DTur Change For All

KOTAGEDE

Posted on: November 12, 2009

Sejenak menelusuri masa lalu Yogyakarta dengan Mataram Islam, akan kita temukan jejak rekam peristiwa yang mengelilingi keberadaan Kotagede. Sebuah kotalama dan ibukota kraton mengingatkan pada sebutan nama maharajanya yang besar, mendunia dan agung yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, dialah penguasa Kraton ketiga. Jauh sebelum yang mengelilingi Mentoak dari arah utara bagian tengah terdapat Kalingga Budha dengan Ratu Sima (674M) yang memerintah Jepara, Kerajaan Hindu di sebelah timur Medang Mataram dengan Rakai Sanjaya sebagai raja (732M), dan kekuasaan Dinasti Syailendra yang meninggalkan jejak Borobudur. Setelah masa itu Demak muncul di masa keruntuhan Majapahit abad 16, sejak itulah kerajaan Islam berkuasa dan kelak Sultan Trenggono memindahkan kerajaan ke Pajang, daerah yang kini dekat Solo.

Kasultanan Yogyakarta berawal dari kerajaan Pajang (1568-1586) dengan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir sebagai raja, ketika memenangkan pertikaian merebut kekuasaan Demak dengan Adipati Jipang, ia mendapat bantuan dari Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya putranya yang tinggal di utara pasar (Ngabehi Loring Pasar). Ia menghadiahi sebidang tanah di daerah Mentoak berupa hutan belantara, kemudian oleh Ki Ageng dibangun menjadi perdikan, sebuah kadipaten di bawah Pajang. Di akhir masa Pajang, Sutawijaya yang jadi putera angkat Sultan Hadiwijaya mendirikan kerajaan Mataram di bumi Mentoak dan mengangkat diri sebagai raja bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo (1586 – 1601). Letak Kerajaan Mataram Islam adalah di Kota Gede hingga tahun 1640, setelah itu Sultan Agung memindahkan ibukota ke Kerto wilayah Plered Bantul sekarang.

 

JEJAK TRADISI DI KOTAGEDE

Topografi Mataram Islam tidak terlepas dari keberadaan Gunung Merapi dan Laut Kidul yang memiliki nilai magis bagi masyarakat Jawa. Keduanya menjadi obyek peradaban dan basis kepercayaan yang tidak dapat dipisahkan dalam wujud tradisi masa lalu maupun tata masyarakat sekarang. Pengaruh kepercayaan Jawa dan Islam itu dapat dirasakan di Kotagede. Disini tempat lahirnya Mataram Islam, terbukti yang masih bisa ditemui antara lain Makam Ki Ageng Pemanahan cikal bakal dua kerajaan Surakarta dan Ngayogyakata dari akar yang sama. Kotagede merupakan bekal kebesaran budaya Jawa sekaligus ibukota kerajaan Mataram. Saat ini wilayah yang terletak 5km tenggara Kota Yogyakarta masih menyimpan ratusan jejak situs kebesaran, termasuk arsitektur bangunan tradisional Jawa yang terpengaruh budaya Islam dan beberapa jenis seni kerajinan perhiasan emas, perak dan tembaga. Salah satu jejak sejarah itu adalah komplek Masjid Mataram, dalamnya terdapat sebuah mimbar menyerupai tandu yang merupakan upeti Adipati Palembang saat raja ketiga Sultan Agung memimpin di Kraton Kotagede.

Terdapat pula Sendang pertirtaan yang diyakini mampu mewujudkan harapan orang yang berdoa disana. Situs makam raja putra Ki Ageng Pemanahan, yakni Makam Panembahan Senopati memiliki keunikan berupa lantai Singgasana Watugilang juga bisa ditemukan di Kotagede. Daya tarik ini semakin diperkuat oleh banyaknya rumah kuno masyarakat Kalang antara zaman Mataram hingga awal abad ke-20 yang masih utuh sesuai arsitektur aslinya. Patut disayangkan bangunan rumah-rumah joglo, limas dan serotong ini banyak yang runtuh oleh gempa 27 Mei 2006, jumlahnya tak kurang 35 buah rumah roboh. Kotagede adalah salah satu dari seratus kawasan situs budaya dunia yang kini terancam. Menurut Yayasan Kanthil Kotagede, total rumah tradisional kini berjumlah tiga ratusan lebih, tahun 1980-an rumah joglo disana masih ± 170 bangunan, sementara data di tahun 2005 ada sekitar 150 rumah antik.

Diantara peninggalan kuno Kotagede bisa dilihat misalnya di Tegalgendu, sebuah bangunan tahun 1800 hasil konstruksi Saudagar Kalang yang dahulu mensuplay kebutuhan perhiasan warga Kraton, dikenal sebagai Pak Tembong. Demikian kekayaan yang dimiliki, dia padukan ciri arsitektur Jawa, Portugis, Cina dan Belanda pada bangunan itu sampai-sampai coin matauangpun menghiasi detail dinding hingga nampak unik dan artistik. Keindahan dan kekhasan bangunan bersejarah rumah-rumah joglo, limas dan serotong itu kini amat memprihatinkan bahkan bisa musnah jika tanpa perhatian dan bantuan semua pihak, kecuali tentu bagi mereka yang tak bermasalah dengan beaya rehabilitasi sendiri seperti kasus Sekar Kedhaton peninggalan kuno yang kini dimiliki seorang pengusaha kerajinan perak ini.

 

JEJAK NIAGA & SENI

Menyusuri lorong perkampungan yang saling terhubung di Kotagede bagai menikmati liku-liku perjalanan mengasyikkan kota tua diselingi bunyi-bunyian logam beradu oleh tangan-tangan perajin emas, perak dan tembaga. Rekaman sejarah Kotagede adalah kebesaran perniagaan Mataram yang banyak dimiliki fotografer, budayawan dan peneliti baik pemerintah atau swasta dalam dan luar negeri itu masih dapat ditelusuri jejaknya di realitas kehidupan masyarakatnya. Warisan heritage budaya masa lalu tersebut bisa dinikmati dengan kasat mata kini di sejumlah sentra seni dan kerajinan masyarakat, di pasar Kotagede, di komplek Masjid serta kawasan cagar budaya Makam Raja dan sekitarnya. Perlu disebut pula seniman budayawan yang terlahir disini, dimana nafas hidup mereka seakan terus lahir membawa semangat niaga serta kemegahan Mataram Islam.

Jejak kehidupan lain ditemukan yakni keberagaman kuliner makanan khas berupa geplak, kipo, klepon, jenang atau lainnya melengkapi institusi pasar bagi masyarakat Jawa yang dapat ditemukan di Kotagede. Pengaruh saudagar dari sini sangat terasa pada pasar-pasar tradisi di Yogyakarta, bahwa para pedagang pasar itu sebagian besar terkait atau berasal dari Kotagede. Dan karena saudagar adalah pewaris kebesaran Mataram yang mengindahkan nilai-nilai tradisi dan keagamaan, wajar pula mereka membawa etos entrepreneur serta di saat yang sama juga menempati posisi lain dengan profesi beragam namun tetap berjiwa pedagang. Hal ini merupakan kajian menarik, terutama karena saat ini sebuah Pasar Tradisi tak harus kalah tergerus keberadaan mal, setidaknya bagi wisatawan akan terasa sekali jejak saudagar muslim era Mataram itu manakala melewati kampoeng sepanjang Jalan Kamasan, Jalan Mondorakan, Jalan Tegalgendu seterusnya dalam kawasan budaya kuno Kotagede.

(Artikel ini dikirim Kedaulatan Rakyat, 01.10.2007 tak dimuat)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: