DTur Change For All

WAKTU HARAM

Posted on: Desember 10, 2010

Orang beriman dan yang berhijrah

serta berjihad di jalan Allah dengan harta,

benda dan diri mereka,

adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah;

dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

QS At-Taubah [9]:20

 

 

Masih disini, ayat lain Allah peringatkan agar mu’min menjaga kualitas amal perbuatan terutama dalam bulan-bulan Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Bahwa menjalani kebaikan ataupun keburukan di dalam empat bulan haram ini memiliki risiko lebih dari delapan bulan lain selama setahun. Lokus menjalani prestasi amal baik buruk inipun berbeda antara melakukannya di Tanah Haram dengan tempat lain di dunia, sholat di Masjid al-Haram berbeda nilainya dari masjid-masjid manapun.

 

 

Ada catatan tentang ruang dan waktu bahwa seorang mu’min perlu melakukan hijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari kemiskinan ke kekayaan, dari sikap minta-minta menjadi welas asih dan pemurah, dari kebiasaan bermalas-malas jadi penuh gairah semangat termasuk dalam kebiasaan beribadah, khususnya sholat berjamaah. Demikian halnya perbuatan itu melintasi waktu yang sekarang maupun untuk yang akan datang, bahwa berhijrah adalah proses perubahan dan pembelajaran yang sebaiknya berlaku kapanpun demi kemanusiaan yang diisyaratkan sebagai Wakil Tuhan di bumi.

 

 

Layak pula direnungkan untuk berubah dan belajar menjadi baik tersebut perlu berjihad. Manusia butuh menggunakan panca indera dengan sarana kehidupan yang dianugrahkan Allah berupa kesehatan fisik, usia, kepandaian, harta benda dan kesempatan waktu sebaik mungkin. Makna pembelajaran disini yaitu memaksimalkan anugerah hidup menjadi lebih bernilai dan bermanfaat dalam rangka pendakian pribadi Muslim yang unggul, caranya yaitu mempercayai rambu-rambu kebenaran yang diisyaratkan ajaran Al-Qur’an dan tuntuan Hadits Rasulullah Muhammad S.A.W.

 

 

Etika menggunakan panca indera yang dituntunkan misalnya, bahwa tak semua yang bisa dilihat mata itu layak untuk dilihat seorang Muslim. Tak semua yang telah didengar itu boleh dikabarkan, halal disampaikan atau tak semua makanan halal untuk dimakan dan seterusnya. Batasan halal & haram telah jelas bagi Muslim dari waktu ke waktu, dimanapun kita berada. Kualifikasi tindakan yang terkontrol berdasar tuntunan rambu kebenaran itulah seharusnya manusia bersikap dan bertindak, bertahap menjadi lebih baik dengan meyakini dan menjalani tuntunan as-Sunnah tersebut diatas menjadi pribadi Mu’min.

 

 

Maka sisa waktu akan menyadarkan, bahwa tak semua barang dan jasa halal direngkuh menjadi hak dan milik kita, pasti akan ada yang terlarang dan Mu’min tidak boleh memiliki disini ataupun nanti disana. Pertanyaan waktu haram adalah Pengendalian Diri agar yang kita makan hanya yang halal, yang dilihat mata adalah yang halal, yang didengar telinga itu yang halal dan seterusnya. Siapa beramal baik penuh jihad sungguh-sungguh, dia akan raih kemenangan dan derajat lebih tinggi di sisi Allah.

 

 

Semoga kita semua dirahmatiNYA dengan hidayah, pencerahan pikiran, keteguhan hati dan kebenaran langkah menuju kebiasaan pribadi yang mu’min dan mukhlis di waktu kini, mendatang dimanapun kita berada.. Amin ya Rabb. ***

 

 

Sumber tulisan: dari khutbah Jum’at 10.12.2010 di Masjid Al-Furqan Nitikan Yogyakarta oleh Ustadz Ridwan Hamidi, http://www.ustadzridwan.com Penulis: Andi Muhammad andimhd@gmail.com Jznallah ahsan al-jaza’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori

%d blogger menyukai ini: