DTur Change For All

Archive for the ‘Edukasi’ Category

Di antara manusia ada orang yang bendoa, dan inilah doa terbaik menurut fitrah manusia (yaitu yang diucapkan muslim): “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. QS [2]:201-202.

 

Bacaan Qur’an Surah al-Baqarah sebelumnya mulai ayat 183 Penulis temukan paling tidak sembilan belas (19) kosakata kunci kehidupan terkait dasar-dasar beragama. Kosakata itu seperti: ummat terdahulu, puasa ramadhan, taqwa, perjalanan, sakit (musuh agama), makan dan minum, petunjuk jalan hidayah, 12 bulan bilangan hari dalam setahun, syukur, doa (dakwah) – dzikir – sholat, masjid, halal haram hubungan, rizki harta benda, pakaian ‘perempuan’, benang pembatas putih dari garis hitam berupa hilal tanda kebaikan ibadah, umroh dan haji, sedekah (fidyah) pada fakir miskin, jihad sabilillah, fasiq – fusuq – jidal dalam lomba kebaikan dan keseimbangan hidup.

 

 

Pilihan kosakata di atas bukan merupakan tafsir seluruh ayat apalagi menggurui bagaimana berislam kafah. Dimaksud agar lebih menegaskan perjalanan usia hidup dan perjuangan kinerja jihad di atas dzikrullah melalui doa (sholat), berpuasa, menebar sodaqoh, menjalani nikah, melaksanakan umroh dan haji. Secara etimologi bahasa dan makna terminology bahwa 19 kosakata juga sebagai pendorong memahami perintah wahyu agar manusia meyeimbangkan kehidupan materi duniawi dengan prestasi akhirat; dan kunci masuknya dengan memahami sejarah puasa bagi umat terdahulu demi kemudahan hidup yang sehat.

 

 

Sungguh dahsyat menyelami kamus makna kosakata diatas, bahwa perjalanan usia sejak lahir hingga memasuki liang kubur adalah demi perubahan NASIB MENJADI (being better) dan sesekali bukan NASIB MEMILIKI (having more) dalam skala apapun dan bentuk konsepsi serta tindakan kerja kapanpun dilakukan umat manusia. Disinilah petunjuk al-Qur’an mengajarkan agar manusia memilih jalan tengah ‘keseimbangan’ dari sari doa sapu sagad di pembuka tulisan ini.

 

 

Maka perjalanan ilmu pengetahuan yang melahirkan prilaku peradaban, kesuksesan dari ketrampilan hidup sehari-hari jika diniatkan hanya berasal dari dan ditujukan kepada ridha Allah SWT, bisa jadi lewat posisi pekerjaan apapun di muka bumi ini akan menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan pasti terjamin akhiratnya. Terlalu banyak contoh cerita berasal dari para Alim Ilmuwan, Tokoh Hartawan, Pakar Lingkungan Kemasyarakatan selalu didahului dengan kerja tulus, kerja keras dan kerja untuk semua di atas motivasi Sang Pemberi hidup kehidupannya.

 

 

Siapa menggantungkan nasib pada sesama akan menemui sakit dan jalan buntu, karena penentu Nasib hanyalah Allah SWT yang menafasi diri sendiri dan membakar semangat belajar bertarung mengatasi ganasnya samudra kehidupan. Dialah Sang Maha Petunjuk..*** []          Early Friday, 20 July 2012 / 01 Ramadhan 1433 @griyaSidikan

      

Kejarlah duniamu seakan kau hidup selamanya

Raihlah akhiratmu seakan esok akan tinggalkan dunia..

 

Suatu hari penduduk Qibti Mesir mengadu kepada Khalifah Umar bin Khathab karena anaknya ditampar seseorang saat kalah dalam lomba olahraga, rupanya sang putra direndahkan anak Gubernur Amr bin Ash. Lalu, Umar memerintahkan menghadirkan keduanya di musim haji. Di depan masyarakat Mekah, Umar memberikan tongkat kepada Qibti agar mengqishas putra Penguasa Mesir itu lalu menemui Amr dan mengatakan: ‘Kapan kau perbudak manusia, padahal ibu-ibu melahirkannya dalam keadaan merdeka?’.

 

Sejarah khilafah diatas mengisyaratkan, baik rakyat atau pemimpin bebas memilih tentukan ukuran perbuatan dan pekerjaannya. Namun secara khusus Al-Qur’an menyebutkan statuta harta itu bagi kehormatan manusia meliputi; (1) amanah, (2) perhiasan, (3) ujian keimanan, serta (4) sebagai bekal ibadah. Keempatnya menyelamatkan orang dari kehinaan kemelaratan yang kini banyak kita saksikan, bahwa demam profesionalitas kerja tak seharusnya menggiring seseorang berprilaku konsumtif, hedonis, tamak, kikir dan menumpuk-numpuk harta.

 

Sikap amanah artinya hak milik adalah prerogatif Allah SWT yang harus dipertanggung-jawabkan bagaimana cara kita memperoleh harta lalu kemana dan untuk apa dibelanjakan. Menarik direnungkan banyak pelajaran seseorang mengamalkan ayat-ayat zakat-infaq-sodaqoh malah hartanya meluas dan terjaga penuh manfaat, bahkan seseorang yang disempitkan rizkinya diperintah untuk banyak amal infaq dan sedekah.

 

Terlalu banyak rahasia Allah membuka pintu rizki dari sikap memberi dan menolong orang lain. Seperti kisah mantan Ketua PAN Sutrisno Bachir keluar dari kebangkrutan usaha dengan menjual perusahaan miliknya lalu menginfaqkan hasil dana untuk fakir miskin atas nasehat ibundanya. Dampaknya luar biasa, dengan infaq itu SB berhasil menjadikan berlipat-lipat jumlah kekayaan dari sebelum krisis. Kemarin, penulis juga mendengar seseorang mampu berangkat haji sekeluarga hingga 5 orang dari rizki pendanaan tak disangka-sangka oleh sebab menolong seseorang fulan tak dikenal yang telah dua hari tidak makan. Begitulah mu’min menangkap makna di balik harta.

 

Makna harta benda sebagai perhiasan bagi manusia taqwa dimaksud agar hidup berpilaku sederhana atau secukupnya saja menggunakan harta dan tidak hedonis berlebihan. Sederhana bukan berarti  miskin. Hal ini bersinggungan bahwa kelebihan harta yang dimiliki seseorang itu terdapat bagian bagi fakir miskin (8 jenis manusia) yang harus diberikan.

 

Ketiga, adalah fakta hanyalah sedikit mu’min kaya raya lulus diuji oleh keberadaan harta disisinya, ini terkait hak milik dan tugas tanggung-jawab seperti disebut QS. Al-Anfal 28 ajaran tentang cara mendapatkan dan menggunakannya, disamping sari perintah sholat (wajib dan sunnat) yang membuat kaum profesional hidup secara baik termasuk oleh godaan harta.

 

Akhirnya memandang harta sebagai bekal ibadah akan membentengi diri untuk tetap ber-dzikrullah saat mencari harta, menjadi mulia karenanya dan itulah investasi sebenarnya. Seperti disebut diatas, harta dapat menginspirasi hak-hak dan tanggung-jawab namun sekaligus mengantarkan surga seseorang atas dasar semangat etos kerja serta praktek investasinya untuk kian berprestasi dalam hidup pribadi, keluarga serta menolong orang lain. Pelipatan perbekalan ini hingga 700 kali lipat, itu telah dijanjikanNYA jika manusia menjadikan harta sebagai sarana ibadah.

 

Wa Allahu a’lam bis-showaab, hanya Allah tempat segala kebenaran.** []

 

 

Sumber:

–         Wahbah az-Zuhaili, Kebebasan dalam Islam, Pustaka Al-Kautsar, 2005.

–         Muhammad Syafi’i Antonio dalam Bank Syariah dari Teori ke Praktek.

–         Autobiografi Sutrisno Bachir (2002).

‘Wahai anak-anak, tak kan kalian dapatkan ilmu pengetahuan tanpa melewati 6 hal, yaitu:

kecerdasan, kesempatan, usaha ijtihad,

bea siswa (dirham),

berteman dengan guru & proses (belajar)

yang mesti kau jalani.’ -Lukman Al-Hakim-

 

Tentang KECERDASAN, diakui terdapat hubungan antara kecerdasan dengan kesuksesan. Sisi lain fitrah manusia dikaruniai hati-ruh-akal-nafsu mampu mencapai derajat ketuhanan sebagai khalifah Allah di bumi, tetap saja kecerdasan menjadi masalah dan alasan keberhasilan anak. Para ahli mengakui pula, bahwa sumber multiple-intelligences alias kecerdasan majemuk telah dimiliki melekat pada diri setiap orang terdiri dari; kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, musikal, financial, sosial dan seterusnya hingga 12 macam kecerdasan. Karena tujuan pembelajaran adalah perubahan ranah sikap–pengetahuan–ketrampilan mencapai kondisi ideal, sebaiknya seseorang fokus saja berkonsentrasi lebih kepada proses usaha belajar sehari-hari melewati syarat-syarat mendapatkan ilmu dan ketrampilan serta cara mengamalkannya, masyarakatlah yang menilai kecerdasan.

 

Kedua KESEMPATAN; Untuk diterima sebagai Siswa SMP Negeri 5 Yogyakarta adalah prestasi gemilang yang harus disyukuri dan dijaga. Dalam pertanggung-jawaban riel harus mewujudkannya dalam prilaku positif, yakni mempertanyakan apa siapa kapan dimana 5W mengapa siswa harus membuktikan diri sebagai anak yang pandai bersyukur kepada Allah SWT serta bagaimana menggunakan kesempatan / membuktikan diri menjadi terbaik nomer SATU dalam prestasi belajar. Kesempatan pembuktian diri itu hanya melintasi ruang belajar dan waktu sekarang, karena penyesalan selalu datang kemudian.

 

Ketiga IJTIHAD; Kosa kata yang sama dikenal JIHAD yakni upaya kerja keras seseorang MUJAHID dengan maksimalisasi usaha belajar, beramal dan bekerja hingga titik hasil paling maksimal terbaik. Disini perlu diingat nasehat doa Qur’ani, bahwa Allah tiada membebani seseorang dengan suatu tugas yang tak mampu hamba laksanakan. Hanya bergantung pada diri sendiri yang menyebabkan siswa menjadi RAJIN ataukah PEMALAS, PINTAR ataukah BODOH seterusnya; yang caranya tak lain dengan MERUBAH KEBIASAAN dengan prilaku pengulangan ‘kekeh’ mencapai CITA-CITA melalui PERBUATAN BAIK sehari-hari. Jihad dalam belajar bermakna memaksimalkan usaha belajar hingga muncul hasil ideal yang diinginkan bukan sebaliknya.

 

Keempat DIRHAM; Menurut peraih 8 bea-siswa Luar Negeri Ahmad Fuadi, arti (bea siswa) bukan sekedar kesempatan luas mendapatkan gelar akademik, tetapi adalah untuk meningkatkan pengetahuan melalui proses belajar dengan gratis (majalah Intisari, November 2010:119). Siswa perlu memahami beaya pendidikan yang dikeluarkan Orangtua harus dibayar/dibuktikan dengan kualitas bukti prestasi, yakni belajar sungguh-sungguh menjalani proses perubahan tiga ranah belajar diatas. Kecerdasan finansial akan menemukan langkah terbaik (efektif) mengapa dan untuk apa seseorang harus belajar.

 

Kelima BERTEMAN GURU; Pemahaman selama ini Guru serba tahu, padahal kewajiban belajar mengharuskan seseorang berguru kepada siapapun atas tiap-tiap persoalan. Jadi siswa tidak perlu mengambil JARAK dengan GURU, sumber segala materi pengetahuan – ketrampilan – sikap di luar sosok tauladan ibu dan ayah dari sejak buaian hingga liang lahat. Berteman dengan GURU berarti mendekatkan diri dengan literatur, perpustakaan sumber perubahan DIRI sosok pribadi terpilih yang kelak akan menjadi contoh ‘guru’ bagi orang lain di masing-masing kelompok komunitasnya.

 

Keenam, PROSES (waktu) BELAJAR MENCAPAI TUJUAN; tidak serta merta siswa juara dan berprestasi tinggi adalah demikian langsung jadi adanya, keberhasilan dilalui dengan kerja keras karena itu orang mesti mengikuti hukum sebab akibat dan mengikuti proses sunnatullah. Prestasi tinggi seseorang termotivasi (edifikasi) dari CITA-CITA dan IMPIAN matang yang DILAKUKAN terus menerus menjadi PERBUATAN & KEBIASAAN (habbit); dari sini lalu merubah kebiasaan prilaku malas jadi tidak lagi muncul rasa malas, seseorang yang tak bisa menjadi mudah sekali melakukannya dan mencapai esensi belajar lain seterusnya.

 

Menjadikan kebiasaan murid sebagai pintu perubahan sifat dan prilaku amatlah strategis bagi guru maupun orangtua, hal ini perlu terus menerus dikomunikasikan demi perbaikan oleh semua fungsi Lembaga Sekolah seperti Guru BK, Wali Kelas, Guru Bidang Studi, Perpustakaan, Pusat Data Siswa, Kooperasi, Kepramukaan/ Kepanduan, bahkan Litbang Sekolah. Barangkali sisi inilah yang perlu terus dikomunikasikan seperti arah pembelajaran demi menjalin terus komunikasi proses belajar mengajar menjadi baik.

 

Itulah sekedar tips pendidikan kemandirian seorang Ahli Kebijaksanaan Lukman Al-Hakim yang dijabarkannya dalam merubah prilaku anak menjadi berkepribadian muslim dan sudi menjalani hidup dengan menjaga martabat diri, keluarga bangsa dan agama. Motivasi belajar demikian mengingatkan kondisi keimanan murid perlu dirawat dengan ilmu dan amal sholih terus menerus sesuai semangat pembelajaran dalam QS Fathir ayat 29-30 agar seseorang memperoleh kesempurnaan pahala sekaligus berkah Allah dengan membaca Al-Qur’an (1), menegakkan Sholat (2) dan melaksanakan Infaq (3). Wallahu a’lam bis-showaab. []

 

*) Makalah disampaikan dalam Forum Keakraban, hari Ahad 9/1/2011 jam 9:00 – selesai di Pendopo Komplek Candi Prambanan antara Orangtua Murid – Wali Kelas – Guru BK – 38 Siswa Kelas VIII D SMP 5 Yogyakarta.

 

Sumber Bacaan Tambahan:

 

1. Fathullah Hafnawi, Mutiara Nasehat Luqman Al-Hakim, Cahaya Press, Jakarta, 2003

2. Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, 2003

3. Hisyam Zaini DKK, Strategi Pembelajaran Aktif, CTDS, Nuansa Aksara Grafika, Yogyakarta, 2005

4. Abdullah Lam Ibrahim, Fiqih Finansial, Era Intermedia, Solo, 2005

5. Shiv Khera, You Can Win, Pearson Education Asia Pte Ltd., 1998: edisi Bahasa Indonesia Kiat Menjadi Pemenang, 2002

6. Imam Ghazali, Keajaiban Hati, Tintamas, Jakarta, 1982.

7. Andi Mudhi’uddin, Multi Level Learning: Bahagia Belajar Semanjang Masa, Saroba, Yogyakarta, 2009

8. Akbar Fuadi, Man Jadda Wajada The art of Excellent Life, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010.

Allah haramkan api Neraka menjilat Orang yg berkata

LA ILAHA ILLA ALLAH

Yang ditujukan semata hanya kepada Allah SWT.

HR, Bukhori-Muslim.

Pelantun LA ILAHA ILLA ALLAH laksana orang hidup di tengah-tengah orang mati, sedangkan para ahli dzikir itu bagaikan pohon rindang diantara pepohonan kering. Kedua tamsil hadits ini ingatkan keharusan seseorang Muslim untuk menjalankan SHOLAT dalam kondisi apapun dan menegakkannya, hatta keadaan sakit melaksanakannya dengan berbaring, sebab jika tiada mampu mengerjakannya seseorang patut disholatkan setelah disucikan. Artinya, baik Sholat maupun Dzikir kewajiban mengingat Allah itu hingga muslim meninggalkan dunia.

Pentingnya dzikrullah ini seperti isi berita di dalam kalamullah sendiri; Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya itu sama dengan orang yang membatu hatinya? Sungguh celakalah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. QS az-Zumar [39]:22

REALITAS DZIKRULLAH

Sepanjang masa kini di tengah kaum Muslimin perkotaan Indonesia muncul banyak paradok hidup bermasyarakat; banyak penduduk mengaku beragama Islam, namun jauh dari amalan muslim. Banyak jumlah keluarga muslim, namun akhir-akhir ini memprihatinkan, tengoklah prilaku keseharian mereka hatta Masjid dan Musholla hanya banyak dalam jumlah di perkampungan Islam tapi sepi orang beribadah disana. Juga aneka ragam contoh lainnya dari paradoksal masyarakat Islam, seperti banyaknya pelaku korupsi negeri ini yang adalah kaum Muslimin pula.

Realitas masyarakat tersebut menggambarkan betapa longgarnya sebagian kaum Muslimin tidak menunaikan kewajiban, menghilangkan dan melupakan ALLAH dari amal keseharian serta menjauhkanNYA dari kesibukan. Hal ini berakibat jauh pula petunjuk dan hidayahNYA dari tatanan bermasyarakat. Jika demikian wajarlah manusia bekerja serba boleh, bebas tanpa kontrol sebab hati nurani mengeras bahkan kendali diri menghilang dari dalam dada. Akibat lebih jauh, nalar dan naluri seseorang bebas pula sepuasnya mengerjakan apapun yang diinginkan; Manusia kehilangan akal sehatnya sebab meninggalkan mengingat Allah.

Padi sisi lain banyak contoh-contoh dalam kehidupan fana ini, betapa orang-orang yang berniaga di jalan Allah yakni melakukan apapun di dunia ini atas nama Allah SWT, mengalamatkan seluruh usaha dan potensi keuntungan hanya demi keharuman asma Allah semata, ternyata mereka tiada akan kekurangan apapun dalam harta dan kehormatan, di waktu lapang dan di saat dalam kesempitan. Orang-orang demikian mencurahkan amal perbuatan hanya dengan ridha Allah karena tertancap di dadanya dzikrullah. Faktanya kalimat-kalimat Allah akan menuntun seseorang untuk tidak bermaksiat, dirinya terjaga dari kekotoran pikiran dan perbuatan, bahkan makanan yang masuk ke dalam jasadnya dibersihkan Allah.

Maka betapa indahkan hidup orang-orang yang khusyu’ menjalan amal kesehariannya dengan berpasrah diri setelah usaha maksimal mengejar kebahagiaan dunia demi hidup lebih kekal di akhirat. Sungguh dengan mengingat Allah jua seseorang akan meraih ketenangan diri, meninggikan dan melaksanakan cita-cita, memelihara martabat kehormatan, memperbaiki khidmat dan membesarkan nikmat. Garis surga manalagi akan dilampaui hamba, manakala kunci keselamatan melalui dzikrullah selalu mengingatNYA telah berlaku dalam diri mu’min serta menuntunnya dalam siang maupun malam.***

Orang beriman dan yang berhijrah

serta berjihad di jalan Allah dengan harta,

benda dan diri mereka,

adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah;

dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

QS At-Taubah [9]:20

 

 

Masih disini, ayat lain Allah peringatkan agar mu’min menjaga kualitas amal perbuatan terutama dalam bulan-bulan Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Bahwa menjalani kebaikan ataupun keburukan di dalam empat bulan haram ini memiliki risiko lebih dari delapan bulan lain selama setahun. Lokus menjalani prestasi amal baik buruk inipun berbeda antara melakukannya di Tanah Haram dengan tempat lain di dunia, sholat di Masjid al-Haram berbeda nilainya dari masjid-masjid manapun.

 

 

Ada catatan tentang ruang dan waktu bahwa seorang mu’min perlu melakukan hijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari kemiskinan ke kekayaan, dari sikap minta-minta menjadi welas asih dan pemurah, dari kebiasaan bermalas-malas jadi penuh gairah semangat termasuk dalam kebiasaan beribadah, khususnya sholat berjamaah. Demikian halnya perbuatan itu melintasi waktu yang sekarang maupun untuk yang akan datang, bahwa berhijrah adalah proses perubahan dan pembelajaran yang sebaiknya berlaku kapanpun demi kemanusiaan yang diisyaratkan sebagai Wakil Tuhan di bumi.

 

 

Layak pula direnungkan untuk berubah dan belajar menjadi baik tersebut perlu berjihad. Manusia butuh menggunakan panca indera dengan sarana kehidupan yang dianugrahkan Allah berupa kesehatan fisik, usia, kepandaian, harta benda dan kesempatan waktu sebaik mungkin. Makna pembelajaran disini yaitu memaksimalkan anugerah hidup menjadi lebih bernilai dan bermanfaat dalam rangka pendakian pribadi Muslim yang unggul, caranya yaitu mempercayai rambu-rambu kebenaran yang diisyaratkan ajaran Al-Qur’an dan tuntuan Hadits Rasulullah Muhammad S.A.W.

 

 

Etika menggunakan panca indera yang dituntunkan misalnya, bahwa tak semua yang bisa dilihat mata itu layak untuk dilihat seorang Muslim. Tak semua yang telah didengar itu boleh dikabarkan, halal disampaikan atau tak semua makanan halal untuk dimakan dan seterusnya. Batasan halal & haram telah jelas bagi Muslim dari waktu ke waktu, dimanapun kita berada. Kualifikasi tindakan yang terkontrol berdasar tuntunan rambu kebenaran itulah seharusnya manusia bersikap dan bertindak, bertahap menjadi lebih baik dengan meyakini dan menjalani tuntunan as-Sunnah tersebut diatas menjadi pribadi Mu’min.

 

 

Maka sisa waktu akan menyadarkan, bahwa tak semua barang dan jasa halal direngkuh menjadi hak dan milik kita, pasti akan ada yang terlarang dan Mu’min tidak boleh memiliki disini ataupun nanti disana. Pertanyaan waktu haram adalah Pengendalian Diri agar yang kita makan hanya yang halal, yang dilihat mata adalah yang halal, yang didengar telinga itu yang halal dan seterusnya. Siapa beramal baik penuh jihad sungguh-sungguh, dia akan raih kemenangan dan derajat lebih tinggi di sisi Allah.

 

 

Semoga kita semua dirahmatiNYA dengan hidayah, pencerahan pikiran, keteguhan hati dan kebenaran langkah menuju kebiasaan pribadi yang mu’min dan mukhlis di waktu kini, mendatang dimanapun kita berada.. Amin ya Rabb. ***

 

 

Sumber tulisan: dari khutbah Jum’at 10.12.2010 di Masjid Al-Furqan Nitikan Yogyakarta oleh Ustadz Ridwan Hamidi, http://www.ustadzridwan.com Penulis: Andi Muhammad andimhd@gmail.com Jznallah ahsan al-jaza’.

Sunday morning in November 28th, 2010 all of 41 kinds with in handled by two Members of Indonesian Tour Guides Association and the Psychologists of Islamic University of Indonesia to have one day familiarization trip away from Maguwoharjo Stadion. This is a special healing job for handling traumatic kids with an alternative full day-trip to see Ratu Boko Palace, Prambanan Temple, Educational Museum of Yogyakarta State University and the end the enjoy all time in The Smart Educational Park of Taman Pintar in the city.

The way to do more for the victim Kids, that Tour Guide has to express in happiness, or talk to them the story of Effusive Merapi Volcano that now erupted explosive and told historic background of Prince Bandungbondowoso as he wanted Rarajonggrang in the 9th Century. Many Kinds are involving in deep traumatic experience in last three weeks along volcano eruption. They need a song to dance and they want an other music of life out of their lost home and of course all their buildings to study. There are 20 buildings lost in two provinces with about 3.268 kinds of Elementary School from all around over Merapi Hill of Yogyakarta, Magelang, Boyolali and Klaten.

 

Aims of this trip is the to hear a music and to sing a song with the harmony movement of Merapi activity arranged by the rhythm of the intentions of the familiarization trip. An arranger is the two Tour Guides and Psychologists. An important element of the day after, that the trip participants can expressing their free feeling to study, of course to reach their understanding of the future life in their Family. So familiarization trip means to support together Family in harmony life with the activity of Merapi volcano.

Located about 32 km from the city, Merapi is part of 129 active volcano, but it is the most active one of the world, erupted all seasons which is between 6-10 years. And a volcano is a vent or fissure in the Earth’s crust through which molten magma, hot gases, and other fluids escape to the surface of the land or to the bottom of the sea. It was not just about the eruption but also the whole life in between Family; fathers – mothers – kids are all they born and die. Thus we want to understand this volcano better for all Kids.

 

Kinahrejo or Pangukrejo also Cangkringan village where the Kids live is now clauded from sussessive of eruptions of lava and ash. We have to let around Kampoeng green with all harmony of mankind, to hear the birds there sing and to get wind and water as soul of wonderful village where all young generation live. Because tour guide and also psychologist never could understand how the Kids are ‘dancing’ in their future, so familiarization trip just show them the way to live in harmony by understanding the concept of created volcanoes from God..

 

The next same Fam-Trip with guides, psychologist and lunch to the sightseeing destinations will be on Tuesday, November the 30th and the end trip on Wednesday, December the 1st, 2010 then arounding back to the Youth Centre Sleman and also Sport Centre Pangukan Sleman. Hopefully, fissure eruption ends soon and Merapi live normally as before then all Kids could back to family or school again; lust but not least, the Tourist Guides do their healing job info to the other clients.***

Makna pengorbanan selalu merujuk tapak tilas kisah klasik perintah penyembelihan Ismail oleh Ayahandanya sendiri yaitu Nabi Ibrahim AS yang hidup awal Millennium – 2 SM. Peringatan pentingnya ketaatan atas perintah wahyu Tuhan ini sangat berat bagi diri Ibrahim, namun sang Anak malah ikhlas mengajukan syarat; agar mempertajam pisau penyembelihan, menutup wajahnya dengan kain serta menyerahkan baju yang penuh darah kepada Ibunda Hajar.

 

Secara dramatik Allah SWT mengganti kurban seorang anak yang taat ini dengan seekor domba gemuk yang mulus, anak bapak ini tersungkur sujud bertasbih dan bertakbir membesarkan karunia besar di hari pengorbanan. Inilah yang kemudian diikuti perintah sholat kepada penerus Ibrahim AS yaitu Nabi Muhammad SAW (570-632M) agar ditegakkan umat Islam hingga akhir zaman nanti. Keterkaitan perintah dengan amar ketaatan yang membuahkan hasil positif tak terhingga, namun juga tersedianya balazan azab bagi pembangkang yang takabur atas perintahNya.

 

Printah diatas diperjelas sebuah Hadits, barang siapa mendirikan sholat artinya dia menegakkan agama, siapa meninggalkannya meruntuhkan agama, karena sholat berfungsi 10 hal bagi pelakunya. Yakni ketaatan ibadah kepada Allah SWT, pembersihan wajah, menerangi cahaya hati, kesehatan gerak badan, pembuka turunnya rizki, perekat sosial masyarakat, membuka pintu surga dan menjauhkan diri pelaku sholat dari neraka.

 

Makna pengorbanan diperingati Muhammad SAW hingga akhir zaman adalah berkurban selalu mendekatkan diri padaNYA melalui ketaatan penyembelihan hewan kurban, menegakkan sholat lima waktu, pembersihan atas hawa nafsu, pendekatan diri dengan bhakti kemanusiaan dengan berbagi (zakat-infaq-shodaqah). Saat ini kerkumpul 2juta muslimin lebih di Padang Arafah mendekatkan diri juga memperingati perintah pengorbanan Ibrahim AS., memenuhi panggilan ketaatan manusia pada Pencipta dalam meraih kesucian.

 

Dalam suasana zaman modern penuh budaya konsumeristik saat ini, peringatan pengorbanan melintasi ruang waktu kita berdiri dengan merujuk fakta sejarah, karena hanya dg demikianlah perbaikan kualitas hidup terlacak. Upaya reflektif kesejarahan diatas bisa dengan mendalami amaliah rukun haji, berjihad menyeru kebaikan menegakkan kalimat tawhid kepada Rabb al-Jaliel. ***



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori