DTur Change For All

Archive for September 2010

Menjelang iedul fitri adalah penantian orang akan saudara karibnya, suasana berkumpulnya anggota keluarga dari sanaknya, bersatunya kembali kerabat yang tercerai oleh kesibukan dan waktu kerja. Masa-masa akhir tiap bulan Ramadhan bukan suasana i’tikaf yang menonjol di masjid-masjid atau penantian lailatul-qadar, malam seribu bulan, malah suasana silaturahim lain yang menggambarkan kerja iblis.

Ya, sua kebalikan yang terjadi, ironi perbuatan syetan menghampiri hati manusia justru menjauhkan amaliah Ramadhan dan menimbulkan suasana bertolak belakang di akhir Ramadhan. Orang ramai hilir mudik untuk berbelanja barang, pakaian dan makanan, siap-siap bercengkerama menemui keluarga di kampoeng. Mereka rela berlama di jalan, antri di kendaraan, berdesakan di pasar demi persiapan hari raya Iedul Fitri bersilaturahim dan bertemu kembali bersama sanak saudara.

SYAWALAN MEREKAT TALI SILATURAHIM

Hal yang positif bahwa, pada akhir puasa ini muncul pula penantian hadirnya 1 Syawwal dalam kalender hijriyah. Suasana khas muslimin Indonesia, bahwa orang merasa masuk ke dalam suasana syawalan. Saat-saat mereka terhubung kembali tali silaturahim dari kandungan rahim ibu yang sama dan ketika terleburnya urusan dunia kepada memori penciptaan yakni kebutuhan untuk mengenal kembali sosok-sosok saudara dari ibu kandungnya.

Saat syawalan dengan saling memaafkan adalah menginspirasi pribadi-pribadi untuk mampu terhubungkan kepada kondisi rohani mentauhidkan Sang Pencipta, yaitu rahim pemikiran bersama untuk hanya menuhankan Allah SWT. Bukankah sebelum terlahir dari rahim seorang ibu, kita sejatinya telah berjanji mengakui Allah SWT sebagai rabb penguasa alam semesta yang serba berkehendak kepada urusan manusia.

Menghubungkan tali rahim pemikiran fitri ini, penulis mengajak batin memori kita untuk teringat suasana dialog awal-awal penciptaan Adam AS., dimana syetan iblis bersumpah akan mengganggu orang-orang beriman hingga mereka lupa diri terjauh dari tuntunan kebenaran ilmu dan agama.

RAHIM PENCIPTAAN ADAM & IBLIS

Dialog mereka tertuang di dalam QS Shaad [38]:71-83.  Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sungguh akan Aku ciptakan manusia dari tanah.” Apabila Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya.” Lalu para malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan termasuk orang-orang yang kafir.

Ayat 75-76, Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa yang lebih tinggi?.” Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Perasaan lebih tinggi dari yang lain inilah yang kemudian ditanamkan kepada hati-hati manusia di dunia, agar mereka ikut serta bersama iblis merasakan hal yang sama.

Selanjutnya ayat 77-79 Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sungguh kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Disini kita mengetahui betapa Allah SWT Maha Pengasih memberi kebebasan kepada makhluk ciptaanNya, terserah dia menurut ikut saja atau melawan dan tidak sudi mengikuti tuntunan yang diajarkan.

Kasih Allah terlihat pada jawaban ayat 80-83, Dia berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi waktu tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Lalu iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. Yaitu orang-orang yang menuruti petunjuk ajaran agama.

Hal sama dijelaskan pada QS al-Hijr [15]:35-38; ‘‘dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” Berkata iblis: “Ya Tuhanku, kalau begitu, maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Iblis memohon agar dia tidak diazab dari sekarang melainkan diberikan kebebasan hidup sampai hari bangkit, yang telah ditentukan, yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.

Dialog diatas terekam dalam sejarah tak terbantahkan, namun tetap ada celah bagi syetan iblis untuk mengganggu manusia melalui jalan darah dan faham pemikiran bahkan cara apapun agar kita lalai. Hingga ingkar pada ajaran Nabi Muhammad saw, merusak tali pemahaman orang-orang yang berusaha mengikuti ajarannya. Syetan terus memasukkan faham lain, memunculkan ragu dan ingkar atas kebenaran hadits dan sunnah Rasul.

Ulasan pertentangan hati ini digambarkan QS al-Hijr [15]:12-13. Demikianlah, Kami masukkan rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu kedalam hati orang-orang kafir, mereka tidak beriman kepada Muhammad dan Al Quran. Sesungguhnya itulah sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu, dan itu terjadi hingga hari ini. Maksud sunnatullah di sini ialah kebiasaan mendustakan Rasul; kata-kata dan ucapan orang-orang kafir Mekah kepada Nabi s.a.w. sebagai ejekan.

Tali pemikiran kemanusiaan ini penting, demi utuhnya sikap pribadi muslim untuk percaya diri akan kebenaran al-Islam melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw, barulah kita bisa mengikuti pendapat para alim ulama atas perkara-perkara tertentu. Saat ini demikian gencar serbuan ilmu dan teknologi atas keimanan kita, hanya tali keyakinan islam yang kokoh akan menyelamatkan permainan akhir. Itulah makna silaturahim pemikiran di luar silaturahim fisik yang terkait dari budaya syawalan.

TALI RAHIM KETUHANAN

Kisah ini mengingatkan memori kita, bahwa Adam AS adalah sosok wakil Allah (khalifatullah) di bumi. Ternyata dialog penciptaan Adam AS tergambar saat Allah SWT telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (Allah), maka diperintahlah iblis agar tunduk dengan bersujud, menghormat kepadanya, tapi menolaknya dengan alasan tertentu. Penegasan ini diulang lagi pada surat lain, isinya sama bisikan syetan iblis untuk merusak tali silaturahim telah muncul dari dialog bersejarah ini, karena memang syetan iblis tercipta membangkang.

QS al-Hijr [15]:32-33. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Disini syetan membanggakan diri karena diciptakan dari api, sedang manusia dari tanah. Tentu ada rahasia Allah mengapa tanah lain jenis dari sifat api, bahwa amarah nafsu didorong iblis tidak taat pada perintah Allah SWT, itulah muasal kutukan.

Iblis juga mengulang pintanya tertera di ayat 39-40: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis yaitu orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT.

Pengulangan fakta sejarah penciptaan manusia terekam dari dialog dua Surat Al-Qur’an, Shaad dan Al-Hijr, hal ini mengingatkan kita kepada asal usul janji dan penciptaan seperti ingatan atas datangnya Iedul Fitri, hari-hari kemenangan atas hawa nafsu dan syawalan meningkatkan amal sholih. Sebuah ritus tali pemikiran, bahwa apapun milik kita sejatinya demi perbaikan kualitas hidup serta bekal penantian menuju kematian, maka indahkanlah hubungan tali silaturahim diantara kita semua. Wallahu a’lam. ***

Inspirasi Tulisan: Tadarrus bakda subuh di Wisma Sidikan 29 Ramadhan 1431 H bertepatan 08/09/2010. Gambar dari tetangga FB, 2010.

Iklan

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

QS al-Israa’ [17]:23.

Sebentar lagi hari raya ied fitri 1431 H.. saat umat islam berkumpul merayakan kemenangan fitri atas hawa nafsu…selayaknya kembali ke asal kita saling memaafkan antar sesama muslim, menjalin hubungan kasih sayang dalam berkeluarga, apalagi antara anak kepada orang tua, terutama berbuat baik kepada ibu bapak. Ayat diatas memerintah kita untuk mentauhidkan dzat Allah SWT dan berbakti pada kedua ibu bapak sebagai kewajiban yang berkait, sebagaimana kaitan antara syukur (berterima kasih) kepada orang tua dengan syukur kepada-Nya.

Perintah bersyukur kepada kedua pihak diatas dan yang saling terkait ini dipertegas lagi pada QS Lugman [31]: 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dikisahkan dalam shahih Bukhari bahwa Abdullah berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW, amal perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah SWT’? Nabi menjawab: ‘sholat tepat pada waktunya’. Aku bertanya, kemudian apa lagi, dijawabnya: ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya, lalu apa lagi? Nabi menjawab: ‘Jihad di jalan Allah!’

Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amal perbuatan paling utama di sisi Allah, kedudukannya di bawah sholat lima waktu yang merupakan tiang pokok agama Islam. Betapa posisi penghormatan ini bagi seorang muslim membawa dampak kokohnya bangunan ibadah yang luar biasa.

Di dalam tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Allah sering mengaitkan perintah beribadah kepadaNya dengan  perintah berbakti kepada orang tua dengan cara memperlakukan mereka secara baik sempurna. Ini sebab keduanya berkedudukan di bawah Allah SWT, sebab hakiki keberadaan manusia di dunia ini, adapun orang tua yang mendidik kita dengan cinta dan kasih saying. Karena itu sikap bakti kepada orang tua merupakan prilaku kasih kesetiaan hamba sekaligus kepada sang Pencipta.

Terdapat doa yang selalu diajarkan kepada kita sejak kecil; Wahai Tuhanku, kasihanilah ibu bapakku sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku di waktu kecil. Tersirat disini pendidikan dan kasih sayang orang tua belumlah cukup, masih dibutuhkan bantuan kasih sayang Allah agar menjadi kekal, menjadikan doa ini harapan sebagai balasan atas kasih sayang yang telah mereka berikan saat kita masih kecil.

Tidak diragukan lagi, bahwa tanggung jawab orang tua begitu besar kepada kita anak-anaknya, terutama ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusuin penuh kasih dan sayang dilengkapi peran ayah yang melindungi dan memberi nafkah. Berapa banyak ibu yang merasakan tubuhnya lemah, bebannya demikian berat akibat beratnya proses hamil dan persalinan. Hal in seperti digambarkan dalam QS al-Ahqaaf [46]: 15

‘‘Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.

Semua aktivitas dan proses pendidikan ini dikembalikan kepada kasih sayang Allah SWT semata; hanya kepada Allah tempat berserah diri serta semua itu bergantung dan bisa terjadi. Surat al-Ahqaaf ayat ke-15 ini berisikan pula kewajiban untuk mendokan orang tua oleh susahnya mendidik dan mengantar kita hingga dewasa;

Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ada banyak pengalaman masa kecil dan terngiang kembali saat-saat seperti sekarang ini kepada masing-masing diri kita, anda pembaca juga saya..tentang bagaimana ibu bapak dahulu menimang-nimang dan mengajarkan sesuatu, bahkan memarahi kita saat-saat tertentu. Beribu kisah canda dan tangis mewarnai proses pendidikan, manakala kita bermain dan bekerja hatta memasuki gerbang berkeluarga hingga beranak pinak. Semua file ingatan ini mengantar pada kesadaran bahwa berbakti kepada orang tua mutlak diwujudkan sesuai kapasitas kita masing-masing.

Inspirasi catatan akhir Ramadhan 1431H ini penulis ambil dari bab IV karya Fathi Muhammad Thahir (2006) berjudul Saadatul Abna’ fie Birr al-Ummahat wal Abaa’, semata ingin berbagi cerita mengingat bahwa ibu kandung saya kini telah renta menyepi di kampoeng. Sementara bakti kepada ayahanda tercinta telah terlewati setelah masa-masa prihatin selama 13 tahun keluar masuk rumah sakit oleh derita penyakit jantung akut yang lantas merenggutnya (2001). Ya Allah, karuniahilah kami kemampuan untuk bisa berbakti kepada ibunda, agar kami tetap istiqamah dalam beribadah kepadaMu serta mensyukuri nikmatMu.***

Gambar: dari tetangga sebelah (2010) dan koleksi foto bunga Lotus 2008.



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori