DTur Change For All

TV Meng-“Olok-olok Privasi”

Posted on: April 12, 2010

Perkembangan informasi teknologi seperti penggunaan facebook, twitter telah mengalahkan televisi, meski dari media yang terakhir saja orangtua belum dapat solusi cara mengimbangi waktu anak dengan ritme belajarnya di rumah. Bahwa media televisi telah mengalahkan belajar anak; wartawan telah meng-“Olok-olok Privasi” rumah tangga pamirsanya sendiri, kerusakan moral dikemas dan dipertontonkan di hadapan jutaan pamirsa televisi. Efek domino sebuah tayangan adalah sensasi anak melayang-layang ke angkara angkasa tak terbatas. Judul tulisan diatas adalah artikel Kompas edisi 16/11/2008,  ia ungkap masalah yang menembus waktu dan ruang belajar anak hingga hari ini.

PR ORANGTUA DAN GURU

Banyak fakta tulisan seperti judul tersebut diatas bertebaran di media tulis maupun audio-visual. Isi kandungan fakta seperti bahwa reality show TV telah merusak tatanan dan norma susila, melanggar hak-hak pribadi, demo kekerasan dan makian, dibuat media dengan kamera tersembunyi pula. Infotainmen TV mengumbar masalah pribadi, cinta, perselingkuhan, dusta manusia, konflik dengan pilihan adegan yang menguras emosi pamirsa menomersatukan pasar dan selera pemodal. Hingga tahun 2010 bahkan animo pembuat acara TV swasta bersemangat sama pamirsa dan pengiklan memperbanyak jumlah acara dengan kontain yang merusak akhlak anak-anak. Ya, acara mengumbar privasi hubungan ’suami-istri’ yang tak harmonis malah mengusung anak dan mertua sekaligus mempertontonkan kebejatan rumah tangga dengan dalih pelajaran. Sama di stasiun lain anak yang menginvestigasi ortu saat bermesraan di jalan, di tempat salon, bahkan membawa crew televisi dan sengaja menjual contoh buruk tersebut.

Data terungkap selama Januari–Oktober 2008, Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI Pusat menerima 38 pengaduan masyarakat  atas acara-acara reality show, menegur ANTV 11 November dan mengakhiri empatmata Tukul Arwana. Hasil monitoring KPI (September 2008): Tayangan kekerasan televisi pada prime time adalah Global-tv 35.2, indosiar 18.3, rcti – tvOne 12.7, Trans – metrotv 8.5, sctv 2.8 dan tpi 1.4; wajar kriminalitas meningkat dan terus menginspirasi kejahatan di masyarakat.. hingga guru orangtua murid  meniru ”Bau Anyir Darah di Televisi” (Kompas 10/11/08). Di tahun-tahun setelah itu kian tak terbendung ragam dan kualitas kejahatan anak maupun yang berakibat buruk bagi perkembangan jiwa anak.

PILIHAN PAMIRSA TV

Masih media televisi, melalui tayangan ”barometer sctv 12/11/2008” malam, beberapa awak media menyadari mereka memiliki misi, bahkan peran memproduksi kekerasan dan pilihan diksi siaran itu. Dari narasumber, pemerintah, dibantu pengamat dan KPI, mereka rasakan kurang maksimal bekerja sebagai otokritik keras akan fungsi media  menyeimbangkan tayangan yang mendidik! Lalu bagaimana nasib masyarakat pamirsa yang jumlah terbesarnya adalah masyarakat muslim juga. Diskurus media tentang makna jihad misalnya malah  membuat  semua bingung; mengapa tidak memilih nara sumber yang mencerahkan, waktu yang pas dan menyiarkannya tanpa tujuan debat untuk saling menjatuhkan.

Jika begitu fakta dan opini yang ditampilkan media kemana guru Pendidik Muslim alias yang formal Persatuan Guru Islam (PGI) atau yang spesifik pesantren yakni Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) bisa mengabdi dan mendidik para pencari ilmu dan kebijakan? Kenapa anak-anak dan murid sekolah meski nuruti orangtua 100% sementara juga guru mereka sendiri tidak melakukan itu di laku keseharian. Anak-anak awak media, termasuk anak-anak kita mestikah harus belajar efektif dari Sang Wartawan seperti diatas? Inilah persoalan bagaimana mendidik anak saat ini.

Disisi lain masih bermunculan penulis berwawasan etik, termasuk mucul dari sekolah SMP 5 Yogyakarta yakni novelis A. Ataka AR yang menerbitkan tiga seri Misteri Pedang Skinheald, Alinea, 2005; juga terbaru artikel opini mengekspresikan doa pada ibunya oleh anak Aksel tahun pertama yang dimuat Radar Jogja edisi Februari 2010. Nampaknya pelajaran Bahasa Indonesia bisa merubah anak dari tidak mampu menjadi keranjingan belajar dan membaca fenomena alam seperti diraih siswa SMPIT dalam lomba nasional 2009 lalu. Yang pasti untuk para orangtua dan guru, ada data pergeseran menarik tentang prilaku pamirsa TV, bahwa Acara Berita telah Menggeser Sinetron. Pada tahun 2008 slot Berita masih dipilih 30,4 % penonton, namun di tahun 2009 telah mencapai 46% saat ditanya polling Kompas (edisi 24/01/2010) ’Apa acara yang paling Anda tonton?’. Semua perlu arif memilih; meski berlomba kepintaran soal tonton menonton TV, jika tak ingin tergilas nafsu rendah cerita yang tak layak.

PESAN BUAT PENULIS BERITA

Para penulis berita harus memperhatikan 9 etika pokok; akurasi fakta dan berita (QS 21:7), etika bertanya (QS 5:101), melakukan check recheck (QS 49:6), tidak memeras (QS 4:94), menjauhi prasangka (QS 49:12), trial by the press (QS al-Hujurat 12), meminimalkan resiko (QS 11:47), tidak mengolok-olok klien (QS al-Hujurat 11) dan terakhir ‘memenuhi hak jawab narasumber’ (QS 12:26). (Nazaruddin Umar, dalam Nuzulul-qur’an TVRI 12/10/2006?) Diantara misi guru sebenarnya adalah membuat berita bukan menikmati berita apalagi sekedar mengumpulkan berita.

Guru adalah kita sang perubah fundamental akhlak anak; bahwa setiap pribadi kelak harus mempertanggung-jawabkan diri, kekayaan dan umur, termasuk mengapa dipanjangkan, ilmu pengetahuan diberikan, darimana uang didapat serta apakah dibelanjakan untuk pendidikan anak. Orangtua perlu memandu jadwal anak-anak mereka tentang acara televisi di rumah. Jika dibutuhkan berilah mereka kesempatan memilih kegiatan yang lain. Misalnya membaca kolaborasi dunia film dan perbukuan, seperti ilustrasi film Srigala Terakhir berjudul The Iluustrated Companion of Srigala Terakhir dinilai pemerhati pendidikan anak menjadi pilihan lain yang bagus untuk mengisi waktu belajar daripada nonton tayangan televisi yang tidak produktif (Kompas, 16/10/2009).

Pendidikan anak kian rumit, maka kunci perubahan terpulang kepada orangtua masing-masing di rumah, bagaimana menghandle anak sendiri dan mencari solusi atas perkembangan IT yang tak lagi bersahabat untuk kesehatan jiwa mereka. Jelas panduan moralitas agama bukan lagi harus dilepas pada Guru sekolah, paling strategis orangtua mesti memilihkan Sekolah yang familiar dengan idealisme menjaga masa depan anak, namun juga terus mendampingi mereka dalam proses mencapai tujuan di sekolah tersebut. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: