DTur Change For All

Menggugah Peran Guide

Posted on: Februari 13, 2009

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Angka kunjungan wisata naik sekitar 1,1 juta orang dari target nasional 6,5 juta, dan diperkirakan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun) dengan jasa amat beragam, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata cara kebudayaan lokal. Kegiatan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan Daerah Tujuan Wisata (DTW) DI Yogyakarta telah dipilih pelancong Malaysia yaitu Majalah Libur menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008”. Di tahun sama menurut laporan Transparansi Internasional Indonesia, Yogyakarta menempati kota nuswantara paling bersih dari korupsi, maka prestasi ini harus dipertahankan.

Peran budaya seorang Pramuwisata (tour guide) telah diatur dalam dokumen UNESCO nomer E/CONF.47/8, bahwa wisatawan sebagai subyek menikmati kebudayaan lokal yang disajikan sebagai obyek wisata. Pengalaman baru akan meningkatkan emansipasi pribadi, menambah pahala dan mendorong kreativitas. Kualitas hidup akan menaikkan prestasi budaya dan mensejahterakan serta menumbuhkan Penghasilan Asli Daerah setempat. Tidak dipungkiri peran strategis pemandu sebagai ujung tombak layanan jasa wisata, meski jumlah wisatawan manca asal Eropa kian menurun. Kunjungan nasional (2004) sejumlah 6,5 juta, di tahun 2005 menurun jadi 4,9juta orang dan 4,8juta orang (2006), sedang 2007 belanja wisatawan rata-rata 970 Dollar AS. Padahal Malaysia meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun, Singapura (2008) sejumlah 10,1 juta dengan devisa naik menjadi 14,8 Miliar Dolar AS. Inilah saatnya memikirkan solusi pariwisata ke depan; yakni tentang multi peran Pramuwisata demi mengangkat citra bangsa, khususnya meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap budaya lokal dan dampak ekonomi pada masyarakat luas.

Tulisan ini menyorot masalah regenerasi Pramuwisata di tengah regulasi soal profesionalitas dan kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), di bawah peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Lebih spesifik bertujuan merumuskan bekal usulan program kerja dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) tanggal 14 Februari 2009 Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Yogyakarta periode 2009-2014 dari Anggota divisi Bahasa Jerman, mengingat fakta tiadanya perhatian stakeholders pariwisata seputar regenerasi Guide Bahasa Jerman profesional di tengah pola kepariwisataan dunia yang terus berubah.

UJI KOMPETENSI GUIDE

Praksis memandu wisatawan Jerman memiliki tingkat kerumitan dan kesenangan tersendiri, saat berkunjung di Daerah Tujuan Wisata (DTW) mereka terbiasa bertanya di luar penjelasan tentang obyek pokok. Seperti bagaimana orang Jawa hidup di abad ke-8 itu mampu membangun Borobudur, Prambanan dan candi-candi kecil lain. Pada wisatawan domestik saat ziarah ke Makam Para Wali termasuk siapa Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten yang berperan membesarkan Mataram Islam. Sejarah candi mengingatkan bahwa keyakinan adanya Tuhan di tanah Jawa sangat mendalam, candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta telah ada sejak abad pertama. Peran local genius dalam pembangunan juga sangat besar, hingga puncak pembangunan candi di abad 8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat, melanjutkan laku peradaban manusia purba disini (KR 06/02/2006).

Wisata Candi menuntut pemahaman sejarah sekaligus ujian lebih sempurna bagi profesi pemandu, demikian halnya soal arekeologi, ikon wisata Merapi, Parangtritis, kerajinan batik, keris, upacara tradisi, kuliner, wayang puppetry dst. Penghargaan UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta Desember 2008 itu amat bernilai, telah dibicarakan kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia untuk bergabung dengan Asosiasi Wayang Dunia “Unima”. Wayang kita tak kalah hebat dibanding yang berasal dari India, Jepang dan China. Menurut Sultan H B X bahkan wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar di dalamnya. Sidang ini menyepakati empat hal; tiap negara harus memiliki sanggar boneka/ wayang; memperbanyak pertukaran pentas; menyusun Buku Sejarah Wayang; sidang APA 2009 di Filipina dan 2010 di Malaysia.

Agenda dunia diatas menunjukkan potensi besar kita, menjadi sentra diskusi yang merangkai ke seluruh sejarah pariwisata bahkan diskursus peradaban manusia. Hingga kini D.I. Yogyakarta merupakan andalan DTW nasional, karena itu menuntut profesionalitas Guide. Merekalah yang memaknai dinamisme sejarah Nuswantara di hadapan wisatawan; membaca pertanda perjalanan kebudayaan purba di Jawa telah lama berjalan seumur fosil-fosil manusianya. Java Man Homowajakensis yang ditemukan (1889) di Malang, serta spesies Meganthropus Palaejavanicus oleh Ralph von Königswald di Sangiran (1936-1941) telah meninggalkan misteri. Sementara menurut kajian semiologi-semiotika, manusia perlu cara pembacaan lain, minimal dengan fakta relasi kejadian isi alam sebagai materi pembelajaran dan pebaikan hidup. Filosofnya mencermati sistem tanda yang bergerak lincah di medan pertandaan berupa persepsi, epistemologi, pengetahuan, mitologi, gagasan, idealisme, keyakinan dll. Hingga tanda adalah idea yang bisa diindra dan harus dibaca keseluruhan penanda aspek materialnya berupa ekspresi, indeks, sandi/candi, simbol, bahasa, tulisan, patung/arca, poster, iklan, brosur, flim, klip dan lain-lain. Dengan kearifan membaca potensi pariwisata DIY, maka tak akan pernah terjadi penistaan sejarah seperti kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit di lokasi situs urban kuno.

Identifikasi peran kepemanduan dan apresiasi budaya bisa dipertajam pada guiding skills and technique, tapi hasilnya akan terpulang pada kreativitas pemandu. Akar kreasi sesungguhnya adalah minimnya kesadaran untuk apa menjadi guide profesional dan berkualitas di dalam sistem manajemen pariwisata yang tidak kondusif, sehingga berakibat lemahnya penguasaan materi-materi guiding atau minimnya penghargaan (guide fee) atas profesi mereka di tambah aturan soal lisensi dan birokrasi yang tak mendukung. Dalam kondisi demikian (2008) telah dibuka lebar-lebar kran perjanjian kerjasama formal antar Menteri Pariwisata Negara ASEAN. Jika Pramuwisata menutup mata atas tanda-tanda ini, nasib pariwisata Indonesia dipertaruhkan.

AGENDA HPI 2009-2014

Pramuwisata telah terbiasa dengan krisis, maka profesi ini optimis mempertahankan kompetensi kepemanduan di tengah jaringan kerja yang ada dengan usulan perbaikan organisasi sebagai berikut: Mengintensifkan sinergi potensi keilmuan dan ketrampilan dalam rangka standardisasi kompetensi, pengayaan materi guiding serta tuntutan sertifikasi profesi pramuwisata. Musda HPI Yogyakarta 2009 kali ini sebagai momentum perubahan fungsi kelembagaan menjadi lebih berkualitas baik dan berdaya multiguna; memperbaiki ekonomi HPI, kesehatan, kesadaran politik, moral, pengetahuan, budaya dst bagi seluruh relasi kepentingan pariwisata. Siapa pemberi jaminan keselamatan kerja di lapangan bagi profesi Guide? Program pariwisata secara keseluruhan akan menjadi bernilai lebih itu banyak bergantung kepadanya, dan meninggalkan kenangan lebih bernilai bagi pengguna layanan jasa pariwisata. Jika wadah HPI tidak mampu memberi solusi di bidang ini, pemberdayaan internal diantara anggota Divisi Bahasa layak menemukan ide kreatif yang dapat dilakukan secara bermartabat. Semoga catatan ini menggugah mereka, selamat bermusyawarah![ ]

*) Ini dimuat di KR & Radar Jogja 12 Feb 2009, andimhd@yahoo.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: