DTur Change For All

Posts Tagged ‘DESTINASI

JEJAK HISTORIS KOTAGEDE

andimhd@yahoo.com

Sejenak menelusuri masa lalu Yogyakarta dengan Mataram Islam, akan kita temukan jejak rekam peristiwa yang mengelilingi keberadaan Kotagede. Sebuah kotalama dan ibukota kraton mengingatkan pada sebutan nama maharajanya yang besar, mendunia dan agung yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, dialah penguasa Kraton ketiga. Jauh sebelum yang mengelilingi Mentoak dari arah utara bagian tengah terdapat Kalingga Budha dengan Ratu Sima (674M) yang memerintah Jepara, Kerajaan Hindu di sebelah timur Medang Mataram dengan Rakai Sanjaya sebagai raja (732M), dan kekuasaan Dinasti Syailendra yang meninggalkan jejak Borobudur. Setelah masa itu Demak muncul di masa keruntuhan Majapahit abad 16, sejak itulah kerajaan Islam berkuasa dan kelak Sultan Trenggono memindahkan kerajaan ke Pajang, daerah yang kini dekat Solo.

Kasultanan Yogyakarta berawal dari kerajaan Pajang (1568-1586) dengan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir sebagai raja, ketika memenangkan pertikaian merebut kekuasaan Demak dengan Adipati Jipang, ia mendapat bantuan dari Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya putranya yang tinggal di utara pasar (Ngabehi Loring Pasar). Ia menghadiahi sebidang tanah di daerah Mentoak berupa hutan belantara, kemudian oleh Ki Ageng dibangun menjadi perdikan, sebuah kadipaten di bawah Pajang. Di akhir masa Pajang, Sutawijaya yang jadi putera angkat Sultan Hadiwijaya mendirikan kerajaan Mataram di bumi Mentoak dan mengangkat diri sebagai raja bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo (1586 – 1601). Letak Kerajaan Mataram Islam adalah di Kota Gede hingga tahun 1640, setelah itu Sultan Agung memindahkan ibukota ke Kerto wilayah Plered Bantul sekarang.

JEJAK TRADISI DI KOTAGEDE

Topografi Mataram Islam tidak terlepas dari keberadaan Gunung Merapi dan Laut Kidul yang memiliki nilai magis bagi masyarakat Jawa. Keduanya menjadi obyek peradaban dan basis kepercayaan yang tidak dapat dipisahkan dalam wujud tradisi masa lalu maupun tata masyarakat sekarang. Pengaruh kepercayaan Jawa dan Islam itu dapat dirasakan di Kotagede. Disini tempat lahirnya Mataram Islam, terbukti yang masih bisa ditemui antara lain Makam Ki Ageng Pemanahan cikal bakal dua kerajaan Surakarta dan Ngayogyakata dari akar yang sama. Kotagede merupakan bekal kebesaran budaya Jawa sekaligus ibukota kerajaan Mataram. Saat ini wilayah yang terletak 5km tenggara Kota Yogyakarta masih menyimpan ratusan jejak situs kebesaran, termasuk arsitektur bangunan tradisional Jawa yang terpengaruh budaya Islam dan beberapa jenis seni kerajinan perhiasan emas, perak dan tembaga. Salah satu jejak sejarah itu adalah komplek Masjid Mataram, dalamnya terdapat sebuah mimbar menyerupai tandu yang merupakan upeti Adipati Palembang saat raja ketiga Sultan Agung memimpin di Kraton Kotagede.

Terdapat pula Sendang pertirtaan yang diyakini mampu mewujudkan harapan orang yang berdoa disana. Situs makam raja putra Ki Ageng Pemanahan, yakni Makam Panembahan Senopati memiliki keunikan berupa lantai Singgasana Watugilang juga bisa ditemukan di Kotagede. Daya tarik ini semakin diperkuat oleh banyaknya rumah kuno masyarakat Kalang antara zaman Mataram hingga awal abad ke-20 yang masih utuh sesuai arsitektur aslinya. Patut disayangkan bangunan rumah-rumah joglo, limas dan serotong ini banyak yang runtuh oleh gempa 27 Mei 2006, jumlahnya tak kurang 35 buah rumah roboh. Kotagede adalah salah satu dari seratus kawasan situs budaya dunia yang kini terancam. Menurut Yayasan Kanthil Kotagede, total rumah tradisional kini berjumlah tiga ratusan lebih, tahun 1980-an rumah joglo disana masih ± 170 bangunan, sementara data di tahun 2005 ada sekitar 150 rumah antik.

Diantara peninggalan kuno Kotagede bisa dilihat misalnya di Tegalgendu, sebuah bangunan tahun 1800 hasil konstruksi Saudagar Kalang yang dahulu mensuplay kebutuhan perhiasan warga Kraton, dikenal sebagai Pak Tembong. Demikian kekayaan yang dimiliki, dia padukan ciri arsitektur Jawa, Portugis, Cina dan Belanda pada bangunan itu sampai-sampai coin matauangpun menghiasi detail dinding hingga nampak unik dan artistik. Keindahan dan kekhasan bangunan bersejarah rumah-rumah joglo, limas dan serotong itu kini amat memprihatinkan bahkan bisa musnah jika tanpa perhatian dan bantuan semua pihak, kecuali tentu bagi mereka yang tak bermasalah dengan beaya rehabilitasi sendiri seperti kasus Sekar Kedhaton peninggalan kuno yang kini dimiliki seorang pengusaha kerajinan perak ini.

JEJAK NIAGA & SENI

Menyusuri lorong perkampungan yang saling terhubung di Kotagede bagai menikmati liku-liku perjalanan mengasyikkan kota tua diselingi bunyi-bunyian logam beradu oleh tangan-tangan perajin emas, perak dan tembaga. Rekaman sejarah Kotagede adalah kebesaran perniagaan Mataram yang banyak dimiliki fotografer, budayawan dan peneliti baik pemerintah atau swasta dalam dan luar negeri itu masih dapat ditelusuri jejaknya di realitas kehidupan masyarakatnya. Warisan heritage budaya masa lalu tersebut bisa dinikmati dengan kasat mata kini di sejumlah sentra seni dan kerajinan masyarakat, di pasar Kotagede, di komplek Masjid serta kawasan cagar budaya Makam Raja dan sekitarnya. Perlu disebut pula seniman budayawan yang terlahir disini, dimana nafas hidup mereka seakan terus lahir membawa semangat niaga serta kemegahan Mataram Islam.

Jejak kehidupan lain ditemukan yakni keberagaman kuliner makanan khas berupa geplak, kipo, klepon, jenang atau lainnya melengkapi institusi pasar bagi masyarakat Jawa yang dapat ditemukan di Kotagede. Pengaruh saudagar dari sini sangat terasa pada pasar-pasar tradisi di Yogyakarta, bahwa para pedagang pasar itu sebagian besar terkait atau berasal dari Kotagede. Dan karena saudagar adalah pewaris kebesaran Mataram yang mengindahkan nilai-nilai tradisi dan keagamaan, wajar pula mereka membawa etos entrepreneur serta di saat yang sama juga menempati posisi lain dengan profesi beragam namun tetap berjiwa pedagang. Hal ini merupakan kajian menarik, terutama karena saat ini sebuah Pasar Tradisi tak harus kalah tergerus keberadaan mal, setidaknya bagi wisatawan akan terasa sekali jejak saudagar muslim era Mataram itu manakala melewati kampoeng sepanjang Jalan Kamasan, Jalan Mondorakan, Jalan Tegalgendu seterusnya dalam kawasan budaya kuno Kotagede. (Artikel dikirim ke Kedaulatan Rakyat, 01.10.2007)

Iklan

WISATA ‘NGASEM’ *)

Berdiri di Pulau Kenanga setinggi 12M, bagian utama Tamansari akan terlihat di kejauhan sosok Merapi, seraya terdengar riuh suara burung dari arah depan. Suara itu menyenangkan, orang berjalan mendekati sangkar diselingi siulan kerumunan mereka disana, itulah Pasar Burung Ngasem. Memandang kembali ke arah gunung agak ke kanan, tampak perumahan dan gedung-gedung Kota, menoleh ke kiri kian jelas padatnya lingkungan urban Yogyakarta. Hal sama jika menuruni dua sap anak tangga, di sela gang dibalik pintu seniman batik menuju keramaian Pasar. Sebuah pemandangan khas kerasnya kehidupan penduduk, sempitnya tempat tinggal Kota dan tata lingkungan Ngasem.

Ngasem berasal dari kata pohon asem; nyemsemaken ya nggemesaken suasana hati, menyemarak dan menyenangkan hati. Istilah pasar dari bazar (Arab) selain as-suuq yang berarti tempat transaksi jual-beli. Lokasi Ngasem hanya lima menit berjalan kaki dari kraton itu merupakan pasar tradisional yang menyediakan hewan piaraan aneka unggas, burung, kelinci, kucing, anjing, ikan, jangkerik, kelelawar, ayam dan bebek. Aneka burung menempati lorong berbeda yakni lorong merpati, cicak rowo, perkutut, nuri, poksee, beo, gelatik atau jenis langka gagak dan hamster. Pengunjung tak mengerti alasan menjual-belikan hewan tertentu yang dilindungi negara seperti ular hijau, kobra, musang ekor panjang, kura-kura, katak hijau dan landak. Pasar ini menjual barang kebutuhan masak-memasak semisal beras, jagung, biji-bijan, sayuran, ikan laut, tahu tempe, daging, bumbu. Tentu sedia tiap hari disana aneka pernik burung.

 

ADA APA DI NGASEM ?

Di Pasar Ngasem mengingatkan turis asing akan keberadaan pasar burung dimana orang Jawa menyukai harmoni dan ketenangan lewat klangenan hewan piaraan. Hal ini terkait perlambang ’pancabhrata’ demi mengukur status keberhasilan seseorang terhadap garwa, wisma, kukila, curiga dan turangga. Perempuan sebagai istri dan rumah tempat tinggal manusia untuk berteduh dalam lingkungan keluarga besar. Yakni keluarga inti ditambah paman, bibi, kemenakan, saudara misan, kakek, nenek, buyut dan seterusnya yang berbeda dengan konsep keluarga yang individualistis. Tiga perlambang sosial lain adalah menyayangi kukila binatang piaraan berupa unggas, ayam, burung atau hewan kesayangan. Memiliki curiga (keris) maksudnya senjata kekuatan demi menjaga diri dari mara bahaya, dan terakhir kuda (turangga) simbol mobilitas dan dinamika.


Serangan virus H5N1 avian influenza beberapa waktu mempengaruhi Pasar Ngasem, satu ikon tujuan pariwisata Kota Yogyakarta. Padahal wisatawan bisa mengenal sisi positif lain dengan mengangkat citra Pasar Ngasem, yakni dengan hadir disana menikmati filosofi cerita kekuatan burung bagi masyarakat seperti berikut ini.

 

BELAJAR KARAKTER BURUNG

Manusia Jawa amat sadar lingkungan, terbukti kunjungan wisata ini sarat ajaran hastabhrata yang mengkondisikan seseorang agar memperhatikan alam dan menghindari disharmoni lingkungan. Perhatian terhadap alam flora menyebabkan orang Jawa mahir soal ramuan tanaman jamu, dan pengetahuan tentang fauna menjadikan faham karakter binatang seperti burung. Orang Jawa mengenal cerita fabel maupun mitos berasal dari sifat-sifat burung tertentu, seperti zodiak pada orang Cina dan tradisi petangan di masyarakat. Disamping prilaku manusia yang dibaca dari sifat burung, beragam burung juga memiliki lambang dan arti, seperti bulbul yang selalu terbang berpasangan, burung hantu simbol kegelapan karena anaknya makan mata induknya sebelum bisa terbang, tapi dia digunakan petani untuk mengusir hama. Burung beo merupakan lambang kasih istri menyayangi suami, dan si indah merak menunjukkan kecantikan dan harga diri. Garuda bagi bangsa dan negara berarti sangat magis, perlambang tanggal kemerdekaan dari rekaan 17 sirip bulu pada sayap, 8 bulu pada ekor dan 45 titik bulu di dada. Posisi kepala menoleh ke kanan menandakan kebaikan.


Seekor merpati di Jawa menyiratkan hidup tentram penuh gotong-royong, di Cina lambang panjang usia, di Mesir berarti ketidak-berdosaan dan bagi orang Nasrani perlambang Roh Kudus. Seperti burung bangau, merpati kura-kura dapat menari untuk memancing ular keluar dari sarangnya. Pada relief candi Mendut banyak dikisahkan cerita fabel yang mengandung pesan moral tertentu. Hean-Tatt (1996) menulis kisah gagak dan burung hantu. Demi mengalahkan burung hantu, gagak rela mencabuti bulunya sampai tak mampu terbang hingga ditolong masuk ke sarang burung hantu. Ketika bulunya telah tumbuh, dia membangun tumpukan belukar dengan maksud ingin balas budi si burung hantu agar rumahnya hangat. Apa lacur, ketika belukar telah memenuhi sarang, gagak tak melepas dendamnya, ia mengambil api dan membakar habis belukar itu. Burung-burung hantu di dalam mati oleh asap akibat perbuatan Gagak. Kisah ini berpesan “jangan pernah mempercayai seorang pembelot yang memiliki niat tersembunyi!”.


Paling inspiratif adalah seekor Elang bersarang di tempat tinggi dan terbuat dari ranting kuat, maksudnya pemimpin harus bersemangat, bercita-cita dan kepribadian kuat. Saat induk elang mengerami telurnya, si jantan setia mengerami, ia pilihkan makanan daging segar bukan bangkai. Organ mata amat sempurna, tajamnya delapan kali mata manusia dan kecepatan terbangnya ±200 km/jam, maka pemimpin bukan saja pekerja keras, tapi bekerja cerdas, cekatan, tanggap dan bijak. Jika ada badai, elang akan terbang lebih tinggi bermain di atas badai, segala rintangan harus dihadapi bukan menghindar, dan berdoa agar berenergi lebih besar dari badai yang menerpa. Saat elang mati, dia meninggal secara heroik dengan bertengger di tempat paling tinggi sambil kepala menghadap matahari. Inikah burung elang di Pasar Ngasem.

 

MAKNA TRADISI JAWA DI NGASEM

Bagi wisatawan asing, kisah fabel ini turut mengiringi mereka memandang tiap sudut Pasar, tempat transaksi ekonomi dengan harga sesuai penghasilan. Menikmati suasana akrab yang tak ditemui lagi di mal atau supermarket. Alasan menjadikan institusi pasar tradisional sebagai institusi sosial dengan nilai persaudaraan yang menyertai. Berkunjung kesana akan ditemui tradisi menyapa dalam transaksi ekonomi, dimana orang membeli tak hanya sekedar membeli yang diinginkan lalu antri membayar di kasir kemudian pergi naik mobil.


Pasar menjadi cermin kekeluargaan dimana di mal orang mengadopsi budaya individualistis, seperti produksi musik yakni beda permainan guitar atau piano dengan gamelan dimana terdapat kerjasama harmonis antar instrumen. Di Yogyakarta wisatawan mengalami langsung contoh budaya komunal gotong-royong simbol kekamian atau kekitaan, bukan tradisi Barat keakuan yang berlawanan. Disini mengingatkan orang pada keluhuran Jawa, seperti di pedesaan dan suasana lingkungan pertanian sepanjang jalur wisatawan di Jawa. Menjaga harmoni Ngasem adalah melestarikan kunjungan wisatawan kesana, membantu mereka disana mengatasi dampak flu burung atau munculnya hypermarket di kota budaya. Bravo Ngasem! [ ]


*) andimhd@yahoo.com: 0815 795 0922; Artikel Opini untuk Harian Kedaulatan Rakyat, 05/03/2007.



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori