DTur Change For All

CODE RIVER WALK

Posted on: Desember 6, 2009

Pembangunan Pariwisata perlu terus dikumandangkan agar devisa yang diperoleh dari sektor ini meningkat dari perolehan tahun 2008 yang mencapai Rp 80 triliun untuk wisman dan Rp 123 triliun dari wisatawan domestik. Pengembangan destinasi masih perlu lebih dipergiat lagi, prosesnya harus berwawasan lingkungan, pro-kemiskinan, pro-tenaga kerja dan pro-gender. Sementara itu daya tarik wisata alam dari destinasi DIY amat melimpah seperti gunung, pantai, gua, sungai, waduk, persawahan, vegetasi tanaman dan fauna binatang, kegiatan Kota, perkampungan, pasar, pemandangan bulan Purnama, sun rise, sun set, sumber mata air dan sebagainya tidak lepas dari pemanfaatan potensi alam.

Pengembangan destinasi Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Berwawasan Lingkungan harus diterapkan dalam program kegiatan nyata. Upaya inilah yang terungkap dari acara ‘Gathering Pengembangan Kampung Wisata Dipowinatan’ Sabtu, 5 Desember 2009 yang dihadiri Walikota. Merunut keberadaan destinasi alternatif, segenap pelaku pariwisata disini perlu terus menjaga harmoni tata ruang, memperhatikan lingkungan alam dan meningkatkan pengelolaan destinasi pariwisata agar menjadi kian menarik serta memiliki nilai jual tinggi, termasuk keinginan masyarakat kawasan Kali Code Yogyakarta menjadi alternatif destinasi pariwisata Kota.

Kali Code yang bersumber dari Gunung Merapi memiliki arti penting bagi Propinsi DIY, khususnya daerah yang dilewati, yakni mengairi persawahan Kabupaten Sleman hingga Bantul. Kali yang membelah Yogyakarta ini secara historis menjadi dasar kebesaran Kerajaan Mataram, dan saat ini menjadi daya tarik ekowisata. Karena bersumber dari gunung paling aktif di dunia, Code sering mengalami banjir lahar yang berasal dari kawah Merapi, mengalir seperti air hujan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah Kota telah membangun talud di sepanjang pinggiran Kali Code di wilayah Yogyakarta, juga pengerukan dasar kali menggunakan eskavator. Di pinggiran kali Code terdapat bangunan pemukiman Kampung Code yang dirancang oleh budayawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Kampung ini telah merengkuh pahargaan Aga Khan Award, khususnya dari tata arsitektur perkampungan Kota (Wikipedia).

Paragraf diatas bisa menginspirasi wisatawan yang datang ke Yogyakarta untuk lebih dekat lagi mengunjungi Kali Code, karena umumnya wisatawan lebih tertarik pada kelebihan Destinasi Alam. Misalnya di DIY ±1.5 juta wisatawan nusantara (2008) sebagian besar mengunjungi destinasi alam, sedang ketertarikan wisman untuk mengunjungi Bali sangat dipengaruhi oleh daya tarik budaya Bali (55,7%) dan keindahan alam (29,4%) (Disparda Prop. Bali, 1998). Bahkan, sebanyak 73,2 % dari wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali tertarik dengan keindahan alam, dan hanya 21,7% yang tertarik dengan budaya (Wiranatha, 2009).

Destinasi kawasan Kali Code bisa menjadi alternatif khusus, tapi dengan perhatian khusus pula termasuk dukungan sosial korporasi (corporate social responsibility). Bagi penataan destinasi, realisasi hukum CSR muncul karena ketimpangan sosial ekonomi, lingkungan yang rusak, issu kemiskinan dan kelaparan, disamping hak-hak buruh dan konsumen (KR, 30/07/2009 hal 18). Penataan ini juga berkait fakta perubahan iklim global termasuk akibatnya bagi lingkungan Kali Code, yakni meingintegrasikan pembangunan kawasan Kali dengan soal kesadaran lingkungan serta strategi penyebarluasan masalah perubahan iklim.

STRATEGI PEMASARAN PAKET CODE

Kota Yogyakarta pada tahun 2011 berkeinginan menjadi Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat dan nyaman huni dengan pengelolaan fasilitas pelayanan publik yang memadai“. Sebagai Kota Pariwisata berbasis budaya dengan dukungan keragaman objek dan daya tarik wisata, sasaran ini menuntut segenap pelaku pariwisata untuk bekerjasama memanfaatkan potensi yang ada, memasarkan destinasi pariwisata terutama destinasi yang belum dilirik wisatawan seperti Kali Code.

Menurut Philip Kotler (dalam Anoraga, 1997:215), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk bernilai dengan yang lainnya. Tujuan akhir suatu pemasaran adalah kepuasan semua pihak, berupa profit dan nilai (value) uang yang dibelanjakan untuk sejumlah produk tertentu.

Dalam proses pemasaran pariwisata yang bertanggung jawab dibutuhkan identifikasi dan antisipasi sifat produknya yang kompleks. Berbagai pertanyaan akan muncul untuk segera dijawab, seperti; asal wisatawan, darimana informasi diperoleh, tujuan mengapa tertarik datang, jumlah mereka, apakah turis asing atau domestik, bagaimana kapasitas yang tersedia, jenis layanan yang dibutuhkan, berapa jumlah wisatawan harus datang untuk sampai adanya profit, cara promosi agar destinasi Kali Code tetap dikenal dan dikunjungi. Intinya, menjual destinasi Kali Code adalah dengan membangun potensi kawasan ini secara berkelanjutan sehingga memunculkan daya tarik ekowisata yang khas.

Destinasi Kali Code bisa menjadi daya tarik ekowisata Kota. Pola Marketing Mix (bauran pemasaran) menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran, dengan mengkombinasikan empat variabel kegiatan pemasaran yakni: produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Mengingat kompleksitas destinasi Kali Code yang menyangkut aturan tata ruang Kota, kesehatan lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan lain-lain, konsep Bauran Pemasaran menjadi alternatif pilihan dengan mempertimbangkan beberapa langkah pembangunan kawasan Kali Code berikut yang sesuai dengan kesiapan warga sekaligus minat pasar.

A. PEMBANGUNAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Karakteristik destinasi Kali Code menyangkut kondisi fisik Kali yang terhubung ke Gunung Merapi, tata bangunan tempat tinggal, suasana khas kampung bantaran Sungai, lingkungan masyarakat urban dengan ragam sosial ekonomi penghuni kawasan disana yang melahirkan daya tarik wisata. Untuk menjaga daya tarik tersebut, maka elemen lingkungan sungai serta warga  komunitas penghuni harus selalu terjaga kelestarian dan keindahannya. Wisatawan boleh bersentuhan dengan lingkungan Code dan masyarakat setempat tanpa menimbulkan gangguan yang berarti. Namun, fakta lain sering dijumpai, dimana pariwisata dan lingkungan alam tidak selalu sejalan berdampingan. Dampak negatif dari pembangunan fasilitas dan kegiatan wisata seperti kerusakan lingkungan dan meningkatnya volume sampah.

Maka muncullah tren global dengan back to nature, yakni mengemas paket wisata dengan kesadaran menjaga keindahan alam dan harmoni lingkungan masyarakat yang tinggal disana. Kenyataan tersebut kian mendorong berkembangnya ekowisata dengan beberapa aktivitas yang mengeksplorasi keindahan dan kekayaan alam, namun sekaligus memberi dampak pada kesejahteraan lokal serta meningkatkan peran masyarakat dalam pelestarian alam. Ekowisata juga merupakan implementasi dari konsep pariwisata kerakyatan berkelanjutan yang memenuhi unsur-unsur kepedulian terhadap alam dan sosial-budaya serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat (Wiranatha, 2009). Jika potret ini dikedepankan, kawasan Kali Code bisa menjadi alternatif pilihan pembangunan lingkungan serta destinasi Kota yang sehat dan nyaman. Ekowisata yang menghadirkan perbaikan alam dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu, perlu strategi pelestarian lingkungan yang dibentuk dari unsur pemerintah, masyarakat pengusaha dan pelaku pariwisata. Citra dan produk wisata yang muncul dari komunitas Kali Code perlu terus dibangun secara berkelanjutan dan dipromosikan untuk menjaga pasar, serta agar produk diingat wisatawan. Image promotion ini penting agar Code diingat sebagai destinasi yang berkualitas, memiliki citra positif, bernilai, aman dan nyaman dikunjungi. Tanpa promosi, suatu destinasi akan tenggelam dan terlupakan dari persaingan yang ketat. Dari segi harga, permasalah mendasar yang perlu diantisipasi adalah tata niaga yang tidak sehat (dumping), harga yang sangat rendah hingga usaha kecil tidak mampu bersaing. Masalah ini bisa diatasi dengan kesepakatan stakeholder membuat standar patokan harga ‘dasar’ sesuai kualitas produk yang dipasarkan.

Aspek distribusi promosi perlu diperhatikan, apakah melalui media elektronik, cetak, jaringan komunitas, ataukah dengan CD. Dalam pemasaran produk pariwisata, peran manusia akan membantu mencipta value (nilai) yang dibutuhkan wisatawan, menghadirkan keindahan suatu produk dengan sentuhan humanis yang tak terlupakan. Produk destinasi wisata membutuhkan proses yang panjang, berlangsung sejak wisatawan tertarik datang, ketika berada di lokasi hingga saat meninggalkan destinasi. Wisatawan menuntut bukti nyata atas apa yang telah dipromosikan sebelumnya (I Nyoman Madiun).

B. REVITALISASI POKDARWIS dengan SAPTA PESONA

Sapta Pesona Pariwisata merupakan jabaran konsep Sadar Wisata dari Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008, khususnya terkait dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh kembangnya destinasi pariwisata Kota. Jabaran slogan adalah dengan mewujudkan unsur-unsur wisata: AMAN, TERTIB,  BERSIH,  SEJUK,  INDAH, RAMAH TAMAH, KENANGAN (mantesih siraman).

Ketujuh Pesona diatas menyatu dalam program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa, pendidikan warga, kebudayaan serta kesejahteraan masyarakat. Merevitalisasi program Sapta Pesona sesuai kebutuhan kawasan lingkungan khusus akan mendorong destinasi Kali Code menjadi alternatif destinasi Kota. Pemerintah perlu terus memfasilitasi Gerakan ini menjadi pertemuan kedasadaran baru masyarakat, bahwa Pok Darwis bisa mengantar mereka kepada tujuan kesejahteraan dan Citra Kota yang nyaman.

C. IMPLEMENTASI WISATA JALAN KAKI KALI CODE

Menjadi tugas bersama agar pemangku kepentingan Kali Code memiliki rencana aksi pembangunan tata lingkungan yang tetap asri sesuai regulasi peraturan pemerintah, agar alam terjaga dengan baik, dan warga memiliki kreativitas kerja yang menghasilkan hingga Kali Code menjadi daya tarik wisata Kota. Hal mendasar untuk menarik wisatawan datang adalah mengemas Code River Walk sebaik mungkin diantara destinasi Kota lain. Namun yang lebih utama dengan membangun kebiasaan hidup sehat dan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan alam Kali Code, sehingga keseluruh hasilnya menjadi produk daya tarik wisata secara berkelanjutan.

Beberapa contoh kebiasaan kegiatan pelestarian lingkungan melalui usaha-usaha pengendalian pencemaran yang dapat dilakukan oleh Warga Paguyuban pelaku pariwisata dan pemandu lokal dari destinasi Code dapat diuraikan di bawah ini.

1. Penggunaan dan Pengelolaan Produksi Limbah Padat

Menggunakan kembali produk yang bisa diisi ulang, pemanfaatan limbah kertas, penyediakan tas yang dapat dipakai berulang kali, penggunaan bahan-bahan dapur seperlunya, pemisahan limbah organik di sumbernya sejak awal, dan melakukan pengolahan (composting), pemisahan botol, gelas dan kemasan lainnya yang bisa dipakai ulang terhadap sampah plastik untuk diproses lebih lanjut.

2. Pengelolaan Energi dan Air Bersih

Menggunakan energi listrik secara efisien; sistem sirkulasi udara yang tepat, pemanfaatan sinar alami secara maksimum; teknik dan bahan bangunan yang dapat membantu kesejukan aliran udara; penggunaan warna cat yang dapat mengurangi pemakaian lampu; Optimasi suhu di ruang umum; pengelola sumber mata air Code menjadi lebih manfaat; Meminimalkan penggunaan air bersih dan usaha daur ulang air (re-use); Mengelola limbah cair dan pembuangan limbah cair dengan standar yang diperbolehkan di perairan.

3. Pencemaran Lingkungan Kali Code

Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan Kali; Mencegah kerusakan sungai oleh adanya wisatawan yang datang; Menjaga dampak negatif kunjungan wisatawan bagi kelangsungan masyarakat kawasan Kali Code;

Tidak lagi menggunakan aerosol/ bahan-bahan yang tak ramah lingkungan;

Melakukan perawatan mesin-mesin dan pembangkit energi rumah tinggal.

4. Pengelolaan Route Jalan River Walk

Membuat paket alternatif route jalan dari awal – akhir River Walk yang di dalamnya mengandung keterlibatan/ pemberdayaan warga setempat; Memasang peta River Walk Kali Code; Menata route jalan kaki bagi kepentingan kunjungan wisatawan; Memasang petunjuk arah yang bisa dilalui wisatawan; Memfasilitasi peralatan yang dibutuhkan demi kenyamanan.

5. Penyediaan PPPK

Menyediakan pertolongan pertama pada kecelakaan warga / wisatawan

Melatih warga Paguyuban akan pentingnya PPPK bagi citra destinasi dengan memanfaatkan lingkungan yang ada; Menyiapkan tenaga yang terampil bila dianggap perlu; Menyiapkan obat-obatan standar pertolongan kecelakaan

6. Souvernir & Rest Area

Memberi kesempatan warga membuat souvernir ; Menciptakan citra destinasi ekowisata Kali Code yang khas dengan kerajinan lokal tersebut; Menyediakan rest area bagi kenyamanan kunjungan wisatawan.

Semua keinginan dan implementasi pemasaran Code River Walk bisa berjalan sesuai rencana jika disertai komitmen, kepemimpinan paguyuban serta kordinasi yang baik. Dibutuhkan kerja keras segenap warga terlebih dahulu demi mengangkat citra kawasan Kali Code yang menarik untuk dikunjungi wisatawan dan memberi pilihan bagi destinasi Kota Yogyakarta. ****

Sumber Bacaan:

  1. Beberapa tulisan di blog http://hpijogja.wordpress.com; dan https://dtur88.wordpress.com
  2. Makalah Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M Sc., Ph D., Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan, dalam Lokakarya Fasilitasi Pengembangan Usaha Pariwisata di Pacitan, 15 – 16 Juli 2009.
  3. Paparan Walikota Yogyakarta dalam Musrenbang Prop DIY (2009).
  4. Kerangka Ekonomi Makro RKPD DIY materi dalam Musrenbang Prop DIY di Hotel Santika, 14 April 2009.
  5. Makalah Dr. Drs. I Nyoman Madiun, M Sc., Pemasaran Destinasi Pariwisata, dalam Lokakarya Fasilitasi Pengembangan Usaha Pariwisata di Pacitan, 15 – 16 Juli 2009 diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

*) Makalah Ketua DPD HPI DIY, dipaparkan dalam acara Fokus Group Diskusi ‘Paket Wisata Code River Walk’ di Hotel Garuda Yogyakarta, oleh Bidang ODTW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta pada hari Sabtu 01 Agustus 2009.

2 Tanggapan to "CODE RIVER WALK"

[…] dtur88.wordpress.com/2009/12/06/code-river-walk […]

Mbak Pur…syukur jika tulisan dtur88 hal CODE tsb bermanfaat diteruskan ke yg lain….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: