DTur Change For All

Posts Tagged ‘TRAINING

KONSEP KERJA


(3 – Habis)

Dalam penjelasan pokok dua serial tulisan tentang “Konsep Kerja” terdahulu yang kita garis bawahi adalah bahwa bekerja mencari nafkah, kesenangan maupun kesuksesan materi hendaknya tidak melupakan harkat sebagai manusia, hingga hidup hanya untuk bekerja (duniawi) saja. Namun terdapat tujuan kerja yang lebih penting, justru dengan bekerja secara benar diharapkan manusia dapat mengangkat posisi nurani kemanusiaan yang akan menjadi navigator prilakunya dan pengendali keseimbangan hidupnya (QS. Al-A’raaf [7]:72).

Demi menjawab seseorang hamba yang berpandangan untuk apa berkarya dan mengapa harus bekerja, paling tidak terdapat beberapa kesimpulan praktis atas keharusan manusia bekerja secara baik sekaligus memenuhi tuntunan sebagai pekerja yang beragama dan memiliki orientasi tujuan hidup Sekaligus empat fungsi dan ciri keberhasilan kerja bisa disimpulkan dari beberapa ayat Alkitab dan Al-Quran, termasuk Hadits Rasulullah SAW berikut:

Pertama; Menanamkan sikap optimis dan kesadaran tauhid, yakni keberanian bersikap hanya menuhankan Allah SWT sebagai sebagai satu-satunya Tuhan yang Maha Suci tiada memiliki sekutu, bahkan memiliki sifat paling sempurna (99) segala Maha keagungan Tuhan sebagai tujuan kerja.

HR Bukhari dan Muslim

Rasulullah SAW bersabda; sesungguhnya setiap pekerjaan memiliki niat tujuan dan sungguh masing-masing pekerja memiliki niatnya sendiri, barangsiapa yang niat tujuan kerjanya diorientasikan kepada Allah SWT dan RasulNya maka akan sampailah kepada Allah dan RasulNya. Namun siapa yang niatnya ditujukan untuk memperoleh bagian harta duniawi atau demi wanita yang akan dinikahinya, maka orientasi niat itu pulalah yang akan dihasilkannya.

Mat 6:24

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Luk 16:13

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Kedua; Mengajarkan etos bekerja keras untuk mencapai dua hal diatas, yakni sukses yang selalu diorientasikan kepada Allah SWT serta RasulNya dan kemenangan yang penuh keseimbangan. Etos kerja keras ini menginspirasi seseorang hamba dan selaku kelompok bangsa, bahwa siapa berjibaku kerja cerdas dengan benar dan bersungguh-sungguh pasti akan memperoleh yang dicita-citakan, sebaliknya jika bekerja tanpa aturan, malas dan asal-asalan maka tidak akan sampai tujuan apalagi mencapai sukses yang diinginkan. Jadi untuk berhasil sukses pencari kerja harus bekerja keras baru kemudian bertawakal kepada Allah SWT.

Hadits Rasulullah SAW mengatakan, hendakalah kalian bekerja mengejar duniawi seakan-akan kalian hidup selamanya, namun bekerjalah untuk akhirat seakan-akan kalian menemui ajal esok hari.

Konsep Ketiga bekerja disini menanamkan etika, kejujuran, kesederhanaan hidup dan kesedian untuk saling tolong menolong, karena mereka yang hidup mewah dari kesuksesan bekerja mencari harta benda ada keharusan untuk berbagi dengan (zakat – infaq – sodaqoh). Barangsiapa sengaja melupakan kewajiban berbagi dan menyantuni fakir miskin, maka sama halnya mendorong kesuksesan duniawi tersebut ke dalam kesengsaraan di kemudian hari, terlebih itu bermakna mengingkari pemberian yang telah dianugerahkan Tuhan.

1 Yoh 4:8

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Efe 2:4

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar dilimpahkan-Nya kepada kita.

Keempat; Mengajarkan hidup serba seimbang antara dua kutub yang disasar para pencari kerja yakni sukses materiil dan spiritual, keseimbangan duniawi ukhrawi bahkan antara manusia, alam semesta dan Tuhan Pencipta. Semua manusia hidup butuh mencapai prestasi tinggi sekaligus kepuasan batin, maka konsep agama mengajarkan soal keseimbangan ini akan memberi landasan ketenangan kerja demi kesempurnaan prestasi maupun ketengan pencari kerja itu sendiri.

QS Al-Baqarah [2]:?

Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kepada kami keberhasilan kerja di dunia secara sukses gemilang, dan anugrahkanlah kepada kami kesuksesan pula kelak di hari akhir, serta jauhkanlah kami dari siksa neraka.

Ayub 38:12 (?)

Bahwa Allah sekali-kali tiada membuat salah, dan Yang Maha Kuasa tiada merubahkan hak.

Sebenar-benar pencari kerja yang menginginkan keberhasilan pastilah mereka yang mengindahkan nilai-nilai dan aturan agama, karena sesungguhnya berkarya ataupun bekerja tak harus melupakan tugas tanggung jawab kepada Sang Pencipta. Dan bahwa dengan bekerja manusia berkesempatan mengekspresikan dirinya kepada lingkungan, bagi sesama ciptaan sekaligus selaku hamba khalifah Allah SWT di muka bumi yang menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Untuk berjalan melakukan itu semua silahkan berselancar di tulisan lain seperti Sholat Membuka Pintu Rizki di http://fdka.wordpress.com dan http://kristo2006.blogspot.com Untuk itulah puncak kebahagiaan yang didamba para pencari kerja, semoga kita semua termasuk dalam golongan umat yang memperoleh anugerahNya. Amiin []

andimhd@yahoo.com

KONSEP KERJA DALAM ISLAM


Kami merujuk pertama-tama QS Ibrahim [14]:24-25 untuk menjawab pertanyaan diatas. Bahwa ditilik dari pilar substansial agama, islam memiliki pilar-pilar amat kokoh menyangkut dasar-dasar aqidah, syariah, ibadah dan akhlaq. Bangunan konsepsi ini amat berhubungan satu dengan lainnya sebagaimana gambaran pohon penuh manfaat, akar menghunjam di bumi (teologi agama/aqidah), ada batang yang kuat yakni ibadah berdasar tuntunan syariat bagaimana kesempurnaan hidup diberlakukan, dan ranting menjulang angkasa dengan dedaunan menyejukkan yang mengeluarkan buah-buahan segar itulah muara akhir amal yang dirasakan diri, lingkungan alam dan makhluk lain. Gambaran tentang keutuhan konsepsi ini muncul pula ketika secara khurus seorang muslim membutuhkan makan, minum, belajar, bekerja, bermain dan selanjutnya. Wajar jika manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi fisikal itu sangat berkait dengan tuntunan akhlaq cara-cara mencarinya sekaligus bagaimana penggunaan harta benda hasil pekerjaan demi kebutuhan dan kepuasan hidup.

Selanjutnya, QS Al-Baqarah [2]:267 & 188 menyuruh orang beriman untuk berinfaq dari harta benda yang baik dari hasil usaha mereka, yang bermakna muslim dilarang berusaha kecuali untuk alasan meraih harta benda baik halal tidak dengan jalan batil. Prasyarat kerja ini harus bermanfaat menurut syariat, memenuhi kesucian benda dan tidak membahayakan atau merugikan orang lain. Harta benda yang boleh diniagakan antara lain, barang-barang tetap seperti sawah, tanah, rumah, took dst; aneka barang tambang; hewan ternak, kecuali babi atau yang buas dan berbisa; sarana transportasi, pabrik, kantor dan jasa yang dikelola tanpa riba. Semua ini merupakan harta benda yang diperbolehkan untuk mencari kekayaan dan melakukan usaha. Dalam hal-hal yang syubhat dan ragu-ragu halal haramnya harus ditinggalkan sempai ada alasan syar’i yang membenarkannya.

Saudaraku!

Fakta kondisi masyarakat saat ini sangat memprihatinkan, disana-sini persoalan sosial kian rumit, hubungan antar indivudu di dalam masyarakat sering menimbulkan benturan dan bahkan memunculkan kriminalitas, apalagi menyangkut hubungan remaja dan pola hidup hedonis-konsumeristik betul-betul menuntut perhatian ekstra para orangtua. Dari kasus faktual inilah orang berbicara kemudian soal bagaimana islam memberi tuntunan penganutnya untuk bekerja diatas dasar kesadaran pilar beragama seperti ilustrasi diatas. Contoh-contoh berikut dapat memudahkan kita memahami peta konsepsi islam tentang bekerja!

Sejarah hidup Muhammad SAW sangat gamblang menjelaskan beliau menggembalakan ternak sejak 9 tahun dan dalam usia ke-12 telah melakukan perjalanan niaga internasional mengikuti paman beliau. Diriwayatkan saat bersama sahabat, beliau menginspirasi kerja keras, jujur, tanpa mengeluh, bekerja dengan tangan sendiri meski harus kotor, tidak menipu dan membuat orang lain merasa kalah. Menurut penulis, Muhammad SAW telah melakukan pembelajaran network marketing yang baik dan benar termasuk yang kini disebut Multi Level Marketing. Dalam hal ini perlu diingat elemen jual beli; terdapat barang, pedagang dan sistem pemasaran, di titik inilah perbedaan cara orang memahami sistem apakah pola pemasaran matahari, semi binary, break away dst terlebih jika seseorang kritikus melihatnya tanpa melakukan kerja MLM dan hanya melihat menurut teori ekonomi barat pasti bias pemahaman. Menjadi persoalan ikhtilaf jika anda percaya dan terbukti haram, sebaiknya tinggalkan, karena pedagang ragu-ragu menyengsarakan. Ok, kebetulan telah penulis siapkan naskah buku multi level learning yang bersinggungan dengan MLM ini, jadi tunggu lain waktu, yang pasti tulisan ini terinspirasi bagaimana Rasulullah Muhammad bekerja dengan tangannya sendiri (baca buku dimaksud pada catatan tambahan!) dan muslim mesti belajar tanpa sekat-sekat atau batasan ruang dan waktu, sampai dia meninggal.

Beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW berikut juga bisa disarikan soal ini yakni kisah kesungguhan Tuhan mencatat apapun jenis maupun kualifikasi karya manusia dengan akuntabilitas paling akurat. Maka disini kejujuran kerja adalah keharusan bagi seorang muslim, jika ia menginginkan hasil sukses semua pekerjaan dengan maksimal, seperti:

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman: “Apabila hamba-Ku berkehendak untuk beramal buruk maka jangan kamu catat sehingga ia mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya maka catatlah serupa itu. Jika ia meninggalkannya karena Aku maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika hamba-Ku mau berbuat kebaikan namun tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan baginya. Jika mengamalkannya maka catatlah sepuluh kalinya sampai tujuh ratus lipat. Dan dalam sebagian riwayat ada tambahan sampai kelipatan yang banyak” . (Hadits ditkhrij oleh Bukhari) .

Bahkan hadits qudsi berikut menceritakan perjuangan suatu kaum ada pihak pemberi dan ada yang menerima, yang bercocok tanam, memanen tumbuh-tumbuhan, menunjukkah kemurahan Allah SWT melipatgandakan pahala amal shalih (hasil kerja) sebanding dengan berjuang di medan perang, seperti riwayat berikut:

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw, beliau bersabda: Tiga orang yang dicintai oleh Allah Maha Mulia dan Maha Besar, yaitu : Seseorang yang mendatangi suatu kaum, ia minta kepada mereka dengan nama Allah, dan ia tidak minta karena kekerabatan antara dia dan mereka, namun mereka mencegahnya, lalu ada seseorang yang mengiringinya; dia memberinya secara rahasia, yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar dan orang yang diberinya. Dan suatu kaum vang berjalan di malam hari sehingga ketika ia lebih senang tidur dari pada apa yang sedang mereka jalankan, mereka singgah dan meletakkan kepala mereka, lalu di antara mereka ada seorang yang bangun untuk merendahkan diri kepada-Ku dan membaca ayat-ayatKu. Dan seseorang yang berada di dalam pasukan, mereka bertemu musuh lalu mereka berbalik ke belakang namun ia maju lagi sehingga ia terbunuh atau mendapat kemenangan”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).

Dan Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. : “Pada suatu hari Nabi saw bercerita dan disampingnya ada seorang lelaki dari penduduk kampung, bahwasanya seorang lelaki dari penghuni sorga, minta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Tuhan berfirman : “Tidakkah kamu mendapati apa yang kamu inginkan ?” Ia menjawab : “Ya, akan tetapi saya senang bercocok tanam,” maka dia bersegera dan menyemai dan sangat cepat tumbuhnya ujung, tegak dan panennya tumbuh-tumbuhan itu, dan digulungnya seperti gunung. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman : “Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak dikenyangkan oleh sesuatu”. Maka berkatalah orang dusun itu : “Wahai Rasulullah, engkau tidak mendapati orang ini kecuali orang-orang Quraisy atau or­ang-orang Anshar. Sesungguhnya mereka itu pemilik tanaman. Adapun kami bukanlah pemilik tanaman”. Maka Rasulullah saw. tertawa. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Jenis prilaku kerja apakah yang pertama kali nanti di hari kiamat akan dipertanggung-jawabkan manusia di hadapan Rab Semesta Alam, dan benarkah karya manusia itu saling berkait pada prestasi selanjutnya? Berikut penjelasan Allah SWT:

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Sesuatu yang pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat?”. Jika kedapatan padanya (shalat) sunat, maka Allah berfirman: “Sempurnalah shalat fardhu itu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Disadari atau seseorang tidak menyadari, pastilah seorang muslim mengerti bahwa perbuatannya dalam pantauan Allah SWT, tiada satu biji atompum lewat dari penilaian yang pasti ada konsekuensinya. Inilah alasan muslim telah memiliki sistem pengawasan melekat, apakah dia bekerja untuk kepentingan keluarga, diri sendiri atau demi ibadah memberi nafkah, menolong, meringankan beban orang lain atau dengan niat buruk yang pasti akan mencelakakan diri sendiri di dunia dan pasti kelak di neraka.

Simbolisasi tempo surga neraka ini dalam konsepsi kerja juga bisa dimaknai sebagai kebahagiaan dan kesuksesan duniawi serta neraka sebagai gambaran kemiskinan ataupun kesusahan hidup di dunia. Bahwa kerja sebagai medium ibadah, untuk pendekatan muslim kepada Rab yang telah memudahkan segalanya.

Dan Anas ra. dari Nabi saw. bersabda: “Pada hari Qiamat anak Adam dibawa, seolah-olah dia anak kambing lalu dihadapkan Allah. Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Aku telah memberimu, menganugerahkan kepadamu dan Aku telah memberikan ni’mat atasmu, apakah yang telah kamu kerjakan?”. Lalu ia menjawab: “Wahai Tuhan, saya telah mengumpulkan dan membuahkannya, kemudian sebagian besarnya telah saya tinggalkan, maka kembalikanlah saya, lalu saya kembalikan lagi kepadaMu”. Apabila seorang hamba tidak mengamalkan kebaikan, maka ia diteruskan ke neraka”. (HR. Turmudzi).

Bahwa konsep islam tentang kerja ini amat komplit menjaga keseimbangan hubungan Allah – manusia – alam semesta, sampai ditail keharusan memenuhi syarat sah niaga yang usia balig seseorang, unsur kecerdasan yakni alasan akal sehat dan bisa mengelola barang dan pekerjaan insyaallah akan mengantar muslim ke tujuan sukses dunia akhirat, yakni pemasrahan hasil-hasil usaha berupa harta benda dan jasa kepada Allah SWT, yang berarti segala aras tujuan perniagaan bahkan kehidupan seorang muslim.

Kita lanjutkan jawaban di lain kesempatan, smoga sepintas coretan ini menginspirasi diskusi topik menarik ini. Terimakasih saudaraku, salam sukses!

andimhd@yahoo.com 0815 795 0922 – 0818 465 933

Bacaan Tambahan:

1. Filsafat Ketuhanan, 1985, Prof Dr Hamka, Karunia, Surabaya.

2. Antara Tuhan, Manusia dan Alam, 2005, IRCiSoD, Yogyakarta.

3. Muhammad Sang Pedagang, 2000, Jakarta.

4. Fiqih Finansial, 2005, Abdullah Lam bin Ibrahim, Era Intermedia, Solo.

5. Etos Kerja Seorang Muslim, (th ?), Toto Tasmara, Jakarta.

Kumpulan Hadits Qudsi, Ahmad Sunarto, file http:// www.pakdenono.com, April 2007



  • joko subantiyono: Rahayu,ing wedal sak meniko kito tansah eling dumateng lampah kito piyambak,amargi sinaoso bener nanging menopo sampun pener?kitab ingkang leres menik
  • Lailina zulfa: Wah,q brkali" bc sejarah ini,tp kok pnelitinya baru Pak fb ja nich..tp kalo tu bner.bkal ada prubhan fkta sjarah paling fen0menal spnjang sjrh..dn pzt
  • hamba allah: hmmm stau saya dhlu pun tdk ada yg tahu sypa yg tlah mndirikan candi borobudur,bkn jga org budha,krna dhulu borobudur d tmukan oleh petani trtutup ole

Kategori