DTur Change For All

Archive for Februari 2009

Seikat kalimat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menjelaskan asosiasi makna perkumpulan manusia Indonesia yang berprofesi sebagai Pemandu Wisata (tour guide) di dalam konstelasi industri pariwisata nasional secara kompeten dan profesional. Jumlah Guide Jogja berlisensi disini saat ini terdaftar 400-an orang, separuhnya aktif. Data kunjungan wisata nasional 2008 telah mencapai rekor tertinggi yakni 1,1 juta orang dengan devisa sebesar ± Rp 90 Triliun dalam bentuk jasa amat beragam, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata kebudayaan lokal, terutama bagi DIY yang mengutamakan kebijakannya selain sektor pendidikan. Yogyakarta telah dipilih pembaca Majalah Libur Malaysia menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” mereka, bahkan bertahun sejak pariwisata Indonesia berkibar di dunia global telah dibutuhkan peran Guide dan HPI selaku sosok dan wadah penghubung wisatawan dengan peradaban lokal destinasi wisata. Masalah kini yang aktual dan belum terpecahkan adalah pemberdayaan Anggota Himpunan secara optimal oleh kesadaran Pengurus yang lemah dan perhatian dari yang berwenang.

Organisasi HPI dipimpin oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Struktur DPD DIY misalnya akan terdiri seorang Ketua dibantu Wakil Ketua Bidang, Sekretaris dan Wakilnya, Bendara, serta Ketua-ketua Biro/ Koordinator Divisi. HPI DIY telah lima kali ganti kepemimpinan dari era berdirinya 1974 hingga musda terakhir meninggalkan masalah penting menyangkut kesejahteraan, komptensi dan kesadaran organisasi. Maka Musda DPD HPI ke-5 pada Sabtu 14 Februari kali ini di STP AMPTA Yogyakarta akan memiliki makna strategis, yaitu turning point Himpunan periode 2009-2014 menjadi bermartabat dan berdaya-guna. Pesan perubahan adalah dengan merumuskan program kerja taktis yang mampu menyadarkan dan mendisiplinkan anggota bahwa sukses, kemajuan dan kesejahteraan di dapat melalui jalan panjang bersama oleh liku konsepsi jelas seorang Pemimpin, sedang forum musyawarah adalah tempat agenda dan tata kelola itu digodok dan ditetapkan sebagai arah tujuan Himpunan ke depan.

REPOSISI PROFESI

Tidak beda dengan praktisi lain, posisi Guide bisa amat memilukan tersudut di pojok tanpa jaminan keselamatan dan kesejahteraan namun sekaligus menjanjikan bagi yang kreatif dan berpikiran positip. Secara materi bisa bebas tak terbatas; membalik posisi Uang Bekerja Untuknya karena luasnya jaringan kerja dimana dialah kuncinya. Manusia hidup bukan untuk materi, namun cara pandang materialistis bukan hanya milik Guide sebagai sebuah pilihan sikap kerja, apalagi visi pribadi dan ketrampilannya difokuskan sekedar mencari uang. Manajemen pariwisata ke depan akan berubah lebih humanis, seperti bahwa harga-harga dan layanan kenyamanan akan kompetitif bagi konsumen paket wisata, siapa melawan pasar tergilas. Semua masih bergantung kepada sikap – pengetahuan – skill seorang Guide di hadapan pemangku kepentingan industri wisata. Batasan produk wisata bisa laris terjual an sich dapat terukur oleh kesuksesan materi, namun dapat pula sukses oleh ukuran-ukuran budaya, etika organisasi dan tradisi pengetahuan serta kearifan nilai lokal pembentuk karakter kerja wisata. Betapa saat ini banyak asosiasi profesi di Indonesia senasib dengan Guide dan HPI, namun toh isi dari hasil-hasil peradaban Jawa tetap dilirik sebagai acuan komunitas sejagad, semisal Wayang adalah panggung prilaku manusia dalam peran yang beragam.

Maka reposisi Guide di samping tugas pokok memandu berperan amat strategis bagi kemajuan industri pariwisata nasional, di luar asosiasi HPI misalnya banyak regulasi membutuhkan tugas Entrepretuer Bahasa dimana Guide bisa berperan, belum lagi posisi accessor dalam ujian sertifikasi profesi yang bakal diterapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Pendidikan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi. Toh HPI telah memiliki Training Center dengan 11 tenaga accessor berasal dari Yogyakarta, masihkah potensi ini tak menjawab kebuntuan regenerasi Guide. Dalam sebuah Konperensi di Bali (2008) organisasi Wolrd Federation of Tourist Guide Associations (WFTGA) menempatkan asosiasi pada peran ideal juga marketing system tak tergantikan, diprediksi era mendatang adalah terbukanya akses dunia global pada Pariwisata Budaya dimana nusantara menjadi titik penyangga peradaban dunia, namun secara individu persoalan teknis organisasi dan tatalaksana kepemanduan HPI belum optimal berproses di habitatnya.

Wisata Candi misalnya sebagai destinasi utama akan menuntut pemahaman sejarah lebih sempurna bagi profesi Pramuwisata, juga penguasaan materi-materi guiding lain seperti arekeologi, gunung api, Parangtritis, kerajinan keris, imigrasi, kependudukan, upacara tradisi, politik, wayang puppetry dst. Indonesia telah memperoleh penghargaan dari UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta 13-14 Desember 2008, diangkat kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia masuk ke dalam Asosiasi Wayang Dunia “Union Internationali de la Marionnette (Unima)”, bahkan wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar dalamnya; sosok Arjuna, Druno, Sengkuni dst adalah simbul prilaku yang bisa ditamparkan ke wajah asosiasi. Bagaimana memaknai hubungan-hubungan kepemimpinan manusia disana dll, menurut harkat dan norma agama tiada beda siapa memimpin Asosiasi tetap tak berdaya di hadapan sistem yang sakit. Munculnya optimisme perubahan bukan hanya dari pemimpin namun semua elemen warga Himpunan hatta anasir lain di luar dirinya.

PROGRAM KERJA STRATEGIS

Melihat persoalan yang ada prioritas konsolidasi organisasi HPI dan kesekretariatan menjadi pilihan penting mengingat dinamisme anggota dan aturan AD-ART panduan organisasi, disamping program kesejahteraan dan jaminan asuransi keselamatan kerja bagi 400-an lebih Guide pemilik lisensi dan berkompeten memandu wisatawan. UU Keselamatan Kerja belum mengatasi persoalan malah menambah rumit hubungan Guide dengan Biro Perjalanan di lapangan, masalah premi juga penghargaan fee bagi setiap paket wisata harus dihitung masuk ke dalam cotation yang ditawarkan tour operator luar. Program strategisnya adalah regenerasi profesi Guide, siapa yang akan memikirkan pola kelanjutan tugas-tugas layanan kepemanduan manakala Pendidikan dan Latihan HPI tidak berjalan optimal. Sasarannya bila seorang Guide berkompeten handal dan profesional dia akan dicari siapapun yang membutuhkannya, bukan dibalik bahwa tour operator memperlakukannya sebatas pekerja wisata.

Mesin organisasi HPI dapat sehat bekerja bila semua anggota bersinergi potensi dengan iuran dan sudi memajukannya, bukan melemparkan masalah maya tanpa niat perbaikan. Pihak yang berweng perlu mencari solusi agar Himpunan terlindungi dengan regulasi pasti. Pengurusnya mampu melembagakan efektifitas peran manajemen komunikasi dan kehumasan ke-HPI-an melalui tindakan silaturahim pemikiran dan pertemuan anggota agar ke depan Guide memperoleh kompetensi di atas penghargaan profesi sepadan di hadapan pemangku kepentingan pariwisata. Kata kuncinya adalah kerjasama dan pemberdayaan sebagaimana penentu kebijakan yang di atas, para Menteri Pariwisata se-ASEAN melalui Perjanjian Borobudur dll telah merapatkan jalinan kerja dalam menangkap devisa melimpah di sektor ini. Selamat bermusyawarah! []

*) Tulisan pendorong kandidat menuju Perubahan DPD HPI Jogja lebih strategis!

Iklan

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Angka kunjungan wisata naik sekitar 1,1 juta orang dari target nasional 6,5 juta, dan diperkirakan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun) dengan jasa amat beragam, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata cara kebudayaan lokal. Kegiatan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan Daerah Tujuan Wisata (DTW) DI Yogyakarta telah dipilih pelancong Malaysia yaitu Majalah Libur menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008”. Di tahun sama menurut laporan Transparansi Internasional Indonesia, Yogyakarta menempati kota nuswantara paling bersih dari korupsi, maka prestasi ini harus dipertahankan.

Peran budaya seorang Pramuwisata (tour guide) telah diatur dalam dokumen UNESCO nomer E/CONF.47/8, bahwa wisatawan sebagai subyek menikmati kebudayaan lokal yang disajikan sebagai obyek wisata. Pengalaman baru akan meningkatkan emansipasi pribadi, menambah pahala dan mendorong kreativitas. Kualitas hidup akan menaikkan prestasi budaya dan mensejahterakan serta menumbuhkan Penghasilan Asli Daerah setempat. Tidak dipungkiri peran strategis pemandu sebagai ujung tombak layanan jasa wisata, meski jumlah wisatawan manca asal Eropa kian menurun. Kunjungan nasional (2004) sejumlah 6,5 juta, di tahun 2005 menurun jadi 4,9juta orang dan 4,8juta orang (2006), sedang 2007 belanja wisatawan rata-rata 970 Dollar AS. Padahal Malaysia meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun, Singapura (2008) sejumlah 10,1 juta dengan devisa naik menjadi 14,8 Miliar Dolar AS. Inilah saatnya memikirkan solusi pariwisata ke depan; yakni tentang multi peran Pramuwisata demi mengangkat citra bangsa, khususnya meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap budaya lokal dan dampak ekonomi pada masyarakat luas.

Tulisan ini menyorot masalah regenerasi Pramuwisata di tengah regulasi soal profesionalitas dan kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), di bawah peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Lebih spesifik bertujuan merumuskan bekal usulan program kerja dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) tanggal 14 Februari 2009 Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Yogyakarta periode 2009-2014 dari Anggota divisi Bahasa Jerman, mengingat fakta tiadanya perhatian stakeholders pariwisata seputar regenerasi Guide Bahasa Jerman profesional di tengah pola kepariwisataan dunia yang terus berubah.

UJI KOMPETENSI GUIDE

Praksis memandu wisatawan Jerman memiliki tingkat kerumitan dan kesenangan tersendiri, saat berkunjung di Daerah Tujuan Wisata (DTW) mereka terbiasa bertanya di luar penjelasan tentang obyek pokok. Seperti bagaimana orang Jawa hidup di abad ke-8 itu mampu membangun Borobudur, Prambanan dan candi-candi kecil lain. Pada wisatawan domestik saat ziarah ke Makam Para Wali termasuk siapa Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten yang berperan membesarkan Mataram Islam. Sejarah candi mengingatkan bahwa keyakinan adanya Tuhan di tanah Jawa sangat mendalam, candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta telah ada sejak abad pertama. Peran local genius dalam pembangunan juga sangat besar, hingga puncak pembangunan candi di abad 8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat, melanjutkan laku peradaban manusia purba disini (KR 06/02/2006).

Wisata Candi menuntut pemahaman sejarah sekaligus ujian lebih sempurna bagi profesi pemandu, demikian halnya soal arekeologi, ikon wisata Merapi, Parangtritis, kerajinan batik, keris, upacara tradisi, kuliner, wayang puppetry dst. Penghargaan UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta Desember 2008 itu amat bernilai, telah dibicarakan kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia untuk bergabung dengan Asosiasi Wayang Dunia “Unima”. Wayang kita tak kalah hebat dibanding yang berasal dari India, Jepang dan China. Menurut Sultan H B X bahkan wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar di dalamnya. Sidang ini menyepakati empat hal; tiap negara harus memiliki sanggar boneka/ wayang; memperbanyak pertukaran pentas; menyusun Buku Sejarah Wayang; sidang APA 2009 di Filipina dan 2010 di Malaysia.

Agenda dunia diatas menunjukkan potensi besar kita, menjadi sentra diskusi yang merangkai ke seluruh sejarah pariwisata bahkan diskursus peradaban manusia. Hingga kini D.I. Yogyakarta merupakan andalan DTW nasional, karena itu menuntut profesionalitas Guide. Merekalah yang memaknai dinamisme sejarah Nuswantara di hadapan wisatawan; membaca pertanda perjalanan kebudayaan purba di Jawa telah lama berjalan seumur fosil-fosil manusianya. Java Man Homowajakensis yang ditemukan (1889) di Malang, serta spesies Meganthropus Palaejavanicus oleh Ralph von Königswald di Sangiran (1936-1941) telah meninggalkan misteri. Sementara menurut kajian semiologi-semiotika, manusia perlu cara pembacaan lain, minimal dengan fakta relasi kejadian isi alam sebagai materi pembelajaran dan pebaikan hidup. Filosofnya mencermati sistem tanda yang bergerak lincah di medan pertandaan berupa persepsi, epistemologi, pengetahuan, mitologi, gagasan, idealisme, keyakinan dll. Hingga tanda adalah idea yang bisa diindra dan harus dibaca keseluruhan penanda aspek materialnya berupa ekspresi, indeks, sandi/candi, simbol, bahasa, tulisan, patung/arca, poster, iklan, brosur, flim, klip dan lain-lain. Dengan kearifan membaca potensi pariwisata DIY, maka tak akan pernah terjadi penistaan sejarah seperti kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit di lokasi situs urban kuno.

Identifikasi peran kepemanduan dan apresiasi budaya bisa dipertajam pada guiding skills and technique, tapi hasilnya akan terpulang pada kreativitas pemandu. Akar kreasi sesungguhnya adalah minimnya kesadaran untuk apa menjadi guide profesional dan berkualitas di dalam sistem manajemen pariwisata yang tidak kondusif, sehingga berakibat lemahnya penguasaan materi-materi guiding atau minimnya penghargaan (guide fee) atas profesi mereka di tambah aturan soal lisensi dan birokrasi yang tak mendukung. Dalam kondisi demikian (2008) telah dibuka lebar-lebar kran perjanjian kerjasama formal antar Menteri Pariwisata Negara ASEAN. Jika Pramuwisata menutup mata atas tanda-tanda ini, nasib pariwisata Indonesia dipertaruhkan.

AGENDA HPI 2009-2014

Pramuwisata telah terbiasa dengan krisis, maka profesi ini optimis mempertahankan kompetensi kepemanduan di tengah jaringan kerja yang ada dengan usulan perbaikan organisasi sebagai berikut: Mengintensifkan sinergi potensi keilmuan dan ketrampilan dalam rangka standardisasi kompetensi, pengayaan materi guiding serta tuntutan sertifikasi profesi pramuwisata. Musda HPI Yogyakarta 2009 kali ini sebagai momentum perubahan fungsi kelembagaan menjadi lebih berkualitas baik dan berdaya multiguna; memperbaiki ekonomi HPI, kesehatan, kesadaran politik, moral, pengetahuan, budaya dst bagi seluruh relasi kepentingan pariwisata. Siapa pemberi jaminan keselamatan kerja di lapangan bagi profesi Guide? Program pariwisata secara keseluruhan akan menjadi bernilai lebih itu banyak bergantung kepadanya, dan meninggalkan kenangan lebih bernilai bagi pengguna layanan jasa pariwisata. Jika wadah HPI tidak mampu memberi solusi di bidang ini, pemberdayaan internal diantara anggota Divisi Bahasa layak menemukan ide kreatif yang dapat dilakukan secara bermartabat. Semoga catatan ini menggugah mereka, selamat bermusyawarah![ ]

*) Ini dimuat di KR & Radar Jogja 12 Feb 2009, andimhd@yahoo.com.



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori