DTur Change For All

Archive for Agustus 2010

Barangkali anggota tubuh terseksi adalah juga lidah kita. Dia pipih tak bertulang, namun aktif sekali dipergunakan untuk bersilat kata, berzikir, bercengkerama, menyanyi juga diskusi tentang banyak hal bersama orang lain maupun sendiri. Ya, kegiatan komunikasi sehari-hari kita selalu menggunakan lidah. Baik buruk tingkat hubungan pribadi banyak pula ditentukan olehnya, sebagaimana keterkaitan fungsinya dengan organ mulut serta bagaimana lidah digunakan, yaitu untuk berbicara dan cara ucapan bahasa melalui lidah itu tersampaikan.

Sebuah hadits menyuruh agar kita berbicara  baik dan  mengatakan sesuatu kebaikan atau jika tidak memungkinkan itu dilakukan, pilihannya lebih baik diam. Cerminan ajaran ini, bahwa lidah memiliki jangkauan tiada batas, berakibat sangat luas walau hanya terlahir dari ujaran dan ucapan. Aktifivitas lidah mampu menembus ruang dan waktu, mempererat persaudaraan sekaligus membuat hubungan sesama terganggu, menjalin tatanan kemasyarakatan dan bahkan kenegaraan. Itulah lokus sasaran hadits ‘sampaiakan suatu kebaikan walau satu ayat!’ memiliki tempat, agar sesuatu menjadi lebih tertata baik dan bukan malah berantakan setelah muncul sebuah pernyataan lidah. Dalam contoh tertentu, ucapan seorang Raja bisa memicu perang dan perintah pembunuhan… sungguh luar biasa..

Sebuah ayat di dalam QS 5:14berbunyi yuharrifuuna al-kalima ‘an mawadhi’ihi tentang lidah yang memutar balik arti dan pemahaman sehingga keluar dari tempatnya yaitu kebenaran; ada di ayat lain QS Al-Ma’idah bunyi ayat ke-41 …yuharrifuna al-kalima min ba’di mawaa’dhi’ih kurang lebih mengisyaratkan adanya lidah-lidah yang merusak tatanan harmoni dan sistem setelah semua tertata rapi. Sungguh fakta (kalimat) ini ada di tengah masyarakat kita saat ini, dan anehnya ukuran kebenaran dan baik-buruk menjadikan lidah bebas sebebasnya mengutarakannya seakan aturan berujar dan berpendapat telah menghalalkan lidah untuk bebas berekspresi. Masalahnya, sumber segala ujaran dan ucapan lidah tetaplah akal dan nurani yang membutuhkan tuntunan wahyu, sedangkan ruang waktu saat ini memungkinkan nafsu bergerak liar dari etika dan keimanan, na’uzu billahi min dzalik.

Statuta lidah dalam tulisan singkat ini sekedar catatan memori merujuk akun facebook penulis hari Kamis, 19.08.2010  pukul 10:00 am berbunyi: ‎’..penyeimbgn itu ialah LIDAH yg tajam tnpa tulang..pnembus tatanan kalimat..pngawal pperangan, so bicaralah baik or DiAM!’ mendapat Hide Feedback (51) seperti  Lilis Damayanti, Arif Teguh, Asmanih Mungil dan lain yang menyukai. Komentar antara lain dari Sita Maysita diam emas…bicara perak· Dijawab Andi Muhammad ‎..hehe..se7 Sit! stumbs@ ..ada teguran ayat bhw perusak hub n tatanan harmoni adalah lidah yg cenderung memutar  balik makna dan pemahaman.. ·

Komentar berseliweran dan kami angkatlah status baru berjudul STATUTA LIDAH KITA yang mendapat respon beberapa sahabat, antara lain yang penting berikut ini: Sohib Sejati lidah tiada fungsi sama sekali tnp adanya niat dlm hati yg berkolaborasi dg sist syaraf dan diteruskn ke otak.shg terucap sbg konsonan vokal yg trdgr. bahaya lidah,ataukah niat. orang bisu pun akn brbahaya meski tnp lidah yg brkata. krn ada niat.

    • Andi Muhammad ‎..itulah lidah pmantik sistem faal; smberny hub akal-nurani yg btuh tuntunan wahyu (iman) terlahir niat  jdi ujaran/langkah

    • Maghfirah Syekhan kdang tdk ada niat utk menyakiti dn bicara salah tp krena kceplosan jd berbicara kasar, salah, dsb.
      Klu sperti tu gmana tuh bpk2 ? Pdahal ga da niat ?


      Sohib Sejati karnanya mulai biasakn diri u brpikir sblm brtindak.shg trhindar dr ceplas ceplos.kcl, kritik pedas,srgkali hsl dr logika spontan dan itu prl.krn bebas rekayasa.

    • Maghfirah Syekhan Terima kasih, sngat brmanfaa.

    • Andi Muhammad magfirah@ iya..mari jaga lidah! sohib@ iya cak..kritik tetap dibtuhkan, hnya lidah ‘lillah’ santun pun disunnahkan lho..


      Sohib Sejati lidah umar bin khottob sgt pedas.sdgkn lidah ali,santun.keduanya kekasih nabi,jg Allaah. jd trgantung niat.smua dr niat. “Aku sebagaimana prasangka hambaKu”. prasangka,bkn prakata alias lidah.

    • Andi Muhammad ‎..prasgka/dhann beda dg niat.. bhw niat mentukan hasil, sdg prasgka hmba pdNYA tak brhub niat tpi PERSEPSinya ttg Allah


Sebuah Hadist shohih diriwayatkan berbunyi: “..di akhirat kelak mulut ditutup lalu paha-daging-tulang akan bersaksi..dikatakan padanya: “bicaralah!” HR Muslim-Abu Dawud

Sungguh cuplikan isi matan hadits qudsi diatas menggambarkan bagaimana kesaksian anggota badan manusia kelak pada hari Kiamat, amat relevan dengan bahasan bahwa keseluruh sistem faal tubuh dikendalikan oleh ruh yang membutuhkan persaksian nilai-nilai iman; Allah jua yang menggerakkan faal tubuh tersebut. Jangan sampai neraka dunia menghampiri manusia, manakala terdapat fakta di sekeliling ada manusia yang berHati namun tak memahami, berMata tak melihat, berTelinga tak mendengar..

Kok bisa hal ini terjadi pada orang yang sehat jasmani? Tidak adakah pertanda fisik dari perjalanan kesehatan tubuh yang mengharuskan manusia menggunakan AKAL untuk memahami makna sehat? Jika demikian, itu lebih rendah dari hewan. Sesungguhnya kisah ini nyata di sekeliling kita, seperti disindir QS  al-A’raf 179 karena mereka lupa diri (ingkar) dan enggan mnggunakan AKAL sehatnya..digambarkan ibaratnya mereka adalah seekor Anjing, dibawa tuannya dia menyalak, apalagi dia ditinggalkan akan semakin ribut..

Maka jiwa yang tenang adalah menyeimbangkan sistem faal itu manusia tersebut diatas dengan menjalankan sholat, banyak berzikir dan membaca kebesaran penciptaan terutama dari anggota tubuhnya sendiri. Sasaran pembicaraan tentang LIDAH dari dialog akun facebooker di bbbulan suci Ramadhan 1431H ini dimaksudkan agar hubungan pertemanan antar sesama menjadi kian membaik, karena tujuan penciptaan itu sendiri demi kebaikan kemanusiaan dan bukan sebaliknya. Hanya kembali kepada Allah SWT semata upaya manusia ini dipasrahkan. ***

Sumber gambar: dari akun album tetangga sebelah.. kecuali foto SABAK yang penulis ambil dari studi penyegaran pemanduan wisata HPI DIY bersama Dispar Kab Sleman di Museum Pendidikan Indonesia, UNY pada Juli 2010.

Iklan

Materi bahasan tentang Kitab suci Al-qur’an sungguh luas tiada habis dikupas, demikian pula jika seseorang muslim BERSUJUD sudi mengkaji tuntunan dan tuntutan meyakini wahyu Allah ini sebagai keharusan dan kebenaran. Sungguh gambar relief candi abad ke-8 ini banyak memberi makna baru, juga bagi pembaca ayat-ayat Allah SWT. Paling tidak terdapat lima tuntutan seorang muslim kepada kitabullah, sumber segala pandangan hidup ini;

Benarkah seseorang disini sedang bersujud.. kepada siapa.. Jika ditarik pada ruang waktu keberadaan Borobudur..menuntut kritik ajaran sejarah. Itulah mengapa muslim perlu membaca Al-Qur’an, sumber informasi utama dan petunjuk kronik kehidupan manusia. Muslim dituntut arif memahami ayat-ayat tersurat dan tersirat dari kalamullah ini. Tuntutan mencinta al-Qur’an; Mendidik dan memperbaiki jiwa dengan banyak membaca ayat-ayatnya (QS 2:121) dan berusaha memahami kandungan al-Qur’an (QS Muhammad 24); Tunduk dan mengajarkan hukum-hukum Allah yg terdapat di dalamnya, disebut dalam QS al-Ahzab 36; Mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur’an (QS 2:151) dan QS an-Nisa’ 65; serta menegakkan isi ajaran tersebut di muka bumi.

Sedangkan beberapa tuntunan petunjuk tentang bahaya seorang muslim jika melupakan atau meninggalkan al-Qur’an telah disebut beberapa bagian ayat di dalam wahyu induk segala Kitab ini, yakni adanya akibat buruk yang harus diterima;

Konsekwensi saat manusia melupakan isi ayat-ayat al-Qur’an (QS Thahaa 126); Manusia akan menemui kesempitan dan kesesakan (QS al-An’am 125); Mendapat kehidupan yang sempit (QS Thahaa 124); Memperoleh kebutaan pada mata hati (QS al-Hajj 46); Akan mengeras hatinya (QS al-Hadiid 16); Menjadi dhalim dan hina (QS Ali Imron 112); Menjadi teman sejati syaitan (az-Zukhruf 36); Menjadi lupa diri dan fasik (al-Hasyr 19); dan manusia akan memiliki sifat munafik, seperti disebut antara lain QS an-Nisa’ 61.

Semua muslim menghendaki keseimbangan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat, maka tuntuan diatas menjadi pengendali sekaligus peringatan bahwa mempelajari Kitab suci Al-Qur’an adalah keharusan serta kewajiban. Bahwa upaya memahami isi kanduangannya, berusaha mengamalkan ajarannya walau sebuah kebenaran ayat saja adalah kemuliaan yang tidak boleh ditawar apalagi karena alasan tertentu, melupakannya. Sungguh bahagia muslim yg hidupnya terkontrol kebenaran kalamullah ini, wa Allah a’lam Maha Benar Allah dengan segala firmanNYA. ***

Sumber Tulisan: Zaini Munir Fadholi, makalah Pengajian Tafsir Al-Munir Wahbah az-Zuhaili, YK., 10 Maret 2007. File gambar: pertama dari JPG facebooker, 4/2010; gambar kedua koleksi pribadi (awal th 2010) dari lantai 3 candi Borobudur; ketiga – keempat dari tetangga (Ramadhan 1431H).



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori