di ujung kelelahan tiba di sebuah sungai lebar, sungai sama yang dia jumpai saat masih muda. Dia terbangun oleh rasa lelah dan lapar, ia sandarkan bahunya ke sebuah pohon kelapa, meletakkan tangan di atas batang dan menatap ke bawah, ke air hijau yang tak henti mengalir, menemukan dirinya utuh dan dipenuhi hasrat untuk mati. Wajahnya berubah, ia memandang tajam ke air, melihat bayangan dirinya, keletihan luar biasa, menggeser tangannya dan memutar sedikit agar dirinya bisa langsung jatuh ke bawah, hingga ia dapat mencapai dasar. Dia tenggelam, matanya tertutup, menuju kematian. Sesaat kemudian dari sudut jiwanya, hadir sebuah suara, sebuah kata mulai ia ucapkan tanpa sadar, kata suci OM, berarti seperti “kesempurnaan” atau “kepenuhan”. Suara itu mencapai telinga Siddhartha, tiba-tiba pikirannya kembali bangkit, dan dia sadar. Begitulah saat kata OM memasuki kesadarannya, ia berhasil mengenali dirinya di tengah kedukaan dan kekecewaan. Dia ucapkan “OM” pada diri sendiri, dan dia mengenal Brahman, menyadari kehidupan yang tak terhancurkan, mengenal dimensi kesucian yang terlupakan. Ia mampu tidur nyenyak tanpa mimpi, sudah lama tak merasakan itu saat terbangun beberapa jam, seolah sepuluh tahun berlalu. (p. 133).

Siddhartha duduk dan melihat seorang asing yang tua di dekatnya, seorang pendeta dengan jubah kuning dan kepala gundul, bersikap semadi. Ia tak perlu lama untuk mengenali bahwa pendeta itu Govinda, teman masa mudanya, yang telah bergabung dengan Buddha Sang Agung, namun masih memiliki sifat antusiasme, kesetiaan, keingintahuan dan kepatuhan. Saat merasakan tatapan dirinya, Siddhartha tahu kalau Govinda tidak mengenalinya, sudah lama ia menunggunya untuk bangun dan menjaga di sampingnya. Govinda memperkenalkan diri sebagai murid dari Gotama, Buddha Agung yang dipanggil Shakyamuni, ia sedang melewati jalan bersama temannya saat melihat dirinya terbaring tidur di tempat berbahaya, lalu membangunkannya tapi gagal dan menunggui saja hingga terbangun. Govinda dipersilahkan pergi setelah menerima ucapan terima kasih telah menjaga dirinya saat terlelap, namun tidak meneruskan jalan, dia “heran” mengetahui Siddhartha menyebut namanya, maka kedua shramana ini bertemu lagi berbagi kisah hidup sebagai pengelana, pergi menebar pelajaran, mengumpulkan sedekah dan semadi tapi tidak kemana-mana. Siddhartha hanya seorang pencari, dengan pakaian, sepatu dan rambut seperti itu yang berbeda dengan pencari kebanyakan; ia mengingatkan Govinda, bahwa keabadian adalah bentuk dunia, dan besok dia tidak tahu karena roda akan terus berputar. Govinda menatap teman masa mudanya itu lama dengan kesangsian di matanya, lalu ia tinggalkan layaknya meninggalkan seorang yang termasyhur dan melanjutkan perjalanannya. Dengan senyum di wajah, setelah kebahagiaan tidur nan indah berselimutkan OM, Siddhartha menyaksikan pendeta itu menghilang, semua kesenagan inderawi, kenyamanan dan kekayaan menjauh darinya. Ia berkaca diri, sulit baginya berpikir namun ia memaksa dirinya, ia dapati perubahan itu. Ia kembali mendengarkan OM dan merasakan gelora kebahagiaan dalam dirinya, ia peroleh kelepasan diri menjadi bebas. (p. 145).

**juru_s.**

Ia tinggal di tepi sungai, menatap air bening hijau yang mengalir, dan sungai itupun menatapnya dengan sejuta pasang mata; yang hijau, kristal, putih dan biru langit. Betapa ia mencintai sungai misteri ini dan memukau dirinya, berterima kasih padanya, ia mendengar suara suci yang berkata padanya: “Cintailah sungai ini! Tinggallah di dekatnya! Belajarlah darinya!” Siddharta bangkit tertikam lapar tak tertahankan, ia mencapai sampan penyeberangan yang siaga, juru sampan sama yang dulu membawanya saat muda, Siddhartha mengenalnya, ia telah mulai tua namun tetap memilih suatu hidup yang menyenangkan dengan memainkan air. Juru tua itu membenarkan, bukankah setiap kehidupan dan kewajiban itu indah, dengan mengayuh maju mundur, tapi Siddhartha dicurigai akan segera bosan menjalani hidup bermakna dengan pakaian bagus, ia malah menawarkan pakaiannya agar tak menjadi beban, sebagai ganti beaya ongkos penyeberangan, bahkan jika diizinkan ingin menjadi murid juru tua menarik sampan. Si juru tua menatap orang asing itu lama dan menyelidik, lalu mengenalinya pernah dahulu tidur di gubuknya, mungkin dua puluh tahun yang lalu. Setelah itu Siddhartha menjabat tangan juru tua yang mengaku bernama Vasudeva, ia menceritakan asal usulnya dan aneka penacriannya sebagai shramana, si pembicara tahu  juru tua mendengar semuanya tanpa keterpaksaan, hanya mendengarkan.

Siddhartha mempelajari banyak hal dari Vasudewa, tentang betapa dalamnya ia terjatuh, tentang kata suci OM, tentang betapa dalam cintanya akan sungai, seperti katanya: “Inilah pemikiranku, sungai telah berbicara padamu, dia temanmu, ini sangat baik. Dahulu aku beristri, tempat tidurnya di sebelahku, kini ia meninggal, aku hidup menyendiri dalam waktu yang lama, hiduplah bersamaku, masih ada ruang dan makanan untuk dimakan bersama.” Vasudeva memberi pelajaran bagaimana mendengarkan, bukan cara berpikir. Hanya sedikit diantara ribuan yang menganggap sungai bukan penghalang, mereka dengarkan suaranya dan mendengarkannya, sungai menjadi sesuatu yang suci bagi mereka seperti juru sampan menganggapnya. Siddhartapun belajar mengayuh sampan, bahwa menurutnya sungai ada dimana-mana dalam saat yang bersamaan, di sumbernya, muaranya, di aliran sampan, di gunung dan di laut, bukan dalam bayang-bayang masa depan. Vasudeva mengajarkan bagaimana mendengar seribu suara dalam waktu bersamaan. Wajahnya semakin berbahagia, wajahnya juga mirip juru tua, dan melihat lagi juru sampan yang lain, mengangkatnya keduanya menjadi saudara, kedua pria itu memikirkan tentang hal yang sama, jawaban dan pertanyaan yang sama. (p. 163).

Tahun berlalu, suatu saat para pendeta pengikut Sang Buddha Gotama memintanya untuk diseberangkan, dari mereka juru kapal itu tahu mereka sedang berjalan cepat untuk melihat Sang Agung yang sedang sakit menjelang ajal kebebasan. Pendeta lain datang susul menyusul, para pencari tiada berbicara kecuali tentang Gotama dan kematiannya yang akan datang, sejak itu Siddhartha mencurahkan banyak pikiran tentang guru yang sakit menunggu ajal, menyaksikan jalan Sang Guru menuju kesempurnaan di depan mata. Sekian lama ia menyadari dirinya menyatu dengan Gotama, meski ajarannya tidak dapat diterima olehnya, kini tak ada lagi yang dapat memisahkan dirinya dengan ribuan orang suci. Begitu banyak orang, termasuk Kamala melakukan perjalanan menuju Buddha, telah lama dia menarik diri dan memberikan tamannya bagi para pendeta Gotama, bersama para sahabat, dermawan dan dengan Siddhartha muda anak lelakinya, melihat Sang Buddha segera setelah mendengar kematiannya. Kumala bersama anak kecil berjalan di sepanjang sisi sungai, anak itu segera merasa lelah dan ingin kembali ke rumah, dia tidak tahu mengapa harus berjalan berat yang menyedihkan, untuk melihat seseorang menjelang ajal, keduanya tak jauh dari sampan penyeberangan. Saat Siddhartha kecil berhasil memaksa ibunya untuk istirahat, tiba-tiba anak itu meraung keras, wajahnya memucat. Dari bawah baju Kumala, keluar seekor ular kecil hitam yang telah menggigitnya, sekarang keduanya berlari kencang minta bantuan sampai Kumala pingsan. Vasudeva segera datang, anak lelaki itu mulai menjerit sedih, juru sampan itu membawanya ke pondok, saat itu Siddhartha sedang membuat tungku perapian melihat wajah yang dia kenali; dan sekarang dia tahu wajah anaknya sendirilah yang mengejutkan ingatannya, dan hatinya berdetak.

Luka Kumala telah dibasuh, sebentar dia sembuh dan sadar, dia menyangka sedang mimpi, menatap wajah sahabatnya itu, perlahan ia ingat kejadian tersebut, dia digigit ular dan menangis kebingungan mencari anak lelakinya. Siddhartha menenangkannya, anak itu di dekat sini, lalu berdua beradu kasih demi ingatan masa lalu penyebab lahirnya anak kecil yang mirip rupanya itu. Matanya kehilangan arah dan jatuuh tertutup, anak itu menangis. Siddhartha meletakkannya di pangkuannya, membiarkan dia menangis, mengusap rambutnya, raut wajahnya mengingatkannya pada doa kaum Brahmana yang dulu pernah dipelajari. Dia mulai melafalkan dengan nada datar, di bawah mantra nyanyian tersebut anak itu jadi tenang, terisak lalu tertidur, ia menidurkannya di tempat Vasudeva. Orang tua itu sedang berdiri dekat tungku penanak nasi, Siddhartha menatapnya, dibalasnya dengan senyuman, “dia akan meninggal”, ujar Siddhartha lirih. Ia saksikan temannya Kumala mulai sadar, rasa sakit merubah wajahnya, ia membaca penderitaan di mulutnya, ia menyaksikannya dengan diam penuh perhatian, Kumala merasakan hal ini dan matanya mencari mata Siddhartha. Sekarang Kumala melihat matanya mulai berubah, mereka jadi sangat berbeda, jadi bagaimana mungkin perempuan itu masih mengenalinya sebagai Siddhartha, kedua anak bapak ini berbeda tapi sama. Rupanya Kumala tidak kuat lagi menahan rasa sakit, dan menemui ajalnya di tempat tidur yang sama istri Vasudeva dulu meninggal, ia seperti mengantarkan anak kecil itu kepada ayahnya. Siddhartha harus meyiapkan onggokan kayu bakar untuk sang istri.

**hbs**

Anak kecil itu berdiri di upacara terakhir pemakaman ibundanya, murung dan malu mendengar Siddhartha menyambutnya di pondok Vasudeva. Dia membuang pandangan dan menutup hatinya, menolak takdir dan coba menentangnya dengan caranya sendiri. Siddhartha sadar kalau anak itu tidak mengenal dirinya, ia tak mampu sebagai ayah bagi anak seusia sebelas tahun itu. Seiring waktu, anak itu tetap menjauh dan muram, sombong dan keras hati, tidak menghormati orangtua. Siddhartha sadar bukan bahagia dan damai yang datang padanya, tapi derita dan masalah, tapi ia mencintai anak itu, dan memilih penderitaan jika harus kehilangan anak itu. Mereka mulai berbagi pekerjaan, Vasudeva sekali lagi mengambil peran juru sampan, Siddhartha agar lebih mendekat ia lakukan pekerjaan di pondok dan ladang. Lama Siddhartha menunggu anaknya memahami dirinya, menerima cinta dan membalasnya, selama itu pula Vasudeva hanya mengamati, tak mengatakan apapun. Suatu hari anak itu menghina kasar ayahnya, dengan sombong dan kejengkelannya, dan setelah memecahkan dua mangkuk nasi; Vasudeva mengajak temannya ke luar malam itu dan berbicara padanya, burung muda itu menurutnya terbiasa hidup dalam kehidupan lain, jenis sangkar lain, dia tidak seperti ayahnya. Siddhartha perlu bertanya sendiri kepada sungai dan dengarkanlah juga dia, anaknya tidak berada di tempat dimana ia bisa tumbuh subur. Penderitaannya tidak akan ringan, karena hatinya sombong dan keras, orang sepertinya akan membebani diri dengan dosa. Siddhartha tidak akan memaksanya, memukul atau memberinya perintah, jalannya pasti akan berbeda dengan ayahnya, bukankah semua itu paksaan dan hukuman. Vasudeva mengusulkan membawa anaknya ke kota, agar bisa bersama anak-anak lain berada di dunianya, tapi Siddhartha ragu karena akan melakukan kesalahan ayahnya dulu, ia akan benar-benar terjebak dalam samsara disana. Jawaban akan muncul dari suara sungai, apakah kesediahan ayahnya, peringatan gurunya, pengetahuan dan pikirannya yang dapat menyelamatkannya; ayah dan guru macam apa yang dapat melindunginya dari hidup dan kehidupan itu sendiri, belum pernah Vasudeva mengeluarkan kata-kata sebanyak malam itu kepada orang lain, tapi Siddhartha tidak bisa mengikuti nasehatnya.

Datanglah harinya saat kemarahan Siddhartha muda akhirnya meledak menjadi pertentangan terbuka dengan ayahnya, anak itu tidak beranjak mengerjakan tugas-tugas mengumpulkan ranting-ranting, dia marah, berdiri menggerakkan kakinya ke lantai, mengepalkan tangannya, dengan kebencian dan hinaan kasar diteriakkan di depan ayahnya. Dendam terhadap ayahnya tercurah sudah, dia meninggalkan pondok, lari dan tak kembali, dan pagi berikutnya menghilang. Siddhartha ingin mencarinya, tapi Vasudeva melarang, sahabatnya itu melihat bahwa anak itu telah membuang dayung, berarti dia tidak mau diikuti untuk dibawa kembali. Namun sang ayah tetap saja pergi menyusul anak itu, sebentar Siddartha telah berada di jalan besar dekat kota, dia berhenti di depan taman kesenangan yang dulu milik Kumala, dia berdiri lama menyaksikan para pendeta, sebagai gantinya dia saksikan Siddhartha muda dan Kumala muda di bawah pohon yang tinggi, dia mengenang masa lalunya, dan ketika merasakan hampa dan ketidakbahagiaan terucaplah kata OM tanpa suara, memenuhi dirinya dengan OM. Lalu dia kembali pulang menuju hutan dengan Vasudeva, tak seorangpun terdengar bicara tentang pengalaman hari itu, di pondok Siddhartha berbaring di atas tempat tidurnya, tak lama kemudian, saat Vasudeva datang kepadanya dengan semangkuk air kelapa, dia menemukannya telah tertidur.

Luka itu meninggalkan bekas dalam waktu lama. Siddhartha telah banyak menyeberangkan manusia melewati sungai itu, dan tak pernah menjatuhkan pandangan pada salah satu dari mereka, tanpa merasa iri, tanpa berpikir, begitu banyak manusia memiliki kebahagiaan yang paling indah, hanya itu bukan dirinya. Dia merasakan apa yang mereka rasa, ia melihat orang-orang berbeda dengan sebelumnya, dia memahami dan membagi kehidupan mereka, ia menganggap mereka sebagai saudara. Dia melihat manusia hidup meraih jumlah tak terhingga untuk itu semua, melakukan perjalanan, berperang, menderita dan bertekun tanpa tanpa kenal batas demi itu semua. Ia dapat mencitai karena alasan itu, dia menyaksikan hidup tempat kehidupan, inti tak terbinasakan, Brahman di setiap hasrat mereka. Orang bijak dan para pemikir tidak memiliki sesuatu yang lebih kecuali satu hal tak berharga, satu hal sangat kecil: kesadaran, ide-ide kesadaran, tentang kesatuan dari seluruh kehidupan. Manusia di bumi sama bijaknya dalam segala hal, sering kali jauh lebih berkuasa seperti binatang merasa lebih unggul dibanding manusia, tak pernah salah mengenali kebutuhan. Terjadi pemekaran dalam pengetahuan Siddhartha tentang apa itu kebijaksanaan, itu lebih dari sekedar kesiapan jiwa, sebuah ketangkasan khusus yang misterius, kemampuan memikirkan gagasan tentang kesatuan, untuk merasa dan bernafaskan kesatuan, namun luka itu masih membara, ia memikirkan anaknya, ini bukanlah titik api yang akan mati dengan sendirinya. (p. 194).

Suatu hari saat meradang hebat, Siddhartha menyeberangi sungai dituntun kerinduan, berniat ke kota menemui anaknya, sungai itu jelas tertawa, di air yang mengalir ia lihat dirinya, ayahnya si brahmana, wajah anaknya, semua mengingatkan pada sesuatu yang terlupakan, mengalir menuju muara derita, mendengar luka yang belum berbunga. Ia kembali ke pondok, rindu luar biasa untuk membuka dirinya pada Vasudeva, si ahli mendengarkan yang kini tak lagi bekerja di sampan, kini menganyam keranjang, meniti kebahagiaan dan keceriaan di wajahnya. Siddhartha mengungkap luka dan derita, tapi orang tua itu mendengar bagaimana sungai seperti anak kecil, wajah dirinya, mengungkap itu sama seperti memandikannya di sungai, bahwa pendengar ini menyerap pengakuannya ke dalam dirinya sendiri, dia rasakan kesenyapan, Vasudeva menuntunnya ke sungai karena ia belum mendengarkan semuanya, Siddhartha akan mendengar yang lebih lagi. Dengan lembut muncul paduan suara dari sungai, pertama anaknya sendirian, membara hasrat muda, bertekad pada tujuan, dipengaruhi keinginannya; mesing-masing menderita penuh nyanyian perasaan. Vasudeva lebih seksama membantunya menemukan suara-suara, bayangan Kumala, Govinda, ayahnya, dirinya sendiri seprti menyatu dengan yang lain menuju tujuan, maksud, kegairahan, kelaparan dan derita mereka. Siddhartha melihatnya terburu-buru, sungai ini terdiri dari dirinya dan orang-orang di sekitarnya, semua gelombang dan arus tergesa-gesa maju, dan setiap tujuan disertai tujuan baru, air menjadi uap dan naik ke angkasa, menjadi mata air, menjadi aliran baru. Suara itu berubah mempesona, suara tawa dan ratapan, seratus, seribu suara menjadi bagian satu sama lain. Dia hanyalah pendengar, benar-benar menyatu, maka nyanyian indah dari ribua suara membentuk sata kata: OM, kesempurnaan.

Lukanya mekar, egonya menyatu dengan kesatuan, sama seperti OM, melayang-layang. Di wajahnya mekar bahagia pebuh bijak tanpa keinginan, diiringi langkah Vasudeva, menatap mata Siddhartha dan melihatnya bahagia, menyentuh kebijaksanaan sempurna, sahabatnya itu mengucapkan selamat tinggal padanya, karena telah lama menanti menjadi juru sampan. Dia akan pergi ke hutan. Siddhartha menatapnya, dia berseri-seri pergi, mengingatkan perginya Govinda dari dirinya. Teman masa kecilnya kini telah menjadi pendeta, Govinda bahkan menyelamatkannya dari kematian, saat ini bersama pendeta lain melewatkan waktu istirahatnya di taman Kamala. Govinda mendengar pembicaraan tentang juru sampan tua, dan dianggap oleh orang banyak sebagai guru, ia berhasrat menemui juru sampan, pencariannya belum terpecahkan. Dia tiba di sungai dan meminta orang tua itu untuk menyeberangkannya, saat sampai di penyeberangan Govinda mengucapkan terimakasih, orang itu memperlihatkan banyak kebaikan pada para pendeta; dia membawa sebagian besar pendeta menyebrangi sungai ini, juru sampan itu juga seorang pencari jalan kebenaran.

Siddhartha menanyakan kenapa Govinda yang tua dan telah mengenakan jubah pendeta Gotama, masih saja menjadi seorang pencari, dia lakukan itu karena telah jadi sifatnya mencari kebenaran, dia minta juru sampan itu bercerita banyak hal, tapi cerita saja tidak akan ditemukan apa yang dicarinya, terlalu banyak memikirkan keinginan tidak mengantar sebuah maksud. Menemukan berarti bebas, terbuka kata Siddhartha, tidak memiliki tujuan, orang suci pencari sedang meraih tujuannya, terlalu banyak yang gagal mereka temui di depan mata. Lalu Siddhartha menceritakan dulu orang suci pencari datang ke sungai ini, dia menemukan di sisi sungai seseorang pria sedang tidur, dia duduk di sebelahnya dan menjaga tidurnya, namun orang suci tiada mengenali pria yang sedang tidur itu. Terkejut, bingung, pendeta itu menatap mata si juru sampan, menanyakan apakah dirinya Siddhartha, sekali lagi Govinda tak mampu mengenalinya sebagai juru sampan, dia ucapkan selamat pada temannya, Siddhartha tertawa mesra, orang tertentu harus berubah banyak dan menggunakan semua perlengkapan. Malam itu Govinda diajaknya singgah di pondoknya, keduanya menceritakan kembali lembaran hidupnya. Govinda menanyakan keyakinan dan paham yang akan diajarkannya untuk hidup dan bertindak benar.

Ia membuka seluruh lembaran pencariannya sedari muda, jadi pertapa di hutan, tidak percaya para guru, menjauh dari mereka, dan memiliki banyak guru termasuk pelacur cantik. Juru sampan Vasudeva sama baiknya dengan guru Gotama. Govinda terus saja mengejar adakah Siddhartha memiliki ajaran, gagasan yang telah ditemukan, pemahaman yang menyenangkan hatinya. Ya ia memiliki ajaran itu, banyak gagasan, kebijaksanaan salah satunya. “Kebijaksanaan tak bisa diungkapkan, saat seseorang mencoba mengungkapnya, selalu terdengar bagai kebodohan, yang dapat dikatakan itu pengetahuan. Seseorang dapat menemukan kebijaksanaan, hidup selaras di dalamnya, melakukan keajaiban dengannya, tapi tidak dapat mengungkapkannya. Itulah gagasan terbaikku”, Govinda, katanya. “Lawan dari setiap kebenaran juga sama benarnya! Sebuah kebenaran dapat diungkapkan, dengan selubung kata-kata jika hanya punya satu sisi, yakni segala yang dapat dipikirkan dan diungkap dengan kata-kata, semua pikiran tidak memiliki keutuhan, kepenuhan dan kesatuan. Saat Gotama Sang Suci mengajarkan tentang dunia, dia membaginya menjadi samsara dan nirvana, penipuan dan kebenaran, derita dan kebebasan, tidak ada kemungkinan cara lain. Namun di dunia sendiri, kebaradaaan tidak pernah satu sisi, tidak pernah seseorang seutuhnya suci atau seutuhnya berdosa, itu hanyalah semu, Govinda, aku telah mengalaminya banyak sekali. Jika waktu tak nyata, maka jurang yang hadir antara dunia dan keabadian, derita dan kebahagiaan, baik dan kejahatan, juga sebuah ilusi perumpamaan.”

“Bagaimana mungkin,” tanya Govinda gusar. Siddhartha menerangkan kepada teman yang menjadi muridnya; Bahwa “Buddha dan masa depan pendosa hadir di sini dan masa depannya telah ada disana seutuhnya, manusia harus memuliakan perkembangan, potensi dan Buddha tersembunyi di dalam diri setiap orang. Dunia sungguh sempurna atau tanpa batas pada banyak titik di sepanjang jalan lebar yang teratur menuju kesempurnaan, setiap dosa telah mengandung berkah di dalamnya, semua anak kecil telah memiliki jiwa yang tua di dalam dirinya, setiap manusia yang menjemput ajal memiliki keabadian hidupnya, di dalam diri penajahat ada Buddha menunggu. Di kedalaman semadi terletak kemungkinan untuk memotong waktu, melihat masa lalu, kini dan masa datang serempak, hingga segala sesuatu baik dan semuanya sempurna sebagai keharusan apa adanya. Semua hanya membutuhkan persetujuanku, kemauanku, penerimaanku akan cinta. Aku telah mengalaminya di dalam pikiran dan tubuhku semua kesenangan duniawi, kini aku menyerah, dan membiarkannya seperti apa adanya serta mencintainya dan bahagia menjadi bagian darinya.” Lalu Siddhartha menunduk, beberapa ide muncul di kepalanya, mengambil sebuah batu dari tanah, menimangnya di tangan, dan melucu di depan Govinda. Ini hanyalah sebuah batu dari tanah, sebuah tanaman akan tumbuh, tapi dalam lingkaran perubahan juga bisa menjadi manusia dan roh, itulah nilai tambah sebuah batu.

Siddhartha juga berpikiran, bahwa batu adalah batu, dia juga binatang busa, juga Tuhan, juga Buddha, ada batu yang merasa sebagai minyak, daun, seperti pasir dan seterusnya, masing-masing unik dan mengucap OM dengan caranya sendiri. Masing-masing adalah satu Brahman, namun saat yang bersamaan dan sama besarnya, dia adalah batu, berminyak atau licin, justru itulah yang indah menyenangkan, harga dari kemuliaan. Kata-kata tidak berharga untuk makna tersembunyi, segala sesuatu sedikit berbeda ketika hal itu diungkapkan, sedikit menyimpang dan bodoh, itu juga baik dan dibutuhkan untuk sebuah kesempurnaan, kebijaksanaan yang bernilai, untuk orang lain sebagai suatu kebodohan. Itulah sebabnya, ajaran tidak berarti apapun bagi Siddharta, mereka tak memiliki kekerasan, kelembutan, warna, bentuk, bau dan rasa, ajaran tidak memiliki apapun kecuali sekedar kata-kata itu. Karena kebebasan, kebijakan, samsara dan nirwana hanyalah kata-kata, tak ada benda nirwana, hanya ada kata nirwana. Mungkin nirrwana itu berupa gagasan, tapi Siddhartha hanya memberi nilai lebih pada benda yang nyata, bukan ide hebat yang semu menipu, baginya semua hanya perlu dicintai apa adanya, menghargai diri sendiri dan semua makhluk hidup dengan cinta, penghargaan dan pernghormatan. (p. 217)

Kedua manusia itu terdiam lama, merasakan kekosongan, masing-masing berjalan dengan angan-angan sendiri, Govinda merasa aneh dengan ajaran dan gagasan Siddhartha, walau aneh semuanya memancarkan kemurnian, dia belum pernah bertemu orang lain seperti ini sejak kematian guru besarnya, dia terus memikirkan kata-kata aneh teman yang kini menjadi gurunya, banyak rangkaian panjang, wajah sungai yang sedang mengalir, ratusan, ribuan, semua datang dan pergi, semuanya ada disana sekaligus berubah menjadi sebuah wajah baru. Dia melihat dewa-dewa, Kresna dan Agni, masing-masing membentuk wajah hubungan satu sama lain, menolong, membenci, merusak dan melahirkan kembali terus menerus, antara wajah satu dengan yang lainnya, semua tetap mengalir. Diatas semua itu sesuatu yang tipis, tidak penting namun ada, seperti topeng air di sungai, tersenyum, ya topeng itu adalah wajah tersenyumnya Siddhartha, dimana Govinda menyentuhnya dengan bibirnya. Demikianlah Govinda melihat senyum topeng itu, senyum kesatuan atas bentuk yang mengalir itu, bentuk keserentakan atas kelahiran dan kematian yang aneh, senyum Siddhartha benar-benar menyerupai senyum Sang Buddha Gotama yang tenang, halus, sempurna, tak dapat ditembus. Govinda membungkuk dalam-dalam, air mata tak disadarinya mengaliri wajah tuanya, sebuah perasaan cinta luar biasa dan kemuliaan bagai nyala api di hatinya, dia merunduk hingga ke tanah, di sosok tanpa emosi ini dan yang sedang duduk ini, senyumnya mengingatkan pada sesuatu yang pernah ia cintai dalam hidup, tentang segala sesuatu yang berharga dan suci baginya. (p. 224). [ ]

Joktengku menutup 2008.

andimhd@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: