DTur Change For All

EMPAT PILAR BELAJAR

Posted on: Juli 11, 2010

Mengantar anak didik menjalani Ujian Sekolah merupakan tugas pendidikan masyarakat, orang tua dan guru sekolah untuk saling berbagi tugas menjalankan tiga amanat belajar UNESCO; yakni ikut berpartisipasi mempelajari ilmu pengetahuan (learning to know), membantu bagaimana anak belajar berketrampilan hidup (learning to do) serta memberi mereka contoh bersikap positif sehari-hari dengan lingkungan (learning to live together). Ketiganya bermakna menyatunya hikmah kebijaksanaan dalam pribadi melalui potensi-potensi kecerdasan yang dimiliki dari knowledge, skill maupun attitude.

Tentang kecerdasan sebagai potensi belajar anak telah diketahui amat beragam seperti, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, spasial, musikal, finansial, literal, matematis, lingual dan akan kian terus bertambah seiring ilmu pengetahuan melihatnya. Periksa pula buku tulisan Ary Ginanjar Agustian, Daniel Goleman, Dona Zohar, Taufiq Pasiak atau buku How To Learn lain terbitan Group Mizan Bandung. Perlu diperhatikan pula istilah hikmah dalam Al-Quran yang menurut penulis melingkupi kecerdasan pengetahuan – ketrampilan – sikap manusia, yang berarti perkataan tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.  (Lihat QS [Al-Baqarah] 2:269, [An-Nisa] 4:113, [An-Nahl] 16:125!).

Tugas pembelajaran ini menarik untuk dikupas dalam perjalanan pendidikan termasuk ketika para wali siswa berkumpul mendoakan bersama dalam rangka Ujian Nasional anak-anak atau saat memasuki jenjang yang lebih tinggi. Catatan kecil ini berangkat dari Konsep belajar tak mengenal berhenti di setiap ruang dan waktu kehidupan, disebut empat pilar belajar yakni:

  1. Sadar tujuan untuk apa memasuki UJIAN, demi mencari nilai, untuk mendapatkan hasil ijazah, hanya menyenangkan orangtua atau demi mencari pengalaman. Kesadaran awal memasuki gerbang UJIAN akan mendorong agen pembelajar memiliki daur belajar yang sangat menentukan warna perjalanan anak di kemudian hari. Ini adalah inti pembelajaran multi kelas tanpa membedakan usia pelakunya, semua akan terlampaui dan seseorang agen pembelajar akan menjalani kebiasaan-kebiasaan hidupnya disini. Daur belajar berawal dari teknik pembacaan semiologi/semiotika filsafat Ferdinand de Saussure 1, akan mengasah tangan dan nurani, potensi dasar manusia jadi terlatih, wawasan dan kreativitas terpacu oleh kenyataan hidup yang sulit, bahwa di MLM latihan sabar menjalani hidup benar-benar akan mengantar agen penjual menjadi jujur terpercaya dan dibutuhkan orang lain.
  2. Seseorang memiliki prestasi belajar, apabila mampu meraih nilai tertinggi hingga patut mengantarkan pada perolehan hasil berikut, dan iapun bisa memperlihatkan hasil-hasil tersebut sebagai BUKTI kerja keras belajarnya. Keberhasilannya juga membuktikan kerja kelompok di bawah bimbingan guru dan orangtua, hingga kemanapun kelak dia berada akan dikenali dan dikenang, kawannya mengikuti dan mencontohnya sekaligus membutuhkan bimbingannya. Dialah pribadi yang memiliki pengakuan sah tanpa rekayasa teman lain, melainkan semua segan oleh kharisma integritas yang patut dicontoh dan bahwa pola kerja dan belajarnya menjadi uswah bagi orang lain, dipersaksikan (syahadah) dan diduplikasi ke semua organisasi pertemanan di sekolah bahkan oleh segenap jaringan persekolahan.
  3. Dengan bukti-bukti dan pengakuan tersebut seorang agen pembelajar cukup untuk dijadikan contoh berteman. Pola pertemanan anak demikian adalah tuntutan naluri kemanusiaan, yang merupakan basis jaringan belajar, dengan itu akan mengantarnya menjadi leader handal. Dalam hubungan ini ia memiliki learning line, garis prilaku belajar atau etos belajar mandiri. Sebuah gerak proses belajar yang memungkinkan anak bergerak bebas naik, turun bahkan melingkar (arrounding) kemanapun dalam batas-batas aturan belajar. Filosofi gerak jejaring melingkar ini memungkinkan pembelajar terus berekspresi diri dan belajar mencari pengalaman belajar paling efektif yang dibutuhkan demi menelusuri idealisme panjang menembus batas-batas individu dengan sinergi potensi keunggulan berbasis network.
  4. Seseorang SUKSES belajar, bukan hanya diukur dengan perolehan jenjang dan peringkat nilai pelajaran, jaringan pengikut pertemanan melainkan juga kepemimpinan yang akan teruji. Dia harus mampu menempatkan semua keberhasilan pada keutuhan yang seharusnya, seperti soal cara bagaimana dia belajar lalu untuk apa dia gunakan ilmu. Ini persoalan pertanggung-jawaban belajar, dan UJIAN adalah sekedar pertanggung jawaban sesaat. Adakah anak menumbuh-suburkan masa depan belajarnya, organisasi belajarnya dan alasan pertanggung-jawaban mengapa dia lakukan itu. Singkatnya karakteristik kepemimpinan anak akan banyak ditentukan oleh cara belajar dan akan mengantar pembelajar kepada keutuhan CITRA DIRI PEMIMPIN. Selanjutnya ciri kepemimpinan khas anak ini menjadi kekuatan ruh kepribadian yang kelak tiada pernah tergoyangkan oleh keadaan apapun, insya Allah, wa Allah a’lam bis-showaab. []
  • Sumber Tulisan dari Acara Syukuran Kelulusan SMP5 YK, 2008 dan cuplikan buku penulis berjudul Multi Level Learning, Bahagia Belajar Sepanjang Masa, 2009, Saroba, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: