DTur Change For All

HARI PENGORBANAN

Posted on: November 16, 2010

Makna pengorbanan selalu merujuk tapak tilas kisah klasik perintah penyembelihan Ismail oleh Ayahandanya sendiri yaitu Nabi Ibrahim AS yang hidup awal Millennium – 2 SM. Peringatan pentingnya ketaatan atas perintah wahyu Tuhan ini sangat berat bagi diri Ibrahim, namun sang Anak malah ikhlas mengajukan syarat; agar mempertajam pisau penyembelihan, menutup wajahnya dengan kain serta menyerahkan baju yang penuh darah kepada Ibunda Hajar.

 

Secara dramatik Allah SWT mengganti kurban seorang anak yang taat ini dengan seekor domba gemuk yang mulus, anak bapak ini tersungkur sujud bertasbih dan bertakbir membesarkan karunia besar di hari pengorbanan. Inilah yang kemudian diikuti perintah sholat kepada penerus Ibrahim AS yaitu Nabi Muhammad SAW (570-632M) agar ditegakkan umat Islam hingga akhir zaman nanti. Keterkaitan perintah dengan amar ketaatan yang membuahkan hasil positif tak terhingga, namun juga tersedianya balazan azab bagi pembangkang yang takabur atas perintahNya.

 

Printah diatas diperjelas sebuah Hadits, barang siapa mendirikan sholat artinya dia menegakkan agama, siapa meninggalkannya meruntuhkan agama, karena sholat berfungsi 10 hal bagi pelakunya. Yakni ketaatan ibadah kepada Allah SWT, pembersihan wajah, menerangi cahaya hati, kesehatan gerak badan, pembuka turunnya rizki, perekat sosial masyarakat, membuka pintu surga dan menjauhkan diri pelaku sholat dari neraka.

 

Makna pengorbanan diperingati Muhammad SAW hingga akhir zaman adalah berkurban selalu mendekatkan diri padaNYA melalui ketaatan penyembelihan hewan kurban, menegakkan sholat lima waktu, pembersihan atas hawa nafsu, pendekatan diri dengan bhakti kemanusiaan dengan berbagi (zakat-infaq-shodaqah). Saat ini kerkumpul 2juta muslimin lebih di Padang Arafah mendekatkan diri juga memperingati perintah pengorbanan Ibrahim AS., memenuhi panggilan ketaatan manusia pada Pencipta dalam meraih kesucian.

 

Dalam suasana zaman modern penuh budaya konsumeristik saat ini, peringatan pengorbanan melintasi ruang waktu kita berdiri dengan merujuk fakta sejarah, karena hanya dg demikianlah perbaikan kualitas hidup terlacak. Upaya reflektif kesejarahan diatas bisa dengan mendalami amaliah rukun haji, berjihad menyeru kebaikan menegakkan kalimat tawhid kepada Rabb al-Jaliel. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: