DTur Change For All

Archive for Desember 2009

Mempelajari keutamaan tujuh ayat umm al-kitab Al-Qur’an sebagai induk segala jenis dan isi buku pengetahuan kebijaksanaan yang ada terangkum di dalam sebuah catatan yakni ‘surat Al-Fatihah’. Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, Damaskus (1991) dalam kitabnya Tafsir Al-Munir, kata al-fatihah berarti pembukaan, permohonan, surat induk, catatan pendahuluan, pengantar al-Qur’an, liputan isi al-Quran, induk bacaan, surat pengobatan, catatan pemujaan, bacaan agung, rangkuman tujuh ayat dan ringkasan awal yang masing-masing memiliki alasan arti kata. Sisi kelebihan mengetahui makna Al-Fatihah menambah kedalaman keyakinan dan keluasan berkah, bahkan hanya dengan sering membacanya seseorang mendapat manfaat duniawi dan ukhrawi. Sungguh merugi muslim yang meremehkan kandungan isi surah Al-Fatihah ini.

Isinya menyatukan kesadaran pengetahuan manusia, keyakinannya kepada Tuhan dan menerapkannya menjadi amal perbuatan baik lagi mulia bagi diri sendiri dan orang lain sekeliling semesta. Sedang hasil-hasil pemikiran akal manusia seperti liberalisme, pluralisme agama, kapitalisme dan lainnya sekalipun hebat di mata manusia akan terbatas oleh harkat kemanusiaannya. Kebenarannya bersifat relatif sekali. QS Al-Fatihah mengajarkan agar manusia menuhankan Allah SWT, memohon pertolongan hanya kepadaNYA. Belajar al-islam menjadi kaya tanpa modal dengan mendasari keimanan yang benar, yakni merujuk kepada kitabullah dan as-sunnah; dengan membuka wawasan berpikir bahwa mempelajari isi kandungan Al-Qur’an itu bisa mudah dan cepat melalui praktek langsung (learning by doing) yaitu membacamenerjemahkanmemahami tanda ayat-ayat Al-Qur’an al-karim; terutama diawali dari yang paling sering didengar dan digunakan yakni Surah Al-Fatihah, minimal lima kali sehari digunakan sholat dimana muslim membacanya sebanyak 17 kali bacaan.

ALFATIHA MELIPUTI AKAL – ROH – HATI & NAFSU

Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kitab al-Qur’an agar mudah dimengerti (QS al-Qomar 54:17); bahkan tiada sekalipun Allah bermaksud menjadikannya sulit untuk diketahui isi ajaran di dalamnya (QS 20:2), semata agar manusia selamat dunia akhirat. Sebetulnya kemudahan mempelajari isi kandungan Al-Qur’an ini telah ditetapkan, dan akan selalu ada upaya agar kaum muslimin menemukan pola belajarnya sendiri sebagaimana al-Qur’an dan Hadits mengisyaratkan. Bahwa kitab Al-Qur’an terdiri dari 6666 ayat, 114 Surat, memiliki kosakata Arab yang selalu berulang (50%), arti kata sama dengan bunyinya seperti qur’an, Allah, kafir, mu’min, sholat, nabi dst (± 25%), kata Allah > 2.100x tercantum; al-ladziina 810x dimana ditemukan 80% di dalam QS al-Baqarah.

Tentang ajaran QS Al-Fatihah jelas membuka pintu: hanya petunjuk Wahyu yang akan menyelamatkan empat anasir manusia, yakni roh – akal – hati dan nafsu. Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Keajaiban Hati” (1982) menjelaskan tiga macam pasukan batin penggerak hati, yakni pendorong syahwat, amarah dan pasukan yang tersebar di seluruh pembuluh darah. Pasukan ketiga ini sebagai penangkap dan pengenal energi pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan perasa kulit. Jika akal dan hati terbangun di dalam keutuhan tubuh manusia, perumpamaan nafsu adalah sang penguasa, sedangkan anggota badan dan kekuatan-keuatannya merupakan pekerja teknik tempat menetap nafsu. Sementara syahwat sebagai budak tunggangan yang jahat yang menghabiskan persediaan makanan di dalam tubuh. Surat Al-A’raaf [7]:176 :

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Keluasan ilmu Allah di dalam kitab tersebut bisa diintip dari luasnya cakupan samudra Al-Fatihah yang menurut Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili di atas, bahwa Surah Al-Fatihah memiliki 12 nama yaitu: As-Sholah berdasar hadist qudsi qushimati as-sholatu baini wa baina abdi nisfaini”, 2) Surat Al-Hamd karena di dalamnya memuji-muji Allah SWT., 3) Fatihah Al-Kitab karena membuka bacaan Al-Qur’an secara jelas serta tertulis basmalah dan juga disebut Ash-Sholawat. 4) Para ulama’ menyebutnya Ummul Kitab, 5) dan Ummul Qur’an berdasar hadist Nabi SAW.: Al-hamdu lillah ummul qur’an, ummul kitab, dan 6)As-sab’ul Matsaani, sebab diulang-ulang dalam setiap bacaan sholat, 7) dinamakan Al-Qur’anul Adhiem karena mengandung seluruh ilmu-ilmu Al-Qur’an beserta prinsip tujuan asasi, 8) As-Syifa’ berdasarkan hadist Nabi SAW.: Fatihatul kitab syifa’un min kulli sammin, 9) disebut Ar-Ruqiyyah berdasar hadist Al-Aimmah dari Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW pernah diruqyah seraya bersabda: “Tahukah engkau bahwa Surah Al-Fatihah adalah ruqiyah?” 10) Disebut Al-Asas berdasarkan perkataan Ibnu Abbas: Induk segala kitab adalah Al-Qur’an, dan induk Al-Qur’an adalah Surat Al-Fatihah, sedangkan induk Al-Fatihah adalah Bismillahirrahmanirrahiem. 11) Dinamakan Al-Wafiyah yang berarti genap, dan 12) Al-Kafiyah karena dicukupkan dengan surat ini dari surat-surat yang lain, sebaliknya belum dianggap cukup jika tanpa Surat Al-Fatihah.

IBADAH HANYA KEPADA ALLAH SWT (“iyya-ka na’budu”):

Arti kata na’budu sesuai Kamus Al-Qur’an adalah kami menyembah. Pembelajar disini perlu memahami konsep ibadah dari QS 1:5 yakni isi ajaran rukum iman dan rukun islam. Buku Q-Tematik halaman 175 menjekaskan beberapa kandungan ayat-ayat setema tentang syarat rukun ibadah antara lain QS 2:2-4 al-ladziina yu’minuna bil-ghaibi wa yuqiimuna as-sholata wa mimma razaqnaahum yunfiquun. Dan QS 20:132 wa’mur ahlaka bis-sholah… dan perintahkan keluargamu agar menegakkan sholat..; atau QS al-An’am 6:100 fat-tabi’uhu wat-taquuhu la’allakum turhamuun, maka ikutilah petunjukNYA dan bertaqwalah kepadaNYA agar kalian dirahmati Allah SWT. Paragraf ini menegaskan pandangan hidup agar manusia hanya memfokuskan amal usaha, kegiatan dan pemikiran untuk menghamba kepada Allah SWT semata, jangan pernah mencoba-coba menghamba kepada selain Allah SWT.

PERTOLONGAN ALLAH SWT (“ iyya-ka nasta’in ”)

Setelah mengerti arti kata nasta’in sesuai Kamus 294/kanan tengah: artinya minta tolong (ki), pembelajar perlu memahami bagaimana cara memohon pertolongan hanya kepada Allah dan bukan ke lain-NYA. Hal itu dijelaskan Buku Q-Tematik halaman 177, tentang resiko orang musyrik dari QS 4:48, dimana dosanya tidak diampuni bahkan bisa menutup baginya pintu surga. Untuk lebih memahami konsep pertolongan ini perlu mengenal prilaku kaum munafiq (QS 2:16) yaitu pendusta, memilih kegelapan dan meninggalkan hidayah Allah, maka akan merugilah semua perniagaan dunianya. Bahwa pertolongan kepada selain Allah SWT akan mendatangkan petaka dan kemadhorotan hidup.

RAGAM HIDAYAH ALLAH (ihdina ash-dhiraath al-mustaqiim):

Memahami kata ihdina – asshiraath – mustaqiim dan Buku Q-Global halaman 164 akan tergambar bagaimana Al-Qur’an memberi panduan hidup agar manusia selamat di dunia dan akhirat, yaitu dengan memegang erat tali al-Islam (QS 43:43-44) “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Sungguh Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” Bahwa jalan yang lurus yaitu penjelasan seluruh isi QS Al-Fatihah, terutama meyakini ragam petunjuk/hidayah Allah mulai dari: instink, indera, akal, agama dan pertolongan Allah (tawfiq). Semua hidayah, terutama memperoleh petunjuk Allah tertinggi itu tiada jalan lain kecuali dengan mengikuti ajaran al-Qur’an seperti disebut QS 6:155. Manusia harus mengarahkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap hidupnya hanya berlandaskan ajaran wahyu, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

ANEKA JENIS NIKMAT (an’amta):

Kata an’amta artinya Engkau Allah telah memberi nikmat. Buku Q-Tematik halaman 128, 132, 135 menjelaskan bahwa puncak nikmat adalah iman/hidayah beragama islam; kedua, berupa kesehatan dan keselamatan yang diterakan QS as-Syu’ara’ 26:77 dan 80. Ketiga, ilmu pengetahuan (22/54) “agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” Ke-4 dan 5 berupa nikmat harta benda dan keluarga yang diterakan QS Ali Imron 6:14-19. Semua bentuk nikmat ini dimaksud menimbulkan etos kerja dan kesadaran dalam rangka mencapai ridha Allah, agar manusia tidak sesat dunia dan pada hari kiamat kelak sengsara berada di neraka QS 7:43.

Dari keterangan pola pembelajaran induk segala kitab QS Al-Fatihah diatas dapat disimpulkan, bahwa yang ditargetkan dalam belajar Al-Qur’an adalah agar manusia dengan anasir penciptaan (roh-akal-hati-nafsu) menyadari potensi ketuhanan di dalam dirinya. Seluruh kerumitan masalah hidup dan mati itu manusia membutuhkan pola panduan (wahyu) yang caranya adalah: Membaca al-‘Alaq 96/1-5 > Memahami Yusuf 12/1-2; al-An’am 6/12 kemudian > Mengikuti petunjuk kitab Al-Qur’an 6/153 dan 155; az-Zumar 39/55-59. Langkah mengikuti petunjuk Al-Qur’an ini dibarengi perjelasannya dengan tuntunan As-Sunnah dan jika tak ditemukan keterangan dari keduanya barulah merujuk kepada Pendapat Ulama’. Semoga keterangan singkat ini dapat membantu dan bermanfaat.

Makalah ini merupakan Rangkuman Pelatihan mengajarkan Metode Terjemah Al-Qur’an RLQ 99 Jam; karya Aris Gunawan Hasyim; menemukan ‘metode’ bagi pemula dan menerapkan Sistem Belajar Berpikir berlandaskan ajaran wahyu melalui QS Al-Fatihah. Sebaiknya pembaca melengkapi Sumber Referensi yang lain, seperti karya Bey Arifin, Samudra Al-Fatihah, Bina Ilmu; Mukhlisin Ashar yang juga menulis Kedahsyatan Al-Fatihah, Vision 03, Jakarta, 2008 dan buku Muhammad al-Husaini Ismail, Kebenaran Mutlak; Tuhan, Agama dan Manusia, Pustaka Sahara, Jakarta, 2006. Sudah barang tentu melengkapi analsis pemikiran manusia membutuhkan referensi yang tak terbatas, so adalah keharusan mengembangkan pemikiran sendiri di atas kerangkan Al-Fatihah diatas. Semoga kita dilindungi Allah SWT dari godaan manis di awal-awal kajian aneka pemikiran, namun karya manusia itu sesat yang relatif menyesatkan juga di ujungnya…Amiieen Ya Rabb.***

*) Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY 2009-2013,

Jongtengku: Thursday, March 05, 2009

andimhd@yahoo.com

Membaca artikel terdahulu Candi Pendem di Kaki Merapi, di akhir paparan terdapat catatan kritis tentang ekspedisi Stumbu ke-4 sehari Melintas Dua Subuh 19 Desembar 2009 bersama Ust. Fahmi Basya (FB) pimpinan Sains Spiritual Qur’an Dzikrul Lil Alamiin Bogor. Penjelasan catatan ini meliputi kebenaran adanya Jejak Nabi Sulaiman di tanah Jawa yang berjarak waktu 30-an Abad lebih dan sekitar misteri Candi Borobudur sebagai ‘arsy Ratu Saba’ yang dipindahkan Jinn dalam semalam seperti diinspirasi oleh ayat Al-Qur’an terutama surah An-Naml.

Letak Bukit Stumbu di desa Karangrejo, skitar 2,5 Km sebelah barat daya Candi Borobudur, Magelang.

Secara metodologis, lontaran teori Stumbu DLA diatas didasarkan pada fakta-fakta ayat Al-Qur’an yang difahami secara simbolik berisi simbol-simbol matematis atas budaya penciptaan alam seisinya. Menurut FB yang lulusan Matematika MIPA UI tahun 1983, Dosen Matematika UIJ dan Dewan Pakar ICMI Jakarta Barat (2004) ini, terdapat tiga belas alasan mengapa Negeri Saba terletak di Indonesia dan bukan di Negeri Yaman seperti dipercaya ahli mufassir Al-Qur’an. Keseluruh bukti tentang Negeri Saba menurutnya bisa ditemui di Pulau Jawa, mengarah keberadaan Ratu Boko dengan Borobudur-nya.

Analisis khusus FB sejak tahun 1982 melahirkan beberapa buku seperti Matematika Al-Quran (2003) dan Sejuta Fenomena Al-Qur’an (2008). Ia menyimpulkan, pertama, bahwa penjelasan QS 27:22 tentang negeri Saba tidak ditemukan di Yaman, sedangkan bukti tersebut ditemukan di Pulau Jawa (Wana Saba). Sedang kedua, arti kata saba (sabun) tidak ditemukan nama Sabun di Yaman, sedang arti lain kata saba (hutan) juga tidak ditemukan disana. QS 27:24 ‘Untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri’.

Ketiga, kandungan ayat QS 27:24 ’…dan aku dapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari dari selain Allah’. Di dalam sejarah tak ditemukan sebuah tempat di Yaman yang masyarakatnya bersujud kepada matahari, sedangkan di Pulau Jawa berlokasi di Komplek Ratu Boko dengan beberapa bukti pendukung.

Keempat; Bukti itu seperti (27:40) adanya bangunan (’arsy) yang dipindahkan ke suatu Lembah berjarak terbang burung dalam waktu singkat. Tentang siapa yang memindahkan dan bagaimana dipindahkan, tafsir ayat tersebut mengisahkan yang memindah singgasana Ratu Saba adalah JINN IFRID selesai sebelum Nabi Sulaiman mengerlingkan mata. FB menerangkan, terdapat peran JINN dalam realisasi ruang waktu disini, bahwa makhluk ini memiliki syarat ilmiah memindahkan arsy Saba tersebut ke Lembah Semut. Berdasar hukum kecepatan cahaya, makhluk Jinn mampu dengan mudah dan super cepat memindahkan suatu bangunan. Diketahui peristiwa seperti ini bukan tidak pernah ada, bahkan terjadi pula di belahan bumi lain. Demikian pula relativitas pemahaman manusia akan membatasi kebenaran nash ini.

Kelima, menurut FB, lokasi kabar dalam QS 6:67 ada ditemukan sisa-sisa dan tandanya di Komplek Ratu Boko yang berjarak 36 Km dari Bukit Stumbu tenggara Borobudur. Di lembah Stumbu inilah arsy Saba tersebut dipindahkan sebagai kini dikisahkan RAKYAT (34:19) sebuah Candi BOKO dan Borobudur. Mereka kerjakan untuknya apa yang ia kehendaki dari gedung-gedung yang tinggi dan Patung-patung dan Piring-piring seperti kolam dan kuali-kuali yang tetap (34:13).

Keenam, ayat tentang SABA QS 34:16 ’dan sesuatu yang disebut Sidrin Qolil ’ masih ditemukan bukti sedikit itu pada Gerbang Ratu Boko dan Serpihan Stupa Candi Borobudur. Ayat ketujuh 34:16 ’…dengan dua kebun yang mempunyai rasa buah pahit’ bisa ditemukan Pulau Jawa. Makna buah Maja yang Pahit seperti ini lagi-lagi tidak ditemukan di Negeri Yaman, bagi teori yang menyebut lokasi sejarah SABA.

Kedelapan, peristiwa besar yang disebut dalam QS 34:16 tentang adanya BANJIR yang merubah peta dataran Asia dengan adanya Palung Sunda. Maka kami menjadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Bukti kesembilan ini terdapat pada QS 34:19. Menurut FB, peristiwa banjir dahsyat tersaebut menyebabkan wilayah SABA hancur menjadi berpulau-pulau, belum pernah dalam sejarah kehancuran suatu negeri hingga menjadi lebih 17.000 pulau seperti Nusantara ini.

Kesepuluh, adanya catatan pembatasan pada perjalanan QS 34:18. Jarak perjalanan dimaksud sebatas kekuatan terbang ideal seekor Burung (Hud Hud) sepanjang 36 Km. Angka ini menurut FB merupakan bukti kesebelas keberadaan Saba di Jawa Tengah, merupakan jarak antara Komplek Ratu Boko sekarang dengan lokasi Candi Borobudur di Magelang.

Keduabelas, adanya surat Nabi Sulaiman (27:28) yang dibawa burung Hud Hud kepada Ratu Balkis, menurut FB tiada lain dicampakkan kaki-kaki burung tersebut di pelataran istana Boko yang disebutnya sebagai Sidril Qolil, kata ini dua kali ditemui di dalam Al-Qur’an.

Ketigabelas, adanya taabut peti wasiat. Menurut FB dalam ekspedisi diatas dari bunyi QS 27:29-30 ’Berkata Ratu Balqis: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sungguh (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’ Inilah beberapa pembuktian secuil kisah Nabi Sulaiman yang sampai kepada pemahaman bahwa Negeri Saba benar-benar terhubung kepada bangunan arsy di Jawa.

Benar, diskursus ini perlu dipandu dengan bukti-bukti sahih, valid, autentik, terukur juga nalar wahyu..itulah pentingnya beragama agar manusia sudi berjalan di muka bumi mempelajari kisah dan kejadian demi memperteguh keimanan kepadaNYA.. Wa Allahu a’lam..!***

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.




Berita penemuan Candi Pendem di Kaki Merapi beberapa waktu lalu memantik Dialog panjang antar peradaban yang menembus ruang dan waktu. Lebih rumit lagi muncul kemudian faham adanya Jejak Nabi Sulaiman di hutan Saba dimana Lembah Bangunan Suci terhampar piring raksasa seperti Teratai di Salaman, Jawa Tengah. Tidak main-main faham itu muncul bertahun dari hasil bacaan lain sejarah Ratu BOKO berrdasar sandi ayat-ayat Al-Qur’an yang agung, dan kemudian membandingkan fakta-fakta itu di lapangan empiris.

Sebelumnya perluasan Perustakaan sebuah perguruan tinggi islam tertua Yogyakarta terhenti, diantara pekerja menyentuhkan cangkulnya ke bebatuan aneh, seperti terjadi saat Petani menemukan artefak Candi Gebang. Adanya bebatuan putih juga ditemukan tahun 2005 di Payak Bantul, sebuah pentirtaan dari abad 9 – 10 Masehi, hanya saja yang baru ditemukan di kaki Merapi ini adalah batuan andesit hitam yang bagus.

Maka sebuah Back-Hoe akhirnya didatangkan ke Kampus itu. Ketika potongan batu terangkat, petugas arkeolog BPPP mengakui adanya cagar budaya di kawasan Universitas Islam Indonesia. Itu adalah serpihan pagar langkan Pentirtaan, sebuah tempat upacara pengambilan air dari sumber terdekat, di bagian Barat dan Timur berukuran ± 3 meter, namun belum jelas ukuran dari Utara ke Selatan. Lebih dari 10 potongan batu diangkat dari timbunan tanah keruk yang memiliki pengacing bermotif polos, bersulur-sulur mawar dan motif rangkaian melati. Warta ini ada di halaman 7 koran KR 16/12/2009 www.kr.co.id.

Diketahui lama sekali fakta-fakta baru ditemukannya artefak kebudayaan sekitar DIY, seperti bangunan candi, pentirtaan, patung, batu prasasti atau komplek istana. Tentang waktu keberadaan artefak kebudayaan itu bahkan diketahui dari ciri bebatuan khas Merapi yang  diperkirakan hingga awal-awal Abad I Masehi, seperti penemuan Candi Pendem di daerah Babadan kaki Gunung Merapi yang hingga kini belum dieskavasi. Sejarah kebudayaan Mataram Kuno mungkin terhubung pada fakta-fakta penemuan benda arkeologi tersebut.

Lebih aktual lagi muncul belakangan suatu prediksi yang menghubungkan fakta-fakta penemuan benda kuno pra-sejarah Jawa tersebut dengan bunyi ayat-ayat Al-Qur’an. Sebuah komunitas peneliti Sains Spiritual Qur-an DLA telah empat kali melakukan ekspedisi Bukit Stumbu meretas jejak sejarah Ratu Balkis seperti tertulis ribuan tahun itu ke komplek Ratu Boko yang berjarak 36 KM dari Candi Borobudur. Mereka membuktikan, bahwa ’Arsy Sulaiman yang agung (QS 27:22-26) itu adalah bagian kecil dari suatu rahasia (sidrun qalil, 34:16) yang didatangkan Allah dalam kerlingan mata (27:40) memang berada di Lembah Semut suatu negeri (20:12) bernama Saba.

Jejak Negeri SABA disebut dalam ekspedisi bukan seperti dikui berada di Yaman atas dasar 12 fakta-fakta qur’ani; nama Saba terbukti ada berupa hutan berlembah, ada tempat bersujud kepada matahari, adanya ’arsy bangunan candi yang dipindahkan, sisa-sisa ’arsy di Ratu Boko dengan sidrin qalil, adanya buah yang pahit rasa (34:16), sisa banjir Sunda, negeri yang hancur menjadi 17.000 pulau Nusantara. Fakta 34:13 bahwa ’arsy Sulaiman berada di posisi jarak terbang ideal seekor burung sejauh 36 KM, sementara negeri Yaman berjarak terlalu jauh dari Palestina. Dan terakhir ditemukannya surat Sulaiman (taabuut 27:28) yang diterima dari Nabi Dawud, surat itulah inti pembuktian emas Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim….

Catatan ekspedisi Bukit Stumbu ke-4 sehari pada Sabtu dari program Melintas Dua Subuh 19 Desembar 2009 bersama Ust. Fahmi Basya pimpinan Sains Spiritual Qur’an Dzikrul Lil Alamiin Bogor. Tulisan ini merupakan katarsis dialogis sekaligus pemantik diskusi JINN lebih intens; benarkah ada Jejak Nabi Sulaiman disini yang berjarak waktu 30-an Abad dan mengapa misteri Borobudur mengundang inspirasi Al-Qur’an untuk menjawabnya. **BERSAMBUNG

Kata “majapahit” terdiri dari maja dan pahit yang selalu dimaknai buah maja yang pahit. Makna turun temurun diajarkan di dalam pelajaran Sejarah ini dikatakan merujuk dari rasa pahit seperti buah tanaman setinggi ± 8 meter, berdaun oval tipis memanjang ukuran sedang seperti nangka, jika dicoba rasanya pahit. Kata maja bisa berarti mulia ditemui dalam kosakata yang beragam, seperti nama tempat atau kota Majasari, Majawarna, Mojoagung, Mojosongo, Majalengka, Majapura dan seterusnya. Dalam sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi, konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Sementara altar pemaknaan kata Majapahit berasal dari mitos sumpah bahwa Mahapatih Gajah Mada (1313-1364) hanya sudi memakan buah maja tersebut setelah Nuswantara menyatu di bawah bendera Majapahit. Gagasan Mahapatih Gaja Mada melalui sumpahnya dapat terlaksana kecuali menguasai kerajaan Pajajaran (Sunda). Untuk itu, Gajah Mada melakukan Politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Bubat tahun1357. Untuk menjaga keamanan dan memelihara kesatuan daerah kekuasaannya maka Majapahit memperkuat armada lautnya di bawah pimpinan Mpu Nala. Dan juga berusaha menjalinpersahabatan dengan negara-negara tentangga yang diistilahkan Mitrekasatata artinya sahabat (sehaluan) atau hidup berdampingan secara damai.

Ketika Majapahit didirikan, 10 November 1293 sejak era Kertarajasa Jayawardhana (1295-1309), pedagang Muslim dunia dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Istri Raja Kertabumi (Brawijaya V) adalah Dara Petak asal Campa yang kelak melahirkan Jin Bun (Raden Patah), penguasa Kasultanan Demak. Era generasi awal Walisongo telah juga menunjukkan bukti sejarah sangat kuat, seperti keberadan Sunan Ampel di Surabaya dan Makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang berangka tahun 1082 M. Pada tahun wafatnya Kapten Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel (1478), Raden Patah secara mendadak menyerang Majapahit tanpa perlawanan. Raja Kertabumi, ayah Jin Bun sendiri, menjadi tawanan dan dibawa ke Demak dengan harta pusaka sebanyak 7 muatan kuda. Majapahit menjadi bawahan Demak dan diangkatlah Nyoo Lay Wa (1478-1486), lalu diserahkan kepada Girindrawardhana menantu Kertabumi (1486 – 1427).  

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Katolik Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Berikut adalah nama Raja-raja yang berkuasa di Majapahit:

Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (12931309); Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (13091328); Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (13281350); Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (13501389); Wikramawardhana (13891429); Suhita (14291447); Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (14471451); Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (14511453); Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (14561466); Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (14661468); Kertabumi, bergelar Brawijaya V (14681478); Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (14781498); Hudhara, bergelar Brawijaya VII (14981518).

Sesudah abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana dan pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, serta pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468. Saat bersamaan, muncul sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka. Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Kehidupan sosial keagamaan Majapahit berjalan dengan baik, bahkan tercipta toleransi. Hal ini seperti apa yang diceritakan oleh Ma-Huan tahun 1413, bahwa masyarakat Majapahit di samping beragama Hindu, Buddha juga ada yang beragama Islam, semuanya hidup dengan rukun. Dari berita Ma-Huan tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh Islam sudah ada di kerajaan Majapahit. Kehidupan sosial yang penuh dengan toleransi juga dibuktikan melalui kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular yang didalamnya ditemukan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmamangrua”. *** Bersambung.

Sumber: Sejarah Sunan Ampel, Syamsudduha, JP Press, Surabaya, 2004. Makalah Majapahit, Herman Sinung Janutama, TOJ, 2008. Catatan Sejarah berjudul Kerajaan Majapahit, oleh Marmayadi, 2008.

Pakaian (Jw: pengageman) Jawa yang melekat di badan adalah simbol identitas budaya yang dalam sekali maknanya, disamping simbol lain yakni bahasa, rumah tinggal, makanan ataupun seni musik dalam kelengkapan upacara tradisi. Tanpa disadari, pakaian yang banyak dikenakan itu telah terbaratkan dan menjauhkan orang Jawa dari jati diri mereka.

Pengageman Jawa sebagai penutup badan dicipta SUNAN KALIJAGA berdasar QS Al-A’raf 26: ’’Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (Maksudnya ialah: selalu bertakwa kepada Allah) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Oleh Sunan Kalijaga pengertian ayat diatas dijadikan model pakaian rohani (takwa) agar si pemakai selalu ingat kepada Allah SWT, kemudian oleh raja-raja Mataram pakaian takwa ini dipakai hingga sekarang ini.

Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Sultan HB I menanyakan perihal pakaian yang perlu diatur kepada Susuhunan Paku Buwana III. Pangeran Mangkubumi mengatakan bahwa Ngayogyakarta sudah siap dengan rencana mewujudkan model ’pakaian takwa’, sedang PB III mengatakan belum siap. Lalu Mangkubumi memperlihatkan rencana pakaian tersebut dan mengatakan jika dikehendaki dipersilahkan dipergunakan oleh Surakarta Hadiningrat. Susuhunan PB III setuju sambil menanyakan bagaimana dengan pakaian Ngayogyakarta, lalu dijawab bahwa untuk Ngayogyakarta akan melanjutkan saja pengageman Mataram yang suda ada.

Pakaian takwa sering disebut SURJAN (sirajan) yang berarti Pepadhang atau Pelita. Di dalam ajarannya HB I bercita-cita agar pimpinan Negara dan Penggawa Kerajaan memiliki Jiwa dan Watak SATRIYA, dimana tidak akan lepas dari sifat-sifat: Nyawiji, bertekad golong-gilig baik berhubungan dengan Allah SWT maupun peraturan dengan sesama. Sifat Greget (tegas bersemangat), Sengguh (percaya diri penuh jati /harga diri) dan sifat Ora Mingkuh, tidak melepas tanggung jawab dan lari dari kewajiban. Maka figur satriya Ngayogyakarta ideal yakni seseorang yang dilengkapi pengageman Takwa seperti Nyawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh.

Bentuk  pakaian Takwa adalah; Lengan panjang, ujung baju runcing, leher dengan kancing 3 pasang (berjumlah 6, lambang rukun Iman), dua kancing di dada kanan kiri berarti dua kalimat syahadat, tiga buah kancing tertutup melambangkan 3 nafsu manusia yang harus diatasi, yakni nafsu bahimiah (binatang), lauwamah (perut) dan nafsu setan. Pakaian Takwa ini di dalam Kraton hanya dipakai oleh Sri Sultan dan Pangeran Putra Dalem. Sedang pakaian takwa untuk putri (Pengageman Janggan) dikenakan untuk Para Abdi Dalem Putri dan Keparak Para Gusti dengan warna kain hitam.

Pengageman PRANAKAN. Berarti pakaian meliputi wadah bayi, rahim ibu, juga keturunan, kadang, saudara, prepat (pengiring), juga abdi terdekat dan punakawan. Baju terbuat dari kain lurik, bercorak garis lirik telu papat (telupat) kewelu minangka prepat, yang berarti Rinengkuh dados kadhang ing antawisipun Abdi Dalem setunggal sanesipun, kaliyan Hingkang Sinuwun Kanjeng Sultan. Warna pakaian adalah Biru Tua, yang berarti sangat dalam, susah diduga, tak bisa dianggap remeh dan tidak sembarangan.

Baju Pranakan ini dengan lengan panjang, kanan kiri berkancing 5 buah lambang Rukun Islam, juga disebut model belah Banten. Pada leher terdapat tiga pasang kancing berjumlah 6 buah perlambang Rukun Iman. Menurut sejarah, pengageman pranakan diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwana V yang idenya sesudah kunjungan beliau ke Pesantren di Banten, melihat santriwati berbaju kurung dengan lengan panjang, berlubang sampai di bawah leher. Cara pakai kedua tangan bersama-sama dimasukkan, baru kemudian kepala masuk lubang yang terbelah, lalu merapikan dengan menarik bagian bawah baju.

Proses seseorang mengenakan pengageman Pranakan digambarkan seakan si pemakai masuk ke dalam rahim ibu, lubang pranakan dimana tiap manusia pernah menghuni sebelum dilahirkan. Dengan aman dan nyaman oleh dekapan ibu, bayi yang di dalam rahim secara alamiah tinggal, sandi Cinta Kasih golong-gilig. Pranakan adalah juga Pakaian untuk Penggawa Kraton dengan corak dan model sama, dimaksud adanya demokratisasi di Ngayogyakarta Hadiningrat.***

*)Disarikan dari keterangan KRT Jatiningrat pada forum Pameran PDM Mantrijeron-TOJ Kotagede pertengahan tahun 2009 di Pendopo Hotel Brongto dan forum Disparda DIY pada Penyergaran Pemandu Wisata di Purawisata, 11 Desember 2009.

Sanskrit-Text, übersetzt ins Deutsche und ins Netz gestellt durch Hans Zimmermann,Görlitz, Weihnachten 2007

retroflexe (“cerebrale”) Konsonanten und Visargas unterstrichen (statt suppungiert)

Der Lalitavistara ist eine poetisch recht üppig ausblühende und legenden gesättigte Buddha-Biographie (wie auch das “Buddhacarita”, das kaum jüngere Buddha-Epos des Ashvagosha) etwa aus der Zeitenwende, auf der Schwelle vom im Kern atheistischen, philosophisch auf die Lehrtexte bezogenen Hinayana zum mehr religiösen, bildhaften Mahayana, wo der übergöttliche Buddha in fünffacher Ausgestaltung (“Tathâgatas“) mitsamt seinen weiblichen Weisheitsspiegeln die Himmel besetzt, Hierarchien von Göttern, Engeln und Dämonen diesen Himmeln zugeordnet sind und Gnade, Erlösung und Hilfe von oben der Frömmigkeit der Laien, der Nichtmönche, der alltagsgebundenen Menschen, heilsam, wohltuend und seelennährend entgegenkommen.
Daraus hier nur der “Auszug der Königin Mâyâ zum Lumbinî-Hain”. “Mâyâ” ist in der Hindu-Philosophie (vor allem im Vedânta) Bezeichnung für die traumhafte Erscheinungswelt, die sinnliche Verhüllung des rein geistigen All-Ein-Seienden.

atha khalu bhikshavo mâya-devî
catur-ashîtyâ haya-ratha-sahasraih sarvâlamkâra-vibhûshitaih parivr
catur-ashîtyâ gaja-ratha-sahasraih savâlamkâra-vibhûshitaih
catur-ashîtyâ patti-sahasraih shûrair-vîrair
varânga-rûpibhih susamnaddhadrda-varma-kavacitair anuparigrhîtâ

Da ist nun, Ihr Bettelmönche, Mâyâ-Devî von vierundachtzigtausend

mit allem Schmuck ausstaffierten Pferdewagen umgeben,
und von vierundachtzigtausend mit allem Schmuck ausstaffierten Elephantenwagen, und ist von vierundachtzigtausend Fußsoldaten,

Mannsbildern, Helden, wohlgestaltet, ansehnlich, mit gut gebundenen,

festen Panzerjacken, umschart;

shashtyâ ca shâkya-kanyâ-sahasraih puraskr
catvârimshatâ ca sahasrai râjñah shuddhodanasya jñâti-kula-prabhûtaih shâkyaih
vrddha-dahara-madhyamaih samrakshitâ
shashtyâ ca sahasrai râjñah shuddhodanasyântah-purena
gîta-vâdya-samyak-tûrya-tâdâvacara-samgîti-sampravâditena parivr

und ist von sechzigtausend Shâkya-Mädchen vorneweg-begleitet,
ist von vierzigtausend des Königs Shuddhodana, geboren

in der Shâkya-Familie, reifen, jungen und mittleren Alters,

in Hut genommen, und ist von sechzigtausend aus des Königs Shuddhodana inneren Palastgemächern, die mit Gesängen, Instrumenten, gemeinsamem Tûrya-Schlag im Herabschreiten Samgîtis rezitieren, umgeben,

catur-ashîtyâ ca deva-kanyâ-sahasraih parivr
catur-ashîtyâ ca nâga-kanyâ-sahasraih
catur-ashîtyâ ca gandharva-kanyâ-sahasraih
catur-ashîtyâ ca kinnara-kanyâ-sahasraih
catur-ashîtyâ câsura-kanyâ-sahasraih
nânâ-vyûhâlamkârâlamkrtâbhih
nânâ-gîta-vâdya-varna-mâpinîbhir
anugamyamânâ niryâti sma.

und ist von vierundachtzigtausend Götter-Mädchen umgeben,
und von vierundachtzigtausend Schlangengeister-Mädchen,
und von vierundachtzigtausend Elfen-Mädchen,
und von vierundachtzigtausend himmlischen Musikanten-Mädchen,
und von vierundachtzigtausend Sonnengeister-Mädchen,
in vielfältiger Aufstellung, mit Schmuck ausgeschmückt,
mit vielfältigen Gesängen, Instrumenten, Klang-Zusammenstellungen,
von all diesen als ihrem Gefolge begleitet tritt sie aus dem Palast.

sarvam ca lumbinî-vanam gandhodakasiktam divya-pushpâbhikîrnî-krtam abhût
sarva-vrkshâsh ca tasmin vana-vare akâla-patra-pushpa-phalâni dadanti sma
devaish ca tathâ tad vanam samalamkrtam abhût
tad yathâpi nâma mishrakâ-vanam devânâm samalamkrtam.

Der gesamte Lumbinî-Hain, mit Duftwasser besprengt, war von göttlichen Blüten überstreut worden, und alle Bäume in diesem Wunsch-Wald bringen nun zeitunabhängig ihre Blätter, Blüten und Früchte hervor;  und von den Göttern war gleichfalls dieser Hain geschmückt worden, eben so, wie der sogenannte “Mischungs”-Hain ein Schmuckwerk der Götter ist.

atha khalu mâyâdevî lumbinî-vanam anupravishya tasmâd ratha-varâd avatîrya
nar-amaru-kanyâ-parivr
vrkshena vrksham paryatantî vanâd vanam camkramyamânâ
drumâd drumam nirîkshamânâ anupûrvena yenâsau plaksho

Da nun, sobald Mâyâ-Devî den Lumbinî-Hain betreten hat

und von ihrem Wunsch-Wagen herabgestiegen ist, von Menschen- und Götter-Mädchen umgeben, indem sie von Baum zu Baum herumwandert, von Hain zu Hain wandelt, von Gehölz zu Gehölz alles genau besieht, vom einen zum andern bis zu jenem Plakschabaum hin:

mahâ-druma-ratna-vara-pravarah suvibhakta-shâkhah
sama-patra-manjarî-dharo divya-mânushya-nânâ-pushpa-sampushpato
vara-pravara-surabhi-gandhi nânâ-ranga-vastrâbhi-pralambito
vividha-mani-vicitra-prabhoj-jvalitah

ein großes, wertvolles Wunsch-Juwel von einem Gehölz,

mit harmonisch gegliederten Ästen,
zugleich Blätter und Blütenknospen tragend, von der Götter

und Menschen vielfältigen Blüten durchblüht,
mit wertvollem Wunsch-Parfume-Duft,

mit vielfältigen Farben-Schleiern umkleidet,
in vielgestaltiger Edelsteine reichgebrochener Brillianz aufglühend,

sarva-ratna-mûla-danda-shâkâ-patra-samalamkrtah
suvibhakta-vistîrna-shâkah
karatala-nibhe bhûmi-bhâge
suvibhakta-vistîrna-nîla-trna-mayûra-grivâ-samnibhe
kâcilindika-sukha-samsparshe

gänzlich mit Juwelen auf Wurzel, Stamm, Ästen und Blättern ausgeschmückt,
mit harmonisch gegliederten und wohlverteilten Ästen,
auf einer Handflächen-gleichen Erdenstelle,
die mit harmonisch gegliedertem und wohlverteiltem dunklem Gras dem Pfauen-Hals ganz gleich ist
und wie Kâcilindi-Ware angenehm bei der Berührung,

dharanîtale samsthitah pûrva-jina-janetryâbhinivâsitah [bzw. -janitrî-pratinivâsinah]
deva-samgîty-anugîtah
shubha-vimala-vishuddhah

in diesem Erdenboden gründend,

den früheren Überwinder-Müttern Wohnung gebend,
göttlichen Versen im Gesang antwortend,
schön, makellos und ganz rein,

shuddhâvâsa-deva-shata-sahasraih prashântacitair
abhinata-jatâ-mukutâvalambitâvanata-mûrdhabhir
abhinandyamânas
tam plaksha-vrksham upajagâma.

von des göttlichen Shuddhavâsa hundert Tausenden,

deren Gemüt mit tiefer Ruhe beseligt ist und die ihr zugewandt sind mit haarverflochtenem Diadem-Schmuck auf ihren geneigten Häuptern, von all diesen also freudig begrüßt,
ist sie nun an diesen Plakscha-Baum herangetreten.

atha sa plaksha vrksho
bodhisattvasya tejo-‘nubhâvenâvanamya pranamati sma.

Da nun verbeugt sich dieser Plakscha-Baum, vor des zukünftigen Buddha Glanz und Würde sich verneigend, ehrfürchtig vor ihr.

atha mâyâdevî gagana-tala-gateva vidyut drshtim
dakshinam bâhum prasârya plaksha-shâkhâm grhîtvâ
salîlam gagana-talam prekshamânâ vijrmbhamâna
sthitâbhût.

Da nun, indem Mâya-Devî zu einem aus der Himmelstiefe kommenden Blitz den Blick sandte, den rechten Arm ausstreckte und einen Ast des Plakschabaumes ergriff, in das Spiel in der Himmelstiefe schauend, den Mund leicht öffnend, so blieb sie dort stehen.

atha tasmin samaye shashty-apsarah-shata-sahasrâni kâmâvacara-devebhya
upasamkramya mâyâdevyâ upasthâne paricaryâ kurvanti sma.

Da nun, in diesem Moment, indem sechzig Elfen-Hunderttausende

aus den Lust-Abstiegs-Göttern
an Mâyâ-Devî herantreten, leisten sie ihr, sie umringend, ihre Dienste.

evam rûpena khalu puna rddhi-prâtihâryena samanvâgato
bodhisattvo mâtuh kukshigato ‘sthât.

Und dergestalt, mit  glücklicher Magie hindurchgedrungen,
fand der künftige Buddha, in seiner Mutter Schoß eingetreten, eine Bleibe.

sa paripûrnânâm dashânâm mâsânâm atyayena mâtur dakshina-pârshvân nishkramati sma
smrtah samprajânann-anupalipto garbha-malair
yathâ nânyah kashcid ucyate ‘nyeshâm garbha-mala iti.

Dieser, mit voller zehn Monate Reifezeit, tritt nun aus seiner Mutter rechten Seite hervor, wie die Tradition sagt: vollbewußt und unbefleckt von Keimlings-Makeln, so, wie es niemals von irgendeinem anderen gesagt wird,denn es heißt bei anderen: “Keimlings-Makel”.

tasmin khalu punar bhikshavah samaye shakro devânâm indro
brahmâ ca sahâpatih puratah sthitâv abhûtâm
yau bodhisattvam parama-gaurava-jâtau
divya-kaushika-vastrântaritam
sarvânga-pratyangaih smrtau samprajñau pratigrhnâte sma.

In eben diesem Moment wiederum, Ihr Bettelmönche, waren der Götterkönig Indra und Brahma, der mächtige Herr, schon vorher beide hinzugetreten, die beide den zukünftigen Buddha, selbst als mit höchster Würde Geborene, indem sie, der eine göttlich, der andere von Kushika abstammend, ihn mit einem Tuch überkleiden, mit all seinen Gliedern, all seinen Körperteilen, wie die Tradition sagt,vollbewußt willkommen heißen.

yasmimsh ca kûtâgâre bodhisattvo mâtuh kukshagato ‘sthât
tam brahmâ sahâpatir brahmakâyikâsh ca deva-putrâ abhyutkschipya
brahma-lokam caity-ârtham pûjârtham copanâmayâmâsuh.

Und inmitten dieses Gewölbes stand der künftige Buddha, aus der Mutter Schoß hervorgegangen, und indem Brahma, der mächtige Herr, und die wie Brahma verkörperten Göttersöhne diesen so erhoben,
brachten sie auch die Brahmawelt seiner Ankunft wegen um seiner Anbetung willen zu tiefer Verbeugung.

aparigrhîtah khalu punar-bodhisattvah kenacin manushya-bhûtena
atha tahi bodhisattvam devatâh prathamataram pratigrhnanti sma.

Ungebunden ist nun der wiederum künftige Buddha, indem er zu irgendeinem Menschen geworden ist; da nun heißen den zukünftigen Buddha die Gottheiten, ihn,den ersten Überwinder, willkommen.

atha bodhisattvo jâta-mâtrah prthivyâm avatarati sma.

Da steigt der künftige Buddha, eben geboren, nun auf die Erde hinab.

samanantarâvatîrnasya ca bodhisattvasya mahâ-sattvasya
mahâ-prthivîm bhitvâ mahâ-padmam prâdur-abhût.

Und unmittelbar auf das Absteigen des künftigen Buddha, des Groß-Wesensvollendeten,
da kam, indem er die Groß-Erde aufbrach, ein Groß-Lotos hervor.

nandopanandau ca nâga-râjânau
gagana-tale ‘rdha-kâyau sthitvâ
shîtoshne dve vâri-dhâre ‘bhinirbhittvâ
bodhisattvam snâpayatah sma.

Und Nanda und Upananda, beide Schlangengeister-Könige,
aus der Himmelstiefe halb mit ihrem Leib herabhängend,
indem sie zwei Wasserströme, kalt und heiß, voneinander geschieden herabfließen lassen,
baden sie nun den zukünftigen Buddha.

shakra-brahma-lokapâlâh
pûrva-gamâsh-cânye ca bahavo deva-putrâh shata-sahasrâ
ye bodhisattvam jâta-mâtram
nânâ-gandhodaka-mukta-kusumaih snâpayanty abhyavakiranti sma.

Shakra (Indra) und Brahma, die Weltenhüter,
auch vorausgehend, wie auch andere, viele Göttersöhne, hunderttausend,
die, kaum daß der künftige Buddha geboren ist, in vielfältigen Duftwässern und mit losen Blüten baden und überstreuen sie ihn.

antarikshe ca dve câmare ratna-cchatram ca prâdur-abhûtam.

Und aus dem Luftraum kamen zwei Wedel und auch ein Juwelen-Schirm hervor

sa tasmin mahâ-padme sthitvâ catur-disham avalokayati sma.

Er aber, indem er auf dem Groß-Lotos steht, schaut in die vier Himmelsrichtungen.

[catur-disham avalokya]
simhâvalokitam mahâ-purushâvalokitam vyavalokayati sma.

[Indem er in die vier Himmelsrichtungen schaut:]

Einen Löwenblick, einen Groß-Urmenschenblick aussendend schaut er nun rings umher.

tasmin khalu punah samaye bodhisattvah
pûrva-kushala-mûla-vipâka-jenâpratihatena
divya-cakshu-prâdur-bhûtena (bzw. divya-cakshuh prâdur-abhût)
divyena cakshushâ
sarvâvantam tri-sâhasram mahâ-sâhasram loka-dhâtum
sanagara-nigama-[grâma]-jana-pada-râshtra-râja-dhânîm
sadeva-mânusham pashyati sma.

In eben diesem Moment sieht der künftige Buddha,
da sein aus vormaliger in Gesundheit wurzelnder Frucht geborenes, ungehemmtes,
göttliches Auge hervorgekommenen ist,
mit diesem göttlichen Auge also:
die allumfassende dreitausendumfassende großtausendumfassende Welten-Fülle
mit ihren Städten, Marktflecken, [Dörfern,] Menschen-Völkern,

Königreichen und Königsbehausungen,
mit ihren Göttern und Menschen, die sieht er nun.

sarva-sattvânâm ca citta-caritam ca prajânâti sma.

Und aller Wesen Bewußtsein und Wandel auch erkennt er nun.

jñâtvâ ca vyavalokayati sma
asti tv asau kashcit-sattvo yo mayâ sadrshah
shîlena vâ samâdhinâ vâ prajñayâ vâ kushala-mûla-caryayâ vâ.

Indem er dies erkennt, schaut er nun rings umher:
“Ist da derjenige, irgendein Wesen, der mit mir vergleichbar ist
an Charakter oder Versenkungstiefe oder Erkenntnis oder

in Gesundheit wurzelndem Lebenswandel?”

yadâ ca bodhisattvah tri-sâhasra-mahâ-sâhasra-loka-dhâtau
na kimcit sattvam âtmatulyam pashyati sma
atha tasmin samaye bodhisattvah simha iva vigata-bhaya-bhairavo ‘samtrastah astambhî
sucintitam smrtvâ cintayitvâ sarva-sattvânâm citta-caritâni jñâtvâ aparigrhîto
bodhisattvah pûrvâm disham abhimukhah sapta padâni prakrântah
pûrvam-gamo bhavishyâmi sarveshâm kushala-mûlânâm dharmânâm.

Und als der künftige Buddha in der dreitausendumfassenden, großtausendumfassenden Welten-Fülle
nun nicht irgendein Wesen ihm selbst gleich sieht,
da nun, in diesem Moment, hat der künftige Buddha wie ein Löwe,

ohne Angst und Schrecken, furchtlos, freimütig,
sich seiner Wohlbedachtheit erinnert, durchdacht aller Wesen Bewußtsein

und Wandel erkannt, ungebunden
ist der künftige Buddha, sein Antlitz nach vorn orientierend,

sieben Schritte dorthin vorangeschritten:
“Der nach vorn orientiert Vorangehende werde ich sein für alle

in Gesundheit wurzelnden Lebenswegweisungen!”

tasya prakramata upary-antarîkshe ‘parigrhîtam
divya-shveta-vipula-chatram câmara-shubhe gacchantam anugacchanti sma
yatra yatra ca bodhisattvah padam utkshipati sma
tatra tatra padmâni prâdur-bhavanti sma.

Bei dessen Voranschreiten gehen oben im Luftraum ihm,

dem Ungebundenen, der göttliche, weiße, weitgespannte Schirm

und die beiden Wedel ihm, dem Vorangehenden, nun voraus,
und wo, ja wo überall der künftige Buddha nun seinen Fuß hinsetzt,
dort, ja dort überall kommen nun Lotosblüten hervor.

[evam] dakshinâm disham abhimukhah sapta padâni prakântah
dakshinîyo bhavishyâmi deva-manushnâm.

[So auch] ist er, sein Antlitz nach rechts gen Süden wendend,

sieben Schritte dorthin vorangeschritten:
“Der rechte Ehrwürdige (der rechts zu umwandeln ist) werde ich sein

für Götter und Menschen!”

pashcimâm disham abhimukhah sapta padâni prakântah
saptame sthitvâ simha ivâhlâdanâtmikâm vâcam bhâshate sma
aham loke jyeshto ‘ham loke shreshtah

Sein Antlitz ins Letzte hinter sich gen Westen wendend ist er

sieben Schritte dorthin vorangeschritten;
mit dem siebten stehenbleibend läßt er wie ein Löwe

nun seine aus Erquickung bestehende Stimme ertönen:
“Ich bin in der Welt der Vorzüglichste, ich bin in der Welt der Beste!

iyam me pashcimâ jâtih.

Dies ist meine letzte Geburt!

karishyâmi jâti-jarâ-marana-duhkhasyântam.

Vollbringen werde ich der Geburt, des Alterns,

des Sterbens und des Leidens Ende!”

uttarâm disham abhimukhah sapta padâni prakântah
anuttaro bhavishyâmi sarva-sattvânâm.

Sein Antlitz zum Höheren gen Norden wendend ist er sieben Schritte dorthin vorangeschritten:
“Der ohne einen Höheren über mir (Höchste) werde ich sein unter allen Wesen!”

adhastâd disham abhimukhah sapta padâni prakântah
nihanishyâmi mâram ca mâra-senâm ca.

Sein Antlitz hinabwärts wendend ist er sieben Schritte dorthin vorangeschritten:
“Niederwerfen werde ich den Tod und auch des Todes Heer!

sarva-nairayikânâm ca nirayâgni-pratighâtâya
saha dharma-megha-vrshtim varshishyâmi
yena te sukha-samarpitâ bhavishyanti

Und für alle Höllenbewohner zur Höllenfeuer-Abwehr
werde ich zugleich einen Lebenswegweisungs-Wolken-Regen hinabregnen lassen,
durch den diese mit Glück Beschenkte sein werden.”
uparishtâd disham abhimukhah sapta padâni prakântah
ûrdhvam câvalokayati sma
ullokanîyo bhavishyâmi sarva-sattvânâm.

Sein Antlitz hinaufwärts wendend ist er sieben Schritte dorthin

vorangeschritten, und nach oben schaut er nun auf:
“Über die Welt hinaus werde ich sein für alle Wesen!”

samanantara-bhâshitâ ceyam bodhisattvena vâk.

Und unmittelbar ausgesprochen ertönt durch den künftigen Buddha diese Stimme.

atha tasmin samaye ayam trisâhasra-mahâ-sâhasra-loka-dhâtuh
svarenâbhivijñâpto ‘bhût.

Da nun, in diesem Moment, war diese dreitausendumfassende großtausendumfassende Welten-Fülle
durch deren Klang zur Erkenntnis gelangt:

iyam bodhisatvasya karma-vipâka-jâ abhijñâ-dharmatâ.

“Dies ist des künftigen Buddha Taten-Reifungs-geborene erkenntnisklare Lebenswegwissenschaft!”

Pembangunan Pariwisata perlu terus dikumandangkan agar devisa yang diperoleh dari sektor ini meningkat dari perolehan tahun 2008 yang mencapai Rp 80 triliun untuk wisman dan Rp 123 triliun dari wisatawan domestik. Pengembangan destinasi masih perlu lebih dipergiat lagi, prosesnya harus berwawasan lingkungan, pro-kemiskinan, pro-tenaga kerja dan pro-gender. Sementara itu daya tarik wisata alam dari destinasi DIY amat melimpah seperti gunung, pantai, gua, sungai, waduk, persawahan, vegetasi tanaman dan fauna binatang, kegiatan Kota, perkampungan, pasar, pemandangan bulan Purnama, sun rise, sun set, sumber mata air dan sebagainya tidak lepas dari pemanfaatan potensi alam.

Pengembangan destinasi Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Berwawasan Lingkungan harus diterapkan dalam program kegiatan nyata. Upaya inilah yang terungkap dari acara ‘Gathering Pengembangan Kampung Wisata Dipowinatan’ Sabtu, 5 Desember 2009 yang dihadiri Walikota. Merunut keberadaan destinasi alternatif, segenap pelaku pariwisata disini perlu terus menjaga harmoni tata ruang, memperhatikan lingkungan alam dan meningkatkan pengelolaan destinasi pariwisata agar menjadi kian menarik serta memiliki nilai jual tinggi, termasuk keinginan masyarakat kawasan Kali Code Yogyakarta menjadi alternatif destinasi pariwisata Kota.

Kali Code yang bersumber dari Gunung Merapi memiliki arti penting bagi Propinsi DIY, khususnya daerah yang dilewati, yakni mengairi persawahan Kabupaten Sleman hingga Bantul. Kali yang membelah Yogyakarta ini secara historis menjadi dasar kebesaran Kerajaan Mataram, dan saat ini menjadi daya tarik ekowisata. Karena bersumber dari gunung paling aktif di dunia, Code sering mengalami banjir lahar yang berasal dari kawah Merapi, mengalir seperti air hujan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah Kota telah membangun talud di sepanjang pinggiran Kali Code di wilayah Yogyakarta, juga pengerukan dasar kali menggunakan eskavator. Di pinggiran kali Code terdapat bangunan pemukiman Kampung Code yang dirancang oleh budayawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Kampung ini telah merengkuh pahargaan Aga Khan Award, khususnya dari tata arsitektur perkampungan Kota (Wikipedia).

Paragraf diatas bisa menginspirasi wisatawan yang datang ke Yogyakarta untuk lebih dekat lagi mengunjungi Kali Code, karena umumnya wisatawan lebih tertarik pada kelebihan Destinasi Alam. Misalnya di DIY ±1.5 juta wisatawan nusantara (2008) sebagian besar mengunjungi destinasi alam, sedang ketertarikan wisman untuk mengunjungi Bali sangat dipengaruhi oleh daya tarik budaya Bali (55,7%) dan keindahan alam (29,4%) (Disparda Prop. Bali, 1998). Bahkan, sebanyak 73,2 % dari wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali tertarik dengan keindahan alam, dan hanya 21,7% yang tertarik dengan budaya (Wiranatha, 2009).

Destinasi kawasan Kali Code bisa menjadi alternatif khusus, tapi dengan perhatian khusus pula termasuk dukungan sosial korporasi (corporate social responsibility). Bagi penataan destinasi, realisasi hukum CSR muncul karena ketimpangan sosial ekonomi, lingkungan yang rusak, issu kemiskinan dan kelaparan, disamping hak-hak buruh dan konsumen (KR, 30/07/2009 hal 18). Penataan ini juga berkait fakta perubahan iklim global termasuk akibatnya bagi lingkungan Kali Code, yakni meingintegrasikan pembangunan kawasan Kali dengan soal kesadaran lingkungan serta strategi penyebarluasan masalah perubahan iklim.

STRATEGI PEMASARAN PAKET CODE

Kota Yogyakarta pada tahun 2011 berkeinginan menjadi Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat dan nyaman huni dengan pengelolaan fasilitas pelayanan publik yang memadai“. Sebagai Kota Pariwisata berbasis budaya dengan dukungan keragaman objek dan daya tarik wisata, sasaran ini menuntut segenap pelaku pariwisata untuk bekerjasama memanfaatkan potensi yang ada, memasarkan destinasi pariwisata terutama destinasi yang belum dilirik wisatawan seperti Kali Code.

Menurut Philip Kotler (dalam Anoraga, 1997:215), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk bernilai dengan yang lainnya. Tujuan akhir suatu pemasaran adalah kepuasan semua pihak, berupa profit dan nilai (value) uang yang dibelanjakan untuk sejumlah produk tertentu.

Dalam proses pemasaran pariwisata yang bertanggung jawab dibutuhkan identifikasi dan antisipasi sifat produknya yang kompleks. Berbagai pertanyaan akan muncul untuk segera dijawab, seperti; asal wisatawan, darimana informasi diperoleh, tujuan mengapa tertarik datang, jumlah mereka, apakah turis asing atau domestik, bagaimana kapasitas yang tersedia, jenis layanan yang dibutuhkan, berapa jumlah wisatawan harus datang untuk sampai adanya profit, cara promosi agar destinasi Kali Code tetap dikenal dan dikunjungi. Intinya, menjual destinasi Kali Code adalah dengan membangun potensi kawasan ini secara berkelanjutan sehingga memunculkan daya tarik ekowisata yang khas.

Destinasi Kali Code bisa menjadi daya tarik ekowisata Kota. Pola Marketing Mix (bauran pemasaran) menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran, dengan mengkombinasikan empat variabel kegiatan pemasaran yakni: produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Mengingat kompleksitas destinasi Kali Code yang menyangkut aturan tata ruang Kota, kesehatan lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan lain-lain, konsep Bauran Pemasaran menjadi alternatif pilihan dengan mempertimbangkan beberapa langkah pembangunan kawasan Kali Code berikut yang sesuai dengan kesiapan warga sekaligus minat pasar.

A. PEMBANGUNAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Karakteristik destinasi Kali Code menyangkut kondisi fisik Kali yang terhubung ke Gunung Merapi, tata bangunan tempat tinggal, suasana khas kampung bantaran Sungai, lingkungan masyarakat urban dengan ragam sosial ekonomi penghuni kawasan disana yang melahirkan daya tarik wisata. Untuk menjaga daya tarik tersebut, maka elemen lingkungan sungai serta warga  komunitas penghuni harus selalu terjaga kelestarian dan keindahannya. Wisatawan boleh bersentuhan dengan lingkungan Code dan masyarakat setempat tanpa menimbulkan gangguan yang berarti. Namun, fakta lain sering dijumpai, dimana pariwisata dan lingkungan alam tidak selalu sejalan berdampingan. Dampak negatif dari pembangunan fasilitas dan kegiatan wisata seperti kerusakan lingkungan dan meningkatnya volume sampah.

Maka muncullah tren global dengan back to nature, yakni mengemas paket wisata dengan kesadaran menjaga keindahan alam dan harmoni lingkungan masyarakat yang tinggal disana. Kenyataan tersebut kian mendorong berkembangnya ekowisata dengan beberapa aktivitas yang mengeksplorasi keindahan dan kekayaan alam, namun sekaligus memberi dampak pada kesejahteraan lokal serta meningkatkan peran masyarakat dalam pelestarian alam. Ekowisata juga merupakan implementasi dari konsep pariwisata kerakyatan berkelanjutan yang memenuhi unsur-unsur kepedulian terhadap alam dan sosial-budaya serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat (Wiranatha, 2009). Jika potret ini dikedepankan, kawasan Kali Code bisa menjadi alternatif pilihan pembangunan lingkungan serta destinasi Kota yang sehat dan nyaman. Ekowisata yang menghadirkan perbaikan alam dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu, perlu strategi pelestarian lingkungan yang dibentuk dari unsur pemerintah, masyarakat pengusaha dan pelaku pariwisata. Citra dan produk wisata yang muncul dari komunitas Kali Code perlu terus dibangun secara berkelanjutan dan dipromosikan untuk menjaga pasar, serta agar produk diingat wisatawan. Image promotion ini penting agar Code diingat sebagai destinasi yang berkualitas, memiliki citra positif, bernilai, aman dan nyaman dikunjungi. Tanpa promosi, suatu destinasi akan tenggelam dan terlupakan dari persaingan yang ketat. Dari segi harga, permasalah mendasar yang perlu diantisipasi adalah tata niaga yang tidak sehat (dumping), harga yang sangat rendah hingga usaha kecil tidak mampu bersaing. Masalah ini bisa diatasi dengan kesepakatan stakeholder membuat standar patokan harga ‘dasar’ sesuai kualitas produk yang dipasarkan.

Aspek distribusi promosi perlu diperhatikan, apakah melalui media elektronik, cetak, jaringan komunitas, ataukah dengan CD. Dalam pemasaran produk pariwisata, peran manusia akan membantu mencipta value (nilai) yang dibutuhkan wisatawan, menghadirkan keindahan suatu produk dengan sentuhan humanis yang tak terlupakan. Produk destinasi wisata membutuhkan proses yang panjang, berlangsung sejak wisatawan tertarik datang, ketika berada di lokasi hingga saat meninggalkan destinasi. Wisatawan menuntut bukti nyata atas apa yang telah dipromosikan sebelumnya (I Nyoman Madiun).

B. REVITALISASI POKDARWIS dengan SAPTA PESONA

Sapta Pesona Pariwisata merupakan jabaran konsep Sadar Wisata dari Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008, khususnya terkait dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh kembangnya destinasi pariwisata Kota. Jabaran slogan adalah dengan mewujudkan unsur-unsur wisata: AMAN, TERTIB,  BERSIH,  SEJUK,  INDAH, RAMAH TAMAH, KENANGAN (mantesih siraman).

Ketujuh Pesona diatas menyatu dalam program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa, pendidikan warga, kebudayaan serta kesejahteraan masyarakat. Merevitalisasi program Sapta Pesona sesuai kebutuhan kawasan lingkungan khusus akan mendorong destinasi Kali Code menjadi alternatif destinasi Kota. Pemerintah perlu terus memfasilitasi Gerakan ini menjadi pertemuan kedasadaran baru masyarakat, bahwa Pok Darwis bisa mengantar mereka kepada tujuan kesejahteraan dan Citra Kota yang nyaman.

C. IMPLEMENTASI WISATA JALAN KAKI KALI CODE

Menjadi tugas bersama agar pemangku kepentingan Kali Code memiliki rencana aksi pembangunan tata lingkungan yang tetap asri sesuai regulasi peraturan pemerintah, agar alam terjaga dengan baik, dan warga memiliki kreativitas kerja yang menghasilkan hingga Kali Code menjadi daya tarik wisata Kota. Hal mendasar untuk menarik wisatawan datang adalah mengemas Code River Walk sebaik mungkin diantara destinasi Kota lain. Namun yang lebih utama dengan membangun kebiasaan hidup sehat dan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan alam Kali Code, sehingga keseluruh hasilnya menjadi produk daya tarik wisata secara berkelanjutan.

Beberapa contoh kebiasaan kegiatan pelestarian lingkungan melalui usaha-usaha pengendalian pencemaran yang dapat dilakukan oleh Warga Paguyuban pelaku pariwisata dan pemandu lokal dari destinasi Code dapat diuraikan di bawah ini.

1. Penggunaan dan Pengelolaan Produksi Limbah Padat

Menggunakan kembali produk yang bisa diisi ulang, pemanfaatan limbah kertas, penyediakan tas yang dapat dipakai berulang kali, penggunaan bahan-bahan dapur seperlunya, pemisahan limbah organik di sumbernya sejak awal, dan melakukan pengolahan (composting), pemisahan botol, gelas dan kemasan lainnya yang bisa dipakai ulang terhadap sampah plastik untuk diproses lebih lanjut.

2. Pengelolaan Energi dan Air Bersih

Menggunakan energi listrik secara efisien; sistem sirkulasi udara yang tepat, pemanfaatan sinar alami secara maksimum; teknik dan bahan bangunan yang dapat membantu kesejukan aliran udara; penggunaan warna cat yang dapat mengurangi pemakaian lampu; Optimasi suhu di ruang umum; pengelola sumber mata air Code menjadi lebih manfaat; Meminimalkan penggunaan air bersih dan usaha daur ulang air (re-use); Mengelola limbah cair dan pembuangan limbah cair dengan standar yang diperbolehkan di perairan.

3. Pencemaran Lingkungan Kali Code

Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan Kali; Mencegah kerusakan sungai oleh adanya wisatawan yang datang; Menjaga dampak negatif kunjungan wisatawan bagi kelangsungan masyarakat kawasan Kali Code;

Tidak lagi menggunakan aerosol/ bahan-bahan yang tak ramah lingkungan;

Melakukan perawatan mesin-mesin dan pembangkit energi rumah tinggal.

4. Pengelolaan Route Jalan River Walk

Membuat paket alternatif route jalan dari awal – akhir River Walk yang di dalamnya mengandung keterlibatan/ pemberdayaan warga setempat; Memasang peta River Walk Kali Code; Menata route jalan kaki bagi kepentingan kunjungan wisatawan; Memasang petunjuk arah yang bisa dilalui wisatawan; Memfasilitasi peralatan yang dibutuhkan demi kenyamanan.

5. Penyediaan PPPK

Menyediakan pertolongan pertama pada kecelakaan warga / wisatawan

Melatih warga Paguyuban akan pentingnya PPPK bagi citra destinasi dengan memanfaatkan lingkungan yang ada; Menyiapkan tenaga yang terampil bila dianggap perlu; Menyiapkan obat-obatan standar pertolongan kecelakaan

6. Souvernir & Rest Area

Memberi kesempatan warga membuat souvernir ; Menciptakan citra destinasi ekowisata Kali Code yang khas dengan kerajinan lokal tersebut; Menyediakan rest area bagi kenyamanan kunjungan wisatawan.

Semua keinginan dan implementasi pemasaran Code River Walk bisa berjalan sesuai rencana jika disertai komitmen, kepemimpinan paguyuban serta kordinasi yang baik. Dibutuhkan kerja keras segenap warga terlebih dahulu demi mengangkat citra kawasan Kali Code yang menarik untuk dikunjungi wisatawan dan memberi pilihan bagi destinasi Kota Yogyakarta. ****

Sumber Bacaan:

  1. Beberapa tulisan di blog http://hpijogja.wordpress.com; dan https://dtur88.wordpress.com
  2. Makalah Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M Sc., Ph D., Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan, dalam Lokakarya Fasilitasi Pengembangan Usaha Pariwisata di Pacitan, 15 – 16 Juli 2009.
  3. Paparan Walikota Yogyakarta dalam Musrenbang Prop DIY (2009).
  4. Kerangka Ekonomi Makro RKPD DIY materi dalam Musrenbang Prop DIY di Hotel Santika, 14 April 2009.
  5. Makalah Dr. Drs. I Nyoman Madiun, M Sc., Pemasaran Destinasi Pariwisata, dalam Lokakarya Fasilitasi Pengembangan Usaha Pariwisata di Pacitan, 15 – 16 Juli 2009 diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

*) Makalah Ketua DPD HPI DIY, dipaparkan dalam acara Fokus Group Diskusi ‘Paket Wisata Code River Walk’ di Hotel Garuda Yogyakarta, oleh Bidang ODTW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta pada hari Sabtu 01 Agustus 2009.



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori