DTur Change For All

Archive for the ‘1’ Category

Orang beriman dan yang berhijrah

serta berjihad di jalan Allah dengan harta,

benda dan diri mereka,

adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah;

dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

QS At-Taubah [9]:20

 

 

Masih disini, ayat lain Allah peringatkan agar mu’min menjaga kualitas amal perbuatan terutama dalam bulan-bulan Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Bahwa menjalani kebaikan ataupun keburukan di dalam empat bulan haram ini memiliki risiko lebih dari delapan bulan lain selama setahun. Lokus menjalani prestasi amal baik buruk inipun berbeda antara melakukannya di Tanah Haram dengan tempat lain di dunia, sholat di Masjid al-Haram berbeda nilainya dari masjid-masjid manapun.

 

 

Ada catatan tentang ruang dan waktu bahwa seorang mu’min perlu melakukan hijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari kemiskinan ke kekayaan, dari sikap minta-minta menjadi welas asih dan pemurah, dari kebiasaan bermalas-malas jadi penuh gairah semangat termasuk dalam kebiasaan beribadah, khususnya sholat berjamaah. Demikian halnya perbuatan itu melintasi waktu yang sekarang maupun untuk yang akan datang, bahwa berhijrah adalah proses perubahan dan pembelajaran yang sebaiknya berlaku kapanpun demi kemanusiaan yang diisyaratkan sebagai Wakil Tuhan di bumi.

 

 

Layak pula direnungkan untuk berubah dan belajar menjadi baik tersebut perlu berjihad. Manusia butuh menggunakan panca indera dengan sarana kehidupan yang dianugrahkan Allah berupa kesehatan fisik, usia, kepandaian, harta benda dan kesempatan waktu sebaik mungkin. Makna pembelajaran disini yaitu memaksimalkan anugerah hidup menjadi lebih bernilai dan bermanfaat dalam rangka pendakian pribadi Muslim yang unggul, caranya yaitu mempercayai rambu-rambu kebenaran yang diisyaratkan ajaran Al-Qur’an dan tuntuan Hadits Rasulullah Muhammad S.A.W.

 

 

Etika menggunakan panca indera yang dituntunkan misalnya, bahwa tak semua yang bisa dilihat mata itu layak untuk dilihat seorang Muslim. Tak semua yang telah didengar itu boleh dikabarkan, halal disampaikan atau tak semua makanan halal untuk dimakan dan seterusnya. Batasan halal & haram telah jelas bagi Muslim dari waktu ke waktu, dimanapun kita berada. Kualifikasi tindakan yang terkontrol berdasar tuntunan rambu kebenaran itulah seharusnya manusia bersikap dan bertindak, bertahap menjadi lebih baik dengan meyakini dan menjalani tuntunan as-Sunnah tersebut diatas menjadi pribadi Mu’min.

 

 

Maka sisa waktu akan menyadarkan, bahwa tak semua barang dan jasa halal direngkuh menjadi hak dan milik kita, pasti akan ada yang terlarang dan Mu’min tidak boleh memiliki disini ataupun nanti disana. Pertanyaan waktu haram adalah Pengendalian Diri agar yang kita makan hanya yang halal, yang dilihat mata adalah yang halal, yang didengar telinga itu yang halal dan seterusnya. Siapa beramal baik penuh jihad sungguh-sungguh, dia akan raih kemenangan dan derajat lebih tinggi di sisi Allah.

 

 

Semoga kita semua dirahmatiNYA dengan hidayah, pencerahan pikiran, keteguhan hati dan kebenaran langkah menuju kebiasaan pribadi yang mu’min dan mukhlis di waktu kini, mendatang dimanapun kita berada.. Amin ya Rabb. ***

 

 

Sumber tulisan: dari khutbah Jum’at 10.12.2010 di Masjid Al-Furqan Nitikan Yogyakarta oleh Ustadz Ridwan Hamidi, http://www.ustadzridwan.com Penulis: Andi Muhammad andimhd@gmail.com Jznallah ahsan al-jaza’.

Iklan

Menjelang iedul fitri adalah penantian orang akan saudara karibnya, suasana berkumpulnya anggota keluarga dari sanaknya, bersatunya kembali kerabat yang tercerai oleh kesibukan dan waktu kerja. Masa-masa akhir tiap bulan Ramadhan bukan suasana i’tikaf yang menonjol di masjid-masjid atau penantian lailatul-qadar, malam seribu bulan, malah suasana silaturahim lain yang menggambarkan kerja iblis.

Ya, sua kebalikan yang terjadi, ironi perbuatan syetan menghampiri hati manusia justru menjauhkan amaliah Ramadhan dan menimbulkan suasana bertolak belakang di akhir Ramadhan. Orang ramai hilir mudik untuk berbelanja barang, pakaian dan makanan, siap-siap bercengkerama menemui keluarga di kampoeng. Mereka rela berlama di jalan, antri di kendaraan, berdesakan di pasar demi persiapan hari raya Iedul Fitri bersilaturahim dan bertemu kembali bersama sanak saudara.

SYAWALAN MEREKAT TALI SILATURAHIM

Hal yang positif bahwa, pada akhir puasa ini muncul pula penantian hadirnya 1 Syawwal dalam kalender hijriyah. Suasana khas muslimin Indonesia, bahwa orang merasa masuk ke dalam suasana syawalan. Saat-saat mereka terhubung kembali tali silaturahim dari kandungan rahim ibu yang sama dan ketika terleburnya urusan dunia kepada memori penciptaan yakni kebutuhan untuk mengenal kembali sosok-sosok saudara dari ibu kandungnya.

Saat syawalan dengan saling memaafkan adalah menginspirasi pribadi-pribadi untuk mampu terhubungkan kepada kondisi rohani mentauhidkan Sang Pencipta, yaitu rahim pemikiran bersama untuk hanya menuhankan Allah SWT. Bukankah sebelum terlahir dari rahim seorang ibu, kita sejatinya telah berjanji mengakui Allah SWT sebagai rabb penguasa alam semesta yang serba berkehendak kepada urusan manusia.

Menghubungkan tali rahim pemikiran fitri ini, penulis mengajak batin memori kita untuk teringat suasana dialog awal-awal penciptaan Adam AS., dimana syetan iblis bersumpah akan mengganggu orang-orang beriman hingga mereka lupa diri terjauh dari tuntunan kebenaran ilmu dan agama.

RAHIM PENCIPTAAN ADAM & IBLIS

Dialog mereka tertuang di dalam QS Shaad [38]:71-83.  Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sungguh akan Aku ciptakan manusia dari tanah.” Apabila Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya.” Lalu para malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan termasuk orang-orang yang kafir.

Ayat 75-76, Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa yang lebih tinggi?.” Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Perasaan lebih tinggi dari yang lain inilah yang kemudian ditanamkan kepada hati-hati manusia di dunia, agar mereka ikut serta bersama iblis merasakan hal yang sama.

Selanjutnya ayat 77-79 Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sungguh kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Disini kita mengetahui betapa Allah SWT Maha Pengasih memberi kebebasan kepada makhluk ciptaanNya, terserah dia menurut ikut saja atau melawan dan tidak sudi mengikuti tuntunan yang diajarkan.

Kasih Allah terlihat pada jawaban ayat 80-83, Dia berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi waktu tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Lalu iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. Yaitu orang-orang yang menuruti petunjuk ajaran agama.

Hal sama dijelaskan pada QS al-Hijr [15]:35-38; ‘‘dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” Berkata iblis: “Ya Tuhanku, kalau begitu, maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Iblis memohon agar dia tidak diazab dari sekarang melainkan diberikan kebebasan hidup sampai hari bangkit, yang telah ditentukan, yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.

Dialog diatas terekam dalam sejarah tak terbantahkan, namun tetap ada celah bagi syetan iblis untuk mengganggu manusia melalui jalan darah dan faham pemikiran bahkan cara apapun agar kita lalai. Hingga ingkar pada ajaran Nabi Muhammad saw, merusak tali pemahaman orang-orang yang berusaha mengikuti ajarannya. Syetan terus memasukkan faham lain, memunculkan ragu dan ingkar atas kebenaran hadits dan sunnah Rasul.

Ulasan pertentangan hati ini digambarkan QS al-Hijr [15]:12-13. Demikianlah, Kami masukkan rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu kedalam hati orang-orang kafir, mereka tidak beriman kepada Muhammad dan Al Quran. Sesungguhnya itulah sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu, dan itu terjadi hingga hari ini. Maksud sunnatullah di sini ialah kebiasaan mendustakan Rasul; kata-kata dan ucapan orang-orang kafir Mekah kepada Nabi s.a.w. sebagai ejekan.

Tali pemikiran kemanusiaan ini penting, demi utuhnya sikap pribadi muslim untuk percaya diri akan kebenaran al-Islam melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw, barulah kita bisa mengikuti pendapat para alim ulama atas perkara-perkara tertentu. Saat ini demikian gencar serbuan ilmu dan teknologi atas keimanan kita, hanya tali keyakinan islam yang kokoh akan menyelamatkan permainan akhir. Itulah makna silaturahim pemikiran di luar silaturahim fisik yang terkait dari budaya syawalan.

TALI RAHIM KETUHANAN

Kisah ini mengingatkan memori kita, bahwa Adam AS adalah sosok wakil Allah (khalifatullah) di bumi. Ternyata dialog penciptaan Adam AS tergambar saat Allah SWT telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (Allah), maka diperintahlah iblis agar tunduk dengan bersujud, menghormat kepadanya, tapi menolaknya dengan alasan tertentu. Penegasan ini diulang lagi pada surat lain, isinya sama bisikan syetan iblis untuk merusak tali silaturahim telah muncul dari dialog bersejarah ini, karena memang syetan iblis tercipta membangkang.

QS al-Hijr [15]:32-33. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Disini syetan membanggakan diri karena diciptakan dari api, sedang manusia dari tanah. Tentu ada rahasia Allah mengapa tanah lain jenis dari sifat api, bahwa amarah nafsu didorong iblis tidak taat pada perintah Allah SWT, itulah muasal kutukan.

Iblis juga mengulang pintanya tertera di ayat 39-40: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis yaitu orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT.

Pengulangan fakta sejarah penciptaan manusia terekam dari dialog dua Surat Al-Qur’an, Shaad dan Al-Hijr, hal ini mengingatkan kita kepada asal usul janji dan penciptaan seperti ingatan atas datangnya Iedul Fitri, hari-hari kemenangan atas hawa nafsu dan syawalan meningkatkan amal sholih. Sebuah ritus tali pemikiran, bahwa apapun milik kita sejatinya demi perbaikan kualitas hidup serta bekal penantian menuju kematian, maka indahkanlah hubungan tali silaturahim diantara kita semua. Wallahu a’lam. ***

Inspirasi Tulisan: Tadarrus bakda subuh di Wisma Sidikan 29 Ramadhan 1431 H bertepatan 08/09/2010. Gambar dari tetangga FB, 2010.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

QS al-Israa’ [17]:23.

Sebentar lagi hari raya ied fitri 1431 H.. saat umat islam berkumpul merayakan kemenangan fitri atas hawa nafsu…selayaknya kembali ke asal kita saling memaafkan antar sesama muslim, menjalin hubungan kasih sayang dalam berkeluarga, apalagi antara anak kepada orang tua, terutama berbuat baik kepada ibu bapak. Ayat diatas memerintah kita untuk mentauhidkan dzat Allah SWT dan berbakti pada kedua ibu bapak sebagai kewajiban yang berkait, sebagaimana kaitan antara syukur (berterima kasih) kepada orang tua dengan syukur kepada-Nya.

Perintah bersyukur kepada kedua pihak diatas dan yang saling terkait ini dipertegas lagi pada QS Lugman [31]: 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dikisahkan dalam shahih Bukhari bahwa Abdullah berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW, amal perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah SWT’? Nabi menjawab: ‘sholat tepat pada waktunya’. Aku bertanya, kemudian apa lagi, dijawabnya: ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya, lalu apa lagi? Nabi menjawab: ‘Jihad di jalan Allah!’

Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amal perbuatan paling utama di sisi Allah, kedudukannya di bawah sholat lima waktu yang merupakan tiang pokok agama Islam. Betapa posisi penghormatan ini bagi seorang muslim membawa dampak kokohnya bangunan ibadah yang luar biasa.

Di dalam tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Allah sering mengaitkan perintah beribadah kepadaNya dengan  perintah berbakti kepada orang tua dengan cara memperlakukan mereka secara baik sempurna. Ini sebab keduanya berkedudukan di bawah Allah SWT, sebab hakiki keberadaan manusia di dunia ini, adapun orang tua yang mendidik kita dengan cinta dan kasih saying. Karena itu sikap bakti kepada orang tua merupakan prilaku kasih kesetiaan hamba sekaligus kepada sang Pencipta.

Terdapat doa yang selalu diajarkan kepada kita sejak kecil; Wahai Tuhanku, kasihanilah ibu bapakku sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku di waktu kecil. Tersirat disini pendidikan dan kasih sayang orang tua belumlah cukup, masih dibutuhkan bantuan kasih sayang Allah agar menjadi kekal, menjadikan doa ini harapan sebagai balasan atas kasih sayang yang telah mereka berikan saat kita masih kecil.

Tidak diragukan lagi, bahwa tanggung jawab orang tua begitu besar kepada kita anak-anaknya, terutama ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusuin penuh kasih dan sayang dilengkapi peran ayah yang melindungi dan memberi nafkah. Berapa banyak ibu yang merasakan tubuhnya lemah, bebannya demikian berat akibat beratnya proses hamil dan persalinan. Hal in seperti digambarkan dalam QS al-Ahqaaf [46]: 15

‘‘Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.

Semua aktivitas dan proses pendidikan ini dikembalikan kepada kasih sayang Allah SWT semata; hanya kepada Allah tempat berserah diri serta semua itu bergantung dan bisa terjadi. Surat al-Ahqaaf ayat ke-15 ini berisikan pula kewajiban untuk mendokan orang tua oleh susahnya mendidik dan mengantar kita hingga dewasa;

Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ada banyak pengalaman masa kecil dan terngiang kembali saat-saat seperti sekarang ini kepada masing-masing diri kita, anda pembaca juga saya..tentang bagaimana ibu bapak dahulu menimang-nimang dan mengajarkan sesuatu, bahkan memarahi kita saat-saat tertentu. Beribu kisah canda dan tangis mewarnai proses pendidikan, manakala kita bermain dan bekerja hatta memasuki gerbang berkeluarga hingga beranak pinak. Semua file ingatan ini mengantar pada kesadaran bahwa berbakti kepada orang tua mutlak diwujudkan sesuai kapasitas kita masing-masing.

Inspirasi catatan akhir Ramadhan 1431H ini penulis ambil dari bab IV karya Fathi Muhammad Thahir (2006) berjudul Saadatul Abna’ fie Birr al-Ummahat wal Abaa’, semata ingin berbagi cerita mengingat bahwa ibu kandung saya kini telah renta menyepi di kampoeng. Sementara bakti kepada ayahanda tercinta telah terlewati setelah masa-masa prihatin selama 13 tahun keluar masuk rumah sakit oleh derita penyakit jantung akut yang lantas merenggutnya (2001). Ya Allah, karuniahilah kami kemampuan untuk bisa berbakti kepada ibunda, agar kami tetap istiqamah dalam beribadah kepadaMu serta mensyukuri nikmatMu.***

Gambar: dari tetangga sebelah (2010) dan koleksi foto bunga Lotus 2008.

Barangkali anggota tubuh terseksi adalah juga lidah kita. Dia pipih tak bertulang, namun aktif sekali dipergunakan untuk bersilat kata, berzikir, bercengkerama, menyanyi juga diskusi tentang banyak hal bersama orang lain maupun sendiri. Ya, kegiatan komunikasi sehari-hari kita selalu menggunakan lidah. Baik buruk tingkat hubungan pribadi banyak pula ditentukan olehnya, sebagaimana keterkaitan fungsinya dengan organ mulut serta bagaimana lidah digunakan, yaitu untuk berbicara dan cara ucapan bahasa melalui lidah itu tersampaikan.

Sebuah hadits menyuruh agar kita berbicara  baik dan  mengatakan sesuatu kebaikan atau jika tidak memungkinkan itu dilakukan, pilihannya lebih baik diam. Cerminan ajaran ini, bahwa lidah memiliki jangkauan tiada batas, berakibat sangat luas walau hanya terlahir dari ujaran dan ucapan. Aktifivitas lidah mampu menembus ruang dan waktu, mempererat persaudaraan sekaligus membuat hubungan sesama terganggu, menjalin tatanan kemasyarakatan dan bahkan kenegaraan. Itulah lokus sasaran hadits ‘sampaiakan suatu kebaikan walau satu ayat!’ memiliki tempat, agar sesuatu menjadi lebih tertata baik dan bukan malah berantakan setelah muncul sebuah pernyataan lidah. Dalam contoh tertentu, ucapan seorang Raja bisa memicu perang dan perintah pembunuhan… sungguh luar biasa..

Sebuah ayat di dalam QS 5:14berbunyi yuharrifuuna al-kalima ‘an mawadhi’ihi tentang lidah yang memutar balik arti dan pemahaman sehingga keluar dari tempatnya yaitu kebenaran; ada di ayat lain QS Al-Ma’idah bunyi ayat ke-41 …yuharrifuna al-kalima min ba’di mawaa’dhi’ih kurang lebih mengisyaratkan adanya lidah-lidah yang merusak tatanan harmoni dan sistem setelah semua tertata rapi. Sungguh fakta (kalimat) ini ada di tengah masyarakat kita saat ini, dan anehnya ukuran kebenaran dan baik-buruk menjadikan lidah bebas sebebasnya mengutarakannya seakan aturan berujar dan berpendapat telah menghalalkan lidah untuk bebas berekspresi. Masalahnya, sumber segala ujaran dan ucapan lidah tetaplah akal dan nurani yang membutuhkan tuntunan wahyu, sedangkan ruang waktu saat ini memungkinkan nafsu bergerak liar dari etika dan keimanan, na’uzu billahi min dzalik.

Statuta lidah dalam tulisan singkat ini sekedar catatan memori merujuk akun facebook penulis hari Kamis, 19.08.2010  pukul 10:00 am berbunyi: ‎’..penyeimbgn itu ialah LIDAH yg tajam tnpa tulang..pnembus tatanan kalimat..pngawal pperangan, so bicaralah baik or DiAM!’ mendapat Hide Feedback (51) seperti  Lilis Damayanti, Arif Teguh, Asmanih Mungil dan lain yang menyukai. Komentar antara lain dari Sita Maysita diam emas…bicara perak· Dijawab Andi Muhammad ‎..hehe..se7 Sit! stumbs@ ..ada teguran ayat bhw perusak hub n tatanan harmoni adalah lidah yg cenderung memutar  balik makna dan pemahaman.. ·

Komentar berseliweran dan kami angkatlah status baru berjudul STATUTA LIDAH KITA yang mendapat respon beberapa sahabat, antara lain yang penting berikut ini: Sohib Sejati lidah tiada fungsi sama sekali tnp adanya niat dlm hati yg berkolaborasi dg sist syaraf dan diteruskn ke otak.shg terucap sbg konsonan vokal yg trdgr. bahaya lidah,ataukah niat. orang bisu pun akn brbahaya meski tnp lidah yg brkata. krn ada niat.

    • Andi Muhammad ‎..itulah lidah pmantik sistem faal; smberny hub akal-nurani yg btuh tuntunan wahyu (iman) terlahir niat  jdi ujaran/langkah

    • Maghfirah Syekhan kdang tdk ada niat utk menyakiti dn bicara salah tp krena kceplosan jd berbicara kasar, salah, dsb.
      Klu sperti tu gmana tuh bpk2 ? Pdahal ga da niat ?


      Sohib Sejati karnanya mulai biasakn diri u brpikir sblm brtindak.shg trhindar dr ceplas ceplos.kcl, kritik pedas,srgkali hsl dr logika spontan dan itu prl.krn bebas rekayasa.

    • Maghfirah Syekhan Terima kasih, sngat brmanfaa.

    • Andi Muhammad magfirah@ iya..mari jaga lidah! sohib@ iya cak..kritik tetap dibtuhkan, hnya lidah ‘lillah’ santun pun disunnahkan lho..


      Sohib Sejati lidah umar bin khottob sgt pedas.sdgkn lidah ali,santun.keduanya kekasih nabi,jg Allaah. jd trgantung niat.smua dr niat. “Aku sebagaimana prasangka hambaKu”. prasangka,bkn prakata alias lidah.

    • Andi Muhammad ‎..prasgka/dhann beda dg niat.. bhw niat mentukan hasil, sdg prasgka hmba pdNYA tak brhub niat tpi PERSEPSinya ttg Allah


Sebuah Hadist shohih diriwayatkan berbunyi: “..di akhirat kelak mulut ditutup lalu paha-daging-tulang akan bersaksi..dikatakan padanya: “bicaralah!” HR Muslim-Abu Dawud

Sungguh cuplikan isi matan hadits qudsi diatas menggambarkan bagaimana kesaksian anggota badan manusia kelak pada hari Kiamat, amat relevan dengan bahasan bahwa keseluruh sistem faal tubuh dikendalikan oleh ruh yang membutuhkan persaksian nilai-nilai iman; Allah jua yang menggerakkan faal tubuh tersebut. Jangan sampai neraka dunia menghampiri manusia, manakala terdapat fakta di sekeliling ada manusia yang berHati namun tak memahami, berMata tak melihat, berTelinga tak mendengar..

Kok bisa hal ini terjadi pada orang yang sehat jasmani? Tidak adakah pertanda fisik dari perjalanan kesehatan tubuh yang mengharuskan manusia menggunakan AKAL untuk memahami makna sehat? Jika demikian, itu lebih rendah dari hewan. Sesungguhnya kisah ini nyata di sekeliling kita, seperti disindir QS  al-A’raf 179 karena mereka lupa diri (ingkar) dan enggan mnggunakan AKAL sehatnya..digambarkan ibaratnya mereka adalah seekor Anjing, dibawa tuannya dia menyalak, apalagi dia ditinggalkan akan semakin ribut..

Maka jiwa yang tenang adalah menyeimbangkan sistem faal itu manusia tersebut diatas dengan menjalankan sholat, banyak berzikir dan membaca kebesaran penciptaan terutama dari anggota tubuhnya sendiri. Sasaran pembicaraan tentang LIDAH dari dialog akun facebooker di bbbulan suci Ramadhan 1431H ini dimaksudkan agar hubungan pertemanan antar sesama menjadi kian membaik, karena tujuan penciptaan itu sendiri demi kebaikan kemanusiaan dan bukan sebaliknya. Hanya kembali kepada Allah SWT semata upaya manusia ini dipasrahkan. ***

Sumber gambar: dari akun album tetangga sebelah.. kecuali foto SABAK yang penulis ambil dari studi penyegaran pemanduan wisata HPI DIY bersama Dispar Kab Sleman di Museum Pendidikan Indonesia, UNY pada Juli 2010.

Mempelajari keutamaan tujuh ayat umm al-kitab Al-Qur’an sebagai induk segala jenis dan isi buku pengetahuan kebijaksanaan yang ada terangkum di dalam sebuah catatan yakni ‘surat Al-Fatihah’. Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, Damaskus (1991) dalam kitabnya Tafsir Al-Munir, kata al-fatihah berarti pembukaan, permohonan, surat induk, catatan pendahuluan, pengantar al-Qur’an, liputan isi al-Quran, induk bacaan, surat pengobatan, catatan pemujaan, bacaan agung, rangkuman tujuh ayat dan ringkasan awal yang masing-masing memiliki alasan arti kata. Sisi kelebihan mengetahui makna Al-Fatihah menambah kedalaman keyakinan dan keluasan berkah, bahkan hanya dengan sering membacanya seseorang mendapat manfaat duniawi dan ukhrawi. Sungguh merugi muslim yang meremehkan kandungan isi surah Al-Fatihah ini.

Isinya menyatukan kesadaran pengetahuan manusia, keyakinannya kepada Tuhan dan menerapkannya menjadi amal perbuatan baik lagi mulia bagi diri sendiri dan orang lain sekeliling semesta. Sedang hasil-hasil pemikiran akal manusia seperti liberalisme, pluralisme agama, kapitalisme dan lainnya sekalipun hebat di mata manusia akan terbatas oleh harkat kemanusiaannya. Kebenarannya bersifat relatif sekali. QS Al-Fatihah mengajarkan agar manusia menuhankan Allah SWT, memohon pertolongan hanya kepadaNYA. Belajar al-islam menjadi kaya tanpa modal dengan mendasari keimanan yang benar, yakni merujuk kepada kitabullah dan as-sunnah; dengan membuka wawasan berpikir bahwa mempelajari isi kandungan Al-Qur’an itu bisa mudah dan cepat melalui praktek langsung (learning by doing) yaitu membacamenerjemahkanmemahami tanda ayat-ayat Al-Qur’an al-karim; terutama diawali dari yang paling sering didengar dan digunakan yakni Surah Al-Fatihah, minimal lima kali sehari digunakan sholat dimana muslim membacanya sebanyak 17 kali bacaan.

ALFATIHA MELIPUTI AKAL – ROH – HATI & NAFSU

Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kitab al-Qur’an agar mudah dimengerti (QS al-Qomar 54:17); bahkan tiada sekalipun Allah bermaksud menjadikannya sulit untuk diketahui isi ajaran di dalamnya (QS 20:2), semata agar manusia selamat dunia akhirat. Sebetulnya kemudahan mempelajari isi kandungan Al-Qur’an ini telah ditetapkan, dan akan selalu ada upaya agar kaum muslimin menemukan pola belajarnya sendiri sebagaimana al-Qur’an dan Hadits mengisyaratkan. Bahwa kitab Al-Qur’an terdiri dari 6666 ayat, 114 Surat, memiliki kosakata Arab yang selalu berulang (50%), arti kata sama dengan bunyinya seperti qur’an, Allah, kafir, mu’min, sholat, nabi dst (± 25%), kata Allah > 2.100x tercantum; al-ladziina 810x dimana ditemukan 80% di dalam QS al-Baqarah.

Tentang ajaran QS Al-Fatihah jelas membuka pintu: hanya petunjuk Wahyu yang akan menyelamatkan empat anasir manusia, yakni roh – akal – hati dan nafsu. Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Keajaiban Hati” (1982) menjelaskan tiga macam pasukan batin penggerak hati, yakni pendorong syahwat, amarah dan pasukan yang tersebar di seluruh pembuluh darah. Pasukan ketiga ini sebagai penangkap dan pengenal energi pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan perasa kulit. Jika akal dan hati terbangun di dalam keutuhan tubuh manusia, perumpamaan nafsu adalah sang penguasa, sedangkan anggota badan dan kekuatan-keuatannya merupakan pekerja teknik tempat menetap nafsu. Sementara syahwat sebagai budak tunggangan yang jahat yang menghabiskan persediaan makanan di dalam tubuh. Surat Al-A’raaf [7]:176 :

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Keluasan ilmu Allah di dalam kitab tersebut bisa diintip dari luasnya cakupan samudra Al-Fatihah yang menurut Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili di atas, bahwa Surah Al-Fatihah memiliki 12 nama yaitu: As-Sholah berdasar hadist qudsi qushimati as-sholatu baini wa baina abdi nisfaini”, 2) Surat Al-Hamd karena di dalamnya memuji-muji Allah SWT., 3) Fatihah Al-Kitab karena membuka bacaan Al-Qur’an secara jelas serta tertulis basmalah dan juga disebut Ash-Sholawat. 4) Para ulama’ menyebutnya Ummul Kitab, 5) dan Ummul Qur’an berdasar hadist Nabi SAW.: Al-hamdu lillah ummul qur’an, ummul kitab, dan 6)As-sab’ul Matsaani, sebab diulang-ulang dalam setiap bacaan sholat, 7) dinamakan Al-Qur’anul Adhiem karena mengandung seluruh ilmu-ilmu Al-Qur’an beserta prinsip tujuan asasi, 8) As-Syifa’ berdasarkan hadist Nabi SAW.: Fatihatul kitab syifa’un min kulli sammin, 9) disebut Ar-Ruqiyyah berdasar hadist Al-Aimmah dari Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW pernah diruqyah seraya bersabda: “Tahukah engkau bahwa Surah Al-Fatihah adalah ruqiyah?” 10) Disebut Al-Asas berdasarkan perkataan Ibnu Abbas: Induk segala kitab adalah Al-Qur’an, dan induk Al-Qur’an adalah Surat Al-Fatihah, sedangkan induk Al-Fatihah adalah Bismillahirrahmanirrahiem. 11) Dinamakan Al-Wafiyah yang berarti genap, dan 12) Al-Kafiyah karena dicukupkan dengan surat ini dari surat-surat yang lain, sebaliknya belum dianggap cukup jika tanpa Surat Al-Fatihah.

IBADAH HANYA KEPADA ALLAH SWT (“iyya-ka na’budu”):

Arti kata na’budu sesuai Kamus Al-Qur’an adalah kami menyembah. Pembelajar disini perlu memahami konsep ibadah dari QS 1:5 yakni isi ajaran rukum iman dan rukun islam. Buku Q-Tematik halaman 175 menjekaskan beberapa kandungan ayat-ayat setema tentang syarat rukun ibadah antara lain QS 2:2-4 al-ladziina yu’minuna bil-ghaibi wa yuqiimuna as-sholata wa mimma razaqnaahum yunfiquun. Dan QS 20:132 wa’mur ahlaka bis-sholah… dan perintahkan keluargamu agar menegakkan sholat..; atau QS al-An’am 6:100 fat-tabi’uhu wat-taquuhu la’allakum turhamuun, maka ikutilah petunjukNYA dan bertaqwalah kepadaNYA agar kalian dirahmati Allah SWT. Paragraf ini menegaskan pandangan hidup agar manusia hanya memfokuskan amal usaha, kegiatan dan pemikiran untuk menghamba kepada Allah SWT semata, jangan pernah mencoba-coba menghamba kepada selain Allah SWT.

PERTOLONGAN ALLAH SWT (“ iyya-ka nasta’in ”)

Setelah mengerti arti kata nasta’in sesuai Kamus 294/kanan tengah: artinya minta tolong (ki), pembelajar perlu memahami bagaimana cara memohon pertolongan hanya kepada Allah dan bukan ke lain-NYA. Hal itu dijelaskan Buku Q-Tematik halaman 177, tentang resiko orang musyrik dari QS 4:48, dimana dosanya tidak diampuni bahkan bisa menutup baginya pintu surga. Untuk lebih memahami konsep pertolongan ini perlu mengenal prilaku kaum munafiq (QS 2:16) yaitu pendusta, memilih kegelapan dan meninggalkan hidayah Allah, maka akan merugilah semua perniagaan dunianya. Bahwa pertolongan kepada selain Allah SWT akan mendatangkan petaka dan kemadhorotan hidup.

RAGAM HIDAYAH ALLAH (ihdina ash-dhiraath al-mustaqiim):

Memahami kata ihdina – asshiraath – mustaqiim dan Buku Q-Global halaman 164 akan tergambar bagaimana Al-Qur’an memberi panduan hidup agar manusia selamat di dunia dan akhirat, yaitu dengan memegang erat tali al-Islam (QS 43:43-44) “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Sungguh Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” Bahwa jalan yang lurus yaitu penjelasan seluruh isi QS Al-Fatihah, terutama meyakini ragam petunjuk/hidayah Allah mulai dari: instink, indera, akal, agama dan pertolongan Allah (tawfiq). Semua hidayah, terutama memperoleh petunjuk Allah tertinggi itu tiada jalan lain kecuali dengan mengikuti ajaran al-Qur’an seperti disebut QS 6:155. Manusia harus mengarahkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap hidupnya hanya berlandaskan ajaran wahyu, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

ANEKA JENIS NIKMAT (an’amta):

Kata an’amta artinya Engkau Allah telah memberi nikmat. Buku Q-Tematik halaman 128, 132, 135 menjelaskan bahwa puncak nikmat adalah iman/hidayah beragama islam; kedua, berupa kesehatan dan keselamatan yang diterakan QS as-Syu’ara’ 26:77 dan 80. Ketiga, ilmu pengetahuan (22/54) “agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” Ke-4 dan 5 berupa nikmat harta benda dan keluarga yang diterakan QS Ali Imron 6:14-19. Semua bentuk nikmat ini dimaksud menimbulkan etos kerja dan kesadaran dalam rangka mencapai ridha Allah, agar manusia tidak sesat dunia dan pada hari kiamat kelak sengsara berada di neraka QS 7:43.

Dari keterangan pola pembelajaran induk segala kitab QS Al-Fatihah diatas dapat disimpulkan, bahwa yang ditargetkan dalam belajar Al-Qur’an adalah agar manusia dengan anasir penciptaan (roh-akal-hati-nafsu) menyadari potensi ketuhanan di dalam dirinya. Seluruh kerumitan masalah hidup dan mati itu manusia membutuhkan pola panduan (wahyu) yang caranya adalah: Membaca al-‘Alaq 96/1-5 > Memahami Yusuf 12/1-2; al-An’am 6/12 kemudian > Mengikuti petunjuk kitab Al-Qur’an 6/153 dan 155; az-Zumar 39/55-59. Langkah mengikuti petunjuk Al-Qur’an ini dibarengi perjelasannya dengan tuntunan As-Sunnah dan jika tak ditemukan keterangan dari keduanya barulah merujuk kepada Pendapat Ulama’. Semoga keterangan singkat ini dapat membantu dan bermanfaat.

Makalah ini merupakan Rangkuman Pelatihan mengajarkan Metode Terjemah Al-Qur’an RLQ 99 Jam; karya Aris Gunawan Hasyim; menemukan ‘metode’ bagi pemula dan menerapkan Sistem Belajar Berpikir berlandaskan ajaran wahyu melalui QS Al-Fatihah. Sebaiknya pembaca melengkapi Sumber Referensi yang lain, seperti karya Bey Arifin, Samudra Al-Fatihah, Bina Ilmu; Mukhlisin Ashar yang juga menulis Kedahsyatan Al-Fatihah, Vision 03, Jakarta, 2008 dan buku Muhammad al-Husaini Ismail, Kebenaran Mutlak; Tuhan, Agama dan Manusia, Pustaka Sahara, Jakarta, 2006. Sudah barang tentu melengkapi analsis pemikiran manusia membutuhkan referensi yang tak terbatas, so adalah keharusan mengembangkan pemikiran sendiri di atas kerangkan Al-Fatihah diatas. Semoga kita dilindungi Allah SWT dari godaan manis di awal-awal kajian aneka pemikiran, namun karya manusia itu sesat yang relatif menyesatkan juga di ujungnya…Amiieen Ya Rabb.***

*) Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY 2009-2013,

Jongtengku: Thursday, March 05, 2009

andimhd@yahoo.com

Seikat kalimat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menjelaskan asosiasi makna perkumpulan manusia Indonesia yang berprofesi sebagai Pemandu Wisata (tour guide) di dalam konstelasi industri pariwisata nasional secara kompeten dan profesional. Jumlah Guide Jogja berlisensi disini saat ini terdaftar 400-an orang, separuhnya aktif. Data kunjungan wisata nasional 2008 telah mencapai rekor tertinggi yakni 1,1 juta orang dengan devisa sebesar ± Rp 90 Triliun dalam bentuk jasa amat beragam, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata kebudayaan lokal, terutama bagi DIY yang mengutamakan kebijakannya selain sektor pendidikan. Yogyakarta telah dipilih pembaca Majalah Libur Malaysia menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” mereka, bahkan bertahun sejak pariwisata Indonesia berkibar di dunia global telah dibutuhkan peran Guide dan HPI selaku sosok dan wadah penghubung wisatawan dengan peradaban lokal destinasi wisata. Masalah kini yang aktual dan belum terpecahkan adalah pemberdayaan Anggota Himpunan secara optimal oleh kesadaran Pengurus yang lemah dan perhatian dari yang berwenang.

Organisasi HPI dipimpin oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Struktur DPD DIY misalnya akan terdiri seorang Ketua dibantu Wakil Ketua Bidang, Sekretaris dan Wakilnya, Bendara, serta Ketua-ketua Biro/ Koordinator Divisi. HPI DIY telah lima kali ganti kepemimpinan dari era berdirinya 1974 hingga musda terakhir meninggalkan masalah penting menyangkut kesejahteraan, komptensi dan kesadaran organisasi. Maka Musda DPD HPI ke-5 pada Sabtu 14 Februari kali ini di STP AMPTA Yogyakarta akan memiliki makna strategis, yaitu turning point Himpunan periode 2009-2014 menjadi bermartabat dan berdaya-guna. Pesan perubahan adalah dengan merumuskan program kerja taktis yang mampu menyadarkan dan mendisiplinkan anggota bahwa sukses, kemajuan dan kesejahteraan di dapat melalui jalan panjang bersama oleh liku konsepsi jelas seorang Pemimpin, sedang forum musyawarah adalah tempat agenda dan tata kelola itu digodok dan ditetapkan sebagai arah tujuan Himpunan ke depan.

REPOSISI PROFESI

Tidak beda dengan praktisi lain, posisi Guide bisa amat memilukan tersudut di pojok tanpa jaminan keselamatan dan kesejahteraan namun sekaligus menjanjikan bagi yang kreatif dan berpikiran positip. Secara materi bisa bebas tak terbatas; membalik posisi Uang Bekerja Untuknya karena luasnya jaringan kerja dimana dialah kuncinya. Manusia hidup bukan untuk materi, namun cara pandang materialistis bukan hanya milik Guide sebagai sebuah pilihan sikap kerja, apalagi visi pribadi dan ketrampilannya difokuskan sekedar mencari uang. Manajemen pariwisata ke depan akan berubah lebih humanis, seperti bahwa harga-harga dan layanan kenyamanan akan kompetitif bagi konsumen paket wisata, siapa melawan pasar tergilas. Semua masih bergantung kepada sikap – pengetahuan – skill seorang Guide di hadapan pemangku kepentingan industri wisata. Batasan produk wisata bisa laris terjual an sich dapat terukur oleh kesuksesan materi, namun dapat pula sukses oleh ukuran-ukuran budaya, etika organisasi dan tradisi pengetahuan serta kearifan nilai lokal pembentuk karakter kerja wisata. Betapa saat ini banyak asosiasi profesi di Indonesia senasib dengan Guide dan HPI, namun toh isi dari hasil-hasil peradaban Jawa tetap dilirik sebagai acuan komunitas sejagad, semisal Wayang adalah panggung prilaku manusia dalam peran yang beragam.

Maka reposisi Guide di samping tugas pokok memandu berperan amat strategis bagi kemajuan industri pariwisata nasional, di luar asosiasi HPI misalnya banyak regulasi membutuhkan tugas Entrepretuer Bahasa dimana Guide bisa berperan, belum lagi posisi accessor dalam ujian sertifikasi profesi yang bakal diterapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Pendidikan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi. Toh HPI telah memiliki Training Center dengan 11 tenaga accessor berasal dari Yogyakarta, masihkah potensi ini tak menjawab kebuntuan regenerasi Guide. Dalam sebuah Konperensi di Bali (2008) organisasi Wolrd Federation of Tourist Guide Associations (WFTGA) menempatkan asosiasi pada peran ideal juga marketing system tak tergantikan, diprediksi era mendatang adalah terbukanya akses dunia global pada Pariwisata Budaya dimana nusantara menjadi titik penyangga peradaban dunia, namun secara individu persoalan teknis organisasi dan tatalaksana kepemanduan HPI belum optimal berproses di habitatnya.

Wisata Candi misalnya sebagai destinasi utama akan menuntut pemahaman sejarah lebih sempurna bagi profesi Pramuwisata, juga penguasaan materi-materi guiding lain seperti arekeologi, gunung api, Parangtritis, kerajinan keris, imigrasi, kependudukan, upacara tradisi, politik, wayang puppetry dst. Indonesia telah memperoleh penghargaan dari UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta 13-14 Desember 2008, diangkat kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia masuk ke dalam Asosiasi Wayang Dunia “Union Internationali de la Marionnette (Unima)”, bahkan wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar dalamnya; sosok Arjuna, Druno, Sengkuni dst adalah simbul prilaku yang bisa ditamparkan ke wajah asosiasi. Bagaimana memaknai hubungan-hubungan kepemimpinan manusia disana dll, menurut harkat dan norma agama tiada beda siapa memimpin Asosiasi tetap tak berdaya di hadapan sistem yang sakit. Munculnya optimisme perubahan bukan hanya dari pemimpin namun semua elemen warga Himpunan hatta anasir lain di luar dirinya.

PROGRAM KERJA STRATEGIS

Melihat persoalan yang ada prioritas konsolidasi organisasi HPI dan kesekretariatan menjadi pilihan penting mengingat dinamisme anggota dan aturan AD-ART panduan organisasi, disamping program kesejahteraan dan jaminan asuransi keselamatan kerja bagi 400-an lebih Guide pemilik lisensi dan berkompeten memandu wisatawan. UU Keselamatan Kerja belum mengatasi persoalan malah menambah rumit hubungan Guide dengan Biro Perjalanan di lapangan, masalah premi juga penghargaan fee bagi setiap paket wisata harus dihitung masuk ke dalam cotation yang ditawarkan tour operator luar. Program strategisnya adalah regenerasi profesi Guide, siapa yang akan memikirkan pola kelanjutan tugas-tugas layanan kepemanduan manakala Pendidikan dan Latihan HPI tidak berjalan optimal. Sasarannya bila seorang Guide berkompeten handal dan profesional dia akan dicari siapapun yang membutuhkannya, bukan dibalik bahwa tour operator memperlakukannya sebatas pekerja wisata.

Mesin organisasi HPI dapat sehat bekerja bila semua anggota bersinergi potensi dengan iuran dan sudi memajukannya, bukan melemparkan masalah maya tanpa niat perbaikan. Pihak yang berweng perlu mencari solusi agar Himpunan terlindungi dengan regulasi pasti. Pengurusnya mampu melembagakan efektifitas peran manajemen komunikasi dan kehumasan ke-HPI-an melalui tindakan silaturahim pemikiran dan pertemuan anggota agar ke depan Guide memperoleh kompetensi di atas penghargaan profesi sepadan di hadapan pemangku kepentingan pariwisata. Kata kuncinya adalah kerjasama dan pemberdayaan sebagaimana penentu kebijakan yang di atas, para Menteri Pariwisata se-ASEAN melalui Perjanjian Borobudur dll telah merapatkan jalinan kerja dalam menangkap devisa melimpah di sektor ini. Selamat bermusyawarah! []

*) Tulisan pendorong kandidat menuju Perubahan DPD HPI Jogja lebih strategis!

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Angka kunjungan wisata naik sekitar 1,1 juta orang dari target nasional 6,5 juta, dan diperkirakan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun) dengan jasa amat beragam, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata cara kebudayaan lokal. Kegiatan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan Daerah Tujuan Wisata (DTW) DI Yogyakarta telah dipilih pelancong Malaysia yaitu Majalah Libur menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008”. Di tahun sama menurut laporan Transparansi Internasional Indonesia, Yogyakarta menempati kota nuswantara paling bersih dari korupsi, maka prestasi ini harus dipertahankan.

Peran budaya seorang Pramuwisata (tour guide) telah diatur dalam dokumen UNESCO nomer E/CONF.47/8, bahwa wisatawan sebagai subyek menikmati kebudayaan lokal yang disajikan sebagai obyek wisata. Pengalaman baru akan meningkatkan emansipasi pribadi, menambah pahala dan mendorong kreativitas. Kualitas hidup akan menaikkan prestasi budaya dan mensejahterakan serta menumbuhkan Penghasilan Asli Daerah setempat. Tidak dipungkiri peran strategis pemandu sebagai ujung tombak layanan jasa wisata, meski jumlah wisatawan manca asal Eropa kian menurun. Kunjungan nasional (2004) sejumlah 6,5 juta, di tahun 2005 menurun jadi 4,9juta orang dan 4,8juta orang (2006), sedang 2007 belanja wisatawan rata-rata 970 Dollar AS. Padahal Malaysia meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun, Singapura (2008) sejumlah 10,1 juta dengan devisa naik menjadi 14,8 Miliar Dolar AS. Inilah saatnya memikirkan solusi pariwisata ke depan; yakni tentang multi peran Pramuwisata demi mengangkat citra bangsa, khususnya meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap budaya lokal dan dampak ekonomi pada masyarakat luas.

Tulisan ini menyorot masalah regenerasi Pramuwisata di tengah regulasi soal profesionalitas dan kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), di bawah peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Lebih spesifik bertujuan merumuskan bekal usulan program kerja dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) tanggal 14 Februari 2009 Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Yogyakarta periode 2009-2014 dari Anggota divisi Bahasa Jerman, mengingat fakta tiadanya perhatian stakeholders pariwisata seputar regenerasi Guide Bahasa Jerman profesional di tengah pola kepariwisataan dunia yang terus berubah.

UJI KOMPETENSI GUIDE

Praksis memandu wisatawan Jerman memiliki tingkat kerumitan dan kesenangan tersendiri, saat berkunjung di Daerah Tujuan Wisata (DTW) mereka terbiasa bertanya di luar penjelasan tentang obyek pokok. Seperti bagaimana orang Jawa hidup di abad ke-8 itu mampu membangun Borobudur, Prambanan dan candi-candi kecil lain. Pada wisatawan domestik saat ziarah ke Makam Para Wali termasuk siapa Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten yang berperan membesarkan Mataram Islam. Sejarah candi mengingatkan bahwa keyakinan adanya Tuhan di tanah Jawa sangat mendalam, candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta telah ada sejak abad pertama. Peran local genius dalam pembangunan juga sangat besar, hingga puncak pembangunan candi di abad 8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat, melanjutkan laku peradaban manusia purba disini (KR 06/02/2006).

Wisata Candi menuntut pemahaman sejarah sekaligus ujian lebih sempurna bagi profesi pemandu, demikian halnya soal arekeologi, ikon wisata Merapi, Parangtritis, kerajinan batik, keris, upacara tradisi, kuliner, wayang puppetry dst. Penghargaan UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta Desember 2008 itu amat bernilai, telah dibicarakan kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia untuk bergabung dengan Asosiasi Wayang Dunia “Unima”. Wayang kita tak kalah hebat dibanding yang berasal dari India, Jepang dan China. Menurut Sultan H B X bahkan wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar di dalamnya. Sidang ini menyepakati empat hal; tiap negara harus memiliki sanggar boneka/ wayang; memperbanyak pertukaran pentas; menyusun Buku Sejarah Wayang; sidang APA 2009 di Filipina dan 2010 di Malaysia.

Agenda dunia diatas menunjukkan potensi besar kita, menjadi sentra diskusi yang merangkai ke seluruh sejarah pariwisata bahkan diskursus peradaban manusia. Hingga kini D.I. Yogyakarta merupakan andalan DTW nasional, karena itu menuntut profesionalitas Guide. Merekalah yang memaknai dinamisme sejarah Nuswantara di hadapan wisatawan; membaca pertanda perjalanan kebudayaan purba di Jawa telah lama berjalan seumur fosil-fosil manusianya. Java Man Homowajakensis yang ditemukan (1889) di Malang, serta spesies Meganthropus Palaejavanicus oleh Ralph von Königswald di Sangiran (1936-1941) telah meninggalkan misteri. Sementara menurut kajian semiologi-semiotika, manusia perlu cara pembacaan lain, minimal dengan fakta relasi kejadian isi alam sebagai materi pembelajaran dan pebaikan hidup. Filosofnya mencermati sistem tanda yang bergerak lincah di medan pertandaan berupa persepsi, epistemologi, pengetahuan, mitologi, gagasan, idealisme, keyakinan dll. Hingga tanda adalah idea yang bisa diindra dan harus dibaca keseluruhan penanda aspek materialnya berupa ekspresi, indeks, sandi/candi, simbol, bahasa, tulisan, patung/arca, poster, iklan, brosur, flim, klip dan lain-lain. Dengan kearifan membaca potensi pariwisata DIY, maka tak akan pernah terjadi penistaan sejarah seperti kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit di lokasi situs urban kuno.

Identifikasi peran kepemanduan dan apresiasi budaya bisa dipertajam pada guiding skills and technique, tapi hasilnya akan terpulang pada kreativitas pemandu. Akar kreasi sesungguhnya adalah minimnya kesadaran untuk apa menjadi guide profesional dan berkualitas di dalam sistem manajemen pariwisata yang tidak kondusif, sehingga berakibat lemahnya penguasaan materi-materi guiding atau minimnya penghargaan (guide fee) atas profesi mereka di tambah aturan soal lisensi dan birokrasi yang tak mendukung. Dalam kondisi demikian (2008) telah dibuka lebar-lebar kran perjanjian kerjasama formal antar Menteri Pariwisata Negara ASEAN. Jika Pramuwisata menutup mata atas tanda-tanda ini, nasib pariwisata Indonesia dipertaruhkan.

AGENDA HPI 2009-2014

Pramuwisata telah terbiasa dengan krisis, maka profesi ini optimis mempertahankan kompetensi kepemanduan di tengah jaringan kerja yang ada dengan usulan perbaikan organisasi sebagai berikut: Mengintensifkan sinergi potensi keilmuan dan ketrampilan dalam rangka standardisasi kompetensi, pengayaan materi guiding serta tuntutan sertifikasi profesi pramuwisata. Musda HPI Yogyakarta 2009 kali ini sebagai momentum perubahan fungsi kelembagaan menjadi lebih berkualitas baik dan berdaya multiguna; memperbaiki ekonomi HPI, kesehatan, kesadaran politik, moral, pengetahuan, budaya dst bagi seluruh relasi kepentingan pariwisata. Siapa pemberi jaminan keselamatan kerja di lapangan bagi profesi Guide? Program pariwisata secara keseluruhan akan menjadi bernilai lebih itu banyak bergantung kepadanya, dan meninggalkan kenangan lebih bernilai bagi pengguna layanan jasa pariwisata. Jika wadah HPI tidak mampu memberi solusi di bidang ini, pemberdayaan internal diantara anggota Divisi Bahasa layak menemukan ide kreatif yang dapat dilakukan secara bermartabat. Semoga catatan ini menggugah mereka, selamat bermusyawarah![ ]

*) Ini dimuat di KR & Radar Jogja 12 Feb 2009, andimhd@yahoo.com.



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori