DTur Change For All

MAJAPAHIT (1)

Posted on: Desember 15, 2009

Kata “majapahit” terdiri dari maja dan pahit yang selalu dimaknai buah maja yang pahit. Makna turun temurun diajarkan di dalam pelajaran Sejarah ini dikatakan merujuk dari rasa pahit seperti buah tanaman setinggi ± 8 meter, berdaun oval tipis memanjang ukuran sedang seperti nangka, jika dicoba rasanya pahit. Kata maja bisa berarti mulia ditemui dalam kosakata yang beragam, seperti nama tempat atau kota Majasari, Majawarna, Mojoagung, Mojosongo, Majalengka, Majapura dan seterusnya. Dalam sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi, konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Sementara altar pemaknaan kata Majapahit berasal dari mitos sumpah bahwa Mahapatih Gajah Mada (1313-1364) hanya sudi memakan buah maja tersebut setelah Nuswantara menyatu di bawah bendera Majapahit. Gagasan Mahapatih Gaja Mada melalui sumpahnya dapat terlaksana kecuali menguasai kerajaan Pajajaran (Sunda). Untuk itu, Gajah Mada melakukan Politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Bubat tahun1357. Untuk menjaga keamanan dan memelihara kesatuan daerah kekuasaannya maka Majapahit memperkuat armada lautnya di bawah pimpinan Mpu Nala. Dan juga berusaha menjalinpersahabatan dengan negara-negara tentangga yang diistilahkan Mitrekasatata artinya sahabat (sehaluan) atau hidup berdampingan secara damai.

Ketika Majapahit didirikan, 10 November 1293 sejak era Kertarajasa Jayawardhana (1295-1309), pedagang Muslim dunia dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Istri Raja Kertabumi (Brawijaya V) adalah Dara Petak asal Campa yang kelak melahirkan Jin Bun (Raden Patah), penguasa Kasultanan Demak. Era generasi awal Walisongo telah juga menunjukkan bukti sejarah sangat kuat, seperti keberadan Sunan Ampel di Surabaya dan Makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang berangka tahun 1082 M. Pada tahun wafatnya Kapten Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel (1478), Raden Patah secara mendadak menyerang Majapahit tanpa perlawanan. Raja Kertabumi, ayah Jin Bun sendiri, menjadi tawanan dan dibawa ke Demak dengan harta pusaka sebanyak 7 muatan kuda. Majapahit menjadi bawahan Demak dan diangkatlah Nyoo Lay Wa (1478-1486), lalu diserahkan kepada Girindrawardhana menantu Kertabumi (1486 – 1427).  

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Katolik Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Berikut adalah nama Raja-raja yang berkuasa di Majapahit:

Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (12931309); Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (13091328); Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (13281350); Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (13501389); Wikramawardhana (13891429); Suhita (14291447); Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (14471451); Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (14511453); Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (14561466); Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (14661468); Kertabumi, bergelar Brawijaya V (14681478); Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (14781498); Hudhara, bergelar Brawijaya VII (14981518).

Sesudah abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana dan pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, serta pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468. Saat bersamaan, muncul sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka. Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Kehidupan sosial keagamaan Majapahit berjalan dengan baik, bahkan tercipta toleransi. Hal ini seperti apa yang diceritakan oleh Ma-Huan tahun 1413, bahwa masyarakat Majapahit di samping beragama Hindu, Buddha juga ada yang beragama Islam, semuanya hidup dengan rukun. Dari berita Ma-Huan tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh Islam sudah ada di kerajaan Majapahit. Kehidupan sosial yang penuh dengan toleransi juga dibuktikan melalui kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular yang didalamnya ditemukan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmamangrua”. *** Bersambung.

Sumber: Sejarah Sunan Ampel, Syamsudduha, JP Press, Surabaya, 2004. Makalah Majapahit, Herman Sinung Janutama, TOJ, 2008. Catatan Sejarah berjudul Kerajaan Majapahit, oleh Marmayadi, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: