DTur Change For All

Orang beriman dan yang berhijrah

serta berjihad di jalan Allah dengan harta,

benda dan diri mereka,

adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah;

dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

QS At-Taubah [9]:20

 

 

Masih disini, ayat lain Allah peringatkan agar mu’min menjaga kualitas amal perbuatan terutama dalam bulan-bulan Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Bahwa menjalani kebaikan ataupun keburukan di dalam empat bulan haram ini memiliki risiko lebih dari delapan bulan lain selama setahun. Lokus menjalani prestasi amal baik buruk inipun berbeda antara melakukannya di Tanah Haram dengan tempat lain di dunia, sholat di Masjid al-Haram berbeda nilainya dari masjid-masjid manapun.

 

 

Ada catatan tentang ruang dan waktu bahwa seorang mu’min perlu melakukan hijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari kemiskinan ke kekayaan, dari sikap minta-minta menjadi welas asih dan pemurah, dari kebiasaan bermalas-malas jadi penuh gairah semangat termasuk dalam kebiasaan beribadah, khususnya sholat berjamaah. Demikian halnya perbuatan itu melintasi waktu yang sekarang maupun untuk yang akan datang, bahwa berhijrah adalah proses perubahan dan pembelajaran yang sebaiknya berlaku kapanpun demi kemanusiaan yang diisyaratkan sebagai Wakil Tuhan di bumi.

 

 

Layak pula direnungkan untuk berubah dan belajar menjadi baik tersebut perlu berjihad. Manusia butuh menggunakan panca indera dengan sarana kehidupan yang dianugrahkan Allah berupa kesehatan fisik, usia, kepandaian, harta benda dan kesempatan waktu sebaik mungkin. Makna pembelajaran disini yaitu memaksimalkan anugerah hidup menjadi lebih bernilai dan bermanfaat dalam rangka pendakian pribadi Muslim yang unggul, caranya yaitu mempercayai rambu-rambu kebenaran yang diisyaratkan ajaran Al-Qur’an dan tuntuan Hadits Rasulullah Muhammad S.A.W.

 

 

Etika menggunakan panca indera yang dituntunkan misalnya, bahwa tak semua yang bisa dilihat mata itu layak untuk dilihat seorang Muslim. Tak semua yang telah didengar itu boleh dikabarkan, halal disampaikan atau tak semua makanan halal untuk dimakan dan seterusnya. Batasan halal & haram telah jelas bagi Muslim dari waktu ke waktu, dimanapun kita berada. Kualifikasi tindakan yang terkontrol berdasar tuntunan rambu kebenaran itulah seharusnya manusia bersikap dan bertindak, bertahap menjadi lebih baik dengan meyakini dan menjalani tuntunan as-Sunnah tersebut diatas menjadi pribadi Mu’min.

 

 

Maka sisa waktu akan menyadarkan, bahwa tak semua barang dan jasa halal direngkuh menjadi hak dan milik kita, pasti akan ada yang terlarang dan Mu’min tidak boleh memiliki disini ataupun nanti disana. Pertanyaan waktu haram adalah Pengendalian Diri agar yang kita makan hanya yang halal, yang dilihat mata adalah yang halal, yang didengar telinga itu yang halal dan seterusnya. Siapa beramal baik penuh jihad sungguh-sungguh, dia akan raih kemenangan dan derajat lebih tinggi di sisi Allah.

 

 

Semoga kita semua dirahmatiNYA dengan hidayah, pencerahan pikiran, keteguhan hati dan kebenaran langkah menuju kebiasaan pribadi yang mu’min dan mukhlis di waktu kini, mendatang dimanapun kita berada.. Amin ya Rabb. ***

 

 

Sumber tulisan: dari khutbah Jum’at 10.12.2010 di Masjid Al-Furqan Nitikan Yogyakarta oleh Ustadz Ridwan Hamidi, http://www.ustadzridwan.com Penulis: Andi Muhammad andimhd@gmail.com Jznallah ahsan al-jaza’.

Iklan

Sunday morning in November 28th, 2010 all of 41 kinds with in handled by two Members of Indonesian Tour Guides Association and the Psychologists of Islamic University of Indonesia to have one day familiarization trip away from Maguwoharjo Stadion. This is a special healing job for handling traumatic kids with an alternative full day-trip to see Ratu Boko Palace, Prambanan Temple, Educational Museum of Yogyakarta State University and the end the enjoy all time in The Smart Educational Park of Taman Pintar in the city.

The way to do more for the victim Kids, that Tour Guide has to express in happiness, or talk to them the story of Effusive Merapi Volcano that now erupted explosive and told historic background of Prince Bandungbondowoso as he wanted Rarajonggrang in the 9th Century. Many Kinds are involving in deep traumatic experience in last three weeks along volcano eruption. They need a song to dance and they want an other music of life out of their lost home and of course all their buildings to study. There are 20 buildings lost in two provinces with about 3.268 kinds of Elementary School from all around over Merapi Hill of Yogyakarta, Magelang, Boyolali and Klaten.

 

Aims of this trip is the to hear a music and to sing a song with the harmony movement of Merapi activity arranged by the rhythm of the intentions of the familiarization trip. An arranger is the two Tour Guides and Psychologists. An important element of the day after, that the trip participants can expressing their free feeling to study, of course to reach their understanding of the future life in their Family. So familiarization trip means to support together Family in harmony life with the activity of Merapi volcano.

Located about 32 km from the city, Merapi is part of 129 active volcano, but it is the most active one of the world, erupted all seasons which is between 6-10 years. And a volcano is a vent or fissure in the Earth’s crust through which molten magma, hot gases, and other fluids escape to the surface of the land or to the bottom of the sea. It was not just about the eruption but also the whole life in between Family; fathers – mothers – kids are all they born and die. Thus we want to understand this volcano better for all Kids.

 

Kinahrejo or Pangukrejo also Cangkringan village where the Kids live is now clauded from sussessive of eruptions of lava and ash. We have to let around Kampoeng green with all harmony of mankind, to hear the birds there sing and to get wind and water as soul of wonderful village where all young generation live. Because tour guide and also psychologist never could understand how the Kids are ‘dancing’ in their future, so familiarization trip just show them the way to live in harmony by understanding the concept of created volcanoes from God..

 

The next same Fam-Trip with guides, psychologist and lunch to the sightseeing destinations will be on Tuesday, November the 30th and the end trip on Wednesday, December the 1st, 2010 then arounding back to the Youth Centre Sleman and also Sport Centre Pangukan Sleman. Hopefully, fissure eruption ends soon and Merapi live normally as before then all Kids could back to family or school again; lust but not least, the Tourist Guides do their healing job info to the other clients.***

Makna pengorbanan selalu merujuk tapak tilas kisah klasik perintah penyembelihan Ismail oleh Ayahandanya sendiri yaitu Nabi Ibrahim AS yang hidup awal Millennium – 2 SM. Peringatan pentingnya ketaatan atas perintah wahyu Tuhan ini sangat berat bagi diri Ibrahim, namun sang Anak malah ikhlas mengajukan syarat; agar mempertajam pisau penyembelihan, menutup wajahnya dengan kain serta menyerahkan baju yang penuh darah kepada Ibunda Hajar.

 

Secara dramatik Allah SWT mengganti kurban seorang anak yang taat ini dengan seekor domba gemuk yang mulus, anak bapak ini tersungkur sujud bertasbih dan bertakbir membesarkan karunia besar di hari pengorbanan. Inilah yang kemudian diikuti perintah sholat kepada penerus Ibrahim AS yaitu Nabi Muhammad SAW (570-632M) agar ditegakkan umat Islam hingga akhir zaman nanti. Keterkaitan perintah dengan amar ketaatan yang membuahkan hasil positif tak terhingga, namun juga tersedianya balazan azab bagi pembangkang yang takabur atas perintahNya.

 

Printah diatas diperjelas sebuah Hadits, barang siapa mendirikan sholat artinya dia menegakkan agama, siapa meninggalkannya meruntuhkan agama, karena sholat berfungsi 10 hal bagi pelakunya. Yakni ketaatan ibadah kepada Allah SWT, pembersihan wajah, menerangi cahaya hati, kesehatan gerak badan, pembuka turunnya rizki, perekat sosial masyarakat, membuka pintu surga dan menjauhkan diri pelaku sholat dari neraka.

 

Makna pengorbanan diperingati Muhammad SAW hingga akhir zaman adalah berkurban selalu mendekatkan diri padaNYA melalui ketaatan penyembelihan hewan kurban, menegakkan sholat lima waktu, pembersihan atas hawa nafsu, pendekatan diri dengan bhakti kemanusiaan dengan berbagi (zakat-infaq-shodaqah). Saat ini kerkumpul 2juta muslimin lebih di Padang Arafah mendekatkan diri juga memperingati perintah pengorbanan Ibrahim AS., memenuhi panggilan ketaatan manusia pada Pencipta dalam meraih kesucian.

 

Dalam suasana zaman modern penuh budaya konsumeristik saat ini, peringatan pengorbanan melintasi ruang waktu kita berdiri dengan merujuk fakta sejarah, karena hanya dg demikianlah perbaikan kualitas hidup terlacak. Upaya reflektif kesejarahan diatas bisa dengan mendalami amaliah rukun haji, berjihad menyeru kebaikan menegakkan kalimat tawhid kepada Rabb al-Jaliel. ***

Menjelang iedul fitri adalah penantian orang akan saudara karibnya, suasana berkumpulnya anggota keluarga dari sanaknya, bersatunya kembali kerabat yang tercerai oleh kesibukan dan waktu kerja. Masa-masa akhir tiap bulan Ramadhan bukan suasana i’tikaf yang menonjol di masjid-masjid atau penantian lailatul-qadar, malam seribu bulan, malah suasana silaturahim lain yang menggambarkan kerja iblis.

Ya, sua kebalikan yang terjadi, ironi perbuatan syetan menghampiri hati manusia justru menjauhkan amaliah Ramadhan dan menimbulkan suasana bertolak belakang di akhir Ramadhan. Orang ramai hilir mudik untuk berbelanja barang, pakaian dan makanan, siap-siap bercengkerama menemui keluarga di kampoeng. Mereka rela berlama di jalan, antri di kendaraan, berdesakan di pasar demi persiapan hari raya Iedul Fitri bersilaturahim dan bertemu kembali bersama sanak saudara.

SYAWALAN MEREKAT TALI SILATURAHIM

Hal yang positif bahwa, pada akhir puasa ini muncul pula penantian hadirnya 1 Syawwal dalam kalender hijriyah. Suasana khas muslimin Indonesia, bahwa orang merasa masuk ke dalam suasana syawalan. Saat-saat mereka terhubung kembali tali silaturahim dari kandungan rahim ibu yang sama dan ketika terleburnya urusan dunia kepada memori penciptaan yakni kebutuhan untuk mengenal kembali sosok-sosok saudara dari ibu kandungnya.

Saat syawalan dengan saling memaafkan adalah menginspirasi pribadi-pribadi untuk mampu terhubungkan kepada kondisi rohani mentauhidkan Sang Pencipta, yaitu rahim pemikiran bersama untuk hanya menuhankan Allah SWT. Bukankah sebelum terlahir dari rahim seorang ibu, kita sejatinya telah berjanji mengakui Allah SWT sebagai rabb penguasa alam semesta yang serba berkehendak kepada urusan manusia.

Menghubungkan tali rahim pemikiran fitri ini, penulis mengajak batin memori kita untuk teringat suasana dialog awal-awal penciptaan Adam AS., dimana syetan iblis bersumpah akan mengganggu orang-orang beriman hingga mereka lupa diri terjauh dari tuntunan kebenaran ilmu dan agama.

RAHIM PENCIPTAAN ADAM & IBLIS

Dialog mereka tertuang di dalam QS Shaad [38]:71-83.  Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sungguh akan Aku ciptakan manusia dari tanah.” Apabila Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya.” Lalu para malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan termasuk orang-orang yang kafir.

Ayat 75-76, Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa yang lebih tinggi?.” Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Perasaan lebih tinggi dari yang lain inilah yang kemudian ditanamkan kepada hati-hati manusia di dunia, agar mereka ikut serta bersama iblis merasakan hal yang sama.

Selanjutnya ayat 77-79 Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sungguh kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Disini kita mengetahui betapa Allah SWT Maha Pengasih memberi kebebasan kepada makhluk ciptaanNya, terserah dia menurut ikut saja atau melawan dan tidak sudi mengikuti tuntunan yang diajarkan.

Kasih Allah terlihat pada jawaban ayat 80-83, Dia berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi waktu tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Lalu iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. Yaitu orang-orang yang menuruti petunjuk ajaran agama.

Hal sama dijelaskan pada QS al-Hijr [15]:35-38; ‘‘dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” Berkata iblis: “Ya Tuhanku, kalau begitu, maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Iblis memohon agar dia tidak diazab dari sekarang melainkan diberikan kebebasan hidup sampai hari bangkit, yang telah ditentukan, yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.

Dialog diatas terekam dalam sejarah tak terbantahkan, namun tetap ada celah bagi syetan iblis untuk mengganggu manusia melalui jalan darah dan faham pemikiran bahkan cara apapun agar kita lalai. Hingga ingkar pada ajaran Nabi Muhammad saw, merusak tali pemahaman orang-orang yang berusaha mengikuti ajarannya. Syetan terus memasukkan faham lain, memunculkan ragu dan ingkar atas kebenaran hadits dan sunnah Rasul.

Ulasan pertentangan hati ini digambarkan QS al-Hijr [15]:12-13. Demikianlah, Kami masukkan rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu kedalam hati orang-orang kafir, mereka tidak beriman kepada Muhammad dan Al Quran. Sesungguhnya itulah sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu, dan itu terjadi hingga hari ini. Maksud sunnatullah di sini ialah kebiasaan mendustakan Rasul; kata-kata dan ucapan orang-orang kafir Mekah kepada Nabi s.a.w. sebagai ejekan.

Tali pemikiran kemanusiaan ini penting, demi utuhnya sikap pribadi muslim untuk percaya diri akan kebenaran al-Islam melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw, barulah kita bisa mengikuti pendapat para alim ulama atas perkara-perkara tertentu. Saat ini demikian gencar serbuan ilmu dan teknologi atas keimanan kita, hanya tali keyakinan islam yang kokoh akan menyelamatkan permainan akhir. Itulah makna silaturahim pemikiran di luar silaturahim fisik yang terkait dari budaya syawalan.

TALI RAHIM KETUHANAN

Kisah ini mengingatkan memori kita, bahwa Adam AS adalah sosok wakil Allah (khalifatullah) di bumi. Ternyata dialog penciptaan Adam AS tergambar saat Allah SWT telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (Allah), maka diperintahlah iblis agar tunduk dengan bersujud, menghormat kepadanya, tapi menolaknya dengan alasan tertentu. Penegasan ini diulang lagi pada surat lain, isinya sama bisikan syetan iblis untuk merusak tali silaturahim telah muncul dari dialog bersejarah ini, karena memang syetan iblis tercipta membangkang.

QS al-Hijr [15]:32-33. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Disini syetan membanggakan diri karena diciptakan dari api, sedang manusia dari tanah. Tentu ada rahasia Allah mengapa tanah lain jenis dari sifat api, bahwa amarah nafsu didorong iblis tidak taat pada perintah Allah SWT, itulah muasal kutukan.

Iblis juga mengulang pintanya tertera di ayat 39-40: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis yaitu orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT.

Pengulangan fakta sejarah penciptaan manusia terekam dari dialog dua Surat Al-Qur’an, Shaad dan Al-Hijr, hal ini mengingatkan kita kepada asal usul janji dan penciptaan seperti ingatan atas datangnya Iedul Fitri, hari-hari kemenangan atas hawa nafsu dan syawalan meningkatkan amal sholih. Sebuah ritus tali pemikiran, bahwa apapun milik kita sejatinya demi perbaikan kualitas hidup serta bekal penantian menuju kematian, maka indahkanlah hubungan tali silaturahim diantara kita semua. Wallahu a’lam. ***

Inspirasi Tulisan: Tadarrus bakda subuh di Wisma Sidikan 29 Ramadhan 1431 H bertepatan 08/09/2010. Gambar dari tetangga FB, 2010.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

QS al-Israa’ [17]:23.

Sebentar lagi hari raya ied fitri 1431 H.. saat umat islam berkumpul merayakan kemenangan fitri atas hawa nafsu…selayaknya kembali ke asal kita saling memaafkan antar sesama muslim, menjalin hubungan kasih sayang dalam berkeluarga, apalagi antara anak kepada orang tua, terutama berbuat baik kepada ibu bapak. Ayat diatas memerintah kita untuk mentauhidkan dzat Allah SWT dan berbakti pada kedua ibu bapak sebagai kewajiban yang berkait, sebagaimana kaitan antara syukur (berterima kasih) kepada orang tua dengan syukur kepada-Nya.

Perintah bersyukur kepada kedua pihak diatas dan yang saling terkait ini dipertegas lagi pada QS Lugman [31]: 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dikisahkan dalam shahih Bukhari bahwa Abdullah berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW, amal perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah SWT’? Nabi menjawab: ‘sholat tepat pada waktunya’. Aku bertanya, kemudian apa lagi, dijawabnya: ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya, lalu apa lagi? Nabi menjawab: ‘Jihad di jalan Allah!’

Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amal perbuatan paling utama di sisi Allah, kedudukannya di bawah sholat lima waktu yang merupakan tiang pokok agama Islam. Betapa posisi penghormatan ini bagi seorang muslim membawa dampak kokohnya bangunan ibadah yang luar biasa.

Di dalam tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Allah sering mengaitkan perintah beribadah kepadaNya dengan  perintah berbakti kepada orang tua dengan cara memperlakukan mereka secara baik sempurna. Ini sebab keduanya berkedudukan di bawah Allah SWT, sebab hakiki keberadaan manusia di dunia ini, adapun orang tua yang mendidik kita dengan cinta dan kasih saying. Karena itu sikap bakti kepada orang tua merupakan prilaku kasih kesetiaan hamba sekaligus kepada sang Pencipta.

Terdapat doa yang selalu diajarkan kepada kita sejak kecil; Wahai Tuhanku, kasihanilah ibu bapakku sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku di waktu kecil. Tersirat disini pendidikan dan kasih sayang orang tua belumlah cukup, masih dibutuhkan bantuan kasih sayang Allah agar menjadi kekal, menjadikan doa ini harapan sebagai balasan atas kasih sayang yang telah mereka berikan saat kita masih kecil.

Tidak diragukan lagi, bahwa tanggung jawab orang tua begitu besar kepada kita anak-anaknya, terutama ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusuin penuh kasih dan sayang dilengkapi peran ayah yang melindungi dan memberi nafkah. Berapa banyak ibu yang merasakan tubuhnya lemah, bebannya demikian berat akibat beratnya proses hamil dan persalinan. Hal in seperti digambarkan dalam QS al-Ahqaaf [46]: 15

‘‘Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.

Semua aktivitas dan proses pendidikan ini dikembalikan kepada kasih sayang Allah SWT semata; hanya kepada Allah tempat berserah diri serta semua itu bergantung dan bisa terjadi. Surat al-Ahqaaf ayat ke-15 ini berisikan pula kewajiban untuk mendokan orang tua oleh susahnya mendidik dan mengantar kita hingga dewasa;

Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ada banyak pengalaman masa kecil dan terngiang kembali saat-saat seperti sekarang ini kepada masing-masing diri kita, anda pembaca juga saya..tentang bagaimana ibu bapak dahulu menimang-nimang dan mengajarkan sesuatu, bahkan memarahi kita saat-saat tertentu. Beribu kisah canda dan tangis mewarnai proses pendidikan, manakala kita bermain dan bekerja hatta memasuki gerbang berkeluarga hingga beranak pinak. Semua file ingatan ini mengantar pada kesadaran bahwa berbakti kepada orang tua mutlak diwujudkan sesuai kapasitas kita masing-masing.

Inspirasi catatan akhir Ramadhan 1431H ini penulis ambil dari bab IV karya Fathi Muhammad Thahir (2006) berjudul Saadatul Abna’ fie Birr al-Ummahat wal Abaa’, semata ingin berbagi cerita mengingat bahwa ibu kandung saya kini telah renta menyepi di kampoeng. Sementara bakti kepada ayahanda tercinta telah terlewati setelah masa-masa prihatin selama 13 tahun keluar masuk rumah sakit oleh derita penyakit jantung akut yang lantas merenggutnya (2001). Ya Allah, karuniahilah kami kemampuan untuk bisa berbakti kepada ibunda, agar kami tetap istiqamah dalam beribadah kepadaMu serta mensyukuri nikmatMu.***

Gambar: dari tetangga sebelah (2010) dan koleksi foto bunga Lotus 2008.

Barangkali anggota tubuh terseksi adalah juga lidah kita. Dia pipih tak bertulang, namun aktif sekali dipergunakan untuk bersilat kata, berzikir, bercengkerama, menyanyi juga diskusi tentang banyak hal bersama orang lain maupun sendiri. Ya, kegiatan komunikasi sehari-hari kita selalu menggunakan lidah. Baik buruk tingkat hubungan pribadi banyak pula ditentukan olehnya, sebagaimana keterkaitan fungsinya dengan organ mulut serta bagaimana lidah digunakan, yaitu untuk berbicara dan cara ucapan bahasa melalui lidah itu tersampaikan.

Sebuah hadits menyuruh agar kita berbicara  baik dan  mengatakan sesuatu kebaikan atau jika tidak memungkinkan itu dilakukan, pilihannya lebih baik diam. Cerminan ajaran ini, bahwa lidah memiliki jangkauan tiada batas, berakibat sangat luas walau hanya terlahir dari ujaran dan ucapan. Aktifivitas lidah mampu menembus ruang dan waktu, mempererat persaudaraan sekaligus membuat hubungan sesama terganggu, menjalin tatanan kemasyarakatan dan bahkan kenegaraan. Itulah lokus sasaran hadits ‘sampaiakan suatu kebaikan walau satu ayat!’ memiliki tempat, agar sesuatu menjadi lebih tertata baik dan bukan malah berantakan setelah muncul sebuah pernyataan lidah. Dalam contoh tertentu, ucapan seorang Raja bisa memicu perang dan perintah pembunuhan… sungguh luar biasa..

Sebuah ayat di dalam QS 5:14berbunyi yuharrifuuna al-kalima ‘an mawadhi’ihi tentang lidah yang memutar balik arti dan pemahaman sehingga keluar dari tempatnya yaitu kebenaran; ada di ayat lain QS Al-Ma’idah bunyi ayat ke-41 …yuharrifuna al-kalima min ba’di mawaa’dhi’ih kurang lebih mengisyaratkan adanya lidah-lidah yang merusak tatanan harmoni dan sistem setelah semua tertata rapi. Sungguh fakta (kalimat) ini ada di tengah masyarakat kita saat ini, dan anehnya ukuran kebenaran dan baik-buruk menjadikan lidah bebas sebebasnya mengutarakannya seakan aturan berujar dan berpendapat telah menghalalkan lidah untuk bebas berekspresi. Masalahnya, sumber segala ujaran dan ucapan lidah tetaplah akal dan nurani yang membutuhkan tuntunan wahyu, sedangkan ruang waktu saat ini memungkinkan nafsu bergerak liar dari etika dan keimanan, na’uzu billahi min dzalik.

Statuta lidah dalam tulisan singkat ini sekedar catatan memori merujuk akun facebook penulis hari Kamis, 19.08.2010  pukul 10:00 am berbunyi: ‎’..penyeimbgn itu ialah LIDAH yg tajam tnpa tulang..pnembus tatanan kalimat..pngawal pperangan, so bicaralah baik or DiAM!’ mendapat Hide Feedback (51) seperti  Lilis Damayanti, Arif Teguh, Asmanih Mungil dan lain yang menyukai. Komentar antara lain dari Sita Maysita diam emas…bicara perak· Dijawab Andi Muhammad ‎..hehe..se7 Sit! stumbs@ ..ada teguran ayat bhw perusak hub n tatanan harmoni adalah lidah yg cenderung memutar  balik makna dan pemahaman.. ·

Komentar berseliweran dan kami angkatlah status baru berjudul STATUTA LIDAH KITA yang mendapat respon beberapa sahabat, antara lain yang penting berikut ini: Sohib Sejati lidah tiada fungsi sama sekali tnp adanya niat dlm hati yg berkolaborasi dg sist syaraf dan diteruskn ke otak.shg terucap sbg konsonan vokal yg trdgr. bahaya lidah,ataukah niat. orang bisu pun akn brbahaya meski tnp lidah yg brkata. krn ada niat.

    • Andi Muhammad ‎..itulah lidah pmantik sistem faal; smberny hub akal-nurani yg btuh tuntunan wahyu (iman) terlahir niat  jdi ujaran/langkah

    • Maghfirah Syekhan kdang tdk ada niat utk menyakiti dn bicara salah tp krena kceplosan jd berbicara kasar, salah, dsb.
      Klu sperti tu gmana tuh bpk2 ? Pdahal ga da niat ?


      Sohib Sejati karnanya mulai biasakn diri u brpikir sblm brtindak.shg trhindar dr ceplas ceplos.kcl, kritik pedas,srgkali hsl dr logika spontan dan itu prl.krn bebas rekayasa.

    • Maghfirah Syekhan Terima kasih, sngat brmanfaa.

    • Andi Muhammad magfirah@ iya..mari jaga lidah! sohib@ iya cak..kritik tetap dibtuhkan, hnya lidah ‘lillah’ santun pun disunnahkan lho..


      Sohib Sejati lidah umar bin khottob sgt pedas.sdgkn lidah ali,santun.keduanya kekasih nabi,jg Allaah. jd trgantung niat.smua dr niat. “Aku sebagaimana prasangka hambaKu”. prasangka,bkn prakata alias lidah.

    • Andi Muhammad ‎..prasgka/dhann beda dg niat.. bhw niat mentukan hasil, sdg prasgka hmba pdNYA tak brhub niat tpi PERSEPSinya ttg Allah


Sebuah Hadist shohih diriwayatkan berbunyi: “..di akhirat kelak mulut ditutup lalu paha-daging-tulang akan bersaksi..dikatakan padanya: “bicaralah!” HR Muslim-Abu Dawud

Sungguh cuplikan isi matan hadits qudsi diatas menggambarkan bagaimana kesaksian anggota badan manusia kelak pada hari Kiamat, amat relevan dengan bahasan bahwa keseluruh sistem faal tubuh dikendalikan oleh ruh yang membutuhkan persaksian nilai-nilai iman; Allah jua yang menggerakkan faal tubuh tersebut. Jangan sampai neraka dunia menghampiri manusia, manakala terdapat fakta di sekeliling ada manusia yang berHati namun tak memahami, berMata tak melihat, berTelinga tak mendengar..

Kok bisa hal ini terjadi pada orang yang sehat jasmani? Tidak adakah pertanda fisik dari perjalanan kesehatan tubuh yang mengharuskan manusia menggunakan AKAL untuk memahami makna sehat? Jika demikian, itu lebih rendah dari hewan. Sesungguhnya kisah ini nyata di sekeliling kita, seperti disindir QS  al-A’raf 179 karena mereka lupa diri (ingkar) dan enggan mnggunakan AKAL sehatnya..digambarkan ibaratnya mereka adalah seekor Anjing, dibawa tuannya dia menyalak, apalagi dia ditinggalkan akan semakin ribut..

Maka jiwa yang tenang adalah menyeimbangkan sistem faal itu manusia tersebut diatas dengan menjalankan sholat, banyak berzikir dan membaca kebesaran penciptaan terutama dari anggota tubuhnya sendiri. Sasaran pembicaraan tentang LIDAH dari dialog akun facebooker di bbbulan suci Ramadhan 1431H ini dimaksudkan agar hubungan pertemanan antar sesama menjadi kian membaik, karena tujuan penciptaan itu sendiri demi kebaikan kemanusiaan dan bukan sebaliknya. Hanya kembali kepada Allah SWT semata upaya manusia ini dipasrahkan. ***

Sumber gambar: dari akun album tetangga sebelah.. kecuali foto SABAK yang penulis ambil dari studi penyegaran pemanduan wisata HPI DIY bersama Dispar Kab Sleman di Museum Pendidikan Indonesia, UNY pada Juli 2010.

Materi bahasan tentang Kitab suci Al-qur’an sungguh luas tiada habis dikupas, demikian pula jika seseorang muslim BERSUJUD sudi mengkaji tuntunan dan tuntutan meyakini wahyu Allah ini sebagai keharusan dan kebenaran. Sungguh gambar relief candi abad ke-8 ini banyak memberi makna baru, juga bagi pembaca ayat-ayat Allah SWT. Paling tidak terdapat lima tuntutan seorang muslim kepada kitabullah, sumber segala pandangan hidup ini;

Benarkah seseorang disini sedang bersujud.. kepada siapa.. Jika ditarik pada ruang waktu keberadaan Borobudur..menuntut kritik ajaran sejarah. Itulah mengapa muslim perlu membaca Al-Qur’an, sumber informasi utama dan petunjuk kronik kehidupan manusia. Muslim dituntut arif memahami ayat-ayat tersurat dan tersirat dari kalamullah ini. Tuntutan mencinta al-Qur’an; Mendidik dan memperbaiki jiwa dengan banyak membaca ayat-ayatnya (QS 2:121) dan berusaha memahami kandungan al-Qur’an (QS Muhammad 24); Tunduk dan mengajarkan hukum-hukum Allah yg terdapat di dalamnya, disebut dalam QS al-Ahzab 36; Mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur’an (QS 2:151) dan QS an-Nisa’ 65; serta menegakkan isi ajaran tersebut di muka bumi.

Sedangkan beberapa tuntunan petunjuk tentang bahaya seorang muslim jika melupakan atau meninggalkan al-Qur’an telah disebut beberapa bagian ayat di dalam wahyu induk segala Kitab ini, yakni adanya akibat buruk yang harus diterima;

Konsekwensi saat manusia melupakan isi ayat-ayat al-Qur’an (QS Thahaa 126); Manusia akan menemui kesempitan dan kesesakan (QS al-An’am 125); Mendapat kehidupan yang sempit (QS Thahaa 124); Memperoleh kebutaan pada mata hati (QS al-Hajj 46); Akan mengeras hatinya (QS al-Hadiid 16); Menjadi dhalim dan hina (QS Ali Imron 112); Menjadi teman sejati syaitan (az-Zukhruf 36); Menjadi lupa diri dan fasik (al-Hasyr 19); dan manusia akan memiliki sifat munafik, seperti disebut antara lain QS an-Nisa’ 61.

Semua muslim menghendaki keseimbangan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat, maka tuntuan diatas menjadi pengendali sekaligus peringatan bahwa mempelajari Kitab suci Al-Qur’an adalah keharusan serta kewajiban. Bahwa upaya memahami isi kanduangannya, berusaha mengamalkan ajarannya walau sebuah kebenaran ayat saja adalah kemuliaan yang tidak boleh ditawar apalagi karena alasan tertentu, melupakannya. Sungguh bahagia muslim yg hidupnya terkontrol kebenaran kalamullah ini, wa Allah a’lam Maha Benar Allah dengan segala firmanNYA. ***

Sumber Tulisan: Zaini Munir Fadholi, makalah Pengajian Tafsir Al-Munir Wahbah az-Zuhaili, YK., 10 Maret 2007. File gambar: pertama dari JPG facebooker, 4/2010; gambar kedua koleksi pribadi (awal th 2010) dari lantai 3 candi Borobudur; ketiga – keempat dari tetangga (Ramadhan 1431H).


  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori