DTur Change For All

BHAKTI ORANG TUA

Posted on: September 4, 2010

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

QS al-Israa’ [17]:23.

Sebentar lagi hari raya ied fitri 1431 H.. saat umat islam berkumpul merayakan kemenangan fitri atas hawa nafsu…selayaknya kembali ke asal kita saling memaafkan antar sesama muslim, menjalin hubungan kasih sayang dalam berkeluarga, apalagi antara anak kepada orang tua, terutama berbuat baik kepada ibu bapak. Ayat diatas memerintah kita untuk mentauhidkan dzat Allah SWT dan berbakti pada kedua ibu bapak sebagai kewajiban yang berkait, sebagaimana kaitan antara syukur (berterima kasih) kepada orang tua dengan syukur kepada-Nya.

Perintah bersyukur kepada kedua pihak diatas dan yang saling terkait ini dipertegas lagi pada QS Lugman [31]: 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dikisahkan dalam shahih Bukhari bahwa Abdullah berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW, amal perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah SWT’? Nabi menjawab: ‘sholat tepat pada waktunya’. Aku bertanya, kemudian apa lagi, dijawabnya: ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya, lalu apa lagi? Nabi menjawab: ‘Jihad di jalan Allah!’

Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amal perbuatan paling utama di sisi Allah, kedudukannya di bawah sholat lima waktu yang merupakan tiang pokok agama Islam. Betapa posisi penghormatan ini bagi seorang muslim membawa dampak kokohnya bangunan ibadah yang luar biasa.

Di dalam tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Allah sering mengaitkan perintah beribadah kepadaNya dengan  perintah berbakti kepada orang tua dengan cara memperlakukan mereka secara baik sempurna. Ini sebab keduanya berkedudukan di bawah Allah SWT, sebab hakiki keberadaan manusia di dunia ini, adapun orang tua yang mendidik kita dengan cinta dan kasih saying. Karena itu sikap bakti kepada orang tua merupakan prilaku kasih kesetiaan hamba sekaligus kepada sang Pencipta.

Terdapat doa yang selalu diajarkan kepada kita sejak kecil; Wahai Tuhanku, kasihanilah ibu bapakku sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku di waktu kecil. Tersirat disini pendidikan dan kasih sayang orang tua belumlah cukup, masih dibutuhkan bantuan kasih sayang Allah agar menjadi kekal, menjadikan doa ini harapan sebagai balasan atas kasih sayang yang telah mereka berikan saat kita masih kecil.

Tidak diragukan lagi, bahwa tanggung jawab orang tua begitu besar kepada kita anak-anaknya, terutama ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusuin penuh kasih dan sayang dilengkapi peran ayah yang melindungi dan memberi nafkah. Berapa banyak ibu yang merasakan tubuhnya lemah, bebannya demikian berat akibat beratnya proses hamil dan persalinan. Hal in seperti digambarkan dalam QS al-Ahqaaf [46]: 15

‘‘Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.

Semua aktivitas dan proses pendidikan ini dikembalikan kepada kasih sayang Allah SWT semata; hanya kepada Allah tempat berserah diri serta semua itu bergantung dan bisa terjadi. Surat al-Ahqaaf ayat ke-15 ini berisikan pula kewajiban untuk mendokan orang tua oleh susahnya mendidik dan mengantar kita hingga dewasa;

Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ada banyak pengalaman masa kecil dan terngiang kembali saat-saat seperti sekarang ini kepada masing-masing diri kita, anda pembaca juga saya..tentang bagaimana ibu bapak dahulu menimang-nimang dan mengajarkan sesuatu, bahkan memarahi kita saat-saat tertentu. Beribu kisah canda dan tangis mewarnai proses pendidikan, manakala kita bermain dan bekerja hatta memasuki gerbang berkeluarga hingga beranak pinak. Semua file ingatan ini mengantar pada kesadaran bahwa berbakti kepada orang tua mutlak diwujudkan sesuai kapasitas kita masing-masing.

Inspirasi catatan akhir Ramadhan 1431H ini penulis ambil dari bab IV karya Fathi Muhammad Thahir (2006) berjudul Saadatul Abna’ fie Birr al-Ummahat wal Abaa’, semata ingin berbagi cerita mengingat bahwa ibu kandung saya kini telah renta menyepi di kampoeng. Sementara bakti kepada ayahanda tercinta telah terlewati setelah masa-masa prihatin selama 13 tahun keluar masuk rumah sakit oleh derita penyakit jantung akut yang lantas merenggutnya (2001). Ya Allah, karuniahilah kami kemampuan untuk bisa berbakti kepada ibunda, agar kami tetap istiqamah dalam beribadah kepadaMu serta mensyukuri nikmatMu.***

Gambar: dari tetangga sebelah (2010) dan koleksi foto bunga Lotus 2008.

1 Response to "BHAKTI ORANG TUA"

tulisan baguss..i like it. selamat sungkem pd ibunda tercinta di kampoeng..! hati2 di jalan ya pak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: