DTur Change For All

EINSTEIN: Zu Spinozas Ethik

Posted on: Januari 5, 2010

Catatan Puisi Albert Einstein (1879-1955) untuk gurunya Baruch Spinoza, bersinggungan khazanah budaya dengan harkat kemanusiaan dan peradaban. Berisi pion-pion penghuni Granada sebagai sebuah negeri yang sangat indah peninggalan era Umayah-Abasiyah di sana, menginspirasi gagasan arsitektural di seluruh dunia, juga meninggalkan sisi kelabu dalam ingatan kolektif orang-orang Eropa saat itu. Ini sebabkan kebangkitan dan invasi Eropa ke seluruh wilayah Islamistand, mengakibatkan holocaust bagi Yahudi, dan diaspora muslimin Andalusia ke sudut dunia, berakibat pelecehan dan penghinaan atas kaum muslimin. Mereka hidup terlunta, terpinggirkan. Potret generasi muslim 500 tahun belakangan ini adalah korban dari kezaliman imperium muslim hingga abad 15M.

Ya..substansinya menembus ruang waktu. Inilahj ungkapan penghormatan seorang pelaku sejarah bernama Albert Einstein berasal dari buku Max Jammer, Einstein and Religion, Princeton University Press, 1999 yang diberinya judul: Penghormatan Untuk Spinoza

Zu Spinozas Ethik

Wie lieb ich diesen edlen Mann

Mehr als ich mit Worten sagen kann

Doch fuercht’ ich, dass er bleibt allein

Mit seinem strehlenden Heiligenschein


So einen armen kleinen Wicht

Den fuehrst Du zu der Freiheit nicht

Der amor dei laesst ihn kalt

Das leben zieht ihn mit Gewalt


Die Hoehe bringt ihm nichts als Frost

Vernunft ist fuer ihn schale Kost

Besitz und Weib und Her’ und Haus

Das fuellt ihn von oben bis unten aus


Du musst schon guetig mir verzeihn

Wenn hier mir faellt Muenchhausen ein,

Dem als Einzigen das Kunsttueck gediehn

Sich am eigenen Zopf aus dem Sumpf zu zieh’n


Du denkst sein Beispiel zeigt uns eben

Was diese Lehre den Menschen kann geben

Vertraue nicht dem troestlichen Schein:

Zum Erhabenen muss man geboren sein.

(dari: Einstein Archive, reel 33-254)

Translasi, Antologi dan apresiasi: oleh Andi Mudhi’uddin

Betapa aku mencintai priyayi agung ini

Melebihi kata-kata yang mampu terucapkan.

Sungguh mencemaskanku, kenapa ia harus sendiri

Dengan lingkaran ‘halo’, cahaya terpancarkan


Maka jiwa yang kerdil dan malang

Bagimu tak akan menghasilkan apapun.

Keyakinan amor dei meninggalkannya kesepian

Kehidupan telah menghelanya penuh kuasa


Satu ketinggian tidak menjadikan dia beku

Akal budi baginya kulit luar makanan.

Kepunyaan dan perempuan dan jodoh dan rumah

Semua tak memuaskannya dari atas ke bawah


Kamu seharusnya bersuka-hati memaafkan aku

Meski ini akan meruntuhkan gubuk inspirasiku.

Satu-satunya keahlian yang menuntut perhatian

Merubah pandangan sendiri dari bobroknya moral


Kau pikir yang dia lakukan membuat kami diam

Apa yang dapat diberikan seorang guru umat manusia.

Sahabat takkan menebar sinar yang menyilaukan:

Demi kemuliaan orang mesti terlahir kembali.

(Arsip Einstein, reel  33-264).

Refleksi Penghormatan Einstein untuk Sang Guru

Baruch Spinoza (1632–1677), Albert Einstein dan Nietzsche adalah pengikut jejak Filsuf Qurtubah atau Cordoba bernama Musa bin Maimun (Moses Maimonides, 1135-1204). Ayah Musa –Maimun– adalah seorang Yahudi Andalusia ahli Astronomi dan Matematika. Ia adalah guru satu-satunya bagi Musa. Penggagas konsep Tuhan yang Non-anthropomorphic yang kelak menjadi fondasi bagi filsafat dan teologi.

Filsuf Yahudi Baruch Spinoza lalu mengungsi ke Belanda. Saat berumur 24 tahun, ia termasuk pemikir radikal di Eropa. Akibat dari hal ini dia dikucilkan. Pada tahun 1673 ia menolak diangkat menjadi professor di Universitas Hiedelberg. Dia dikenal si alim sederhana yang berteman dengan maharajá. Dikucilkan Sinagoge, bersuratan dengan Leibniz dan Huyghens. Meski terpelajar dia bekerja dengan tenaganya. Dia meninggal 20 Februari 1677 di usia 44 tahun oleh penyakit TBC.

Coretan hati Einstein berkabar lain. Spinoza guru umat manusia, baginya di dunia ini tak ada rahasia, semua terang dengan ratio. Tuhanpun dijelaskannya dengan ratio. Hanya satu substansi adalah Yang Esa, kekal tak terbatas, berdiri sendiri tak bergantung. Segala sesuatu mendekati keberadaan substansi. Berarti sama dengan Tuhan = alam semesta. Pengaruh Descartes ini menjadikan pikiran Spinoza pantheistik. Merangkum alam yang mencipta dan diciptakan. Einstein sangat menghormatinya. Mencintainya penuh hormat. Ia bahkan menghawatirkan kesendiriannya. Budi dan keluasan alam mengandung segala tingkat ADA dan manusia menuju Yang Esa. Mencintai Tuhan dengan akal juga mencinta nasib. Keyakinan amor dei (mahabbah = cinta Allah) meninggalkan Spinoza tanpa kehangatan teman. Padahal dengan lingkaran ’halo’ sinar cahaya itu terpancarkan. Kehidupan idealis menghelanya. Kuasa dan kemewahan tak menyilaukan Spinoza. Akal budi menyelamatkan posisinya di ketinggian.

Hormat Einstein pada gurunya terlecut keras, terpikir seharusnya semua menghormati Spinoza. Menganugerahkan moralitas luhur kepada generasi manusia. Ia keras berupaya merubah sikap orang agar sudi menerima pandangan sang guru. Sahabat takkan menebar sinar yang menyilaukan: maka Einstein berpendirian, demi kemuliaan orang mesti terlahir kembali.

Metodologi reflektif ini melalui Anthropologi Filsafat, bermula dari tradisi sosiologi fenomenologi Jerman, khususnya tradisi Sosiologi Peter L. Berger. Penggunaan metode ini memungkinkan dilakukannya eksplorasi intuitif pelaku sejarah demi terkuaknya makna eksistensial manusia. Artinya, makna-makna yang terhubung dengan fakta angst Heidegger kemanusiaan. Kesendirian, keterasingan dan derita kejatuhan manusia di dunia menjadi obyek tinjau eksistensial dari operasi Anthropologi Struktural terhadap budaya-bahasa yang sedang dikomparasi dan dikorelasikan. Hasilnya menghubungkan kesadaran kita yang hilang, bahwa manusia berasal dari satu rasa yang mengakui dan mengesakan kesucian Sang Pencipta.

Sungguh perayaan Natal – awal tahun 2010 Himpunan Pramuwisata Indonesia dan siapapun pembaca yang bersentuhan langsung dengan kelahiran kembali manusia ke hakekat kesucian, sebagaimana dirasa Kempalan Pangangsu Kawruh “Tjap Orang Djadzab” ing Ngayogyakarta Hadiningrat saat dua tahun lalu menggelar panggung Callings for Andalusia berjudul Ilang Sirna Kertaning Bhumi.

GRANADA 516

April 1492-2008

Selasa Pahing malem Rebo Pon

29 April 2008 M / 22 Bakda Mulud 1429H

Pendhapa Narti’s Silver Kotagedhe Semoga.***

Jokteng Kulon, 10 April 2008 dan Tuesday, 05 January 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: